Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Minggu-minggu berlalu, dan Jacob masih tidak mau menjawab teleponku. Hal ini mulai membuatku terus-menerus khawatir. Seperti keran bocor di belakang kepalaku yang tidak bisa kumatikan atau kuabaikan. Tes, tes, tes. Jacob, Jacob, Jacob.

Jadi, meski jarang menyebut-nyebut nama Jacob, terkadang perasaan frustrasi dan gelisahku meluap juga.

“Benar-benar brengsek!” aku mengomel panjangpendek pada Sabtu siang saat Edward menjemputku dari tempat kerja. Lebih mudah melampiaskan amarah daripada merasa bersalah. “Ini sama saja dengan menghina!”

Aku sudah mencoba segala cara, dengan harapan mendapat respons berbeda. Kali ini aku mencoba menelepon Jake dari tempat kerja, tapi teleponku dijawab Billy yang sama sekali tidak bisa membantu. Lagi-lagi.

“Kata Billy, Jacob tidak mau bicara denganku,” aku meradang, memelototi hujan yang mengalir membasahi jendela mobil. “Masa dia ada di sana, tapi tidak mau berjalan tiga langkah saja untuk menerima telepon! Biasanya Billy hanya mengatakan Jacob keluar, sibuk, tidur, atau semacamnya Maksudku, bukan berarti aku tidak tahu dia bohong padaku tapi paling tidak cara itu masih lebih sopan. Kurasa Billy juga benci padaku sekarang. Tidak adil!”

“Bukan begitu, Bella,” ucap Edward tenang. “Tidak ada yang benci padamu.”

“Rasanya seperti itu,” gerutuku, melipat kedua lengan di dada. Sekarang itu hanya kebiasaan yang sulit diubah. Tidak ada lagi lubang di dadaku kini—aku bahkan sudah nyaris tidak ingat perasaan hampa yang pernah kurasakan.

“Jacob tahu kami sudah kembali, dan aku yakin dia tahu pasti aku bersamamu,” jelas Edward. “Dia tidak mau dekat-dekat denganku. Permusuhan itu sudah berurat akar dalam dirinya.”

“Itu kan konyol. Dia tahu kau tidak… seperti vampir-vampir lain.”

“Bukan berarti tidak ada alasan untuk menjaga jarak.”

Aku memandang garang melalui kaca depan mobil. Yang kulihat hanya wajah Jacob, terpasung dalam topeng getir yang kubenci itu.

“Bella, memang beginilah keadaannya,” kata Edward kalem. “Aku bisa mengendalikan diri, tapi aku ragu dia bisa. Dia masih sangat muda. Besar kemungkinan akan terjadi perkelahian, dan aku tidak tahu apakah bisa menghentikannya sebelum aku membu—” Edward mendadak berhenti bicara, kemudian cepat-cepat melanjutkan. “Sebelum aku menyakitinya. Kau tidak akan senang. Aku tidak ingin itu terjadi.”

Aku ingat apa yang dikatakan Jacob di dapur waktu itu, mendengar kata-kata yang ia ucapkan sambil mengenang suaranya yang parau. Aku tidak yakin akan cukup bisa mengendalikan diri untuk menghadapinya… Mungkin kau juga tidak suka kalau aku membunuh temanmu. Tapi, Jacob ternyata mampu mengendalikan diri, waktu itu…

“Edward Cullen,” bisikku. “Tadi kau mau mengatakan membunuhnya, kan? Iya, kan?”

Edward membuang muka, memandang ke hujan di luar. Di depan kami, lampu merah yang tadi tidak kusadari keberadaannya berubah menjadi hijau dan Edward menjalankan mobilnya kembali, mengemudikannya sangat lamban. Tidak biasanya ia menyetir sepelan ini.

“Aku akan berusaha… sekuat tenaga… untuk tidak melakukannya,” kata Edward akhirnya.

Kutatap ia dengan mulut ternganga lebar, tapi Edward tetap memandang lurus ke depan. Kami berhenti sebentar di depan tanda stop di pojok jalan.

Mendadak, aku ingat apa yang terjadi pada Paris ketika Romeo kembali. Pengarahan adegannya sederhana: Mereka bertarung. Paris kalah. Tapi ini konyol. Mustahil.

“Well” ujarku, menarik napas dalam-dalam, menggeleng untuk mengenyahkan kata-kata itu dari benakku. “Hal seperti itu takkan pernah terjadi, jadi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya. Dan kau tahu Charlie sedang memelototi jam sekarang. Sebaiknya cepat antar aku pulang sebelum aku dapat masalah lagi gara-gara pulang terlambat.”

Aku menengadah padanya, tersenyum setengah hati.

Setiap kali menatap wajah Edward, wajah yang luar biasa sempurna itu, jantungku berdebar keras, kencang, dan sangat terasa dalam dadaku. Kali ini debaran itu berpacu lebih cepat dari pada biasanya. Aku mengenali ekspresinya yang membeku seperti patung itu.

“Kau memang akan dapat masalah lagi, Bella,” bisiknya dari sela-sela bibirnya yang tidak bergerak.

Aku bergeser lebih dekat, mencengkeram lengan Edward sambil mengikuti arah pandangnya. Entah apa yang kukira bakal kulihat—mungkin Victoria berdiri di tengah jalan, rambut merah menyalanya berkibar-kibar ditiup angin, atau sederet makhluk tinggi berjubah hitam… atau sekawanan werewolf yang marah. Tapi aku tidak melihat apa-apa.

“Apa? Ada apa?”

Edward menghela napas dalam-dalam. “Charlie…”

“Ayahku?” pekikku.

Lalu Edward menunduk menatapku, dan ekspresinya cukup tenang hingga mampu meredakan sedikit kepanikanku.

“Charlie… mungkin tidak akan membunuhmu, tapi dia sedang berpikir-pikir untuk melakukannya,” Edward memberitahu. Ia mulai menjalankan mobilnya, memasuki jalan rumahku, tapi melewati rumahku dan memarkir mobilnya di pinggir pepohonan.

“Memangnya aku melakukan kesalahan apa?” tanyaku terkesiap.

Edward menoleh ke belakang, ke arah rumah Charlie. Aku mengikuti arah pandangnya, dan melihat untuk pertama kalinya benda yang terparkir di jalan masuk, persis di sebelah mobil patroli ayahku. Mengilat, warnanya merah terang, mustahil terlewatkan. Motorku, berdiri gagah di sana.

Kata Edward tadi, Charlie sudah siap membunuhku, jadi ia pasti sudah tahu – bahwa sepeda motor itu milikku. Hanya ada satu orang di balik pengkhianatan ini.

“Tidak!” seruku kaget. “Mengapa? Mengapa Jacob tega melakukan ini padaku?” Perasaan sakit karena dikhianati melanda hatiku. Padahal aku sangat percaya pada Jacob – saking percayanya sampai aku menceritakan semua rahasiaku padanya. Seharusnya ia menjadi pelabuhan yang aman bagiku – orang yang selalu bisa kuandalkan. Tentu saja hubungan kami saat ini sedang renggang rapi aku tidak mengira fondasi dasar hubungan kami telah berubah. Kusangka itu tidak bisa berubah!

Kesalahan apa yang kulakukan sehingga pantas diganjar seperti ini? Charlie bakal sangat marah— dan lebih daripada itu, ia akan merasa sakit hati dan cemas. Apakah bebannya selama ini masih belum cukup? Tak pernah terbayang olehku Jake bisa begitu licik dan keju Air mataku merebak, terasa perih di mataku, tapi itu bukan air mata kesedihan. Aku telah dikhianati. Tiba-tiba saja aku sangat marah sampai kepalaku berdenyut-denyut seperti mau meledak.

“Dia masih di sini?” desisku.

“Ya. Dia menunggu kita di sana,” Edward memberi tahuku, mengangguk ke jalan setapak yang membelah pepohonan hutan yang rapat menjadi dua.

Aku melompat turun dari mobil, menghambur ke arah pepohonan dengan kedua tangan sudah mengepal, siap meninju.

Mengapa Edward harus lebih cepat daripada aku?

Ia sudah menyambar pinggangku sebelum aku sampai di jalan setapak itu.

“Lepaskan aku! Biar kubunuh dia! Dasar pengkhianat!’ Aku meneriakkan makian itu ke arah pepohonan.

“Nanti Charlie dengar,” Edward mengingatkanku. “Dan kalau dia sudah menyuruhmu masuk, dia bakal membeton pintunya, mencegahku masuk.”

Aku melirik ke arah rumah, dan sepertinya hanya sepeda motor merah mengilap itu saja yang tampak olehku. Aku marah sekali. Kepalaku berdenyut-denyut lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.