Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Tentu, tentu.” Jacob tersenyum. “Aku mengerti.”

“Aku akan membayarmu,” sambungku.

Jacob tersinggung mendengarnya. “Tidak. Aku ingin membantu. Kau tidak boleh membayarku.”

“Well… bagaimana kalau barter saja?” Usulan itu muncul begitu saja di benakku sementara aku bicara, tapi kedengarannya cukup masuk akal. “Aku hanya butuh satu motor—dan aku juga ingin diajari menaikinya. Jadi bagaimana kalau begini? Aku akan memberimu satu sepeda motor, kemudian kau bisa mengajariku cara mengendarainya.”

“Ke-reeen.” Jacob mengucapkan kata itu dalam dua silabel.

“Tunggu sebentar—kau sudah cukup umur belum? Ulang tahunmu kapan?”

“Sudah lewat,” goda Jacob, menyipitkan mata, pura-pura marah. “Sekarang aku sudah enam belas.”

“Kayak umur bisa menghentikanmu saja sebelum ini,” aku menggerutu. “Maaf aku lupa hari ulang tahunmu.”

“Tidak apa-apa. Aku juga lupa hari ulang tahunmu. Umur mu berapa, empat puluh?”

Aku mendengus. “Hampir.”

“Kita satukan saja pesta ulang tahun kita untuk merayakannya.”

“Kedengarannya seperti kencan.”

Mata Jacob berbinar mendengarnya.

Aku harus mengekang antusiasmenya sebelum ia telanjur salah sangka—hanya saja sudah lama sekali aku tak pernah lagi merasa seringan dan sebebas ini. Jarangnya aku merasakan perasaan itu membuatnya jadi lebih sulit dikendalikan.

“Mungkin kalau motornya sudah selesai dibetulkan— hitung-hitung hadiah untuk kita,” aku menambahkan.

“Setuju. Kapan kau akan membawanya ke sini?”

Aku menggigit bibir, malu. “Sudah ada di trukku” aku mengakui.

“Bagus.” Kelihatannya ia bersungguh-sungguh.

“Apakah Billy bakal melihat kalau kita membawanya ke sini?”

Jacob mengedipkan mata. “Diam-diam saja, kalau begitu.”

Kami menyelinap mengitari rumah dari sisi timur, merapat ke pepohonan bila kami bisa terlihat dari jendela, berlagak seperti sedang jalanjalan, untuk berjaga-jaga. Jacob dengan cekatan menurunkan sepeda-sepeda motor itu dari bak truk, mendorongnya satu per satu ke semak tempat aku bersembunyi. Enteng saja kelihatannya baginya—padahal seingatku sepeda-sepeda motor itu berat, sangat berat.

“Kondisinya tidak parah-parah amat kok,” kata Jacob, menilai kondisi sepeda-sepeda motor itu sementara kami mendorongnya ke bawah naungan pepohonan. “Yang satu ini malah bisa bernilai tinggi kalau sudah dibetulkan—ini Harley Sprint kuno.”

“Kalau begitu, itu punyamu.”

“Kau yakin?’

“Jelas.”

“Tapi untuk membetulkannya butuh banyak biaya,” kata Jacob, mengerutkan kening memandangi bagian-bagian sepeda motor yang sudah menghitam. “Kita harus menabung dulu untuk bisa membeli onderdil.”

“Bukan kita,” tolakku. “Kalau kau mau membetulkannya gratis, akulah yang akan membeli onderdilnya.”

“Entahlah…,” gumam Jacob.

“Aku punya sedikit uang tabungan. Dana kuliah, kau tahu.” Masa bodoh dengan kuliah, pikirku dalam hati. Aku toh tidak menabung tidak cukup banyak untuk pergi ke suatu tempat istimewa—lagi pula, aku toh tidak berniat meninggalkan Forks. Apa bedanya kalau aku membobol tabunganku sedikit?

Jacob hanya mengangguk. Semua itu masuk akal saja baginya.

Sementara kami mengendap-endap kembali ke garasi, aku memikirkan keberuntunganku. Hanya cowok remaja yang mau melakukan ini: menipu orangtua kami dengan membetulkan kendaraan berbahaya dan menggunakan uang yang seharusnya ditabung untuk kepentingan kuliah. Ia tidak melihat ada yang salah dengan hal itu. Jacob benar-benar anugerah dari para dewa.

 

6. TEMAN-TEMAN

KEDUA sepeda motor itu tidak perlu disembunyikan di tempat yang jauh, cukup menyimpannya di garasi Jacob. Kursi roda Billy tidak bisa bergerak di tanah tidak rata yang memisahkan pondok dengan rumah.

Jacob mulai membongkar motor pertama—yang berwarna merah, yang akan menjadi milikku— hingga bagian-bagiannya terlepas. Ia membuka pintu Rabbit-nya supaya aku bisa duduk di jok. bukan di lantai. Sambil bekerja Jacob mengobrol dengan gembira, hanya perlu kupancing sedikit untuk meneruskan obrolan. Ia menceritakan sekolahnya, kelas-kelas yang ia ikuti, juga dua sahabatnya.

“Quil dan Embry?” selaku. “Nama-nama yang tidak lazim.”

Jacob terkekeh. “Quil itu nama turunan, sedang Embry nama bintang sinetron. Pokoknya aku tidak bisa bilang apa-apa soal itu. Mereka bakal ngamuk kalau kau mulai menyinggung nama mereka – mereka bakal mengeroyokmu.”

“Itu kausebut teman baik?” Aku mengangkat sebelah alis.

“Mereka memang baik kok. Hanya saja jangan ejek nama mereka.”

Saat itulah terdengar seruan di kejauhan. “Jacob?” teriak seseorang.

“Itu Billy, ya?” tanyaku.

“Bukan,” Jacob menunduk, dan kelihatannya wajahnya memerah di balik kulitnya yang cokelat. “Baru dibicarakan sudah nongol. Itu panjang umur namanya.”

“Jake? Kau di sini?” Teriakan itu kini semakin dekat.

“Yeah!” Jacob menyahut, lalu mendesah.

Kami menunggu sambil terdiam sebentar sampai dua cowok jangkung berkulit gelap melenggang memasuki garasi.

Yang satu bertubuh ramping, hampir setinggi Jacob. Rambut hitamnya sedagu dan dibelah tengah, sebelah diselipkan di balik telinga kiri sementara yang kanan tergerai bebas. Cowok satunya yang lebih pendek tubuhnya lebih gempal. Kaus putihnya ketat menutupi dadanya yang berotot, dan tampaknya ia sadar dan bangga akan hal itu. Rambutnya dipangkas pendek sekali hingga nyaris cepak.

Langkah keduanya langsung terhenti begitu mereka melihatku. Si ceking melirikku dan Jacob bergantian, sementara si gempal menatapku terus, senyum mengembang perlahan di wajahnya.

“Hei, Buy,” Jacob menyapa mereka setengah hati.

“Hei, Jake,” sahut si pendek tanpa mengalihkan tatapannya dariku. Aku terpaksa membalas senyumnya, seringaiannya sangat jail. Melihatku tersenyum, ia mengedipkan mata. “Halo.”

“Quil, Embry—ini temanku, Bella.”

Quil dan Embry, aku masih belum tahu yang mana Quil dan yang mana Embry, bertukar pandang dengan sorot penuh makna.

“Anak Charlie, kan?” tanya si gempal, mengulurkan tangan.

“Benar,” jawabku menjabat tangannya. Genggamannya mantap; kelihatannya ia seperti sedang melenturkan otot-otot bisepsnya.

“Aku Quil Ateara,” ia memperkenalkan diri dengan gagah sebelum melepaskan tanganku.

“Senang berkenalan denganmu, Quil.”

“Hai, Bella. Aku Embry. Embry Call—mungkin kau sudah bisa menebaknya” Embry menyunggingkan senyum malu-malu dan melambai dengan satu tangan, yang kemudian ia jejalkan ke saku jinsnya.

Aku mengangguk. “Senang berkenalan denganmu juga.”

“Kalian ngapain?” tanya Quil, masih terus memandangiku.

“Bella dan aku ingin memperbaiki sepeda-sepeda motor ini,” Jacob menjelaskan, meski itu tak sepenuhnya tepat. Tapi sepeda motor sepertinya kata ajaib. Perhatian kedua cowok itu langsung beralih ke proyek Jacob, mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan terpelajar. Banyak dari kata-kata yang mereka gunakan tidak kumengerti, dan kurasa aku harus memiliki kromosom Y untuk benar-benar memahami semangat mereka yang meluap-luap.

Ketiganya masih asyik mengobrol tentang onderdil dan bagian-bagian motor waktu aku memutuskan untuk pulang sebelum Charlie muncul di sini. Sambil mendesah, aku merosot turun dari Rabbit.

Jacob mendongak lagi, ekspresinya seperti meminta maaf. “Kami membuatmu bosan, ya?”

“Tidak.” Dan aku memang tidak bohong. Aku merasa senang–benar-benar aneh. “Tapi aku harus memasak makan malam untuk Charlie.”

“Oh… Well, aku akan selesai membongkar motor ini malam ini dan menentukan apa saja yang kita butuhkan untuk memperbaikinya. Kapan kau ingin kita menggarapnya lagi?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.