Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku pura-pura bodoh, menunduk memandangi meja. “Aku tidak mengerti, Dad. Pertama Dad marah karena aku tidak melakukan apa-apa, kemudian Dad bilang tidak ingin aku keluar.”

“Aku ingin kau bahagia—tidak, bahkan tidak perlu sedrastis itu. Aku hanya ingin kau tidak merana lagi. Menurutku kesempatanmu untuk pulih akan lebih besar kalau kau pergi dari Forks,”

Mataku berkilat oleh percikan emosi pertama yang sudah sekian lama kupendam dalam hati. “Aku tidak mau pindah,” tolakku.

“Kenapa tidak?” tuntut Charlie.

“Sekarang semester terakhirku di sekolah— pindah hanya akan mengacaukan semuanya.”

“Kau kan pintar—kau pasti bisa mengejar pelajaran.”

“Aku tidak mau mengganggu Mom dan Phil.”

“Ibumu sudah lama ingin kau tinggal bersamanya lagi.”

“Florida terlalu panas.”

Kepalan tangan Charlie kembali menghantam meja. “Kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini, Bella, dan itu tidak baik untukmu.” Ia menghela napas dalam-dalam. “Ini sudah berlalu beberapa bulan. Tidak ada telepon, tidak ada surat, tidak ada kontak. Kau tidak bisa terus-terusan menunggunya.”

Kutatap Charlie dengan garang. Kemarahan itu nyaris, meski tidak sampai, mencapai wajahku. Sudah lama sekali wajahku tak pernah lagi membara oleh emosi apa pun.

Topik ini benar-benar terlarang, seperti yang disadari benar oleh Charlie.

“Aku tidak menunggu apa-apa. Aku tidak mengharapkan apa-apa,” bantahku dengan nada monoton yang rendah.

“Bella—” Charlie memulai, suaranya berat.

“Aku harus berangkat sekolah,” selaku, berdiri dan merenggut sarapanku yang belum disentuh dari meja. Kujatuhkan mangkukku di bak cuci tanpa merasa perlu mencucinya dulu. Aku tak sanggup meneruskan pembicaraan lagi.

“Aku akan menyusun rencana dengan Jessica,” seruku dari balik bahu sambil menyandang tas sekolah, tanpa menatap mata Charlie. “Mungkin aku tidak makan malam di rumah. Kami akan pergi ke Port Angeles dan nonton film.”

Aku sudah keluar dari pintu sebelum Charlie bereaksi.

Karena begitu terburu-buru ingin secepatnya menyingkir dari hadapan Charlie, aku termasuk orang pertama yang sampai di sekolah. Keuntungannya adalah, aku mendapat tempat parkir yang bagus sekali. Tapi sayangnya aku jadi punya banyak waktu kosong, padahal selama ini sedapat mungkin aku berusaha menghindari waktu kosong.

Dengan cepat, sebelum sempat memikirkan tuduhan-tuduhan Charlie tadi, aku mengeluarkan buku Kalkulus-ku. Kubuka di bagian yang akan mulai kami pelajari hari ini dan berusaha memahaminya sendiri. Membaca matematika bahkan jauh lebih sulit daripada mendengarkannya, tapi aku semakin menguasainya. Beberapa bulan terakhir ini, aku menghabiskan waktu sepuluh kali lebih banyak untuk mempelajari Kalkulus daripada yang pernah kuhabiskan untuk pelajaran Matematika sebelum ini. Hasilnya, nilaiku rata-rata selalu A. Aku tahu Mr. Varner merasa perbaikan nilai-nilaiku berkat metode mengajarnya yang superior. Dan kalau itu membuatnya bahagia, aku tidak ingin menghancurkan fantasinya.

Kupaksa diriku untuk terus belajar sampai lapangan parkir penuh, dan akhirnya aku malah harus bergegas menuju kelas Bahasa Inggris. Kami sedang membahas tentang Animal Farm, topik yang cukup mudah. Bagiku komunisme bukan masalah; selingan segar di sela-sela kisah cinta membosankan yang mengisi sebagian besar kurikulum. Aku duduk di kursiku, senang karena bisa mengalihkan perhatian ke topik yang diajarkan Mr. Berty.

Waktu berlalu tanpa terasa bila aku di sekolah. Sebentar saja lonceng sudah berbunyi. Aku mulai memasukkan buku-bukuku ke tas.

“Bella?’

Aku mengenali suara Mike, dan sudah tahu apa yang akan ia katakan sebelum ia mengucapkannya.

“Besok kau kerja?”

Aku mendongak. Ia bersandar di seberang gang dengan ekspresi cemas. Setiap Jumat ia selalu menanyakan hal yang sama. Tak peduli aku tidak pernah cuti sakit sehari pun. Well, dengan satu pengecualian, beberapa bulan silam. Tapi ia tak punya alasan memandangiku dengan sikap prihatin seperti itu. Aku kan karyawan teladan.

“Besok Sabtu, kan?” aku balas bertanya. Setelah Charlie mengungkitnya, barulah aku sadar betapa hampa kedengarannya suaraku.

“Ya, benar,” sahut Mike. “Sampai ketemu di kelas Bahasa Spanyol,” Ia melambai satu kali sebelum berbalik memunggungiku. Ia tak pernah lagi mengantarku ke kelas.

Aku tersaruk-saruk menuju kelas Kalkulus dengan ekspresi muram. Di kelas ini aku duduk di sebelah Jessica.

Sudah berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan, Jess tak pernah lagi menyapaku bila aku berpapasan dengannya di koridor. Aku tahu aku membuatnya tersinggung dengan sikapku yang antisosial, dan ia ngambek. Tidak bakal mudah mengajaknya bicara sekarang— apalagi meminta bantuannya. Aku mempertimbangkan semuanya masak-masak sementara berdiri di luar kelas, sengaja berlamalama.

Aku tak ingin menghadapi Charlie lagi tanpa adanya interaksi sosial yang bisa dilaporkan. Aku tahu aku tak bisa berbohong, walaupun bayangan menyetir sendirian ke Port Angeles pulang-pergi— memastikan odometerku menampilkan jarak mil yang tepat—terasa sangat menggoda. Tapi ibu Jessica gemar bergosip, dan cepat atau lambat Charlie pasti akan bertemu dengan Mrs. Stanley di kota. Kalau itu terjadi, tak diragukan lagi ia bakal mengungkit masalah itu. Jadi berbohong jelas tidak mungkin.

Sambil mendesah, kudorong pintu hingga terbuka. Mr. Varner melayangkan tatapan galak— ia sudah memulai pelajaran. Aku bergegas ke kursiku. Jessica sama sekali tidak mendongak waktu aku duduk di sebelahnya. Untung saja aku punya waktu lima puluh menit untuk menyiapkan mental.

Kelas ini bahkan berlalu lebih cepat daripada Bahasa Inggris. Sebagian kecil disebabkan oleh persiapan yang kulakukan tadi pagi di mobil—tapi sebagian besar berasal dan fakta bahwa waktu selalu berjalan sangat cepat bila aku harus menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Aku meringis ketika Mr. Varner menyudahi pelajaran lima menir lebih cepat. Ia tersenyum seperti orang yang telah berbuat baik.

“Jess?” Hidungku mengernyit waktu tubuhku mengejang, menunggunya menyerangku.

Jessica berbalik di kursi untuk menghadapiku, menatapku tak percaya. “Kau bicara padaku, Bella?”

“Tentu saja,” Aku membelalakkan mata, berlagak lugu.

“Apa? Kau butuh bantuan dengan Kalkulus?” Nadanya sinis.

“Tidak.” Aku menggeleng. “Sebenarnya, aku ingin tahu apakah kau mau… nonton film bersamaku nanti malam? Aku benar-benar membutuhkan malam khusus cewek.” Kata-kata itu terdengar kaku, seperti dialog yang diucapkan asal saja, dan Jessica tampak curiga.

“Kenapa kau mengajakku?” tanyanya, sikapnya masih tidak ramah.

“Kau orang pertama yang terpikir olehku bila aku sedang ingin kumpul-kumpul dengan teman cewek,” Aku tersenyum, berharap senyumku terlihat tulus. Bisa jadi itu benar. Setidaknya dialah orang pertama yang terpikir olehku bila aku ingin menghindari Charlie. Berarti kan sama saja.

Kesinisan Jessica sedikit berkurang. “Well, entahlah.”

“Kau ada acara?”

“Tidak… kurasa aku bisa saja pergi bersamamu. Kau mau nonton apa?”

Aku tidak tahu film apa yang sedang diputar saat ini,” elakku. Aku memeras otak mencari petunjuk—bukankah baru-baru ini aku mendengar seseorang berbicara tentang film? Melihat poster? “Bagaimana kalau film tentang presiden wanita itu?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.