Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Sadarlah aku bahwa aku akan sangat kehilangan ini semua—kehijauan, keabadian, kemisteriusan hutan ini. Semuanya.

Aku memasukkan kamera ke tas sekolah sebelum berangkat. Kucoba memusatkan pikiran pada proyek baruku, bukan pada fakta bahwa Edward ternyata belum berhasil mengatasi kegalauan hatinya sepanjang malam.

Selain takut, aku mulai tidak sabar. Sampai berapa lama lagi ini akan berlangsung?

Kebisuan itu berlangsung sepanjang pagi. Edward berjalan di sampingku, bungkam seribu bahasa, sepertinya tak pernah benar-benar menatapku. Aku mencoba berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaranku, tapi bahkan bahasa Inggris pun tak mampu menarik perhatianku. Mr. Berty sampai harus dua kali mengulang pertanyaan tentang Lady Capulet sebelum aku sadar ia menujukan pertanyaan itu padaku. Edward membisikkan jawaban yang benar dengan suara pelan, lalu kembali mengabaikanku.

Saat makan siang, kebisuan terus berlanjut. Rasanya aku seperti hendak menjerit setiap saat, jadi, untuk mengalihkan pikiran aku mencondongkan badan, melanggar garis batas tak kasatmata, dan berbicara pada Jessica.

“Hei, Jess?”

“Ada apa, Bella?”

“Boleh aku minta tolong?” tanyaku, merogoh tasku. “Ibuku ingin aku memotret teman-temanku untuk albumku. Jadi tolong potretkan semua orang, ya?” Kuulurkan kamera itu padanya.

“Tentu.” jawabnya, nyengir, lalu berpaling untuk menjepret Mike yang mulutnya sedang penuh makanan.

Sudah bisa ditebak, perang potret pun terjadi. Kulihat mereka mengedarkan kamera ke sekeliling meja, tertawa terbahak-bahak, berpose, dan mengeluh karena difoto dalam keadaan jelek. Anehnya, tingkah mereka terasa kekanak-kanakan bagiku. Mungkin aku saja yang sedang tidak mood untuk bersikap layaknya manusia normal hari ini.

“Waduh,” kata Jessica dengan nada meminta maaf saat mengembalikan kamera padaku. “Sepertinya kami menghabiskan filmmu.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah memotret semua yang perlu kupotret kok.”

Usai sekolah, Edward mengantarku ke lapangan parkir sambil membisu. Aku harus bekerja lagi, dan sekali ini aku justru merasa senang. Bersamaku ternyata tidak membantu memperbaiki keadaan. Mungkin kalau ia sendirian justru akan membuat suasana hatinya lebih baik.

Aku memasukkan filmku ke Thriftway dalam perjalanan ke Newton’s, kemudian mengambil fotofoto yang sudah dicuci cetak sepulang kerja. Di rumah aku menyapa Charlie sekilas, menyambar sebungkus granola bar dari dapur, lalu bergegas masuk ke kamar sambil mengempit amplop berisi foto-foto itu.

Aku duduk di tengah ranjang dan membuka amplop itu dengan sikap ingin tahu bercampur waswas. Konyolnya, aku masih separo berharap foto pertama akan menampilkan bidang kosong.

Waktu mengeluarkannya, aku terkesiap dengan suara keras. Edward tampak sama tampannya dengan aslinya, menatapku dengan sorot hangat yang kurindukan beberapa hari belakangan ini. Sungguh luar biasa bagaimana seseorang bisa tampak begitu… begitu… tak terlukiskan. Seribu kata pun takkan mampu menandingi foto ini.

Dengan cepat aku melihat-lihat sekilas foto lain dalam tumpukan, lalu menjejerkan tiga di antaranya di tempat tidur.

Foto pertama adalah foto Edward di dapur, sorot matanya yang hangat memancarkan kegembiraan. Foto kedua adalah foto Edward dan Charlie, menonton ESPN. Perbedaan ekspresi Edward tampak nyata. Sorot matanya tampak hati-hati di sini, tidak ramah. Masih tetap sangat tampan, namun wajahnya terkesan lebih dingin, lebihBmenyerupai patung, kurang hidup.

Terakhir foto Edward dan aku berdiri berdampingan dengan sikap canggung. Wajah Edward sama seperti dalam foto terakhir, dingin dan menyerupai patung. Kekontrasan di antara kami sangat menyakitkan. Ia tampak bagai dewa. Aku tampak sangat biasa, bahkan untuk ukuran manusia, nyaris polos. Kubalik foto itu dengan perasaan jijik.

Bukannya mengerjakan PR, aku malah begadang untuk memasukkan foto-foto itu ke album. Dengan bolpoin aku membuat catatan di bawah semua foto, nama-nama dan tanggalnya. Aku sampai pada foto Edward dan aku, dan, tanpa memandanginya terlalu lama, melipatnya jadi dua dan menyelipkannya ke sudut logam, sisi Edward menghadap ke atas.

Setelah selesai, aku menjejalkan tumpukan foto kedua ke amplop yang masih baru, lalu menulis surat terima kasih yang panjang untuk Renee.

Edward masih belum datang juga. Aku tak ingin mengakui dialah alasanku begadang hingga larut begini. Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali ia tidak datang, tanpa alasan, tanpa menelepon… Ternyata tidak pernah. Lagi-lagi, aku tak bisa tidur nyenyak. Sama seperti dua hari sebelumnya, suasana di sekolah juga tetap penuh kebisuan yang menegangkan dan membuat frustrasi. Aku lega waktu melihat Edward menungguku di lapangan parkir, tapi kelegaan itu sirna dengan cepat. Tak ada perubahan dalam dirinya, kecuali mungkin ia lebih menjauh.

Sulit rasanya mengingat alasan dari semua kekacauan ini. Hari ulang tahunku rasanya telah lama berselang. Kalau saja Alice kembali. Segera. Sebelum keadaan jadi makin tak terkendali lagi.

Tapi aku tak bisa bergantung pada hal itu. Aku sudah memutuskan kalau aku tak bisa bicara dengan Edward hari ini, benar-benar bicara, aku akan menemui Carlisle besok. Aku harus melakukan sesuatu.

Sepulang sekolah Edward dan aku akan membicarakannya sampai tuntas, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tak mau menerima alasan apa pun.

Edward mengantarku ke trukku, dan aku menguatkan diri untuk melontarkan tuntutan.

“Keberatan tidak kalau aku datang ke rumahmu hari ini?” tanya Edward sebelum kami sampai ke truk, menduluiku.

“Tentu saja tidak.”

“Sekarang?” tanya Edward lagi, membukakan pintu untukku.

“Tentu,” aku menjaga suaraku tetap datar, walaupun tidak menyukai nada mendesak dalam suaranya. “Aku hanya akan memasukkan surat untuk Renee ke bus surat dalam perjalanan pulang. Sampai ketemu di rumah.”

Edward memandangi amplop tebal di jok trukku. Tiba-tiba ia mengulurkan tangan dan menyambarnya.

“Biar aku saja” ujarnya pelan. “Dan aku akan tetap lebih cepat sampai di rumah daripada kau.” Ia menyunggingkan senyum separo favoritku, tapi kesannya lain. Matanya tidak memancarkan senyum itu.

“Oke,” aku setuju, tak mampu membalas senyumnya. Edward menutup pintu, lalu berjalan ke mobilnya.

Memang benar Edward sampai lebih dulu di rumahku. Ia sudah memarkir mobilnya di tempat Charlie biasa parkir waktu aku menghentikan trukku di depan rumah. Itu pertanda buruk.

Berarti ia tidak berniat lama-lama di rumahku. Aku menggeleng dan menghela napas dalamdalam, berusaha menabahkan hati.

Edward turun dari mobil waktu aku keluar dari trukku, lalu berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangan, mengambil tasku. Itu normal. Tapi ia menyurukkannya lagi ke jok truk. Itu tidak normal.

“Ayo jalan-jalan denganku,” ajaknya, suaranya tanpa emosi. Ia meraih tanganku.

Aku tidak menjawab. Aku tak punya alasan untuk memprotes, tapi aku langsung tahu apa yang kuinginkan. Aku tidak menyukainya. Ini gawat, ini benar-benar gawat, suara di kepalaku berkata berulang-ulang.

Tapi Edward tidak menunggu jawabanku. Ditariknya aku ke sisi timur halaman, tempat hutan berbatasan dengan halaman. Aku mengikutinya meski dalam hati menolak, berusaha berpikir di sela-sela kepanikan yang melandaku. Inilah yang kuinginkan, aku mengingatkan diriku sendiri. Kesempatan untuk membicarakannya sampai tuntas. Jadi mengapa kepanikan ini mencekikku?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.