Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Dr. Gerandy?” gumamku.

“Benar, Sayang” jawab lelaki itu. “Kau terluka, Bella?”

Butuh semenit untuk benar-benar memikirkannya. Aku bingung karena teringat pertanyaan sama yang diajukan Sam Uley di hutan tadi. Hanya saja Sam menanyakannya secara berbeda: Kau dilukai? tanyanya tadi. Perbedaannya jelas sekali sekarang.

Dr. Gerandy menunggu. Sebelah alisnya yang beruban terangkat, dan kerutan di dahinya semakin dalam.

“Aku tidak apa-apa,” dustaku. Kata-kata itu cukup benar untuk menjawab pertanyaannya.

Tangannya yang hangat menyentuh dahiku, dan jari-jarinya menekan bagian dalam pergelangan tanganku. Kulihat bibirnya bergerak-gerak saat ia menghitung, matanya tertuju pada jam tangan.

“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya, nadanya biasa-biasa saja.

Aku membeku dalam genggaman tangannya, kurasakan perasaan panik di pangkal tenggorokanku.

“Kau tersesat di hutan?” desak si dokter. Aku menyadari beberapa orang ikut mendengarkan. Tiga lelaki jangkung berwajah gelap—dari La Push, reservasi Indian Quileute di sepanjang garis pantai, kalau tidak salah—Sam Uley salah satunya, berdiri berimpitan memandangiku. Mr. Newton ada di sana bersama Mike dan Mr. Weber, ayah Angela; mereka memandangiku, tidak terang-terangan seperti orang-orang asing itu. Suara-suara berat lain berdengung dari arah dapur dan di luar pintu depan. Setengah isi kota pastilah mencariku tadi.

Charlie berada paling dekat denganku. Ia mencondongkan tubuh untuk mendengar jawabanku.

“Ya,” bisikku. “Aku tersesat.”

Dokter mengangguk, berpikir, jari-jarinya dengan lembut memeriksa kelenjar di bawah daguku. Wajah Charlie mengeras.

“Kau lelah?” dr. Gerandy bertanya.

Aku mengangguk dan memejam dengan patuh.

“Menurutku tak ada yang mengkhawatirkan,” kudengar dokter itu bicara pelan pada Charlie beberapa saat kemudian. “Hanya kelelahan. Biarkan dia tidur untuk memulihkan kekuatan. Besok aku datang untuk mengecek keadaannya.” Dokter terdiam sebentar. Ia pasti melihat jam tangannya karena lalu menambahkan, “Well, hari ini maksudku.”

Terdengar suara berderit saat mereka samasama bangkit dari sofa.

“Apakah benar?” bisik Charlie. Suara-suara mereka terdengar lebih jauh sekarang. “Mereka sudah pergi?”

“Dr. Cullen meminta kami untuk tidak mengatakan apa-apa,” dr. Gerandy menjawab. “Tawaran itu datang sangat tiba-tiba; mereka harus segera memilih. Carlisle tidak ingin ke pindahannya diributkan.

“Pemberitahuan singkat kan tak ada salahnya,” gerutu Charlie.

Suara dr. Gerandy terdengar tidak enak waktu ia menimpali. “Ya, Well, dalam situasi ini, ada baiknya bila memberi peringatan.”

Aku tidak mau mendengar lagi. Aku merabaraba, mencari pinggiran selimut yang dihamparkan seseorang di atas tubuhku, lalu menariknya hingga menutupi telinga.

Kesadaranku hilang-timbul. Aku mendengar Charlie mengucapkan terima kasih dengan suara berbisik pada para sukarelawan saat satu demi satu mereka pulang. Aku merasakan jemarinya membelai dahiku, disusul kemudian dengan dihamparkannya selimut lain. Telepon berdering beberapa kali, dan ia bergegas menjawabnya sebelum bunyi deringan membangunkanku. Ia menjawab kekhawatiran para penelepon dengan suara pelan.

“Yeah, kami sudah menemukannya. Dia tidak apa-apa. Tersesat. Sekarang dia baik-baik saja,” begitu kata Charlie berkali-kali.

Aku mendengar per-per kursi berderit saat ia duduk di sana untuk menjagaku.

Beberapa menit kemudian telepon kembali berdering.

Charlie mengerang saat bangkit dari kursinya dengan susah payah, kemudian menghambur, tersaruk-saruk, menuju dapur. Kubenamkan kepalaku lebih dalam ke bawah selimut, tak ingin mendengarkan pembicaraan yang sama lagi.

“Yeah,” jawab Charlie, menguap.

Suaranya berubah, terdengar jauh lebih waspada saat ia bicara lagi. “Di mana?” Sejenak ia terdiam. “Kau yakin itu di luar reservasi?” Terdiam lagi. “Tapi apa yang bisa terbakar di sana?” Suaranya terdengar waswas bercampur bingung. “Dengar, aku akan ke sana dan mengeceknya.”

Aku mendengarkan, semakin tertarik, sementara Charlie menekan serangkaian nomor di telepon.

“Hei, Billy, ini Charlie—maaf menelepon sedini ini… tidak, dia baik-baik saja. Sekarang dia tidur… Trims, tapi bukan itu alasanku menelepon. Aku baru saja ditelepon Mrs. Stanley, dan katanya dari jendela tingkat dua rumahnya, dia bisa melihat api berkobar di tebing-tebing laut, tapi aku tidak benar-benar… Oh!” Mendadak suaranya berubah— nadanya terdengar jengkel… atau marah. “Dan mengapa mereka berbuat begitu? He eh. Benarkah?” Charlie mengucapkannya dengan nada sarkastis. “Well, jangan meminta maaf padaku. Yeah, yeah. Pastikan apinya tidak menjalar ke mana-mana… Aku tahu, aku tahu, aku hanya heran mereka bisa menyalakannya di cuaca seperti ini.”

Charlie ragu-ragu sejenak, lalu dengan enggan menambahkan, “Terima kasih sudah mengirim Sam dan anak-anak lain ke sini. Kau benar— mereka memang lebih mengenal kondisi hutan daripada kami. Sam-lah yang menemukannya, jadi aku berutang budi padamu… Yeah, kita bicara lagi nanti,” Charlie menyanggupi, nadanya masih masam, sebelum menutup telepon.

Charlie menggerutu, kata-katanya tidak jelas, ia berjalan tersaruk-saruk kembali ke ruang duduk.

“Ada apa?” tanyaku.

Charlie bergegas menghampiriku. “Maaf membuatmu terbangun. Sayang”

“Ada yang terbakar, ya?”

“Tidak ada apa-apa,” Charlie meyakinkan aku. “Hanya api unggun di tebing-tebing sana.”

“Api unggun?” tanyaku. Suaraku tidak terdengar ingin tahu. Nadanya mati.

Charlie mengerutkan kening. “Beberapa anak dari reservasi berulah aneh-aneh.” ia menjelaskan.

“Mengapa?” tanyaku muram.

Kentara sekali Charlie tidak ingin menjawab. Ia menunduk memandangi lantai di bawah lututnya. “Mereka merayakan kabar itu.” Nadanya getir.

Hanya ada satu kabar yang terpikir olehku, meski aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Kemudian potongan-potongan informasi itu mulai menyatu. “Karena keluarga Cullen pergi,” bisikku. “Mereka tidak suka ada keluarga Cullen di La Push—aku sudah lupa soal itu.”

Suku Quileute percaya takhayul tentang “yang berdarah dingin” peminum darah yang merupakan musuh suku mereka, sama halnya dengan legenda mereka tentang air bah dan leluhur berwujud werewolf. Hanya cerita, cerita rakyat, bagi sebagian besar mereka. Tapi ada segelintir yang percaya. Teman baik Charlie, Billy Black, termasuk yang percaya, walaupun Jacob, putranya, menganggapnya tolol karena percaya pada takhayul. Billy pernah mengingatkanku agar menjauhi keluarga Cullen…

Nama itu menggerakkan sesuatu dalam diriku, sesuatu yang mulai mencakar-cakar, berusaha muncul ke permukaan, sesuatu yang aku tahu tidak ingin kuhadapi.

“Konyol,” gerutu Charlie

Sesaat kami hanya duduk berdiam diri. Langit tak lagi gelap di luar jendela. Di suatu tempat di balik hujan, matahari mulai terbit.

“Bella?” Charlie bertanya.

Kupandangi ia dengan gelisah.

“Dia meninggalkanmu sendirian di hutan?” tanya Charlie.

Aku berkelit dari pertanyaannya. “Bagaimana Dad tahu ke mana harus mencariku?” Pikiranku mengelak dari kesadaran yang mau tak mau mulai datang, datang dengan cepat sekarang.

“Pesanmu,” jawab Charlie, terkejut. Ia merogoh saku belakang jinsnya dan mengeluarkan kertas kumal. Kertas itu kotor dan basah, dengan bekas lipatan silang-menyilang yang menandakan kertas itu sudah dibuka dan dilipat lagi berulang kali. Charlie membukanya lagi, mengangkatnya sebagai bukti. Tulisan cakar ayam di sana sangat mirip tulisanku sendiri.

Pergi jalan-jalan dengan Edward, menyusuri jalan setapak, begitu bunyi tulisannya. Sebentar lagi pulang, B.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.