Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Charlie menggeleng-gelengkan kepala, urat-urat nadi di keningnya menyembul. “Aku ingin kau menjauhi dia, Bella. Aku tidak percaya padanya. Dia tidak baik untukmu. Aku tidak akan membiarkannya merusakmu seperti itu lagi.”

“Baiklah,” sergahku judes.

Charlie bertumpu pada tumitnya dan bergoyang maju-mundur. “Oh.” Ia tergagap sesaat, mengembuskan napas dengan suara keras karena terkejut. “Kusangka kau akan bersikap sulit.”

“Memang.” Aku memandang lurus-lurus ke mata Charlie. “Maksudku, ‘Baiklah, aku akan keluar dari rumah ini.’”

Mata Charlie melotot; wajahnya pucat pasi. Tekadku luntur saat aku mulai mengkhawatirkan kesehatannya. Charlie kan tidak lebih muda daripada Harry…

“Dad, aku tidak ingin keluar dari rumah ini,” kataku lebih lembut. “Aku sayang pada Dad. Aku tahu Dad khawatir, tapi Dad harus percaya padaku dalam hal ini. Dan Dad harus melunakkan sikap terhadap Edward kalau Dad ingin aku tetap tinggal di sini. Dad ingin aku tinggal di sini atau tidak?”

“Itu tidak adil, Bella. Kau tahu aku ingin kau tinggal di sini.”

“Kalau begitu bersikaplah baik pada Edward, karena di mana ada aku, di situ ada dia.” Aku mengucapkannya dengan sikap yakin. Keyakinan yang kudapat dari pencerahan itu masih kuat.

“Tidak di rumahku,” Charlie mengamuk.

Aku mengembuskan napas berat. “Begini, aku memberi ultimatum lagi pada Dad malam ini – atau lebih tepatnya pagi ini. Pikirkan saja dulu selama beberapa hari, oke? Tapi tolong diingat bahwa Edward dan aku ibaratnya sudah satu paket.”

“Bella–”

“Pikirkan dulu,” aku bersikeras. “Dan sementara Dad memikirkannya, bisa tolong beri aku privasi? Aku benar-benar harus mandi.”

Wajah Charlie berubah warna menjadi ungu aneh, tapi ia keluar juga, membanting pintu keraskeras. Kudengar ia berjalan mengentak-entakkan kaki menuruni tangga.

Kulempar selimutku, dan tahu-tahu saja Edward sudah di sana, duduk di kursi goyang, seakanakan sudah di sana selama pembicaraanku dengan Charlie berlangsung.

“Maaf soal tadi,” bisikku.

“Bukan berarti aku tidak pantas mendapatkan yang jauh lebih buruk,” Edward balas berbisik. “Jangan bertengkar dengan Charlie gara-gara aku, please.”

“Sudahlah, jangan khawatir,” desahku sambil mengemasi peralatan mandi dan satu setel pakaian bersih. “Aku akan bertengkar dengannya kalau memang perlu, tapi tak lebih dari itu. Atau kau berusaha memberi tahuku bahwa kalau aku keluar dari rumah ini, aku tidak diterima di tempatmu?” Aku membelalakkan mata, pura-pura kaget.

“Memangnya kau mau pindah ke rumah penuh vampir?”

“Mungkin itu tempat paling aman untuk orang seperti aku. Lagi pula…” aku menyeringai. “Kalau Charlie mengusirku, berarti tidak perlu menunggu sampai lulus, kan?”

Rahang Edward mengeras. “Begitu bersemangat ingin terkutuk selamanya,” gerutunya.

“Kau tahu kau tidak benar-benar meyakini itu.”

“Oh, begitu ya?” gerutunya.

“Tidak. Kau tidak percaya.”

Edward menatapku tajam dan membuka mulut hendak bicara, tapi aku memotongnya.

“Kalau kau benar-benar percaya kau telah kehilangan jiwamu, maka waktu aku menemukanmu di Volterra, kau pasti langsung menyadari apa yang terjadi, bukannya mengira kita berdua sudah sama-sama mati. Tapi kau tidak begitu—kau malah berkata ‘Luar biasa. Carlisle benar,'” aku mengingatkannya, merasa menang. “Ternyata, kau masih berharap.”

Sekali ini, Edward tak mampu mengatakan apaapa.

“Jadi marilah kita sama-sama berharap, oke?” saranku. “Bukan berarti itu penting. Kalau ada kau, aku tidak butuh surga.”

Pelan-pelan Edward bangkit, lalu merengkuh wajahku dengan kedua tangan sambil menatap mataku lekat-lekat. “Selamanya,” ia bersumpah, masih sedikit terperangah.

“Hanya itu yang kuminta,” kataku, lalu berjinjit agar bisa menempelkan bibirku ke bibirnya.

 

EPILOG—KESEPAKATAN

HAMPIR semuanya kembali normal—normal seperti sebelum masa ini, ketika aku berkeliaran laksana mayat hidup—dalam tempo sangat cepat, lebih daripada yang kuyakini bisa terjadi. Rumah sakit menerima Carlisle kembali dengan tangan terbuka, bahkan tidak merasa perlu menutupi kegembiraan mereka bahwa Esme tidak terlalu suka tinggal di LA. Gara-gara aku tidak ikut ulangan Kalkulus karena harus pergi ke luar negeri waktu itu, nilai Alice dan Edward saat ini lebih bagus daripada aku untuk bisa lulus SMA. Tibatiba kuliah menjadi prioritas (kuliah masih tetap merupakan rencana B, untuk jaga-jaga siapa tahu tawaran Edward membuatku batal mengambil pilihan melakukannya dengan Carlisle sesudah lulus). Sudah banyak tenggat waktu pendaftaran yang kulewatkan, tapi Edward menyodorkan setumpuk formulir baru untuk kuisi setiap hari. Ia sudah mengembalikan berkas pendaftarannya ke Harvard, jadi tidak masalah baginya bila, gara-gara aku terlalu banyak berleha-leha, kami terdampar di Peninsula Community College tahun depan.

Charlie agak marah padaku, dan ia juga mendiamkan Edward. Tapi setidaknya Edward diizinkan – selama jam berkunjung yang sudah ditentukan—masuk ke rumah lagi. Tapi aku tidak diizinkan keluar dari sana.

Aku hanya boleh keluar untuk bersekolah dan bekerja, jadi dinding-dinding kelasku yang berwarna kuning kusam mendadak terasa begitu mengundang bagiku. Itu berhubungan erat dengan orang yang duduk di meja di sebelahku.

Edward mengambil jadwalnya yang lama, jadi ia sekelas denganku di hampir semua pelajaran. Kelakuanku begitu aneh, sejak keluarga Cullen “pindah” ke LA, sehingga tak ada yang mau duduk di sampingku. Bahkan Mike, yang dulu selalu bersemangat memanfaatkan setiap kesempatan, sekarang pun seperti menjaga jarak. Dengan kembalinya Edward, delapan bulan terakhir nyaris bagaikan mimpi buruk yang mengganggu.

Nyaris, meski tidak persis seperti itu. Salah satunya, karena sekarang aku dihukum tidak boleh keluar rumah. Dan alasan lain, sebelum musim gugur waktu itu, aku tidak bersahabat dengan Jacob Black. Jadi, tentu saja, waktu itu aku belum merasa kehilangan dia.

Aku tidak bisa pergi ke La Push, dan Jacob tidak mau datang menemuiku. Ia bahkan tidak mau menerima teleponku.

Kebanyakan aku menelepon ke sana malammalam, setelah Edward diusir – jam sembilan tepat oleh Charlie yang meski muram tapi tampaknya sangat senang bisa mengusir Edward – dan sebelum Edward menyusup kembali ke kamarku lewat jendela setelah Charlie tidur. Aku sengaja memilih waktu itu untuk melakukan panggilan yang sia-sia ini karena kulihat Edward selalu mengernyitkan muka setiap menyebut nama Jacob. Seperti tidak suka dan waswas… mungkin bahkan marah. Kurasa itu karena Edward juga punya prasangka buruk terhadap werewolf, walaupun tidak sevokal Jacob terhdap “para pengisap darah”.

Jadi. aku jarang menyebut-nyebut nama Jacob.

Dengan Edward di dekatku, sulit memikirkan hal-hal yang tidak membahagiakan – bahkan memikirkan mantan sahabatku, yang saat ini mungkin sedang sangat tidak bahagia, gara-gara aku. Kalaupun aku memikirkan Jake, aku selalu merasa bersalah karena tidak sering memikirkan dia.

Dongeng itu sudah kembali. Sang pangeran sudah kembali, dan kutukan jahat dilenyapkan. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap karakter lain yang tertinggal dan tidak ikut bahagia. Apakah kisah ini juga akan berakhir bahagia selamanya untuk dia?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.