Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku mengeluarkan buku cek dan mengibasngibaskannya memutar bola mata seolah meremehkan kekhawatirannya. “Itu sih enteng.”

Hari ini lumayan aneh. Aku menikmatinya. Bahkan saat di tempat penimbunan barang bekas sekalipun, di bawah guyuran hujan dan berlepotan lumpur setinggi pergelangan kaki. Awalnya aku penasaran apakah itu hanya aftershock setelah kehilangan perasaan kebas, tapi menurutku itu bukan penjelasan yang cukup masuk akal.

Aku mulai berpikir penyebab terbesarnya adalah Jacob. Bukan hanya karena ia selalu senang bertemu denganku, atau bahwa ia tidak diam-diam melirikku dari sudut matanya, menunggu aku melakukan sesuatu yang bisa membuatku dikira gila atau depresi. Sama sekali tak ada hubungannya denganku. Penyebabnya adalah Jacob sendiri. Pada dasarnya Jacob memang periang, dan sifat periang itu terbawa dalam dirinya seperti aura, menularkannya pada siapa pun yang kebetulan di dekatnya. Seperti bumi yang mengelilingi matahari, setiap kali ada orang dalam jangkauan gravitasinya, Jacob membuat mereka merasa hangat. Hal yang alamiah, bagian dari dirinya yang sesungguhnya. Tak heran aku begitu bersemangat ingin bertemu dengannya.

Bahkan saat ia mengomentari lubang menganga di dasbor-ku, itu tak lantas membuatku panik seperti seharusnya.

“Srereo-nya rusak, ya?” tanyanya heran.

“Yeah,” dustaku.

Jacob merogoh-rogoh ke balik lubang itu. “Siapa yang mengeluarkannya? Kok sampai rusak begini…”

“Aku,” jawabku mengakui.

Jacob terbahak. “Mungkin sebaiknya kau nanti jangan sering-sering menyentuh motor.”

“Bukan masalah.”

Menurut Jacob, kami beruntung dalam perburuan kami di tempat penimbunan barang bekas. Ia sangat bersemangat melihat beberapa logam penyok temuannya yang menghitam karena oli; aku kagum karena ia bisa tahu kegunaan benda-benda itu.

Dari sana kami ke Checker Auto Parts di Hoquiam. Dengan trukku, perjalanan ke sana makan waktu dua jam lebih ke arah selatan, menyusuri jalan bebas hambatan yang berkelokkelok, tapi waktu berlalu tanpa terasa bila bersama Jacob. Ia mengobrol tentang teman-teman dan sekolahnya, dan aku mendapati diriku mengajukan banyak pertanyaan, bahkan tanpa berpura-pura, tapi karena benar-benar ingin mengetahui jawabannya.

“Dari tadi aku terus yang bicara,” protes Jacob setelah selesai bercerita panjang-lebar tentang Quil dan huru-hara yang ditimbulkannya gara-gara mengajak kencan pacar murid senior. “Bagaimana kalau sekarang gantian? Apa saja yang sedang terjadi di Forks? Di sana pasti jauh lebih seru daripada di La Push.”

“Salah,” aku mendesah. “Benar-benar tidak adaapa-apa di sana. Teman-temanmu jauh lebih menarik daripada teman-temanku. Aku suka teman-temanmu. Si Quil itu lucu.”

Kening Jacob berkerut. “Kurasa Quil suka padamu.”

Aku tertawa. “Dia agak terlalu muda untukku.”

Kerutan di kening Jacob semakin dalam. “Dia tidak terlalu lebih muda darimu. Hanya satu tahun beberapa bulan.”

Aku merasa kami tidak sedang membicarakan Quil lagi. Aku menjaga agar suaraku tetap ringan, menggoda. “Tentu, tapi mengingat perbedaan kematangan antara cowok dan cewek, bukankah menurutmu sebaiknya kita menghitungnya dalam usia anjing? Berapa umurku dalam usia anjing, kira dua belas tahun lebih tua?”

Jacob tertawa, memutar bola matanya. “Oke, tapi kalau kau mau sok pilih-pilih seperti itu, kau juga harus membuat perhitungan rata-rata sesuai ukuran tubuh. Kau kan kecil sekali, jadi sepuluh tahun harus dibuang dari total umurmu.”

“Seratus enam puluh senti kan tinggi rata-rata,” dengusku. “Bukan salahku kalau kau kelewat tinggi.”

Kami saling mengolok-olok seperti itu hingga mencapai Hoquiam, masih memperdebatkan formula yang tepat untuk menentukan umur—aku kehilangan dua tahun karena tidak bisa mengganti ban, tapi mendapat satu tahun lagi karena ditugaskan mengurus pembukuan di rumahku— sampai kami tiba di Checker, dan Jacob harus kembali berkonsentrasi. Kami menemukan semua yang ada dalam daftarnya, dan Jacob yakin akan mencapai banyak kemajuan dengan onderdil yang sudah kami beli.

Saat kami tiba kembali di La Push, umurku 23 tahun dan dia 30—jelas ia menambahkan keahliannya mengutak-atik mesin untuk mendongkrak umurnya.

Aku belum melupakan alasanku melakukan ini. Dan, meski dalam prosesnya aku merasa lebih bahagia daripada yang kuduga sebelumnya, tak ada alasan untuk mengubah keinginan awalku. Aku tetap ingin berbuat curang. Tidak masuk akal memang, tapi aku benar-benar tak peduli. Aku akan melakukan hal paling ceroboh yang bisa kulakukan di Forks. Jangan harap aku akan tetap menepati janjiku sementara pihak lain sudah melanggarnya. Menghabiskan waktu bersama Jacob ternyata jauh lebih mengasyikkan daripada yang kuduga.

Billy belum pulang, jadi kami tidak perlu sembunyi-sembunyi menurunkan barang-barang belanjaan kami. Begitu semua sudah kami hamparkan di lantai plastik dekat kotak perkakas Jacob, Jacob langsung mulai bekerja sambil terus bicara dan tertawa-tawa sementara jari-jarinya menyortir dengan ahli berbagai onderdil logam di hadapannya.

Kepiawaian Jacob bekerja dengan tangan sangat menakjubkan. Padahal tangannya tampak kelewat besar untuk pekerjaan rumit yang harus dilakukan dengan cermat dan tepat. Saat sedang bekerja, gerakannya nyaris terkesan anggun. Tidak seperti bila sedang berdiri; tubuhnya yang jangkung dan kakinya yang besar membuatnya nyaris sama kikuknya denganku.

Quil dan Embry tidak muncul, jadi mungkin ancaman Jacob kemarin ditanggapi serius oleh mereka.

Hari berlalu kelewat cepat. Sebentar saja hari sudah gelap di mulut garasi, kemudian kami mendengar Billy memanggil kami.

Aku melompat dan membantu Jacob menyimpan semua peralatan, ragu-ragu karena tak yakin apakah aku boleh menyentuh bagian-bagian sepeda motor itu.

“Tinggalkan saja,” kata Jacob. “Aku akan bekerja lagi nanti malam.”

“Jangan lupakan tugas sekolahmu atau tugas lainnya,” kataku, merasa sedikit bersalah. Aku tak ingin Jacob mendapat masalah. Masalah itu hanya untukku.

“Bella?”

Kami sama-sama tersentak waktu suara Charlie yang familier menyeruak di antara pepohonan, kedengarannya dekat sekali.

“Sial,” gerutuku. “Ya, sebentar!” teriakku ke arah rumah.

“Ayo pergi.” Jacob tersenyum, menikmati ketegangan. Ia mematikan lampu, dan sesaat aku seolah-olah buta. Jacob menyambar tanganku dan menarikku keluar dari garasi, menembus pepohonan, kakinya menemukan jalan setapak yang sudah sangat dikenalnya dengan mudah. Tangannya kasar, dan sangat hangat.

Meski ada jalan setapak, kami masih saja tersandung-sandung dalam gelap. Jadi kami samasama tertawa waktu rumah mulai tampak. Tawanya tidak terlalu dalam; ringan dan hanya di permukaan, tapi tetap menyenangkan. Aku yakin Jacob tidak menyadari secercah histeria di dalamnya. Aku tidak biasa tertawa, dan tawa itu terasa menyenangkan tapi sekaligus meresahkan.

Charlie berdiri di teras belakang yang kecil, bersama Billy yang duduk di ambang pintu di belakangnya.

“Hai, Dad,” sapa kami berbarengan, dan itu membuat kami tertawa lagi.

Charlie memandangiku dengan mata terbelalak lebar, lalu melirik sekilas ke bawah, melihat tangan Jacob yang menggandeng tanganku.

“Billy mengundang kita makan malam,” kata Charlie dengan nada biasa-biasa saja.

“Resep spageti super rahasiaku. Diwariskan turun-temurun ke beberapa generasi,” kata Billy dengan suara serak.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.