Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Serius, Bella, begitu kedua orang ini selesai, aku akan menutup toko,” gumam Mike.

“Yah, jika kau memang ingin aku pergi…” aku mengangkat bahu.

“Dalam posisi merangkak, hewan itu lebih tinggi daripada kau,” si cowok berjenggot ngotot sementara aku mengemasi barang-barangku. “Besar sekali dan hitam pekat. Aku akan melaporkannya pada pengawas hutan di sini. Orang-orang harus diperingatkan—aku tidak melihatnya di gunung lho— tapi hanya beberapa kilometer dari ujung jalan setapak.”

Si wajah kasar tertawa dan memutar bola matanya. “Biar kutebak—kau melihatnya dalam perjalanan turun, kan? Kau belum makan makanan sungguhan atau tidur di tanah selama seminggu, bukan?”

“Hei, eh, namamu Mike, kan?” seru si cowok berjenggot, menoleh pada kami.

“Sampai keremu Senin,” gumamku

“Ya, Sir,” jawab Mike. berpaling pada mereka.

“Katakan, pernahkah ada peringatan di sini baru-baru ini—tentang beruang hitam?”

“Tidak, Sir. Tapi ada baiknya untuk selalu menjaga jarak dan menyimpan makanan Anda dengan benar. Anda sudah pernah melihat kaleng antiberuang kami yang baru? Beratnya tidak sampai satu kilo…”

Pintu menggeser terbuka dan aku keluar menerobos hujan Aku meringkuk di dalam jaketku dan berlari ke mobil. Hujan menderas memukulmukul penutup kepalaku dengan suara luar biasa keras, tapi sebentar saja raungan mesin mengalahkan suara lainnya.

Aku tidak ingin pulang ke rumah Charlie yang kosong. Semalam sangat menyiksa, dan aku tak ingin mengulangi lagi adegan penyiksaan itu. Bahkan setelah kepedihan hatiku mereda sehingga aku bisa tidur, penyiksaan itu ternyata belum berakhir. Seperti yang kukatakan pada Jessica setelah nonton film, tak diragukan lagi aku pasti akan bermimpi buruk.

Sekarang setiap malam aku memang selalu bermimpi buruk. Mimpiku selalu sama, karena selalu mimpi buruk yang sama. Kau pasti mengira aku akan bosan setelah sekian bulan berlalu, menjadi imun terhadapnya. Tapi mimpi itu tak pernah gagal membuatku ngeri, dan baru berakhir saat aku menjerit terbangun. Charlie tak pernah datang lagi untuk menengok dan mencari tahu apa yang terjadi, untuk memastikan tidak ada penyusup yang mencekikku atau semacamnya—ia sekarang sudah terbiasa.

Mimpi burukku mungkin bahkan tidak menakutkan bagi orang lain. Tidak ada yang tahutahu melompat dari persembunyian dan berteriak, “Buuu!” Tidak ada zombie, tidak ada hantu, tidak ada psikopat. Hanya pepohonan berlumut membentang sejauh mata memandang, begitu sunyi sehingga kesunyian itu menekan gendang telingaku. Suasana gelap, seperti senja di hari berawan, hanya ada seberkas cahaya tertinggal untuk melihat bahwa tidak ada yang bisa dilihat. Aku bergegas menembus keremangan tanpa jalan setapak, selalu mencari, mencari, mencari, makin lama makin panik sementara waktu terus berjalan, berusaha bergerak lebih cepat, meski kecepatan membuat langkahku kikuk… Kemudian aku akan sampai pada satu titik dalam mimpiku—dan aku bisa merasakannya datang sekarang, tapi rasanya aku tak pernah bisa menggugah diriku untuk bangun sebelum saat itu tiba—saat aku tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya kucari. Waktu aku sadar tidak ada apa-apa yang bisa dicari, dan tidak ada apa-apa yang bisa ditemukan. Bahwa tak pernah ada apa-apa kecuali hutan sepi yang kosong, dan tidak akan pernah ada apa-apa lagi untukku… tidak ada apa-apa kecuali kehampaan…

Biasanya saat itulah teriakanku dimulai.

Aku tidak memerhatikan ke mana aku mengendarai trukku—hanya berjalan tak tentu arah, menyusuri jalan tikus yang kosong dan basah karena aku sengaja menghindari jalan-jalan menuju rumahku—karena aku memang tak tahu mau pergi ke mana.

Kalau saja aku bisa merasa kebas lagi, tapi aku tak ingat bagaimana dulu aku bisa membuat diriku merasa seperti itu. Mimpi buruk itu menggayuti pikiranku dan membuatku memikirkan hal-hal yang akan membuatku sedih. Aku tak ingin mengingat hutan. Bahkan saat aku bergidik dan menepis bayangan-bayangan itu, aku merasa air mataku merebak dan kepedihan mulai merayapi tubir lubang di dadaku. Kulepas saru tangan dari kemudi dan memeluk tubuhku agar tetap utuh.

Nantinya akan terasa seolah olah aku tak pernah ada. Kata-kata itu berkelebat di benakku, tak lagi terdengar jelas dan sempurna seperti halusinasiku semalam. Sekarang itu hanya kata-kata, tanpa suara, seperti tulisan yang tercetak di buku. Hanya kata-kata, tapi kata-kata itu mengoyak lubang di dadaku hingga terbuka lebar, dan aku menginjak rem keras-keras, tahu seharusnya aku tidak menyetir dalam keadaan seperti ini.

Aku membungkuk, menempelkan wajahku ke kemudi dan mencoba bernapas tanpa paru-paru.

Aku bertanya-tanya berapa lama ini akan berlangsung Mungkin suatu saat nanti, bertahuntahun dari sekarang—bila kepedihan itu mereda hingga ke tahap aku sanggup menanggungnya— aku akan bisa mengenang kembali beberapa bulan pendek yang akan selalu menjadi masa-masa terindah dalam hidupku. Dan, jika kepedihan ini bisa cukup mereda hingga membuatku mampu berbuat begitu, aku yakin akan merasa bersyukur atas waktu yang pernah ia berikan padaku. Lebih dari yang kuminta, lebih dari yang pantas kuterima. Mungkin suatu saat nanti aku bisa melihatnya seperti itu.

Tapi bagaimana jika lubang ini takkan pernah membaik? Bila tubirnya yang basah tak pernah sembuh? Bila kerusakannya permanen dan tak bisa diperbaiki lagi?

Kudekap diriku lebih erat lagi. Nantinya akan terasa seolah-olah ia tak pernah ada, pikirku merana. Janji yang sungguh tolol dan mustahil ditepati! Bisa saja ia mencuri foto-fotoku dan mengambil kembali hadiah-hadiahnya, tapi itu tidak mengembalikan keadaan seperti dulu, sebelum aku bertemu dengannya. Bukti fisik adalah bagian yang paling tidak signifikan. Aku telah diubah, bagian dalam diriku diubah hingga nyaris tak bisa dikenali lagi. Bahkan bagian luarku tampak berbeda—wajahku pucat kekuningan, putih kecuali bagian bawah mata yang berwarna ungu, hasil mimpi buruk yang tak berkesudahan. Mataku tampak gelap berlatar belakang kulitku yang pucat sehingga—meskipun seandainya aku cantik, dan dilihat dari dekat—aku bahkan bisa dikira vampir sekarang. Tapi aku tidak cantik, jadi kemungkinan aku lebih mirip zombie.

Seolah-olah ia tak pernah ada? Itu gila namanya. Janji yang takkan pernah bisa ia tepati, janji yang dilanggar segera setelah ia membuatnya.

Aku membentur-benturkan kepalaku ke kemudi, berusaha mengalihkan diriku dari kepedihan yang teramat sangat.

Itu membuatku merasa tolol, karena berpikir untuk selalu menepati janjiku. Di mana logisnya, menepati kesepakatan yang sudah dilanggar pihak satunya? Siapa yang peduli kalau aku melakukan perbuatan yang tolol dan ceroboh? Tak ada alasan menghindar dari kecerobohan, tak ada alasan mengapa aku tak boleh melakukan hal tolol.

Aku tertawa meski pikirku itu tidak lucu, masih megap-megap menghirup udara. Bertindak ceroboh di Forks—melakukan rencana itu di sini sama sekali tak ada harapan.

Humor tidak lucu itu mengalihkan perhatianku, dan meredakan kepedihan hatiku. Napasku mulai mudah, dan aku bisa duduk bersandar ke kursi. Walaupun hari ini cuaca dingin, tapi dahiku basah oleh keringat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.