Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jessica menatapku ganjil “Bella, film itu kan sudah lama sekali tidak diputar lagi.”

“Oh.” Keningku berkerut. “Apakah ada film yang ingin kau tonton?”

Sifat asli Jessica yang cerewet serta-merta muncul sementara ia berpikir. “Well, ada film komedi romantis yang mendapat banyak pujian. Aku ingin menontonnya. Dan ayahku baru saja nonton Dead End dan benar-benar menyukainya.” Aku langsung tertarik pada judulnya yang menjanjikan.

“Ceritanya tentang apa?”

“Zombie dan semacamnya. Kata ayahku, itu film paling seram yang pernah ditontonnya bertahuntahun.”

“Kedengarannya sempurna.” Aku lebih suka berurusan dengan zombie daripada nonton film cinta-cintaan.

“Oke.” Kelihatannya Jessica terkejut melihat responsku. Aku berusaha mengingat-ingat apakah dulu aku suka nonton film horor, tapi tidak bisa memastikan. “Bagaimana kalau aku menjemputmu sepulang sekolah nanti?” Jessica menawarkan diri.

“Tentu.”

Jessica menyunggingkan senyum bersahabat yang masih terlihat sedikit ragu sebelum beranjak pergi. Aku agak terlambat membalas senyumnya, tapi kupikir ia masih sempat melihatnya.

Sisa hari itu lewat dengan cepat, pikiranku terfokus pada acara malam ini. Dari pengalaman sebelumnya aku tahu, begitu berhasil membuat Jessica ngobrol. aku hanya perlu bergumam pelan di saat yang tepat sebagai balasan. Hanya diperlukan interaksi minimal.

Kabut tebal yang mengaburkan hari-hariku kini terkadang membingungkan. Aku terkejut saat mendapati diriku sudah di kamar, tidak begitu mengingat perjalanan pulang ke rumah dan sekolah atau bahkan membuka pintu depan. Tapi itu bukan masalah. Aku justru bersyukur bila waktu berjalan tanpa terasa.

Aku tidak melawan kabut yang menyelubungi pikiranku saat berpaling menghadap lemari. Ada tempat-tempat tertentu di mana perasaan kebas itu lebih dibutuhkan. Aku nyaris tidak memerhatikan apa-apa saat menggeser pintu lemari, menyingkapkan tumpukan sampah di sisi kiri, tersuruk di bawah baju-baju yang tak pernah kupakai.

Mataku tidak melirik kantong plastik hitam besar berisi hadiah-hadiah ulang tahun terakhirku, tidak melihat bentuk stereo yang menonjol di balik plastik hitam; aku juga tidak berpikir tentang jarijariku yang berdarah setelah aku merenggutkan benda itu secara paksa dari dasbor.

Kusentakkan tas lama yang jarang kupakai dari gantungannya, lalu kudorong pintu lemari hingga tertutup.

Saat itulah aku mendengar suara klakson. Cepat-cepat kukeluarkan dompetku dari tas sekolah dan kumasukkan ke tas. Aku bergegas, seolah-olah dengan bergegas aku bisa membuat malam ini berlalu lebih cepat.

Kulirik diriku di cermin ruang depan sebelum membuka pintu, hati-hati mengatur ekspresiku dengan menyunggingkan senyum dan berusaha mempertahankannya.

“Terima kasih sudah mau pergi denganku malam ini,” kataku pada Jess sambil naik ke kursi penumpang, berusaha memperdengarkan nada berterima kasih. Sudah cukup lama aku tak pernah lagi memikirkan apa yang akan kukatakan pada orang lain selain Charlie. Jess lebih sulit. Aku tak yakin harus berpura-pura menunjukkan emosi yang bagaimana.

“Tentu. Omong-omong, mengapa tahu-tahu kepingin?” tanya Jess sambil menjalankan mobilnya.

“Tahu-tahu kepingin apa?”

“Mengapa kau tiba-tiba memutuskan… untuk keluar?” Kedengarannya ia mengubah pertanyaannya di tengah-tengah.

Aku mengangkat bahu. “Sekali-sekali boleh, kan?”

Saat itulah aku mengenali lagu yang diputar di radio, lalu cepat-cepat mengulurkan tangan ke tombol pemutar. “Keberatan, nggak?” tanyaku.

“Tidak, silakan saja.”

Aku memutar-mutar tombol ke beberapa stasiun sampai menemukan satu yang tidak “berbahaya”. Kulirik ekspresi Jess saat musik yang baru kutemukan itu mengalun mengisi mobil.

Mata Jess langsung menyipit. “Sejak kapan kau mendengarkan musik rap?”

“Entahlah,” jawabku. “Sudah lumayan lama.”

“Kau suka lagu ini?” tanyanya ragu.

“Jelas.”

Akan sangat sulit berinteraksi dengan Jessica secara normal bila aku harus berusaha keras mengabaikan suara musiknya pula. Maka aku pun mengangguk-anggukkan kepala, berharap gerakanku seirama dengan ketukan.

“Oke…” Jessica memandang ke luar kaca depan dengan mata melotot.

“Bagaimana hubunganmu dengan Mike belakangan ini?” aku buru-buru bertanya.

“Kau lebih sering ketemu dia daripada aku.”

Pertanyaanku tadi tidak membuatnya mulai mengoceh seperti yang kuharapkan bakal terjadi.

“Sulit ngobrol di tempat kerja,” gumamku, lalu mencoba lagi– “Ada cowok lain yang kencan denganmu belakangan ini?”

“Tidak juga. Kadang-kadang aku kencan dengan Conner Aku kencan dengan Eric dua minggu lalu.” Jessica memutar bola matanya dan aku bisa merasakan adanya cerita yang panjang. Kusambar kesempatan baik itu.

“Eric Yorkie? Siapa yang mengajak siapa?”

Jessica mengerang, semakin bersemangat. “Ya, dia dong tentu saja! Aku tidak tahu bagaimana menolak ajakannya dengan halus.”

“Dia mengajakmu ke mana?” desakku, tahu ia akan menerjemahkan semangatku sebagai ketertarikan. “Ceritakan semuanya.”

Jessica langsung nyerocos, dan aku duduk bersandar di kursiku, merasa lebih nyaman sekarang. Aku menyimak ceritanya dengan saksama, sesekali menggumam bersimpati dan terkesiap ngeri bila diperlukan. Setelah selesai dengan cerita tentang Eric, ia melanjutkan dengan membandingkannya dengan Conner tanpa perlu diminta lagi.

Filmnya main lebih awal, jadi Jess mengusulkan supaya kami nonton pertunjukan sore dan sesudah itu baru makan. Aku senang-senang saja mengikuti semua kemauannya; bagaimanapun, aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan— menghindar dari Charlie.

Kubiarkan saja Jess terus mengoceh selama preview film-film baru, supaya aku bisa lebih mudah mengabaikannya. Tapi aku gugup waktu filmnya dimulai. Sepasang kekasih berjalan menyusuri tepi pantai, bergandengan tangan dan mendiskusikan perasaan mereka dengan ekspresi penuh cinta yang memuakkan dan palsu. Kutahan diriku untuk tidak menutup telinga dan mulai berdendang. Aku kan tidak berniat nonton film cinta-cintaan

“Katanya film zombie,” desisku pada Jessica “Memang film zombie kok.”

“Lantas, kenapa belum ada orang yang dimakan?” tanyaku putus asa.

Jessica memandangiku dengan mata membelalak lebar yang nyaris tampak ngeri. “Aku yakin bagian itu pasti muncul sebentar lagi,” bisiknya.

“Aku mau beli popcorn dulu. Kau mau juga?”

“Tidak, terima kasih.”

Seseorang di belakang kami ber-“sssttt”.

Aku sengaja berlama-lama di konter makanan, memandangi jam sambil berdebat dalam hati berapa persen dari film berdurasi sembilan puluh menit yang bisa dihabiskan untuk adegan cinta. Kuputuskan sepuluh menit sudah lebih dari cukup, itu pun aku menyempatkan diri berhenti sebentar di depan pintu teater untuk memastikan. Terdengar suara jeritan membahana dari speaker, jadi tahulah aku, bahwa aku sudah cukup lama menunggu.

“Kau ketinggalan semuanya,” gumam Jess waktu aku menyusup ke kursiku. “Hampir semua orang sudah jadi zombie sekarang.”

“Antreannya panjang.” Kusodorkan popcorn-ku. Ia mengambil segenggam.

Sisa film itu dipenuhi adegan serangan zombie serta jeritan tanpa henti segelintir orang yang masih hidup, jumlah mereka menyusut cepat. Awalnya aku menyangka tak ada adegan yang bakal membuatku terusik. Tapi aku merasa gelisah, dan awalnya aku tak tahu kenapa.

Baru setelah menjelang akhir cerita, saat memandangi wajah si zombie yang kurus cekung, terseok-seok menghampiri manusia terakhir yang menjerit-jerit ketakutan, aku menyadari apa masalahnya. Adegannya berganti-ganti antara wajah ketakutan si tokoh wanita, dengan wajah mati tanpa ekspresi makhluk yang mengejarnya, berganti-ganti, semakin lama makin dekat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.