Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku berkonsentrasi pada rencana tanpa harapan itu untuk mencegah pikiranku terbawa lagi ke kenangan yang menyakitkan. Melakukan hal ceroboh di Forks membutuhkan kreativitas tinggi— mungkin lebih dari yang kumiliki. Tapi aku berharap bisa menemukan jalan… perasaanku bakal lebih enak jika aku tidak berpegangan eraterat, sendirian, pada kesepakatan yang sudah dilanggar. Seandainya saja aku juga bisa melanggar sumpahku sendiri. Tapi bagaimana aku bisa berbuat curang, di kota kecil yang aman tenteram ini? Tentu saja Forks tidak selalu aman. tapi begitulah tampaknya keadaannya sekarang Membosankan aman.

Lama sekali aku memandang ke luar kaca depan, pikiranku bergerak lambat—sepertinya aku tak bisa membuat pikiranku berkelana ke tempat lain. Kumatikan mesin, yang mengerang dengan suara memilukan setelah tidak dijalankan begitu lama, lalu turun ke tengah hujan yang mengguyur.

Hujan dingin menetes-netes dari rambutku, kemudian mengalir menuruni pipi bagai air mata. Air hujan membantu menjernihkan kepalaku. Aku mengerjap-ngerjapkan air dari mataku, menatap kosong ke seberang jalan.

Setelah memandang selama satu menit, barulah aku menyadari di mana aku berada. Aku memarkir trukku di tengah-tengah jalur utara Russell Avenue. Aku berdiri di depan rumah keluarga Cheney—trukku menghalangi jalan masuk ke garasi mereka—dan di seberang jalan tinggal keluarga Marks. Aku tahu aku harus memindahkan trukku, dan bahwa aku harus pulang. Salah besar berkeliaran tanpa tujuan seperti ini, pikiran melantur dan linglung, membahayakan keselamatan pengemudi lain di Forks. Selain itu, sebentar lagi pasti ada orang yang bakal melihatku, dan melaporkanku pada Charlie.

Saat menghela napas dalam-dalam untuk bersiap-siap sebelum bergerak, sebuah pengumuman di halaman rumah ke-luarga Marks menarik perhatianku—sebenarnya itu hanyalah potongan kardus yang disandarkan di kotak pos, dengan tulisan huruf-huruf balok hitam di atasnya.

Terkadang, takdir benar-benar terjadi.

Kebetulan? Atau memang sudah ditakdirkan seperti itu? Entahlah, tapi tolol rasanya berpikir bahwa entah bagaimana sudah ditakdirkan bahwa sepeda-sepeda motor rongsok karatan di halaman depan rumah keluarga Marks, di sebelah pengumuman bertulis tangan DIJUAL, SEBAGAIMANA ADANYA, memiliki tujuan lain yang lebih besar dengan berada di sana, tepat di tempat aku membutuhkannya.

Jadi mungkin itu bukan takdir. Mungkin ada banyak cara untuk bertindak ceroboh, dan baru sekarang mataku terbuka.

Ceroboh dan tolol. Itu dua kata favorit Charlie sehubungan dengan sepeda motor.

Pekerjaan Charlie tidak sebanyak pekerjaan polisi di kota-kota besar, tapi ia sering mendapat panggilan dalam kasus-kasus kecelakaan lalu lintas. Dengan jalan bebas hambatan yang panjang dan basah, berkelok-kelok dan berbelok menembus hutan, tikungan buta demi tikungan buta, mudah saja melakukan aksi semacam itu. Tapi bahkan dengan adanya truk-truk tronton yang melaju lambat mengangkut kayu, sebagian besar orang memilih tak melakukannya. Kecuali mereka yang mengendarai sepeda motor, dan Charlie sudah terlalu sering melihat korban-korban berjatuhan, hampir selalu anak-anak, tergeletak di jalan raya. Ia pernah menyuruhku berjanji sebelum aku berumur sepuluh tahun, untuk tidak pernah naik motor. Bahkan di usia semuda itu, aku tak perlu berpikir dua kali sebelum berjanji. Siapa yang mau naik motor di sini? Rasanya seperti mandi dalam kecepatan sembilan puluh kilo meter per jam.

Begitu banyak janji yang kutepati…

Saat itulah sebuah ide muncul di kepalaku. Aku ingin melakukan hal yang tolol dan ceroboh, dan aku ingin melanggar janji. Mengapa harus berhenti pada satu hal saja?

Hanya sampai sejauh itu aku memikirkannya. Kuterobos genangan air hujan menuju pintu depan rumah keluarga Marks dan menekan bel.

Salah seorang anak lelaki keluarga Marks, yang lebih muda, yang baru masuk SMA membukakan pintu. Aku tak ingat namanya. Rambut pirang pasirnya hanya sebahuku.

Anak itu mengenaliku. “Bella Swan?” serunya kaget.

“Berapi harga motor itu?” tanyaku, napasku terengah-engah, menyentakkan ibu jariku ke balik bahu ke arah benda yang dipajang di halaman

“Kau serius?” tanyanya.

“Tentu saja.”

“Sepeda-sepeda motor itu sudah tidak bisa jalan.”

Aku mendesah tak sabaran—itu sudah bisa kusimpulkan dan tulisan di pengumuman. “Berapa?”

“Kalau kau benar-benar menginginkannya, ambil saja. Ibuku menyuruh ayahku memindahkan sepeda-sepeda motor itu ke jalan supaya diangkut truk sampah.”

Kulirik lagi sepeda-sepeda motor itu dan menyadari keduanya bertengger di atas tumpukan rumput kering dan ranting-ranting mau.”Kau yakin?”

“Tentu, mau tanya sendiri pada ibuku?”

Mungkin lebih baik tidak melibatkan orang dewasa, siapa tahu ia akan menyampaikannya pada Charlie.

“Tidak, aku percaya padamu.”

Kau mau aku membantumu?” cowok itu menawarkan diri. “Motor itu tidak enteng lho.”

“Oke, trims. Tapi aku hanya butuh satu.”

“Sebaiknya ambil saja dua-duanya,” kata cowok itu. “Mungkin kau bisa menggunakan onderdilnya.”

Cowok itu mengikutiku keluar ke tengah curahan hujan dan membantuku menaikkan kedua motor yang berat itu ke bak belakang trukku. Sepertinya ia bersemangat sekali ingin menyingkirkannya, jadi aku tidak membantah.

“Memangnya apa yang mau kaulakukan dengan sepeda-sepeda motor itu?” tanyanya. “Sudah bertahun-tahun tidak bisa jalan”

“Sudah kuduga,” kataku, mengangkat bahu. Karena ide ini muncul mendadak, aku belum sempat menyusun rencana apa pun. “Mungkin aku akan membawanya ke bengkel Dowling.”

Cowok itu mendengus. “Dowling akan meminta ongkos perbaikan lebih mahal daripada harga motornya sendiri.”

Itu benar. John Dowling terkenal sering memasang tarif mahal; tak ada yang mau membetulkan mobil di bengkelnya kecuali terpaksa. Kebanyakan lebih suka pergi ke bengkel di Port Angeles, kalau mobilnya masih bisa jalan. Dalam hal itu, aku sangat beruntung—awalnya aku sempat khawatir, waktu Charlie menghadiahiku truk antik ini, bahwa aku takkan bisa merawatnya. Tapi ternyata aku tak pernah mengalami masalah apa pun, kecuali suara mesinnya yang berisik dan batas maksimal kecepatannya yang hanya 88 kilometer per jam. Jacob Black telaten merawatnya sejak mobil ini masih menjadi milik ayahnya, Billy…

Ilham menyambarku bagai sambaran petir— bukan hal yang tidak masuk akal, mengingat saat ini sedang hujan badai. “Kau tahu nggak? Itu bukan masalah. Aku kenal orang yang jago mengutak-atik mobil”

“Oh. Baguslah kalau begitu,” Cowok itu tersenyum lega.

Cowok itu melambaikan tangan waktu aku menjalankan trukku, masih terus tersenyum. Ramah juga dia.

Sekarang aku ngebut dan memiliki tujuan, ingin cepat-cepat sampai di rumah sebelum Charlie pulang, siapa tahu ia pulang lebih cepat, walaupun kecil sekali kemungkinan itu bakal terjadi. Aku menghambur ke dalam rumah menuju pesawat telepon, masih sambil menggenggam kunci mobil.

“Kepala Polisi Swan, please,” kataku waktu teleponku dijawab seorang deputi. “Ini Bella.”

“Oh, hai, Bella,” sahut Deputi Steve ramah. “Akan kupanggilkan dia”

Aku menunggu.

“Ada apa, Bella?” tuntut Charlie begitu mengangkat telepon.

“Apa aku tidak boleh menelepon Dad kalau tidak ada masalah gawat?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.