Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Kusangka Edward juga mengulurkan tangan untuk menggapaiku. Tapi tangannya yang dingin mencengkeram pergelangan tanganku dan merapatkannya ke sisi kiri dan kanan tubuhku. Ia membungkuk, dan menempelkan bibirnya sekilas ke dahiku, sangat sebentar. Mataku terpejam.

“Jaga dirimu baik-baik,” desahnya, rasa dingin menerpa kulitku.

Terasa tiupan angin sekilas yang tidak wajar. Mataku terbuka. Daun-daun pohon maple bergetar oleh embusan angin pelan yang menandai kepergiannya.

Ia sudah pergi.

Dengan kaki gemetar, mengabaikan fakta bahwa tindakanku itu tak ada gunanya, aku berjalan mengikutinya memasuki hutan. Bukti kepergiannya langsung lenyap. Tak ada jejak kaki, daun-daun diam kembali, tapi aku terus berjalan tanpa berpikir. Aku tak sanggup melakukan hal lain. Aku harus terus bergerak. Kalau aku berhenti mencarinya, semua berakhir.

Cinta, hidup, makna… berakhir.

Aku berjalan dan berjalan. Waktu tak ada artinya lagi bagiku sementara aku berjalan pelan menembus semak belukar. Berjam-jam telah berlalu, tapi rasanya baru beberapa detik. Mungkin waktu terasa membeku karena hutan tampak sama tak pedulinya betapapun jauhnya aku melangkah. Aku mulai khawatir aku hanya berputar-putar dalam lingkaran, lingkaran yang sangat kecil, tapi aku terus berjalan. Sering kali aku tersandung, dan, setelah hari makin gelap, aku juga sering terjatuh.

Akhirnya aku tersandung sesuatu—karena sekarang sudah gelap gulita, aku tak tahu benda apa yang membuatku tersandung—dan tak bisa bangkit lagi. Aku berguling ke samping, supaya bisa bernapas, dan bergelung di rerumputan yang basah.

Sementara aku berbaring di sana, aku merasa waktu terus berjalan tanpa aku menyadarinya. Aku tak ingat berapa lama waktu telah berlalu semenjak malam turun. Apakah di sini selalu segelap ini di malam hari? Padahal seharusnya ada sedikit cahaya bulan yang menerobos gumpalan awan, bersinar menembus kanopi pepohonan, dan menerpa tanah.

Tapi malam ini tidak. Malam ini langit hitam pekat. Mungkin tak ada bulan malam ini— mungkin ada gerhana bulan, bulan baru.

Bulan baru. Aku gemetaran, meski tidak kedinginan.

Hitam pekat untuk waktu yang sangat lama sebelum aku mendengar mereka memanggilmanggil.

Seseorang meneriakkan namaku. Sayup-sayup dan teredam tetumbuhan basah yang mengelilingiku, tapi itu jelas namaku. Aku tidak mengenali suara itu. Terpikir olehku untuk menjawab, tapi aku linglung, dan butuh waktu lama untuk menyimpulkan aku sebaiknya menjawab. Saat itu. teriakan itu sudah berhenti.

Beberapa saat kemudian hujan membangunkanku. Kurasa aku tidak benar-benar tertidur; aku hanya terhanyut dalam kondisi tak sadar dan tak bisa berpikir, bertahan dengan segenap kekuatan ke perasaan kebas yang membuatku tak bisa menyadari apa yang tak ingin kuketahui.

Hujan sedikit membuatku gelisah. Aku menggigil. Kubuka belitan tanganku yang melingkari lutut untuk menutupi wajah.

Saat itulah aku mendengar teriakan itu lagi. Kali ini lebih jauh, dan kadang-kadang terdengar seperti beberapa suara berteriak bersama-sama. Aku mencoba menghela napas dalam-dalam. Aku ingat seharusnya aku menyahut, tapi kukira mereka takkan bisa mendengarku. Sanggupkah aku berteriak cukup lantang?

Tiba-tiba terdengar suara lain, mengagetkanku karena cukup dekat. Seperti mendengus-dengus, suara binatang. Kedengarannya binatang besar. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa takut. Aku tidak takut—cuma mati rasa. Itu bukan masalah. Dengusan itu pergi.

Hujan terus turun, dan bisa kurasakan air menggenang di pipiku. Saat sedang berusaha mengumpulkan kekuatan untuk memalingkan kepala, kulihat seberkas cahaya.

Awalnya hanya kilau samar yang memantul di semak-semak di kejauhan. Cahaya itu semakin lama semakin terang, menyinari bidang besar, tidak seperti lampu senter yang menyorot lurus. Cahaya itu menembus semak terdekat, dan ternyata cahaya itu berasal dari lentera propane, tapi hanya itu yang bisa kulihat— kecemerlangannya sesaat membutakanku.

“Bella.”

Suara itu berat dan tidak kukenal, tapi bernada mengenali. Ia tidak memanggil namaku untuk mencari, tapi memberi tahu bahwa aku sudah ditemukan.

Aku menengadah—tinggi sekali rasanya—ke seraut wajah gelap yang kini bisa kulihat menjulang tinggi di atasku. Samar-samar aku sadar orang asing itu mungkin hanya terlihat sangat tinggi karena kepalaku masih tergeletak di tanah.

“Kau dilukai?”

Aku tahu kata-kata itu berarti sesuatu, tapi aku hanya bisa memandanginya, bingung. Apa artinya pengertian pada saat seperti ini?

“Bella, namaku Sam Uley.”

Namanya sama sekali asing.

“Charlie menyuruhku mencarimu.”

Charlie? Nama itu menggugahku, dan aku berusaha lebih menyimak perkataannya. Charlie berarti sesuatu, kalaupun yang lain tidak.

Lelaki jangkung itu mengulurkan tangan. Kutatap tangan itu, tak yakin harus melakukan apa.

Mata hitamnya menilaiku sedetik, kemudian ia mengangkat bahu. Dengan gerakan cepat dan luwes, ia mengangkatku dari tanah dan membopongku.

Aku terkulai dalam gendongannya, lemas, sementara lelaki itu berjalan melompat-lompat dengan tangkas menembus hutan yang basah. Sebagian diriku tahu seharusnya ini membuatku marah—dibopong orang asing. Tapi aku sudah tak punya tenaga lagi untuk marah.

Rasanya sebentar saja sudah tampak lampulampu dan dengungan berat suara kaum lelaki. Sam Uley memperlambat langkah saat mendekati kerumunan.

“Aku menemukannya!” serunya, suaranya menggelegar.

Dengungan itu terhenti, dan mulai lagi sejurus kemudian dengan lebih keras. Wajah-wajah berputar membingungkan di atas kepalaku. Hanya suara Sam yang masuk akal di tengah kekacauan itu, mungkin karena telingaku menempel di dadanya.

“Tidak, kurasa dia tidak cedera,” katanya pada seseorang. “Dia hanya terus-menerus berkata ‘Dia sudah pergi’.”

Apakah aku mengatakannya dengan suara keras? Kugigit bibirku.

“Bella, Sayang, kau baik-baik saja?”

Itu suara yang pasti akan kukenali di mana pun—bahkan saat suaranya sarat oleh perasaan khawatir seperti sekarang ini.

“Charlie?” Suaraku terdengar asing dan kecil.

“Aku di sini, Sayang”

Aku merasa tubuhku dipindahkan, dan sejurus kemudian, aku bisa mencium bau khas jaket sheriff ayahku yang terbuat dari kulit. Charlie terhuyung-huyung menggendongku.

“Mungkin sebaiknya aku saja yang membopongnya,” Sam Uley menyarankan.

“Tidak perlu,” jawab Charlie, agak terengah.

Ia berjalan pelan-pelan, tersaruk-saruk. Kalau saja aku bisa mengatakan padanya untuk menurunkanku dan membiarkan aku berjalan sendiri, tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkonganku.

Di mana-mana ada lampu, dipegang segerombolan orang yang berjalan bersamanya. Rasanya seperti pawai. Atau prosesi pemakaman. Aku memejamkan mata.

“Kita sudah hampir sampai di rumah, Sayang,” sesekali Charlie bergumam.

Kubuka mataku lagi waktu kudengar kunci pintu diputar.

Kami di teras rumah, dan lelaki gelap jangkung bernama Sam memegang pintu untuk Charlie. sebelah tangan terulur ke arah kami, seolah bersiap-siap menangkapku bila lengan Charlie tak kuat lagi membopongku.

Tapi Charlie berhasil menggendongku melewati pintu dan membaringkanku di sofa ruang duduk.

“Dad, aku basah kuyup,” sergahku lemah.

“Tidak apa-apa.” Suaranya serak. Kemudian ia berbicara pada seseorang. “Selimut-selimut ada di dalam lemari di puncak tangga.”

“Bella?” tanya sebuah suara baru. Aku memandangi lelaki berambut kelabu yang membungkuk di atasku, dan baru mengenalinya setelah beberapa detik yang berlalu teramat lamban.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.