Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih buruk daripada yang kutakutkan bakal terjadi. Aku bisa merasakannya—aku lebih tua. Setiap hari aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah, pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun.

Sementara Edward tidak akan pernah jadi delapan belas tahun.

Ketika sedang menggosok gigi, aku nyaris terkejut karena wajah yang terpantul di cermin tidak berubah. Kupandangi diriku, mencari tandatanda bakal munculnya keriput di kulitku yang seputih gading. Tapi satu-satunya kerutan yang ada hanya di dahi, dan aku tahu kalau aku bisa rileks, kerutan itu akan hilang. Tapi aku tidak bisa. Alisku tetap terpatri membentuk garis khawatir di atas mata cokelatku yang waswas.

Itu hanya mimpi, aku mengingatkan diriku lagi. Hanya mimpi… tapi juga mimpi burukku yang terburuk.

Aku melewatkan sarapan, terburu-buru ingin meninggalkan rumah secepat mungkin. Tapi aku tak sepenuhnya bisa menghindari ayahku, jadi terpaksalah aku meluangkan beberapa menit berlagak riang. Aku benar-benar berusaha menunjukkan kegembiraan mendapat kado-kado yang sudah kuminta untuk tidak usah dibelikan, tapi setiap kali tersenyum, rasanya seakan-akan tangisku hendak pecah.

Aku bersusah-payah menahan diri saat mengendarai truk menuju sekolah. Sosok Gran tadi–aku tidak mau berpikir itu aku–sulit dienyahkan dari kepalaku. Aku tak bisa merasakan perasaan lain selain putus asa saat berbelok memasuki lapangan parkir di belakang gedung Forks High School dan melihat Edward bersandar tanpa bergerak di Volvo-nya yang mengkilat, bagaikan patung marmer dewa berhala keindahan yang telah lama dilupakan orang. Ia bahkan lebih tampan daripada dalam mimpiku tadi. Dan ia di sana menungguku, seperti biasa setiap hari.

Perasaan putus asa itu sesaat lenyap; digantikan rasa takjub. Bahkan setelah setengah tahun pacaran dengannya, aku masih belum percaya aku pantas memperoleh keberuntungan sebesar ini.

Saudara perempuannya, Alice, berdiri di sebelahnya, menungguku juga.

Tentu saja Edward dan Alice bukan saudara kandung (di Forks ceritanya adalah, semua anak keluarga Cullen diadopsi dr. Carlisle Cullen dan istrinya, Esme, karena keduanya jelas terlalu muda untuk mempunyai anak remaja), tapi mereka sama-sama berkulit putih pucat, mata mereka juga sama-sama memiliki secercah warna keemasan yang aneh, dengan bayangan gelap menyerupai memar di bawahnya. Wajah Alice sama seperti Edward, juga sangat indah. Bagi orang yang tahu— seperti aku—kemiripan itu menunjukkan siapa mereka sesungguhnya.

Melihat Alice menunggu di sana—mata cokelatnya bersinat-sinar girang, tangannya menggenggam benda segi empat kecil terbungkus kertas warna perak—membuat keningku berkerut. Aku sudah memberi tahu Alice aku tidak menginginkan apa-apa, apa pun, baik itu kado maupun perhatian, untuk hari ulang tahunku. Jelas, keinginanku ternyata diabaikan.

Kubanting pintu Chevy ’53 milikku—kepingan kecil karat beterbangan mengotori baju hitamku yang basah—dan berjalan lambat-lambat menghampiri mereka. Alice berlari cepat menghampiriku, wajah mungilnya berseri-seri di bawah rambut hitamnya yang jabrik.

“Selamat ulang tahun, Bella!”

“Ssstt!” desisku, memandang berkeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar perkataannya barusan. Hal terakhir yang kuinginkan adalah perayaan dalam bentuk apa pun untuk memperingati hari muram ini.

Alice tak menggubrisku. “Kau mau membuka kadonya sekarang atau nanti saja?” tanyanya penuh semangat sementara kami menghampiri Edward yang masih menunggu.

“Tidak ada kado-kadoan,” protesku.

Sepertinya Alice akhirnya bisa mencerna suasana hatiku yang buruk. “Oke… nanti saja, kalau begitu. Kau suka album kiriman ibumu? Dan kamera dari Charlie?”

Aku mendesah. Tentu saja ia tahu aku dapat kado apa saja. Bukan hanya Edward satu-satunya anggota keluarga mereka yang memiliki kemampuan istimewa. Alice pasti bisa “melihat” apa yang ingin diberikan kedua orangtuaku begitu mereka memutuskannya sendiri.

“Yeah. Kadonya bagus-bagus.”

“Menurutku idenya bagus sekali. Kau kan hanya satu kali jadi murid senior seumur hidupmu. Jadi ada baiknya pengalaman itu didokumentasikan ”

“Kau sendiri, sudah berapa kali jadi murid senior?”

“Itu lain.”

Saat itu kami sudah sampai di tempat Edward, dan ia mengulurkan tangan padaku. Aku menyambutnya dengan penuh semangat, sejenak melupakan suasana hariku yang muram.

Kulit Edwatd, seperti biasa. licin, keras, dan sangat dingin. Dengan lembut diremasnya jarijariku. Kutatap mata topaz-nya yang berkilauan, dan hatiku bagai diremas keras-keras. Mendengar detak jantungku yang kencang, Edward tersenyum lagi.

Ia mengangkat tangannya yang bebas dan menelusuri bagian luar bibirku dengan ujung jarinya yang dingin sambil bicara “Jadi, sesuai hasil pembicaraan, aku tak boleh mengucapkan selamat ulang tahun padamu, benar begitu?”

“Ya. Itu benar,” Aku tidak pernah bisa menirukan cara bicaranya yang mengalun serta artikulasinya yang sempurna dan formal. Kemampuan yang hanya bisa dipelajari pada abad lalu.

“Hanya mengecek,” Edward menyurukkan jarijarinya ke rambut perunggunya yang berantakan. “Siapa tahu kau berubah pikiran. Kebanyakan orang sepertinya menikmati hari ulang tahun dan hadiah.”

Alice tertawa, suaranya bergemerincing, seperti genta angin. “Tentu saja kau akan menikmatinya. Semua orang akan bersikap baik padamu hari ini dan menuruti kemauanmu, Bella. Hal terburuk apa yang bisa terjadi?” Itu pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab.

“Bertambah tua,” aku tetap menjawab, dan suaraku kedengarannya tidak semantap yang kuinginkan.

Di sampingku, senyum Edward mengejang kaku.

“Delapan belas kan tidak terlalu tua,” sergah Alice. “Bukankah wanita biasanya menunggu sampai mereka berumur 29 baru merasa tua?”

“Delapan belas berarti lebih tua daripada Edward,” aku bergumam.

Edward mendesah.

“Teknisnya begitu,” sambung Alice, menjaga nadanya tetap ringan. “Tapi kan, hanya setahun lebih tua.”

Dan kupikir… kalau aku bisa merasa yakin akan masa depan yang kuinginkan, yakin aku bisa bersama Edward selamanya, juga Alice dan semua anggota keluarga Cullen yang lain (lebih disukai tidak sebagai wanita tua yang keriputan)… maka satu atau dua tahun lebih tua takkan terlalu masalah bagiku. Tapi tekad Edward sudah bulat bahwa tidak akan ada perubahan bagiku di masa depan. Masa depan yang membuatku jadi seperti dia—membuatku abadi juga.

Kebuntuan, begitulah ia menyebutnya.

Jujur saja, aku tidak benar-benar bisa memahami jalan pikiran Edward. Apa enaknya bisa mati? Menjadi vampir tampaknya bukan hal yang tidak enak—setidaknya kalau melihat bagaimana keluarga Cullen menjalaninya.

“Jam berapa kau akan datang ke rumah?” sambung Alice, mengganti topik. Dari ekspresinya, ia merencanakan sesuatu yang justru ingin kuhindari.

“Aku tidak tahu aku punya rencana datang ke sana.”

“Oh, yang benar saja, Bella!” keluh Alice. “Kau tidak akan merusak kegembiraan kami, kan?”

“Lho, kusangka di hari ulang tahunku aku berhak menentukan apa yang aku inginkan.”

“Aku akan menjemputnya di rumah Charlie usai sekolah,” kata Edward pada Alice, tak menggubrisku sama sekali.

“Aku harus kerja,” protesku.

“Ah, siapa bilang,” tukas Alice dengan nada menang. “Aku sudah bicara dengan Mrs. Newton mengenainya. Dia mau kok mengganti jadwal shift-mu. Dia kirim salam ‘Selamat Ulang Tahun’.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.