Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Kami baru beberapa langkah memasuki pepohonan ketika Edward berhenti. Kami bahkan belum sampai di jalan setapak—aku masih bisa melihat rumahku.

Begini kok dibilang jalan-jalan.

Edward bersandar di pohon dan memandangiku, ekspresinya tak terbaca.

“Oke, ayo kita bicara,” kataku. Nada suaraku terdengar lebih berani daripada yang sebenarnya kurasakan.

Edward menghela napas dalam-dalam.

“Bella, kami akan pergi.”

Aku juga menghela napas dalam-dalam. Kusangka aku sudah siap. Tapi tetap saja aku bertanya.

“Mengapa sekarang? Setahun lagi—”

“Bella, sudah saatnya. Lagi pula, berapa lama lagi kami bisa bertahan di Forks? Carlisle tidak tampak seperti sudah berumur tiga puluh tahun, apalagi dia mengaku sekarang usianya 33. Kami harus memulai dari awal lagi secepatnya, bagaimanapun juga”

Jawaban Edward membuatku bingung. Aku memandanginya, berusaha memahami maksudnya. Ia balas menatapku dingin.

Dengan perasaan mual, aku pun memahami maksudnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menjernihkan pikiran. Edward menunggu tanpa sedikit pun tanda tidak sabar. Butuh beberapa menit baru aku bisa bicara.

“Oke,” kataku. “Aku ikut.”

“Tidak bisa, Bella. Ke mana kami akan pergi… itu bukan tempat yang tepat untukmu.”

“Di mana kau berada, di situlah tempat yang tepat untukku.”

“Aku tidak baik untukmu, Bella.”

“Jangan konyol,” Aku ingin terdengar marah, tapi kedengarannya malah seperti memohon. “Kau hal terbaik dalam hidupku.”

“Duniaku bukan untukmu,” ucap Edward muram.

“Apa yang terjadi pada Jasper—itu bukan apaapa, Edward! Bukan apa-apa!”

“Kau benar,” Edward sependapat. “Persis seperti itulah yang bakal terjadi.”

“Kau sudah berjanji! Di Phoenix, kau berjanji kau akan tinggal—”

“Sepanjang itu yang terbaik untukmu,” Edward mengoreksiku.

“Tidak! Ini masalah jiwaku, kan?” aku berteriak, marah, kata-kata berhamburan dari mulutku— namun entah bagaimana tetap saja terdengar seperti memohon-mohon. “Carlisle memberi tahuku, dan aku tidak peduli, Edward. Aku tidak peduli! Ambil saja jiwaku. Aku tidak menginginkannya tanpa kau—itu sudah jadi milikmu!”

Edward menarik napas dalam-dalam dan beberapa saat menerawang menatap tanah. Waktu akhirnya ia mendongak, matanya tampak berbeda, lebih keras—seperti emas cair yang membeku keras.

“Bella, aku tidak ingin kau ikut denganku.” Edward mengucapkan kata-kata itu lambat-lambat dan jelas, matanya yang dingin menatap wajahku, memerhatikan sementara aku menyerap semua perkataannya.

Sunyi sejenak saat aku mengulangi kata-kata itu berkali-kali dalam pikiranku, memilah-milah untuk mendapatkan maksud sesungguhnya.

“Kau… tidak… menginginkanku?” Aku mencoba mengucapkan kata-kata itu, bingung mendengarnya diucapkan dalam urutan seperti itu.

“Tidak.”

Kutatap matanya, tak mengerti. Edward balas menatapku tanpa ampun. Matanya bagai topaz— keras dan jernih dan sangat dalam. Aku merasa seolah-olah bisa memandang ke dalamnya hingga berkilo-kilometer jauhnya, namun di kedalaman tak berdasar itu aku tidak melihat adanya kontradiksi dari kata yang diucapkannya tadi.

“Well, itu mengubah semuanya.” Aku terkejut mendengar nada suaraku yang kalem dan tenang. Pasti karena perasaanku sudah mati rasa. Aku tidak menyadari apa yang ia katakan padaku. Itu masih tetap tak masuk akal.

Edward mengalihkan pandangan ke pepohonan saat bicara lagi. “Tentu saja, aku akan selalu mencintaimu… sedikit-banyak. Tapi peristiwa malam itu membuatku sadar, sekaranglah saatnya berubah. Karena aku… lelah berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku, Bella. Aku bukan manusia.” Edward menatapku lagi, bagian-bagian dingin wajahnya yang sempurna memang bukan manusia. “Aku membiarkan ini berlangsung terlalu lama, dan aku minta maaf untuk itu.”

“Jangan.” Suaraku kini hanya berupa bisikan; kesadaran mulai meresapiku, menetes-netes bagai asam dalam pembuluh darahku. “Jangan lakukan ini.”

Edward hanya menatapku, dan kelihatan dari matanya kata-kataku sudah terlambat. Ia sudah melakukannya. “Kau tidak baik untukku, Bella.” Edward membalikkan kata-kata yang diucapkannya tadi, jadi aku tak bisa membantahnya. Aku tahu benar aku tidak cukup baik baginya.

Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, kemudian menutupnya lagi. Edward menunggu dengan sabar, wajahnya bersih dari segala emosi. Kucoba sekali lagi.

“Kalau… kalau memang itu yang kauinginkan.”

Edward mengangguk satu kali.

Sekujur tubuhku terasa lumpuh. Aku tak bisa merasakan apa-apa dari leher ke bawah.

“Tapi aku ingin meminta sesuatu, kalau boleh,” katanya.

Entah apa yang dilihatnya di wajahku, karena sesuatu berkelebat di wajahnya sebagai respons. Tapi sebelum aku sempat memahaminya, ia telah mengubah ekspresinya menjadi topeng tenang yang sama.

“Apa saja,” aku bersumpah, suaraku sedikit lebih kuat.

Sementara aku menatapnya, mata beku Edward mencair. Emas itu berubah menjadi cair lagi, melebur, membakar mataku dengan kekuatan teramat besar.

“Jangan lakukan sesuatu yang ceroboh atau tolol,” perintahnya, tak lagi dingin. “Kau mengerti maksudku?”

Aku mengangguk tak berdaya.

Mata Edward mendingin, sikap menjaga jaraknya kembali lagi. “Aku memikirkan Charlie, tentu saja. Dia membutuhkanmu. Jaga dirimu baik-baik—demi dia.”

Lagi-lagi aku mengangguk. “Baiklah,” bisikku.

Edward tampak rileks sedikit.

“Dan aku akan menjanjikan sesuatu padamu sebagai balasannya,” katanya. “Aku berjanji ini kali terakhir kau bertemu denganku. Aku tidak akan kembali. Aku tidak akan menyulitkanmu lagi. Kau bisa melanjutkan hidupmu tanpa gangguan dariku lagi. Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah ada.”

Lututku pasti mulai gemetar, karena pohonpohon mendadak bergoyang. Bisa kudengar darah menderas lebih cepat di belakang telingaku. Suara Edward terdengar semakin jauh.

Edward tersenyum lembut. “Jangan khawatir. Kau manusia—ingatanmu tak lebih dari sekadar saringan. Waktu akan menyembuhkan semua luka bagi jenismu.”

“Kalau ingatanmu?” tanyaku. Kedengarannya seperti ada yang menyumbat tenggorokanku, seolah-olah aku tersedak.

“Well—“ Edward ragu-ragu selama satu detik yang singkat—”aku tidak akan lupa. Tapi jenisku… kami sangat mudah dialihkan perhatiannya.” Ia tersenyum, senyumnya tenang dan tidak menyentuh matanya.

Edward mundur selangkah menjauhiku. “Aku sudah mengatakan semuanya, kurasa. Kami tidak akan mengganggumu lagi.”

Kata “kami” yang ia ucapkan menggugah perhatianku. Itu membuatku terkejut; kusangka aku sudah tak bisa menyadari apa pun lagi.

“Alice tidak akan kembali,” aku tersadar. Entah bagaimana Edward bisa mendengarku—mulutku tidak mengeluarkan suara—tapi sepertinya ia mengerti.

Ia menggeleng pelan, matanya tak pernah lepas dari wajahku.

“Tidak. Mereka semua sudah pergi. Aku tetap tinggal untuk berpamitan denganmu.”

“Alice sudah pergi?” Suaraku hampa oleh rasa tak percaya.

“Sebenarnya dia ingin berpamitan, tapi aku meyakinkan dia, perpisahan seketika justru lebih baik bagimu.”

Kepalaku pusing; sulit rasanya berkonsentrasi. Kata-kata Edward berputar-putar dalam pikiranku, dan aku seperti mendengar dokter di rumah sakit di Phoenix, musim semi lalu, saat menunjukkan hasil foto rontgen padaku. Kelihatan kan kalau patahnya tiba-tiba, jarinya menelusuri foto tulangku yang patah. Itu bagus. Dengan begitu bisa sembuh lebih mudah, lebih cepat.

Aku berusaha bernapas normal. Aku perlu berkonsentrasi, mencari jalan keluar dari mimpi buruk ini.

“Selamat tinggal, Bella,” kata Edward, suaranya tetap tenang dan damai.

“Tunggu!” aku tersedak oleh kata itu, menggapainya, memerintahkan kakiku yang terasa berat untuk membawaku maju.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.