Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Waktu kau tidak pulang-pulang, aku menelepon ke rumah keluarga Cullen, tapi tak ada yang mengangkat,” cerita Charlie pelan. “Lalu aku menelepon rumah sakit, dan dr. Gerandy memberi tahu Carlisle sudah pindah.”

“Mereka pindah ke mana?” gumamku.

Charlie menatapku. “Edward tidak memberi tahu?”

Aku menggeleng, hatiku ciut. Mendengar namanya disebut seakan melepaskan sesuatu yang sejak tadi mencakari hatiku—rasa sakit yang membuatku tak bisa bernapas, terperangah oleh kekuatannya yang luar biasa.

Charlie memandangiku dengan sikap ragu saat menjawab. “Carlisle menerima pekerjaan di rumah sakit besar di Los Angeles. Kurasa gajinya pasti sangat besar.”

LA kota yang panas terik. Mustahil mereka benar-benar pindah ke sana. Aku teringat mimpi burukku dengan cermin itu… cahaya matahari berpendar-pendar dari kulitnya—

Kepedihan mengoyak hariku saat aku teringat wajahnya.

“Aku ingin tahu apakah Edward meninggalkanmu sendirian di tengah hutan sana,” desak Charlie.

Mendengar nama Edward membuatku sangat tersiksa. Aku menggeleng kalut, putus asa ingin lepas dari cengkeraman kepedihan itu. “Akulah yang salah. Dia meninggalkanku di jalan setapak, aku masih bisa melihat rumah ini… tapi aku mencoba mengikutinya.”

Charlie hendak mengatakan sesuatu; dengan sikap kekanak-kanakan aku menutup kedua telingaku. “Aku tidak bisa membicarakan ini, Dad. Aku ingin ke kamarku.”

Sebelum ayahku bisa menjawab, aku sudah menghambur turun dari sofa dan tersaruk-saruk menaiki tangga ke atas.

Seseorang datang ke rumah untuk meninggalkan pesan bagi Charlie. pesan yang menuntunnya untuk menemukanku. Sejak menyadari hal itu, kecurigaan sudah timbul di benakku. Aku menghambur ke kamarku, menutup pintu, dan menguncinya sebelum berlari ke CD player di samping tempat tidurku.

Semua masih tampak persis seperti sebelum aku meninggalkannya. Kutekan bagian atas CD player. Kaitannya terlepas, dan tutupnya perlahan mengayun terbuka.

Kosong.

Album yang diberikan Renee untukku tergeletak di lantai di samping tempat tidur, persis di tempat aku terakhir kali meletakkannya. Kubuka sampulnya dengan tangan gemetar.

Aku hanya perlu melihat halaman pertama. Sudut-sudut logam kecil di dalamnya tak lagi menjepit foto. Halamannya kosong, yang tertinggal hanya tulisan tanganku sendiri di bagian bawah: Edward Cullen, dapur Charlie, 13 September.

Aku berhenti di sana. Sudah kuduga ia akan sangat cermat menghapus semua jejaknya.

Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah ada.

Aku merasakan lantai kayu halus di bawah lututku, lalu telapak tanganku, kemudian menempel di kulit pipiku. Aku berharap bakal pingsan tapi sayangnya, ternyata aku tidak kehilangan kesadaran. Gelombang kepedihan yang tadi hanya menerpaku kini menerjang tinggi, menggulung kepalaku menyeretku ke bawah.

Aku tak muncul lagi di permukaan.

 

OKTOBER

NOVEMBER

DESEMBER

JANUARI

 

4. TERBANGUN

WAKTU berlalu. Bahkan saat rasanya mustahil, waktu tetap tenis berjalan. Bahkan di saat setiap detik pergerakan jarum jam terasa menyakitkan, bagaikan denyut nadi di balik luka memar. Waktu seakan berlalu di jalan yang tidak rata, bergejolak dan diseret-seret, namun terus berjalan. Bahkan bagiku.

KEPALAN Charlie meninju meja. “Baiklah, Bella! Aku akan mengirimmu pulang.”

Aku mendongak dari serealku, yang sejak tadi hanya kupandangi tanpa kumakan, dan menatap Charlie dengan shock. Aku tidak menyimak pembicaraan—sebenarnya, aku malah tidak sadar kami sedang berbicara—jadi aku tidak mengerti maksud perkataannya.

“Aku kan sudah di rumah,” gumamku, bingung.

“Aku akan mengirimmu ke Renee, ke Jacksonville,” Charlie menjelaskan maksudnya.

Charlie memandang putus asa saat aku lambat laun mencerna maksudnya.

“Apa salahku?” Kurasakan wajahku mengernyit. Benar-benar tidak adil. Kelakuanku selama empat bulan terakhir ini benar-benar tak bercela. Setelah minggu pertama itu, yang tak pernah kami ungkitungkit lagi, aku tak pernah bolos sekolah atau kerja satu hari pun. Nilai-nilaiku sempurna. Aku tak pernah melanggar jam malam—aku toh tak pernah ke mana-mana sehingga harus melanggar jam malam. Aku juga sangat jarang menghidangkan masakan sisa untuk makan malam. Charlie merengut.

“Kau tidak melakukan apa-apa. Justru itulah masalahnya. Kau tidak pernah melakukan apa-apa.”

“Dad mau aku bikin ulah?” Aku keheranan, alisku bertaut saking bingungnya. Aku berusaha keras memerhatikan. Itu tidak mudah. Aku sudah sangat terbiasa mengabaikan semuanya sehingga seperanya telingaku berhenti berfungsi.

“Bikin ulah lebih baik daripada… daripada bermuram durja setiap saat seperti ini!”

Perkataannya sedikit menyinggung perasaanku. Padahal aku sudah berhati-hati untuk menghindari segala bentuk kesedihan, termasuk bermuram durja.

“Aku tidak bermuram durja kok.”

“Itu bukan kata yang tepat,” Charlie menyimpulkan dengan enggan. “Bermuram durja masih lebih baik—itu berarti melakukan sesuatu. Kau sekarang… tanpa kehidupan, Bella. Kurasa itulah istilah yang paling tepat.”

Tuduhan itu tepat mengenai sasaran. Aku menghela napas dan berusaha memperdengarkan nada ceria.

“Maafkan aku, Dad.” Permintaan maafku terdengar agak datar, bahkan di telingaku sendiri. Kusangka selama ini aku berhasil menipunya. Menjaga agar Charlie tidak menderita adalah tujuan utama semua upayaku. Sungguh menyebalkan semua upayaku itu sia-sia belaka.

“Aku tidak ingin kau meminta maaf.”

Aku mendesah. “Kalau begitu, katakan apa yang Dad ingin kulakukan.”

“Bella,” Charlie ragu-ragu, dengan cermat menelaah reaksiku terhadap kata-katanya selanjutnya. “Sayang kau bukan orang pertama yang mengalami hal semacam ini, tahu.”

“Aku tahu.” Cengiran yang menyertai katakataku tadi lemah dan tak meyakinkan.

“Dengar, Sayang. Menurutku mungkin— mungkin kau butuh bantuan.”

“Bantuan?”

Charlie diam sejenak, kembali mencari kata-kata yang tepat. “Ketika ibumu pergi,” ia memulai, keningnya berkerut, “dan membawamu bersamanya.” Charlie menghela napas dalamdalam. “Well, itu masa-masa yang sangat berat bagiku.”

“Aku tahu, Dad,” gumamku.

“Tapi aku bisa mengatasinya,” tegas Charlie. “Sayang kau tidak mengatasinya. Aku menunggu, aku berharap keadaan jadi lebih baik” Ia memandangiku dan aku buru-buru menunduk. “Kurasa kita sama-sama tahu keadaan ternyata belum membaik juga.”

“Aku baik-baik saja kok.”

Charlie tak menggubris sergahanku. “Mungkin, Well, mungkin kalau kau bicara dengan orang lain tentang masalah ini. Seorang profesional.”

“Dad mau aku berkonsultasi ke psikiater?” suaraku terdengar sedikit lebih tajam saat menyadari maksudnya.

“Mungkin itu bisa membantu.”

“Dan mungkin itu sama sekali takkan membantu.”

Aku tidak begitu paham soal psikoanalisis, tapi aku sangat yakin itu tidak bakal efektif kecuali subjeknya relatif jujur. Tentu, aku bisa mengatakan hal sebenarnya—kalau aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sel untuk orang gila yang dindingnya dilapisi busa pengaman.

Charlie mengaman ekspresiku yang keras kepala, dan beralih menggunakan senjata lain.

“Ini di luar kemampuanku, Bella. Mungkin ibumu-”

“Dengar,” sergahku datar. “Aku akan keluar malam ini, kalau memang itu yang Dad inginkan. Aku akan menelepon Jess atau Angela.”

“Bukan itu yang kuinginkan,” bantah Charlie, frustrasi. “Rasanya aku tak sanggup melihatmu berusaha lebih keras lagi. Belum pernah aku melihat orang berusaha sekeras itu. Sedih hariku melihatnya.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.