Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Dan sadarlah aku sosok mana yang paling menyerupai aku.

Aku berdiri.

“Mau ke mana kau? Kira-kira dua menit lagi filmnya habis,” desis Jess.

“Aku perlu minum,” gumamku sambil lari ke pintu keluar.

Aku duduk di bangku di luar pintu teater dan berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan keironisannya. Tapi memang ironis, kalau dipikirpikir, bahwa, pada akhirnya, justru akulah yang berubah jadi zombie. Sungguh tak terduga sama sekali.

Bukan berarti aku dulu tak pernah bermimpi menjadi monster mistis—hanya saja itu bukan mayat hidup menyeramkan. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat untuk mengenyahkan pikiran itu, merasa panik. Aku tak boleh memikirkan apa yang pernah kuimpikan dulu.

Sungguh menyedihkan menyadari diriku bukan lagi tokoh utama, bahwa kisahku sudah berakhir.

Jessica keluar dari pintu teater, sejenak tampak ragu, mungkin bertanya-tanya ke mana harus mulai mencariku. Begitu melihatku ia tampak lega, tapi hanya sesaat. Kemudian ia kelihatan kesal.

“Apakah filmnya terlalu seram bagimu?” tanyanya.

“Yeah,” jawabku. “Kurasa aku ini penakut.”

“Lucu juga.” Keningnya berkerut. “Aku tidak mengira kau ketakutan—aku menjerit terus, tapi tak pernah mendengarmu menjerit sekali pun. Jadi aku tidak mengerti kenapa kau malah keluar.”

Aku mengangkat bahu. “Aku cuma ketakutan.”

Jessica rileks sedikit. “Rasa-rasanya itu tadi memang film paling seram yang pernah kutonton.

Berani taruhan, malam ini kita pasti bakal bermimpi buruk.”

“Tak diragukan lagi,” sahutku, berusaha menjaga suaraku tetap normal. Aku tahu aku pasti bakal bermimpi buruk, tapi tidak ada zombie dalam mimpiku. Mata Jessica menatap wajahku sekilas, lalu membuang muka. Mungkin aku tak berhasil membuat suaraku terdengar normal.

“Kau mau makan di mana?” tanya Jess.

“Terserah.”

“Oke.”

Jess mulai mengoceh tentang aktor utama film tadi sementara kami berjalan beriringan. Aku mengangguk-angguk saat ia mencerocos penuh semangat, memuji-muji ketampanan si aktor. Aku sendiri tak ingat pernah melihat lelaki yang bukan zombie dalam film itu.

Aku tidak memerhatikan ke mana Jessica mengajakku. Aku hanya samar-samar menyadari di luar sudah gelap dan suasananya lebih sepi. Agak lama baru aku tersadar mengapa suasana sepi. Jessica sudah berhenti mengoceh. Kupandangi dia dengan sikap meminta maaf, berharap aku tidak membuatnya tersinggung.

Jessica tidak sedang melihat ke arahku. Wajahnya tegang; ia menatap lurus ke depan dan berjalan cepat. Kulihat matanya jelalatan ke kanan, ke seberang jalan, lalu melihat ke arah depan lagi, berulang kali.

Saat itulah baru aku memerhatikan keadaan sekelilingku.

Kami berada di trotoar yang tidak diterangi lampu jalan. Toko-toko kecil yang berjajar di sepanjang jalan sudah tutup semua, etalaseetalasenya gelap gulita. Setengah blok di depan, lampu-lampu jalan kembali menyala, dan tampak olehku di sana, lengkungan kuning cemerlang McDonald’s yang hendak didatanginya.

Di seberang jalan ada saru toko yang masih buka. Etalasenya diberi penutup di bagian dalam dan tampak reklame-reklame neon menyala, iklan berbagai merek bir, bersinar di depannya. Reklame terbesar berwarna hijau cerah, bertuliskan nama barnya—One-Eyed Pete’s. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah bar itu mengusung tema bajak laut yang tidak terlihat dari luar. Pintu besinya dibiarkan terbuka; bagian dalamnya remang-remang, dan dengungan pelan suara-suara pengunjung dan denting es batu membentur gelas terbawa hingga ke seberang jalan. Tampak empat cowok bersandar di dinding sebelah pintu.

Kulirik lagi Jessica. Matanya terpaku pada jalan di depannya dan ia berjalan cepat. Ia tidak tampak ketakutan—hanya waswas, berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Aku berhenti tanpa berpikir, memandangi keempat cowok itu dengan perasaan deja vu yang sangat kuat. Jalan yang berbeda, malam yang berbeda, tapi adegannya kurang-lebih sama. Salah seorang di antara mereka bahkan pendek dan berambut gelap. Saat aku berhenti dan berpaling ke arah mereka, cowok itu mendongak dengan sikap tertarik.

Aku balas menatapnya, membeku di trotoar.

“Bella?” Jess berbisik. “Apa yang kaulakukan?”

Aku menggeleng, aku sendiri tidak tahu. “Kurasa aku kenal mereka…,” gumamku.

Apa yang kulakukan? Seharusnya aku lari dari kenangan ini secepat aku bisa, menghalau bayangan empat cowok yang berdiri itu dari pikiranku, melindungi diriku dengan perasaan kebas yang membuatku bisa berfungsi selama ini. Kenapa aku malah melangkah, dengan linglung, ke jalan?

Rasanya terlalu kebetulan aku bisa berada di Port Angeles bersama Jessica, bahkan dijalan yang gelap. Mataku tertuju pada si cowok pendek, berusaha mencocokkannya dengan ingatanku tentang cowok yang mengancamku malam itu hampir satu tahun yang lalu. Aku penasaran apakah aku bisa mengenali cowok itu, bila itu benar-benar dia. Bagian tertentu dari malam tertentu itu kabur bagiku. Tubuhku lebih bisa mengingatnya daripada pikiranku; kakiku mengejang saat aku mencoba memutuskan akan lari atau tetap berdiri tegak, tenggorokanku kering saat aku berusaha menjerit keras-keras, kulitku menegang di bagian buku-buku jari saat aku mengepalkan tinju, bulu kudukku meremang saat si cowok berambut gelap memanggilku “Manis…”

Ada semacam kesan mengancam yang ditunjukkan cowok-cowok itu, yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa malam itu. Kesan itu muncul dari fakta bahwa mereka orang asing, bahwa suasana di sini gelap, dan jumlah mereka lebih banyak daripada kami—tidak ada yang lebih spesifik daripada itu. Tapi cukup membuat suara Jessica terdengar panik saat ia berseru memanggilku.

“Bella, ayolah!”

Aku tidak menggubrisnya, melangkah pelanpelan tanpa pernah memutuskan secara sadar untuk menggerakkan kakiku. Aku tidak mengerti mengapa, tapi ancaman samar yang ditunjukkan cowok-cowok itu justru menarikku ke arah mereka. Dorongan hati yang benar-benar tak masuk akal, tapi sudah lama sekali aku tak pernah lagi merasakan dorongan hati apa pun… jadi kuikuti saja.

Sesuatu yang asing berdesir dalam pembuluh darahku. Adrenalin, aku menyadari, yang sudah lama absen dalam diriku, menggenjot denyut nadiku semakin cepat dan berjuang melawan hilangnya sensasi. Aneh—mengapa ada adrenalin kalau aku tidak merasa takut? Rasanya nyaris bagaikan gema masa lalu saat aku berdiri seperti ini, di jalan gelap di Port Angeles, bersama orang-orang asing.

Aku tidak melihat alasan untuk takut. Aku tidak bisa membayangkan ada yang perlu kutakuti lagi di dunia ini, setidaknya secara fisik. Itu salah satu keuntungan kalau sudah kehilangan segalanya.

Aku sudah separo menyeberang ketika Jess menyusul dan menyambar lenganku.

“Bella! Kau tidak boleh masuk ke bar!” desisnya.

“Aku bukannya mau masuk,” jawabku asal, menepis tangannya. “Aku hanya ingin melihat sesuatu…”

“Kau sinting, ya?” bisiknya. “Kepingin bunuh diri?”

Pertanyaan itu menarik perhatianku, dan mataku terfokus padanya.

“Tidak, aku tidak kepingin bunuh diri” Suaraku defensif, tapi itu benar. Aku tidak bermaksud bunuh diri. Bahkan pada awalnya, saat kematian tak diragukan lagi akan mendatangkan kelegaan, itu tidak pernah terpikir olehku. Aku terlalu banyak berutang budi pada Charlie. Aku merasa bertanggung jawab atas Renee. Aku harus memikirkan mereka.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.