Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku mengangkat bahu, berharap Jessica akan melupakannya. Aku hanya mengira kenal salah satu dari mereka.”

“Kau ini aneh sekali, Bella Swan. Aku merasa seperti tidak mengenal dirimu.”

“Maaf.” Aku tidak tahu lagi harus bilang apa.

Kami berjalan memasuki McDonald’s sambil membisu. Aku berani bertaruh, Jessica pasti menyesal karena tadi kami berjalan kaki ke sini, bukannya naik mobil, supaya bisa memesan lewat mobil saja. Sekarang ia gelisah dan ingin Segera mengakhiri malam ini, sama seperti yang kurasakan pada awalnya.

Beberapa kali aku mencoba mengajaknya mengobrol sambil makan, tapi Jessica menolak bekerja sama. Aku pasti benar-benar telah membuatnya tersinggung.

Waktu kami kembali ke mobilnya, Jessica mengembalikan saluran ke stasiun radio favoritnya dan mengeraskan volume sampai kelewat keras untuk bisa ngobrol dengan nyaman.

Aku tidak perlu berusaha sekeras biasa untuk mengabaikan musiknya. Walaupun pikiranku, sekali itu, tidak kebas dan kosong, tapi banyak hal lain yang kupikirkan selain menyimak lirik lagu.

Kutunggu perasaan kebas itu kembali, atau kepedihan itu. Karena kepedihan itu pasti datang. Aku sudah melanggar aturanku sendiri. Alih-alih menghindar dari kenangan, aku malah maju dan menyapanya. Aku sudah mendengar suaranya, begitu jelas, di kepalaku. Ada harga yang harus kubayar, aku yakin itu. Apalagi kalau aku tidak bisa lagi mendatangkan kabut untuk melindungi diriku. Aku merasa terlalu sadar, dan itu membuatku takut.

Tapi kelegaan masih merupakan emosi terkuat dalam diriku—kelegaan yang berasal dari lubuk hatiku yang terdalam.

Meski berjuang keras untuk tidak memikirkan dia, aku tidak berjuang untuk melupakan. Aku khawatir—di larut malam saat kelelahan karena kurang tidur mematahkan pertahananku—semua itu berangsur-angsur lenyap. Bahwa pikiranku berlubang-lubang seperti saringan, dan bahwa suatu saat nanti aku tak lagi bisa mengingat warna matanya dengan tepat, sentuhan kulitnya yang dingin, serta tekstur suaranya. Aku tidak bisa memikirkannya, tapi aku harus mengingatnya.

Karena tinggal satu hal yang perlu kuyakini agar aku bisahidup–aku harus tahu dia ada. Itu saja. Yang lain-lain masih bisa kutahan. Pokoknya asal dia ada.

Itulah sebabnya aku merasa lebih terperangkap di Forks daripada sebelumnya, mengapa aku bertengkar dengan Charlie waktu ayahku mengusulkan perubahan. Sejujurnya, seharusnya itu bukan masalah; tidak ada yang akan kembali lagi ke sini.

Tapi kalau aku pindah ke Jacksonville, atau ke tempat lain yang terang benderang dan tidak familier, bagaimana aku bisa yakin ia nyata? Di tempat aku tidak akan pernah bisa membayangkan dia, keyakinan itu akan memudar… dan itu tidak bisa kuterima.

Terlarang untuk diingat, takut untuk dilupakan; sungguh sulit menjalaninya.

Aku terkejut waktu Jessica menghentikan mobilnya di depan rumahku. Perjalanan pulang tidak memakan waktu lama, tapi, meski terasa sebentar, aku tidak mengira Jessica bakal membisu sepanjang jalan.

“Terima kasih sudah mau pergi denganku, Jess,” kataku sambil membuka pintu. “Acara kita tadi… asyik.” Aku berharap asyik istilah yang tepat.

“Tentu,” gumamnya.

“Aku minta maaf tentang… kejadian sehabis film tadi.”

“Terserahlah, Bella” Jessica memandang lurus ke kaca depan, tidak memandangku. Sepertinya semakin malam ia semakin marah, bukan malah melupakannya.

“Sampai ketemu lagi hari Senin?”

“Yeah. Bye.”

Aku menyerah dan menutup pintu. Jessica menderu pergi, masih tak mau melihatku.

Aku sudah lupa pada Jessica sesampainya di dalam rumah.

Charlie menungguku di tengah ruang depan, kedua lengannya terlipat rapi di dada dengan telapak tangan mengepal.

“Hai, Dad,” sapaku acuh tak acuh sambil merunduk melewati Charlie, berjalan menuju tangga. Aku sudah terlalu lama memikirkan dia, dan aku ingin berada di atas sebelum semua itu mengejarku.

“Dari mana saja kau?” tuntut Charlie.

Kupandangi ayahku, terkejut. “Aku pergi nonton film di Port Angeles bersama Jessica. Seperti yang kubilang tadi pagi.”

“Hahhh,” gerutu ayahku.

“Tidak apa-apa, kan?”

Charlie mengamati wajahku, matanya melebar ketika melihat sesuatu yang tak terduga. “Yeah, tidak apa-apa. Kau senang?”

“Tentu,” jawabku. “Kami nonton zombie memangsa orang-orang. Bagus sekali.”

Mata Charlie menyipit.

“Malam, Dad.”

Charlie membiarkanku lewat. Aku bergegas masuk ke kamarku.

Aku berbaring di tempat tidur beberapa menit kemudian, menyerah saat kepedihan itu akhirnya muncul.

Hal ini benar-benar melumpuhkan, sensasi bahwa sebuah lubang besar menganga di dadaku, merenggut semua organ vitalku dan meninggalkan bekas luka yang masih basah dan berdarah di sekelilingnya, yang masih tetap berdenyut nyeri dan mengeluarkan darah meski waktu terus berjalan. Secara rasional aku tahu paru-paruku pasti masih utuh, namun a megap-megap menghirup udara dan kepalaku berputar seolaholah segenap usahaku sia-sia. Jantungku pasti juga masih berdetak, tapi aku tak bisa mendengar detaknya di telingaku; tanganku terasa biru kedinginan. Aku meringkuk seperti bayi, memeluk dada seperti memegangi diriku agar tidak hancur berantakan. Aku berusaha menggapai perasaan kelu dan lumpuh, penyangkalanku, tapi perasaan itu meninggalkanku.

Meski begitu, kudapati bahwa ternyata aku bisa bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan itu—perasaan kehilangan yang terpancar keluar dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan yang menghancurkan ke kaki—tangan dan kepalaku—tapi semua itu masih bisa kutahan. Aku bisa melewatinya. Walaupun rasanya kepedihan itu tidak melemah seiring berjalannya waktu, tapi aku jadi semakin kuat menahannya.

Apa pun yang terjadi malam ini—dan apakah penyebabnya zombie, adrenalin, atau halusinasi— itu telah membangunkan aku.

Untuk pertama kali dalam kurun waktu lama, aku tidak tahu harus mengharapkan apa esok pagi.

 

5. CURANG

“BELLA, bagaimana kalau kau pulang saja,” Mike menyarankan, matanya terfokus ke satu sisi, tidak benar-benar menatapku. Aku bertanya-tanya berapa lama hal itu sudah berlangsung, tanpa aku menyadarinya.

Sore ini tak banyak pengunjung di Newtons. Saat itu hanya ada dua pengunjung, backpacker sejati kalau menilik dari obrolannya. Mike menghabiskan satu jam terakhir menjelaskan kelebihan dan kekurangan dua merek ransel lightweight pada mereka. Tapi mereka menghentikan dulu pembicaraan serius tentang harga, dan malah asyik saling membual soal kisah-kisah petualangan hiking terbaru mereka di hutan. Mike memanfaatkan kesempatan itu untuk meninggalkan mereka sebentar.

“Aku tidak keberatan tetap di sini,” kataku. Aku masih belum bisa menenggelamkan diri kembali ke cangkang mati rasa yang melindungiku, jadi segala sesuatu tampak begitu dekat dan nyaring hari ini, seakan-akan aku telah membuka kapas yang selama ini menyumbat telingaku. Kucoba untuk mengabaikan tawa para hiker itu, tapi tidak berhasil.

“Sudah kubilang,” kata cowok gempal berjenggot oranye yang tidak cocok dengan rambutnya yang cokelat gelap. “Aku sudah pernah melihat beruang grizzly dari jarak sangat dekat waktu di Yellowstone, tapi itu masih belum apa-apa dibandingkan binatang yang satu ini.” Rambutnya lengket, dan bajunya kelihatan seperti sudah dipakai berhari-hari. Benar-benar baru turun gunung.

“Tidak mungkin. Beruang hitam tidak mungkin bisa sebesar itu. Beruang grizzly yang kaulihat itu mungkin bayi beruang.” Cowok kedua tinggi langsing, wajahnya gosong terbakar matahari dan berkerut-kerut karena kelewat sering di udara terbuka, membentuk lapisan kulit kering yang mengesankan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.