Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Beri aku kesempatan bicara sekali saja dengan Jacob kemudian aku akan menemui Charlie.” Siasia saja aku memberontak minta dilepaskan.

“Jacob Black ingin bertemu denganku. Karena itulah dia masih di sini.”

Aku langsung kaget—aku serta-merta berhenti meronta-ronta. Kedua tanganku terkulai lemas. Mereka bertarung; Paris kalah.

Aku memang marah, tapi tidak semarah itu.

“Bicara?” tanyaku.

“Kurang-lebih begitu.”

“Lebihnya bagaimana?” Suaraku bergetar.

Edward merapikan rambutku yang jatuh di sekitar wajah. “Jangan khawatir, kedatangannya ke sini bukan untuk berkelahi denganku. Dia bertindak sebagai… juru bicara bagi kawanannya.”

“Oh.”

Edward menengok lagi ke arah rumah, mempererat rangkulannya di pinggangku, lalu menarikku ke arah hutan. “Kita harus bergegas. Charlie sudah mulai tidak sabar.”

Kami tidak perlu pergi terlalu jauh; Jacob sudah menunggu tak jauh dari situ. Ia menunggu sambil bersandar di pohon berlumut, wajahnya keras dan getir, persis yang kubayangkan. Ia menatapku, kemudian Edward. Mulut Jacob menyeringai membentuk seringaian sinis, dan ia bergeser menjauh dari tempatnya bersandar. Ia berdiri bertumpu pada bagian belakang kakinya yang telanjang, agak condong ke depan, mengepalkan kedua tangannya yang gemetar. Ia tampak lebih besar dibandingkan terakhir kali aku melihatnya. Entah bagaimana, meski rasanya mustahil, ia masih terus bertumbuh. Tubuhnya akan menjulang melebihi Edward, kalau mereka berdiri bersisian.

Tapi Edward langsung berhenti berjalan begitu kami melihat Jacob, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara kami dan Jacob. Edward sengaja memosisikan tubuhnya begitu rupa sehingga aku berada di belakangnya. Aku menjulurkan badan melewati rubuhnya supaya bisa menatap Jacob— menuduhnya dengan mataku.

Tadinya aku mengira dengan melihat ekspresi Jacob yang sinis dan penuh kebencian akan membuatku semakin marah. Tapi ternyata aku malah teringat saat terakhir kali melihatnya, dengan air mata berlinang. Amarahku melemah, menggeletar, sementara aku menatap Jacob. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya— aku tidak suka reuni kami harus terjadi seperti ini

“Bella,” kata Jacob sebagai salam, mengangguk satu kali ke arahku tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Edward.

“Kenapa?” bisikku, berusaha menyembunyikan suara tercekat di kerongkonganku. “Tega-teganya kau berbuat begini padaku, Jacob?”

Seringaian sinis itu lenyap, namun wajahnya tetap keras dan kaku. “Ini yang terbaik.”

“Apa maksud perkataanmu itu? Memangnya kau ingin Charlie mencekikku? Atau kau ingin dia kena serangan jantung, seperti Harry? Tak peduli betapapun marahnya kau padaku, tega-teganya kau melakukan ini padanya?”

Jacob meringis, alisnya bertaut, tapi ia tidak menjawab.

“Dia tidak ingin menyakiti siapa pun—dia hanya ingin kau dihukum, sehingga kau tidak diizinkan menghabiskan waktu denganku,” gumam Edward, menjelaskan pikiran yang tak ingin diutarakan Jacob.

Mata Jacob menyala-nyala oleh kebencian saat ia me berengut marah pada Edward.

“Aduh, Jake!” erangku. “Aku memang sudah dihukum! Memangnya kaukira kenapa aku tidak ke La Push dan menendang bokongmu karena kau tidak mau menerima teleponku?”

Mata Jacob berkelebat ke arahku, untuk pertama kalinya tampak bingung. “Jadi karena itu?” tanyanya, kemudian ia mengunci mulut rapat-rapat, seperti menyesal telah kelepasan bicara.

“Dia kira akulah yang tidak mengizinkan, bukan Charlie,” Edward menjelaskan lagi.

“Hentikan,” bentak Jacob.

Edward tidak menanggapi.

Jacob bergetar hebat, kemudian ia menggertakkan giginya sekeras kepalan tangannya. “Ternyata Bella tidak melebih-lebihkan waktu dia bercerita tentang… kemampuanmu,” katanya dari sela-sela giginya. “Jadi kau pasti sudah tahu kenapa aku datang ke sini”

“Benar,” jawab Edward lirih. “Tapi, sebelum kau mulai, aku perlu mengatakan sesuatu.”

Jacob menunggu, membuka dan menutup telapak tangannya sementara berusaha mengendalikan getaran tubuhnya yang merayapi kedua lengan.

“Terima kasih,” ucap Edward, dan suaranya bergetar karena ketulusan hatinya. “Aku tidak akan pernah bisa mengungkapkan betapa besarnya rasa terima kasihku padamu. Aku berutang budi padamu sepanjang sisa… eksistensiku.

Jacob menatapnya dengan pandangan kosong getaran tubuhnya langsung berhenti. Ia melirik cepat ke arahku, rapi raut wajahku sama bingungnya.

“Karena kau telah menjaga Bella,” Edward mengklarifikasi, suaranya parau dan bersungguhsungguh. “Saat aku… tidak ada untuk menjaganya.”

“Edward—” aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi Edward mengangkat sebelah tangan, matanya tertuju kepada Jacob.

Ekspresi mengerti menyapu wajah Jacob sesaat sebelum topeng keras itu kembali. “Aku tidak melakukannya untukmu.”

“Aku tahu. Tapi itu tidak menghapus perasaan terima kasih yang kurasakan. Kurasa kau perlu tahu. Seandainya ada yang bisa kulakukan untukmu, selama itu masih dalam kekuasaanku…”

Jacob mengangkat sebelah alisnya yang hitam.

Edward menggeleng. “Aku tidak punya kuasa dalam hal itu.”

“Kuasa siapa, kalau begitu?” geram Jacob.

Edward menunduk menatapku. “Kuasanya. Aku cepat belajar, Jacob Black, jadi aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Aku akan tetap di sini sampai dia menyuruhku pergi.”

Sejenak aku terhanyut dalam tatapan mata emasnya. Tidak sulit memahami bagian percakapan yang tak bisa kudengar itu. Satusatunya yang diinginkan Jacob dari Edward adalah pergi dari sini.

“Tidak akan,” bisikku, mataku masih terpaku pada mata Edward.

Jacob membuat suara seperti mau muntah.

Dengan enggan kualihkan tatapanku dari mata Edward, memandang Jacob dengan kening berkerut. “Ada hal lain yang kubutuhkan, Jacob? Kau ingin aku kena masalah – misimu sudah tercapai. Bisa jadi Charlie akan mengirimku ke sekolah militer. Tapi itu tidak akan bisa membuatku menjauhi Edward. Tidak ada yang bisa melakukan hal itu. Jadi, apa lagi yang kauinginkan?”

Jacob tak mengalihkan tatapannya dari Edward. “Aku hanya perlu mengingatkan teman-temanmu yang suka mengisap darah itu tentang beberapa poin penting dalam kesepakatan yang telah mereka sepakati. Hanya karena perjanjian itulah aku tidak mengoyak-ngoyak leher mereka saat ini juga.”

“Kami belum lupa,” sergah Edward, dan pada saat yang bersamaan aku menuntut, “Poin-poin penting apa?”

Jacob masih memandang Edward garang, tapi ia menjawab pertanyaanku. “Kesepakatan itu sangat spesifik. Kalau salah seorang di antara mereka menggigit manusia, gencatan senjata berakhir. Menggigit, bukan membunuh,” ia menekankan. Akhirnya, ia menatapku. Sorot matanya dingin.

Detik ini juga aku menangkap maksudnya, kemudian wajahku berubah sedingin wajahnya. “Itu sama sekali bukan urusanmu.”

“Enak saja—” hanya itu yang sanggup dilontarkan Jacob.

Aku tidak mengira jawabanku yang terburuburu akan mendatangkan respons sekeras itu.

Meski datang untuk menyampaikan peringatan itu, Jacob pasti tidak tahu. Ia pasti mengira peringatan itu hanya sebagai tindakan pencegahan. Ia tidak sadar – atau tidak mau percaya – bahwa aku telah menentukan pilihan. Bahwa aku benar-benar berniat menjadi anggota keluarga Cullen.

Jawabanku membuat Jacob nyaris kejangkejang. Ia menempelkan tinjunya kuat-kuat ke pelipis, memejamkan mata rapat-rapat dan membungkuk seperti berusaha mengendalikan entakan-entakan tubuhnya. Wajahnya berubah hijau ke-kuningan di balik kulitnya yang cokelat kemerahan.

“Jake? Kau baik-baik saja?” tanyaku cemas.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.