Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Bisakah aku kembali lagi besok?” Hari Minggu sudah menjadi kutukan dalam hidupku. Tak pernah ada cukup PR untuk menyibukkanku.

Quil menyenggol lengan Embry dan keduanya nyengir.

Jacob tersenyum senang. “Wah, pasti asyik!”

“Kalau kau bisa menyusun daftarnya, kita bisa pergi untuk membeli onderdil,” aku menyarankan.

Wajah Jacob sedikit berkurang kegembiraannya. “Aku masih belum yakin apakah aku sebaiknya membiarkanmu membayar semuanya.”

Aku menggeleng. “Tidak bisa. Pokoknya aku akan mendanai proyek ini. Kau tinggal menyumbang tenaga dan keahlian saja”

Embry memutar bola matanya pada Quil.

“Tetap saja rasanya kurang tepat,” Jacob menggeleng.

“Jake, kalau aku membawa sepeda-sepeda motor ini ke bengkel, berapa biaya yang akan diminta montir padaku?” aku beralasan.

Jacob tersenyum. “Oke, kalau begitu setuju.”

“Belum lagi kau nanti harus mengajariku mengendarainya, aku menambahkan.

Quil nyengir lebar pada Embry dan membisikkan sesuatu yang tak bisa kutangkap. Tangan Jacob melayang untuk menampar bagian belakang kepala Quil. “Cukup sudah, keluar,” gerutunya.

“Tidak, sungguh, aku harus pulang,” protesku, bergegas ke pintu. “Sampai ketemu besok, Jacob.”

Bcgiru aku lenyap dari pandangan, kudengar Quil dan Embry berseru berbarengan, “Wuuuuuuu!”

Diikuti sejurus kemudian dengan suara gradakgruduk, diselingi dengan “Waduh!” dan “Hei!”

“Kalau kalian berani-berani menjejakkan kaki lagi ke tanahku besok…” Kudengar Jacob mengancam. Suaranya lenyap waktu aku berjalan melewati pepohonan.

Aku tertawa pelan. Suara itu membuat mataku membelalak heran. Aku tertawa, benar-benar tertawa, padahal tak ada yang memerhatikan. Aku merasa sangat ringan hingga aku tertawa lagi, hanya agar perasaan itu bertahan lebih lama.

Aku lebih dulu sampai di rumah ketimbang Charlie. Waktu ia datang, aku baru saja mengangkat ayam goreng dari wajan dan meletakkannya di atas tumpukan serbet kertas.

“Hai, Dad.” Aku nyengir padanya.

Wajah ayahku tampak shock sesaat sebelum ia mengubah ekspresinya. “Hai, Sayang,” sapanya, suaranya terdengar tidak yakin. “Senang bertemu Jacob?”

Aku mulai memindahkan makanan ke meja. “Ya, senang.”

“Well, baguslah kalau begitu.” Charlie masih berhati-hati. “Kalian ngapain?’

Sekarang giliranku yang berhati-hati. “Aku nongkrong di garasinya dan menontonnya bekerja. Dad tahu dia sedang memperbaiki Volkswagen?”

“Yeah, kalau tidak salah Billy pernah menceritakannya.”

Interogasi harus terhenti saat Charlie mulai mengunyah, tapi ia terus mengamati wajahku sambil makan.

Usai makan malam aku menyibukkan diri, membersihkan dapur dua kali, kemudian mengerjakan PR pelan-pelan di ruang depan sementara Charlie menonton pertandingan hoki. Aku menunggu selama mungkin, tapi akhirnya Charlie mengatakan malam sudah larut. Ketika aku tidak menjawab, ia bangkit, meregangkan otot, lalu pergi tidur, mematikan lampu. Dengan enggan aku mengikutinya.

Saat menaiki tangga, aku merasakan sisa-sisa perasaan senang aneh yang kurasakan sore tadi menyusut dari dalam diriku, digantikan perasaan takut memikirkan apa yang akan kuhadapi sekarang.

Aku tidak kebas lagi. Malam ini akan, tak diragukan lagi, sama mengerikannya dengan semalam. Aku berbaring di tempat tidur dan bergelung rapat-rapat, menanti datangnya serangan. Kupejamkan mataku erat-erat dan… tahu-tahu, hari sudah pagi.

Kupandangi cahaya keperakan pucat yang menerobos jendela kamarku, terperangah.

Untuk pertama kali dalam empat bulan lebih, aku bisa tidur tanpa bermimpi. Bermimpi atau menjerit. Entah emosi mana yang lebih kuat—lega ataukah shock.

Aku berbaring diam di tempat tidurku selama beberapa menit, menunggu perasaan itu datang kembali. Karena pasti ada yang datang. Kalau bukan kepedihan, maka mati rasa. Aku menunggu, tapi tak terjadi apa-apa. Aku merasa lebih bugar daripada yang kurasakan beberapa bulan belakangan ini.

Aku tak yakin ini bakal bertahan. Rasanya seperti berdiri di tubir yang licin dan berbahaya, dan bergerak sedikit saja pasti bakal membuatku tergelincir. Mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar dengan mata tiba-tiba jernih—menyadari betapa aneh kelihatannya, terlalu resik, seolaholah aku tidak tinggal di sini sama sekali—benarbenar berbahaya.

Kutepis pikiran itu dari benakku, dan berkonsentrasi, sambil berpakaian, pada fakta bahwa aku akan bertemu Jacob lagi hari ini. Pikiran itu membuatku nyaris merasa.., penuh harapan. Mungkin akan sama seperti kemarin. Mungkin aku tak perlu mengingatkan diriku untuk tampak tertarik dan mengangguk atau tersenyum pada interval tertentu, seperti yang kulakukan pada orang-orang lain. Mungkin… tapi aku tak yakin ini akan bertahan juga. Tidak yakin hari ini akan sama—begitu mudah—seperti kemarin. Aku tidak akan menyiapkan diri untuk kekecewaan seperti itu.

Saat sarapan, Charlie bersikap hati-hati. Ia berusaha menyembunyikan sikap penasarannya, mengarahkan mata ke telurnya sampai yakin aku tidak melihat.

“Apa yang akan kaulakukan hari ini?” tanyanya, mengamati benang yang terlepas di pinggiran mansetnya, seakan-akan tidak terlalu memerhatikan jawabanku.

“Aku mau main ke rumah Jacob lagi”

Charlie mengangguk tanpa mendongak. “Oh,” ujarnya.

“Dad keberatan?” Aku pura-pura khawatir. “Aku bisa tinggal di rumah…”

Charlie buru-buru mendongak, sorot panik terpancar dari wajahnya. “Tidak, tidak! Pergi saja. Kebetulan Harry akan datang untuk nonton pertandingan denganku.”

“Mungkin Harry bisa menjemput Billy sekalian,” aku menyarankan. Semakin sedikit saksi mata, semakin baik.

“Wah, ide bagus.”

Aku tak yakin apakah pertandingan itu hanya alasan untuk “mengusirku” dari rumah, tapi Charlie tampak cukup bersemangat sekarang. Ia langsung menghampiri pesawat telepon sementara aku memakai jas hujan. Aku merasa sedikit waswas dengan buku cek yang tersimpan di saku jaketku. Aku tak pernah menggunakannya

Di luar hujan turun seperti air ditumpahkan dari ember.

Aku harus mengendarai trukku lebih pelan lagi; aku nyaris tak bisa melihat mobil lain di depan trukku. Tapi akhirnya aku sampai juga di jalan berlumpur yang menuju ke rumah Jacob. Sebelum aku sempat mematikan mesin, pintu depan sudah terbuka dan Jacob berlari menyongsongku sambil membawa payung hitam besar.

Ia memegangi payung itu menaungi pintu trukku.

“Charlie menelepon tadi—katanya kau sudah jalan ke sini,” Jacob menjelaskan sambil nyengir.

Dengan enteng, tanpa harus dikomando lagi oleh otot-otot yang mengelilinginya, bibirku merekah membentuk senyuman. Perasaan hangat yang aneh menggelegak menaiki kerongkonganku, padahal air hujan yang memercik ke pipiku dingin seperti es.

“Hai, Jacob.”

“Pintar juga kau, mengusulkan supaya Billy dijemput,” Jacob mengangkat tangannya untuk ber-high five denganku.

Aku harus mengulurkan tangan tinggi-tinggi untuk membalasnya dan Jacob tertawa.

Harry datang menjemput Billy beberapa menit kemudian. Jacob mengajakku melihat-lihat kamarnya yang kecil sambil menunggu orang-orang dewasa pergi.

“Jadi kita ke mana, Pak Montir?” tanyaku begitu pintu depan ditutup Billy.

Jacob mengeluarkan kertas yang terlipat dari saku dan meluruskannya. “Kita mulai dari tempat penimbunan barang bekas, siapa tahu kita beruntung. Proyek ini bisa jadi agak mahal lho,” ia mengingatkanku. “Kedua motor itu perlu dipermak habis-habisan agar bisa berfungsi lagi.” Karena wajahku tidak tampak waswas, Jacob menambahkan, “Maksudku mungkin bisa habis lebih dari seratus dolar.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.