Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

– tapi ada syaratnya.”

“Syarat?” Suaraku berubah datar. “Syarat apa?”

Sorot mata Edward tampak hati-hati—ia berbicara lambat-lambat. “Menikahlah dulu denganku.”

Kupandangi dia, menunggu… “Oke. Di mana lucunya?”

Edward mendesah. “Kau melukai egoku, Bella. Aku baru saja melamarmu, tapi kau malah menganggapnya gurauan.”

“Edward, kumohon, seriuslah.”

“Aku seratus persen serius.” Edward menatapku tanpa sedikit pun sorot humor di wajahnya.

“Oh, ayolah,” tukasku, ada secercah nada histeris dalam suaraku. “Aku kan baru delapan belas.”

“Well, aku hampir seratus sepuluh. Sudah waktunya aku menikah.”

Aku membuang muka, memandang ke luar jendela yang gelap, berusaha mengendalikan kepanikan sebelum telanjur meledak.

“Begini, menikah tidak masuk dalam daftar prioritasku saat ini, kau mengerti? Ini ibarat ciuman kematian bagi Renee dan Charlie.”

“Pilihan katamu menarik.”

“Kau tahu maksudku.”

Edward menghela napas dalam-dalam. “Tolong jangan katakan kau takut pada komitmen,” kata Edward dengan nada tidak percaya, dan aku mengerti maksudnya.

“Sama sekali bukan itu,” elakku. “Aku… takut pada reaksi Renee. Dia sangat menentang pernikahan sebelum aku berumur tiga puluh.”

“Karena dia lebih suka kau menjadi salah satu dari kaum yang terkutuk selamanya.” Edward tertawa sinis.

“Kurasa kau bercanda.”

“Bella, kalau kau membandingkan tingkat komitmen antara Penyatuan dalam ikatan pernikahan dengan menukar jiwamu sebagai ganti hidup selamanya sebagai vampir…” Edward menggelengkan kepala. “Kalau kau tidak cukup berani untuk menikah denganku, maka—”

“Well,” aku menyela. “Bagaimana kalau aku berani? Bagaimana kalau kuminta kau membawaku ke Vegas sekarang juga? Apakah tiga hari lagi aku bisa menjadi vampir?”

Edward tersenyum, giginya berkilau dalam gelap. “Tentu; jawabnya, menerima gertakanku. “Kuambil dulu mobilku.”

“Brengsek,” gerutuku. “Kuberi kau waktu delapan belas bulan.”

“Tidak ada kesepakatan lain,” sergah Edward, nyengir. “Aku suka syarat ini”

“Baiklah. Biar Carlisle saja yang melakukannya setelah aku lulus nanti.”

“Kalau memang itu maumu.” Edward mengangkat bahu, dan senyumnya benar-benar seperti senyum malaikat.

“Kau benar-benar keterlaluan,” erangku. “Benarbenar monster.”

Edward terkekeh. “Jadi karena itu kau tidak mau menikah denganku?”

Lagi-lagi aku mengerang.

Edward mencondongkan tubuh ke arahku; bola matanya yang hitam pekat melebur dan berapi-api, membuyarkan konsentrasiku. “Please, Bella?” desahnya.

Sejenak aku sampai lupa bernapas. Begitu pulih kembali, aku buru-buru menggeleng, berusaha menjernihkan pikiranku yang mendadak buntu.

“Apakah akan lebih baik jika aku punya waktu untuk membelikanmu cincin?”

“Tidak! Tidak usah ada cincin segala!” Bisa dibilang aku benar-benar berteriak.

“Uups.”

“Charlie bangun; sebaiknya aku pulang,” kata Edward dengan sikap menyerah. Jantungku berhenti berdetak.

Edward mengamati ekspresiku sesaat. “Kekanak-kanakan tidak, kalau aku bersembunyi di lemarimu?”

“Tidak,” bisikku penuh semangat. “Tinggallah. Please.”

Edward tersenyum dan menghilang.

Aku gelisah seperti cacing kepanasan dalam gelap, menunggu Charlie datang mengecekku. Edward tahu persis apa yang ia lakukan, dan aku berani bertaruh, membuatku kaget adalah bagian dari rencananya. Tentu saja aku masih punya pilihan membiarkan Carlisle melakukannya, tapi sekarang setelah aku tahu ada kesempatan Edward mau mengubahku sendiri, aku sangat menginginkan kesempatan itu. Curang benar Edward.

Pintu kamarku membuka secelah.

“Pagi, Dad.”

“Oh, hai, Bella.” Charlie terdengar malu karena kepergok mengecek. “Sudah bangun rupanya.”

“Yeah. Sejak tadi aku menunggu Dad bangun supaya bisa mandi.” Aku beranjak bangun.

“Tunggu dulu,” tukas Charlie, menyalakan lampu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau oleh nyala terang yang tiba-tiba, dan sehati-hati mungkin menjaga agar mataku tidak melirik terus ke lemari. “Kita bicara dulu sebentar.”

Aku tak mampu tidak meringis. Aku lupa minta dicarikan alasan yang bagus oleh Alice.

“Kau tahu kau dalam masalah besar.”

“Yeah, aku tahu.”

“Aku sudah seperti orang gila tiga hari terakhir ini. Pulang dari pemakaman Harry, aku mendapati kau sudah pergi. Jacob hanya bisa mengatakan kau kabur bersama Alice Cullen, dan menurut dia, kau dalam kesulitan. Kau tidak meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi, dan kau juga tidak menelepon. Aku tidak tahu di mana kau berada atau kapan— atau apakah—kau akan pulang. Tidak tahukah kau betapa… betapa…” Charlie tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia menarik napas tajam dan melanjutkan katakatanya. “Bisakah kau memberiku satu saja alasan mengapa aku tidak perlu mengirimmu ke Jacksonville saat ini juga?”

Mataku menyipit. Jadi mau main ancam nih? Aku juga bisa kalau begitu. Aku duduk tegaktegak, menarik selimut yang menyelubungi tubuhku. “Karena aku tidak mau pergi.”

“Tunggu sebentar, young lady—”

“Begini, Dad, aku menerima tanggung jawab penuh atas ulahku kemarin, dan Dad berhak menghukumku selama yang Dad inginkan. Aku juga akan mengerjakan semua tugas rumah, termasuk mencuci pakaian dan piring, sampai Dad menganggapku kapok. Dan menurutku, Dad juga berhak mengusirku dari sini—tapi itu tidak akan membuatku pindah ke Florida.”

Wajah Charlie langsung merah padam. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum menjawab.

“Kau mau menjelaskan pergi ke mana kau kemarin?”

Oh, brengsek. “Ada… masalah gawat.”

Charlie mengangkat alis, sudah menduga aku bakal memberi penjelasan yang brilian seperti itu.

Aku menggelembungkan pipi lalu mengembuskannya dengan suara keras. “Entah bagaimana aku bisa menamakannya, Dad. Intinya hanya salah paham. Yang ini bilang begitu, yang itu bilang begini. Akhirnya jadi rak terkendali.”

Charlie menunggu dengan ekspres, tak percaya.

“Begini, Alice mengatakan pada Rosalie tentang aku melompat dari tebing…” Dengan panik aku berusaha memberikan penjelasan masuk akal, sebisa mungkin tetap menyatakan hal yang benar sehingga ketidakmampuanku berbohong dengan meyakinkan takkan terlalu kentara, tapi belum lagi aku sempat melanjutkan ceritaku, ekspresi Charlie mengingatkanku bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang masalah lompat tebing itu.

Ya ampun. Kayak aku belum kena masalah saja.

“Kurasa aku belum menceritakan itu pada Dad,” sergahku tercekat. “Bukan apa-apa kok. Hanya iseng, berenang bersama Jake. Pokoknya begini, Rosalie lantas memberi tahu Edward, dan Edward langsung kalap. Rosalie tanpa sengaja membuat ceritanya terdengar seolah-olah aku mencoba bunuh diri atau semacamnya. Edward tidak mau menjawab teleponnya, jadi Alice menyeretku ke… LA, untuk menjelaskan secara langsung.” Aku mengangkat bahu, sepenuh hati berharap semoga Charlie tidak terlalu memerhatikan kekagokanku barusan sehingga tidak menyimak penjelasan brilian yang kuberikan padanya.

Wajah Charlie langsung membeku. “Memangnya kau benar-benar berniat bunuh diri, Bella?”

“Tidak, tentu saja tidak. Hanya bersenangsenang dengan Jake. Terjun dari tebing. Anak-anak La Push sering melakukannya kok. Seperti kataku tadi, itu bukan apa-apa.”

Wajah Charlie memanas—dari membeku ke panas oleh amarah. “Lantas, maksudnya Edward Cullen itu apa?” raungnya. “Selama ini, dia meninggalkanmu begitu saja tanpa penjelasan—”

Aku buru-buru memotongnya. “Lagi-lagi salah paham.”

Wajah Charlie memerah lagi. “Jadi sekarang dia kembali?”

“Aku belum tahu rencana pastinya bagaimana. Kalau tidak salah, mereka semua kembali.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.