Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Pagi berlalu dengan lambat. Aku tak sabar ingin bertemu Alice, walaupun tidak benar-benar bisa bicara dengannya kalau Edward ada di sana. Edward sendiri lebih banyak berdiam diri. Sesekali ia menanyakan lenganku, dan aku menyahutinya dengan berbohong.

Alice biasanya mendului kami makan siang; ia tak perlu mengimbangi orang lelet seperti aku. Tapi ia tak ada di meja, menunggu dengan nampan penuh makanan yang tak akan dimakannya.

Edward tidak mengatakan apa-apa tentang absennya Alice. Mulanya aku mengira kelasnya belum selesai—sampai aku melihat Conner dan Ben, yang sekelas dengannya di kelas bahasa Prancis jam keempat.

“Mana Alice?” tanyaku pada Edward dengan sikap waswas.

Edward memandangi granola bar yang diremasnya pelan-pelan sebelum menjawab. “Dia menemani Jasper.”

“Jasper baik-baik saja?”

“Dia pergi dulu untuk sementara.”

“Apa? Ke mana?”

Edward mengangkat bahu. “Tidak pasti ke mana.”

“Alice juga,” kataku putus asa. Tentu saja, bila Jasper membutuhkannya, Alice akan pergi.

“Ya. Dia pergi untuk sementara. Dia mencoba meyakinkan Jasper untuk pergi ke Denali.”

Denali adalah tempat sekumpulan vampir unik lain—vampir baik seperti keluarga Cullen—tinggal. Tanya dan keluarganya. Aku beberapa kali mendengar tentang mereka. Edward pernah bertemu mereka musim dingin lalu saat kedatanganku ke Forks membuat hidupnya sulit.

Laurent, anggota paling beradab dalam kelompok kecil James, memilih ke sana daripada berpihak kepada James untuk melawan keluarga Cullen. Masuk akal bila Alice mendorong Jasper untuk pergi ke sana.

Aku menelan ludah, berusaha mengenyahkan ganjalan yang tiba-tiba bersarang di tenggorokanku. Perasaan bersalah membuat kepalaku tertunduk dan bahuku terkulai. Aku membuat mereka terusir dari rumah mereka sendiri, seperti Rosalie dan Emmett. Aku benarbenar wabah penyakit.

“Lenganmu sakit?” kata Edward dengan nada bertanya.

“Siapa yang peduli dengan lengan tololku?” sergahku jengkel.

Edward tidak menyahut, dan aku meletakkan kepalaku di meja.

Usai sekolah, kebisuan semakin tak tertahankan. Aku tak ingin menjadi orang yang memecah kebisuan, tapi rupanya hanya itu satusatunya pilihan kalau aku ingin ia bicara lagi denganku.

“Kau datang nanti malam?” tanyaku ketika Edward berjalanmengiringiku—sambil membisu— ke trukku. Ia selalu datang.

“Nanti?”

Aku senang karena ia terlihat kaget. “Aku harus kerja. Aku kan harus tukaran shift dengan Mrs. Newton untuk bisa libur kemarin.”

“Oh,” gumam Edward.

“Jadi kau akan datang kalau aku sudah di rumah, ya kan?” Aku tidak suka karena tiba-tiba merasa tak yakin tentang hal ini.

“Kalau kau menginginkannya.”

“Aku selalu menginginkanmu,” aku mengingatkannya, mungkin sedikit lebih bersungguh-sungguh daripada seharusnya.

Aku mengira ia bakal tertawa, atau tersenyum, atau setidaknya bereaksi terhadap kata-kataku.

“Baiklah kalau begitu,” sahutnya tak acuh.

Edward mengecup keningku lagi sebelum menutup pintu trukku. Lalu ia berbalik dan berlari melompat dengan anggun ke mobilnya.

Aku masih sanggup menyetir trukku keluar dari lapangan parkir sebelum kepanikan menghantamku telak-telak, tapi aku sudah kehabisan napas ketika sampai di Newton’s.

Ia hanya butuh waktu, aku meyakinkan diriku sendiri. Ia pasti bisa melupakannya. Mungkin ia sedih karena keluarganya harus pergi. Tapi Alice dan Jasper sebentar lagi kembali, begitu juga Rosalie dan Emmett. Kalau perlu, aku akan menjauh dulu dari rumah putih besar di tepi sungai itu—aku tidak akan pernah menjejakkan kaki lagi di sana. Bukan masalah. Aku tetap bisa bertemu Alice di sekolah. Ia akan kembali bersekolah, kan? Lagi pula, ia lebih sering berada di rumahku. Ia tak mungkin tega menyakiti hati Charlie dengan menjauhiku.

Tak diragukan lagi aku akan bertemu Carlisle secara teratur—di UGD.

Bagaimanapun, kemarin tidak terjadi apa-apa. Tidak terjadi apa-apa. Aku memang jatuh—tapi itu kan sudah biasa. Dibandingkan musim semi lalu. sepertinya ini tidak penting. James meninggalkanku babak-belur dan nyaris mati kehabisan darah—meski begitu Edward tabah menjalani minggu demi minggu yang tak ada akhirnya di rumah sakit jauh lebih baik daripada ini. Apakah karena, kali ini, ia tidak melindungiku dari serangan musuh? Melainkan dari saudaranya sendiri?

Mungkin jauh lebih baik jika Edward membawaku pergi saja, daripada keluarganya tercerai berai seperti itu. Depresiku sedikit berkurang waktu aku mulai membayangkan bisa berduaan dengan Edward tanpa ada yang mengganggu. Seandainya Edward bisa bertahan sampai akhir tahun ajaran ini, Charlie takkan bisa melarang. Kami bisa pergi ke luar kota untuk kuliah, atau berpura-pura itulah yang kami lakukan, seperti Rosalie dan Emmett tahun ini. Tentu saja Edward bisa menunggu satu tahun. Apa artinya satu tahun kalau kau bisa hidup selamanya? Menurutku itu tidak terlalu berat.

Aku berhasil menabahkan diri hingga sanggup turun dari truk dan berjalan ke toko. Hari ini Mike Newton menduluiku datang ke sini, tersenyum dan melambai waktu aku masuk. Kusambar rompiku, mengangguk samar ke arahnya. Otakku masih sibuk membayangkan berbagai skenario menyenangkan tentang aku dan Edward yang melarikan diri ke tempat-tempat eksotis.

Mike membuyarkan lamunanku. “Bagaimana ulang tahun-mu?”

“Ugh,” gumamku. “Aku senang itu sudah berakhir.”

Mike memandangiku dari sudut matanya, seolah-olah aku sinting.

Waktu berjalan sangat lambat. Aku ingin bertemu lagi dengan Edward, berdoa semoga ia sudah bisa mengatasi saat-saat terburuknya, apa pun itu, waktu aku bertemu lagi dengannya nanti. Semua baik-baik saja, aku meyakinkan diri sendiri berulang kali. Semua pasti akan normal lagi.

Kelegaan yang kurasakan waktu berbelok memasuki kawasan tempat tinggalku dan melihat mobil perak Edward terparkir di depan rumahku sangat besar dan luar biasa. Dan itu membuatku gelisah.

Aku bergegas masuk lewat pintu depan, berseru sebelum benar-benar berada di dalam.

“Dad? Edward?”

Saat aku berseru, terdengar jelas alunan musik acara SportsCenter yang ditayangkan ESPN bergema dari ruang duduk.

“Di sini,” Charlie menyahut.

Aku menggantungkan jas hujan dan bergegas mengitari sudut ruangan.

Edward duduk di kursi, sementara ayahku di sofa. Mata keduanya sama-sama tertuju ke layar televisi. Fokus itu normal saja bagi ayahku. Tapi tidak demikian halnya bagi Edward.

“Hai,” sapaku lemah.

“Hai, Bella,” sahut ayahku, matanya tak pernah beralih dari layar televisi. “Kami baru saja makan pizza dingin. Kalau tidak salah masih ada di meja”

“Oke.”

Aku menunggu di ambang pintu. Akhirnya Edward menoleh sambil tersenyum sopan. “Sebentar lagi aku menyusul,” janjinya. Matanya beralih lagi ke televisi.

Sejenak aku hanya bisa bengong, shock. Tak seorang pun di antara mereka sepertinya menyadari hal itu. Aku bisa merasakan sesuatu, mungkin kepanikan, bertumpuk di dadaku. Aku kabur ke dapur.

Pizza-nja sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku duduk di kursi, melipat lutut, dan memeluk kedua kakiku. Ada yang tidak beres, mungkin lebih parah daripada yang kusadari. Obrolan khas cowok terus berlanjut dari depan layar televisi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.