Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku berusaha mengendalikan diri, memberi penjelasan masuk akal pada diriku. Hal paling buruk apa yang bisa terjadi? Aku tersentak. Jelas itu pertanyaan keliru. Sulit rasanya bernapas dengan benar.

Oke, aku berpikir lagi, hal paling buruk apa yang sanggup kuterima? Aku juga tidak terlalu menyukai pertanyaan itu. Tapi aku memikirkan berbagai kemungkinan yang kupertimbangkan hari ini tadi.

Menjauh dari keluarga Edward. Tentu saja. Edward tidak mungkin berharap Alice juga bakal kujauhi. Tapi kalau Jasper tak bisa didekati, berarti lebih sedikit waktu yang bisa kuhabiskan bersama Alice. Aku mengangguk sendiri—itu bisa kuterima.

Atau pergi dari sini. Mungkin Edward tak ingin menunggu sampai akhir tahun ajaran, mungkin harus sekarang juga.

Di hadapanku, di meja, tergeletak hadiahhadiahku dari Charlie dan Renee yang kutinggalkan di sana semalam. Kamera yang tak sempat kugunakan di rumah keluarga Cullen tergeletak di sebelah album. Sambil menarik napas panjang kusentuh sampul depan album cantik yang dihadiahkan ibuku padaku, teringat pada Renee. Entah bagaimana, sekian lama hidup tanpa ibuku tidak membuatku lantas bisa lebih mudah menerima kemungkinan hidup terpisah selamanya darinya.

Dan Charlie akan tinggal sendirian di sini, ditinggalkan. Hati mereka bakal terluka…

Tapi kami akan kembali, bukan? Kami pasti akan datang berkunjung, bukan begitu?

Aku tak bisa memastikan jawabannya.

Aku meletakkan pipiku ke lutut, memandangi benda-benda yang menjadi ungkapan cinta kedua orangtuaku. Aku tahu jalan yang kupilih ini bakal sulit. Dan, bagaimanapun, aku memikirkan skenario terburuk—yang paling buruk yang bisa kuterima.

Aku menyentuh album itu lagi, membalikkan sampul depannya. Sudut-sudut logam kecil sudah tersedia di halaman dalam untuk meletakkan foto pertama. Bagus juga idenya, merekam kehidupanku di sini. Aku merasakan dorongan yang aneh untuk mulai. Mungkin aku tak punya waktu lama lagi di Forks.

Aku memainkan tali kamera, penasaran dengan film pertama di dalamnya. Mungkinkah hasilnya akan mendekati sosok aslinya? Aku meragukannya. Tapi Edward tampaknya tidak khawatir hasilnya bakal kosong. Aku terkekeh sendiri, mengenang tawa lepasnya semalam. Tawaku terhenti. Begitu banyak yang berubah, dan begitu tiba-tiba. Membuatku merasa sedikit pusing, seakan-akan aku berdiri di tepi tebing curam yang sangat tinggi.

Aku tak ingin memikirkannya lagi. Kusambar kameraku dan berjalan menuju tangga.

Kamarku tak banyak berubah dalam kurun waktu tujuh belas tahun semenjak ibuku tinggal di sini. Dinding-dindingnya masih berwarna biru muda, tirai berenda menguning yang tergantung di depan jendela juga masih sama. Sekarang di sana ada tempat tidur, bukan boks. tapi Renee pasti akan mengenalinya dari selimut quilt yang terhampar berantakan di atasnya—itu hadiah dari Gran.

Bagaimanapun, aku memotret kamarku. Tak banyak lagi yang bisa kulakukan malam ini—di luar sudah terlalu gelap—dan perasaan itu semakin kuat, sekarang bahkan nyaris menjadi keharusan. Aku akan merekam segala sesuatu tentang Forks sebelum harus meninggalkannya.

Perubahan akan datang. Aku bisa merasakannya. Bukan prospek menyenangkan, tidak bila hidup saat ini sudah begitu sempurna.

Aku sengaja berlama-lama di kamar sebelum turun lagi ke bawah, sambil menenteng kamera, berusaha menepis kegelisahan yang berkecamuk di hatiku, memikirkan jarak aneh yang tidak ingin kulihat di mata Edward. Ia pasti bisa mengatasinya. Mungkin ia khawatir aku bakal kalut bila ia mengajakku pergi. Akan kubiarkan ia mengatasi perasaannya tanpa ikut campur. Dan aku akan siap bila nanti ia memintaku.

Aku sudah siap dengan kameraku waktu menyelinap diam-diam ke ruang duduk. Aku yakin tak mungkin Edward tidak menyadari kehadiranku, tapi ia tetap tidak mendongak. Aku merasakan tubuhku merinding saat perasaan dingin menerpa perutku; kuabaikan perasaan itu dan kuambil foto mereka.

Barulah mereka menoleh memandangku. Kening Charlie berkerut. Wajah Edward kosong, tanpa ekspresi.

“Apa-apaan sih kau, Bella?” protes Charlie.

“Oh, ayolah,” Aku pura-pura tersenyum saat beranjak duduk di lantai, persis di depan sofa tempat Charlie berbaring santai. “Dad kan tahu sebentar lagi Mom pasti menelepon untuk bertanya apakah aku sudah memanfaatkan hadiahhadiahku. Aku harus segera memulainya supaya Mom tidak kecewa.

“Tapi mengapa kau memotretku?” gerutu Charlie.

“Karena Dad ganteng sekali,” jawabku, menjaga agar nada suaraku tetap ringan. “Dan karena Dadlah yang membeli kamera ini, maka Dad wajib menjadi salah satu objeknya.”

Charlie menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

“Hei, Edward,” kataku dengan lagak tak acuh yang patut diacungi jempol. “Ambil fotoku bersama ayahku.”

Kulempar kamera itu padanya, sengaja menghindari matanya, lalu berlutut di samping lengan sofa yang dijadikan tumpuan kepala Charlie. Charlie mendesah.

“Kau harus tersenyum, Bella,” gumam Edward.

Aku menyunggingkan senyum terbaikku, dan kamera menjepret.

“Sini kufoto kalian,” Charlie mengusulkan. Aku tahu ia hanya berusaha mengalihkan fokus kamera dari dirinya.

Edward berdiri dan dengan enteng melemparkan kamera itu kepada Charlie.

Aku bangkit dan berdiri di samping Edward, dan pengaturan itu terasa formal dan asing bagiku. Edward mengaitkan sebelah lengannya ke bahuku, dan aku merangkul pinggangnya lebih erat. Aku ingin menatap wajahnya, tapi tidak berani.

“Senyum, Bella,” Charlie mengingatkanku lagi.

Aku menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. Lampu blitz seakan membutakan mataku.

“Cukup sudah potret-memotretnya malam ini,” kata Charlie kemudian, menjejalkan kamera ke celah di antara bantal-bantal sofa, lalu berguling di atasnya. “Kau tidak perlu menghabiskan satu rol film sekarang juga.”

Edward menurunkan tangannya dari bahuku dan menggeliat melepaskan diri dengan sikap kasual. Lalu ia duduk lagi di kursi.

Aku ragu, lalu duduk bersandar lagi di sofa. Mendadak aku merasa sangar ketakutan sampaisampai tanganku gemetar. Kutempelkan kedua tanganku ke perut untuk menyembunyikannya, meletakkan daguku ke lutut dan memandangi layar televisi di depanku, tak melihat apa-apa.

Setelah acara berakhir, aku bergeming di tempat duduk. Dari sudut mata kulihat Edward berdiri.

“Sebaiknya aku pulang,” katanya.

Charlie tidak mengangkat wajah dari tayangan iklan. “Sampai ketemu lagi.”

Aku berdiri dengan sikap canggung—tubuhku kaku setelah duduk diam sekian lama—lalu mengikuti Edward ke pintu depan. Ia langsung ke mobilnya.

“Kau menginap tidak?'” tanyaku, tanpa ada harapan dalam suaraku.

Aku sudah bisa menebak jawabannya, jadi rasanya tidak terlalu menyakitkan.

“Tidak malam ini.”

Aku tidak menanyakan alasannya.

Edward naik ke mobilnya dan menderu pergi sementara aku berdiri di sana, tak bergerak. Aku nyaris tak sadar hujan telah turun. Aku menunggu, tanpa tahu apa yang kutunggu, sampai pintu di belakangku terbuka.

“Bella, kau ngapain?” tanya Charlie, terkejut melihatku berdiri sendirian di sana, air hujan menetes-netes membasahi tubuhku.

“Tidak sedang apa-apa.”‘ Aku berbalik dan terseok-seok kembali ke rumah.

Malam itu sangat panjang, aku nyaris tak bisa beristirahat.

Aku bangun segera setelah matahari membiaskan cahaya pertamanya di luar jendela kamarku. Seperti robot aku bersiap-siap ke sekolah, menunggu langit terang. Setelah makan semangkuk sereal, aku memutuskan sekarang sudah cukup terang untuk memotret. Aku memotret trukku, lalu bagian depan rumah. Aku berbalik dan menjepret hutan di dekat rumah Charlie beberapa kali. Lucu juga bagaimana hutan itu tak lagi terasa mengancam seperti dulu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.