Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Charlie terdiam sebentar. “Kau tidak pernah menelepon sebelumnya. Apakah ada masalah?”

“Tidak. Aku hanya ingin menanyakan arah jalan ke rumah keluarga Black—sepertinya aku sudah tidak ingat lagi. Aku ingin mengunjungi Jacob. Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengannya.”

Ketika Charlie berbicara lagi, suaranya terdengar jauh lebih gembira. “Ide yang bagus sekali, Bells. Ada bolpoin?”

Arahan yang ia berikan sangat sederhana. Aku berjanji akan pulang saat makan malam, walaupun Charlie mencoba mengatakan tak perlu terburuburu. Ia ingin bergabung denganku di La Push, tapi aku menolak keras.

Jadi dengan niat pulang tepat waktu aku mengendarai truk ku terlalu cepat menyusuri jalan-jalan ke luar kota yang gelap oleh hujan badai. Harapanku, aku bisa menemui Jacob sendirian. Billy mungkin akan mengadukanku kalau ia mengetahui rencanaku.

Sembari menyetir, aku agak waswas memikirkan reaksi Billy nanti bila bertemu denganku. Ia pasti girang sekali. Dalam benak Billy tak diragukan lagi, ini semua berakhir jauh lebih baik daripada yang berani ia harapkan. Kegembiraan dan kelegaannya hanya akan mengingatkanku pada satu hal yang tak sanggup kuingat. Hari ini jangan lagi, aku memohon dalam hati. Aku sudah lelah.

Rumah keluarga Black samar-samar masih familier, rumah kayu kecil dengan jendela-jendela sempit dan cat merah kusam yang membuatnya mirip lumbung kecil. Kepala Jacob sudah nongol dari jendela bahkan sebelum aku sempat turun dari truk. Tak diragukan lagi, raungan suara mesin yang familier memberi tahukan kedatanganku padanya. Jacob sangat bersyukur waktu Charlie membeli mobil truk Billy untukku, menyelamatkannya dari keharusan mengendarai truk ini kalau sudah cukup umur. Aku sangat menyukai trukku, tapi Jacob sepertinya menganggap batas kecepatan truk ini sebagai kekurangan.

Ia berlari menyongsongku.

“Bella!” Cengiran senang tersungging lebar di wajahnya, giginya yang putih cemerlang tampak sangat kontras dengan kulitnya yang cokelat kemerahan. Sebelum ini aku tak pernah melihat rambutnya tidak dikucir. Kini rambutnya tergerai seperti tirai satin hitam di sisi kiri dan kanan wajahnya yang lebar.

Jacob tumbuh semakin dewasa dalam delapan bulan terakhir. Ia melewati titik di mana otot-otot masa kanak-kanaknya mengeras membentuk sosok remaja bertubuh padat dan tegap; otot-otot tendon dan urat nadinya semakin jelas di balik kulit lengan dan tangannya yang merah cokelat. Wajahnya masih semanis yang kuingat, meski kini juga mulai menegas – tulang pipinya semakin tajam, rahangnya persegi, semua kemontokan masa kecil telah lenyap.

“Hai, Jacob!” Aku merasakan dorongan antusiasme yang tidak biasa begitu melihat senyumnya. Sadarlah aku bahwa aku senang bertemu dengannya. Kenyataan itu mengejutkanku.

Aku membalas senyumnya, dan sesuatu terbetik dalam pikiranku, bagaikan dua keping puzzle yang menyatu. Aku sudah lupa betapa aku sangat menyukai Jacob Black.

Jacob berhenti beberapa meter dariku, dan aku mendongak menatapnya dengan terkejut, kepalaku menengadah jauh ke belakang hingga hujan menetes-netes membasahi wajahku.

“Kau semakin jangkung!” tuduhku takjub.

Jacob tertawa, senyumnya semakin lebar. “Seratus sembilan puluh dua sentimeter lebih,” ia memberi tahu dengan perasaan puas diri. Suaranya semakin berat, tapi masih sedikit serak seperti yang kuingat dulu.

“Apakah kau akan berhenti tumbuh?” aku menggeleng-geleng tak percaya. “Besar sekali kau.”

“Masih kurus, tapi.” Ia nyengir. “Ayo masuk! Nanti kau basah kuyup.”

Jacob berjalan menduluiku, memilin rambutnya dengan tangannya yang besar sambil berjalan. Ia mengeluarkan karet gelang dan saku celana dan mengikat rambutnya.

“Hai, Dad,” serunya waktu kami merunduk melewati pintu depan. “Lihat siapa yang datang.”

Billy sedang di ruang tamunya yang mungil, tangannya memegang buku. Ia meletakkan buku itu di pangkuan dan menggelindingkan kursi rodanya ke depan begitu melihatku.

“Well kejutan besar! Senang bertemu denganmu. Bella.”

Kami bersalaman. Tanganku lenyap dalam genggamannya yang lebar.

“Apa yang membawamu ke sini? Charlie baikbaik saja, kan?”

“Ya, tentu. Aku hanya ingin bertemu Jacob—aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.”

Mata Jacob berbinar-binar mendengar jawabanku. Senyumnya lebar sekali hingga pipinya pasti terasa sakit.

“Bisakah kau makan malam di sini?” Billy juga bersemangat.

“Tidak, aku kan harus memasak untuk Charlie, Anda tahu.”

“Ah, aku kan bisa meneleponnya sekarang,” Billy menyarankan. “Pintu rumah ini selalu terbuka untuknya.”

Aku tertawa untuk menyembunyikan kecanggunganku. “Bukan berarti Anda tidak akan bertemu lagi denganku. Aku janji akan kembali lagi ke sini—saking seringnya sampai Anda bosan melihatku.” Bagaimanapun, kalau Jacob bisa membetulkan motor itu, harus ada yang mengajariku mengendarainya.

Billy menanggapi perkataanku dengan berdecak. “Oke, mungkin lain kali”

“Jadi, Bella, kau ingin melakukan apa?” tanya Jacob.

“Terserah. Apa yang sedang kaulakukan waktu aku datang tadi?” Anehnya, aku merasa nyaman di sini. Rumah ini familier, meski terasa berjarak. Tak ada yang membuatku teringat pada masa laluku yang menyakitkan.

Jacob ragu-ragu. “Aku baru mau mengutak-atik mobilku, tapi kita bisa melakukan hal lain…”

“Tidak, itu sempurna!” selaku. “Aku ingin sekali melihat mobilmu.”

“Oke” sahut Jacob, tak yakin. “Ada di belakang, di garasi.”

Malah lebih baik, batinku. Aku melambai pada Billy. “Sampai ketemu lagi nanti.”

Pepohonan rindang dan semak belukar menyembunyikan garasi dari rumah. Garasi itu sebenarnya tak lebih dari dua pondok besar yang disatukan. Di dalamnya, di atas blok sinder, bertengger sesuatu yang dalam pandanganku menyerupai mobil utuh. Aku mengenali simbol di grille depannya, paling tidak.

“Volkswagen apa itu?” tanyaku.

“Volkswagen Rabbit—keluaran 1986, mobil klasik.”

“Bagaimana keadaannya:”

“Hampir selesai,” jawab Jacob riang. Kemudian suaranya turun satu oktaf. “Ayahku menepati janjinya padaku musim semi lalu.”

“Ah,” ucapku.

Tampaknya Jacob memahami keenggananku untuk mengungkit lagi topik itu. Aku mencoba untuk tidak mengingat kejadian saat prom bulan Mei. Ketika itu Jacob disuap ayahnya dengan janji akan diberi uang dan onderdil mobil asalkan mau menyampaikan pesan untukku ke sana. Billy ingin aku menjauh dari orang terpenting dalam hidupku. Ternyata kekhawatirannya, akhirnya, tidak beralasan. Aku malah terlalu aman sekarang.

Tapi aku bertekad akan melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

“Jacob, kau tahu seluk-beluk motor?” tanyaku.

Jacob mengangkat bahu. “Lumayan. Temanku Embry punya motor trail. Kadang-kadang kami mengutak-atiknya. Kenapa?”

“Well…” Aku mengerucutkan bibir sambil menimbang-nimbang. Aku ragu apakah Jacob bisa merahasiakan hal ini, tapi aku tak punya banyak pilihan. “Belum lama ini aku mendapat sepasang sepeda motor, tapi kondisinya tidak bagus. Aku ingin tahu apakah kau bisa membetulkannya.”

“Asyik” Jacob tampak benar-benar senang mendapat tantangan itu. Wajahnya berseri-seri. “Akan kucoba.”

Aku mengacungkan jari, mengingatkan. “Masalahnya,” aku menjelaskan. “Charlie tidak suka aku naik motor. Jujur saja, bisa jadi urat nadi di dahinya bakal putus kalau dia tahu tentang hal ini. Jadi kau tidak boleh memberi tahu Billy.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.