Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Dan aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang tolol atau ceroboh. Karena semua alasan itu, aku masih bernapas hingga detik ini.

Teringat pada janji itu, aku merasakan secercah perasaan bersalah, tapi apa yang kulakukan sekarang tidak tergolong perbuatan tolol dan ceroboh. Aku kan tidak mengiris pergelangan tanganku dengan pisau.

Mata Jess membulat, mulutnya ternganga lebar. Pertanyaannya tentang bunuh diri tadi hanya pertanyaan retoris, dan aku terlambat menyadarinya.

“Pergi makan sana,” bujukku padanya, melambaikan tangan ke restoran cepat saji. Aku tidak suka caranya menatapku. “Sebentar lagi aku menyusul”

Aku berpaling darinya, kembali menatap keempat cowok yang memandangi kami dengan sorot takjub bercampur ingin tahu.

“Bella, hentikan sekarang juga!”

Otot-ototku langsung mengejang, membeku kaku di tempatku berdiri. Karena bukan suara Jessica yang menegurku sekarang. Suara itu bernada marah, suara yang sangat kukenal, suara yang indah—lembut bagai beledu bahkan saat sedang gusar.

Itu suaranya—aku sangat berhati-hati untuk tidak menyebut namanya—dan terkejut karena suara itu tidak membuatku terjengkang, tidak membuatku meringkuk di trotoar karena tersiksa oleh perasaan kehilangan. Tidak ada kepedihan, tidak ada sama sekali.

Detik itu juga, begitu mendengar suaranya, semuanya jadi sangat jelas. Seakan-akan kepalaku mendadak muncul di permukaan kolam berair gelap. Aku jadi lebih menyadari semuanya— pemandangan, suara-suara, hawa dingin yang tidak kusadari berembus tajam menerpa wajahku, aroma yang menyeruak dari pintu bar yang terbuka.

Aku memandang berkeliling dengan shock.

“Kembali ke Jessica,” suara indah itu memerintahkan, masih bernada marah. “Kau sudah berjanji—tidak akan melakukan perbuatan tolol.”

Aku sendirian. Jessica berdiri beberapa meter dariku, menatapku dengan sorot ngeri. Bersandar di dinding, orang-orang asing itu menonton dengan bingung, mempertanyakan sikapku yang berdiri mematung di tengah jalan.

Aku menggeleng, berusaha memahami. Aku tahu ia tidak ada di sana, namun tetap saja ia terasa begitu dekat, dekat untuk pertama kalinya sejak… sejak yang terakhir itu. Nada marah dalam suaranya merupakan ungkapan keprihatinan amarah sama yang dulu pernah sangat familier— sesuatu yang sudah lama tak pernah kudengar lagi, sepertinya sudah selamanya.

“Tepati janjimu.” Suara itu mulai menghilang, seperti suara radio yang volumenya dikecilkan.

Aku mulai curiga jangan-jangan sedang berhalusinasi. Dipicu, tak diragukan lagi, oleh kenangan itu—deja vu itu, perasaan familier aneh bahwa aku pernah mengalami situasi yang sama.

Dengan cepat aku menelaah berbagai kemungkinan dalam pikiranku.

Opsi pertama: aku sudah sinting. Itu istilah orang awam bagi mereka yang mendengar suarasuara dalam pikiran mereka.

Mungkin.

Opsi kedua: Pikiran bawah sadarku memberiku apa yang memang kuinginkan. Ini pemenuhan keinginan—kelegaan sementara dari rasa sakit dengan merangkul pemikiran yang keliru bahwa ia peduli apakah aku hidup atau mati. Memproyeksikan apa yang akan ia katakan seandainya A) ia ada di sini, dan B) ia takut sesuatu yang buruk bakal terjadi padaku.

Kemungkinan.

Aku tak bisa melihat opsi ketiga, jadi aku berharap pilihannya adalah yang kedua dan ini hanya pikiran bawah sadarku yang tak terkendali, bukannya sesuatu yang mengharuskan aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Namun reaksiku tak bisa dibilang waras—aku justru bersyukur Selama ini aku memang takut kehilangan suaranya, dan dengan demikian, lebih dari yang lain, aku sangat bersyukur pikiran bawah sadarku bisa mengenang suara itu lebih jelas daripada pikiran sadarku.

Aku tak boleh memikirkan dia. Itu sesuatu yang selama ini kuhindari. Tentu saja sesekali terpeleset itu wajar; aku hanya manusia biasa. Tapi keadaanku semakin baik, jadi sekarang ini kepedihan itu bisa kuhindari selama beberapa hari berturut-turut. Gantinya adalah perasaan kebas yang tak pernah berakhir. Antara merasa pedih dan tidak merasa apa-apa, aku memilih tidak merasa apa-apa.

Aku menunggu datangnya kepedihan itu sekarang. Aku tidak lumpuh—pancaindraku terasa luar biasa intens setelah sekian bulan diliputi kabut—tapi kepedihan normal itu tak kunjung datang. Satu-satunya kesakitan hanya perasaan kecewa karena suaranya menghilang.

Aku punya waktu sedetik untuk memilih.

Tindakan bijaksana adalah lari dari perkembangan yang kemungkinan besar bakal menghancurkan—dan jelas tidak stabil secara mental—ini. Sungguh tolol mendorong munculnya halusinasi.

Tapi suaranya semakin menghilang.

Aku maju selangkah, mengetes.

“Bella, kembali,” geramnya.

Aku mendesah lega. Kemarahan itulah yang ingin ku dengar—bukti palsu yang dibuat-buat bahwa ia peduli, anugerah meragukan dari alam bawah sadarku.

Beberapa derik berlalu sementara aku menyortir pikiranku Orang-orang asing itu memandangiku, ingin tahu. Mungkin yang terlihat di luar adalah aku sedang menimbang-nimbang apakah akan menghampiri mereka atau tidak. Bagaimana mereka bisa menebak bahwa aku berdiri di sana menikmati momen ketidakwarasan yang mendadak datang tanpa diduga?

“Hai,” sapa salah satu cowok itu, nadanya penuh percaya diri sekaligus sedikit sarkastis. Kulit dan rambutnya terang, dan ia berdiri dengan sikap percaya diri, yakin dirinya tampan. Aku tidak bisa melihat apakah ia tampan atau tidak. Aku diliputi prasangka.

Suara di kepalaku menjawab dengan geraman menakutkan. Aku tersenyum, dan si cowok yang percaya diri itu sepertinya menanggap itu undangan.

“Ada yang bisa kubantu? Sepertinya kau tersesat,” Lelaki itu nyengir dan mengedipkan mata.

Dengan hati-hati aku melangkahi selokan yang dialiri air yang tampak hitam dalam kegelapan.

“Tidak. Aku tidak tersesat.”

Sekarang setelah aku berada lebih dekat—dan anehnya mataku bisa terfokus—aku menganalisis cowok pendek berambut gelap tadi. Ternyata sama sekali asing. Aku merasakan sensasi kecewa yang mencurigakan bahwa ia ternyata bukan cowok jahat yang berusaha menyakitiku hampir satu tahun yang lalu.

Suara di kepalaku kini diam.

Si cowok pendek menyadari tatapanku. “Boleh aku membelikanmu minuman?” ia menawarkan, gugup, tampaknya tersanjung karena aku memandanginya terus.

“Aku masih di bawah umur,” jawabku otomatis.

Cowok itu terperangah—bertanya-tanya mengapa aku mendekati mereka. Aku merasa wajib menjelaskan.

“Dari seberang jalan, kau mirip seseorang yang kukenal. Maaf, ternyata aku salah.”

Ancaman yang menarikku dari seberang jalan mendadak menguap. Mereka bukan cowok-cowok berbahaya yang kuingat. Mungkin mereka orang baik-baik. Aman. Aku langsungtidak tertarik lagi.

“Tidak apa-apa,” si cowok pirang yang percaya diri tadi berkata. “Tinggallah di sini dan ngobrol dengan kami.”

“Trims, tapi aku tak bisa.” Jessica ragu-ragu di tengah jalan, matanya membelalak oleh amarah dan perasaan dikhianati.

“Oh, beberapa menit saja.”

Aku menggeleng, dan berbalik untuk bergabung dengan Jessica.

“Ayo kita makan,” usulku, nyaris tidak meliriknya. Walaupun aku tampak, saat itu, terbebas dari sikap kosong dan hampa seperti zombie, namun aku tetap menjaga jarak. Pikiranku sibuk. Perasaan mati yang aman dan kebas itu tidak kembali, dan aku jadi semakin gelisah seiring berjalannya waktu, karena perasaan itu tak kunjung datang.

“Apa sih yang ada dalam pikiranmu tadi?” bentak Jessica. Kau tidak kenal mereka—bisa jadi mereka psikopat!”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.