Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Well, tentu saja ini berlebihan. Tapi aku bisa pergi bersamamu!”

Edward tertawa kecil. “Tahu begitu, aku akan mengeluarkan uang untuk membeli kadomu. Ternyata kau masih bisa berpikir sehat.”

Aku menyingkirkan tiket-tiket itu dan meraih kado dari Edward, rasa ingin tahuku muncul lagi. Edward mengambilnya dariku dan membuka bungkusnya seperti kado pertama tadi.

Ia menyerahkan padaku kotak CD bening, dengan CD kosong di dalamnya.

“Apa ini?” tanyaku, heran.

Edward tidak berkata apa-apa; dikeluarkannya CD itu lalu dimasukkannya ke CD player di atas nakas. Tangannya menekan tombol play dan kami menunggu dalam kesunyian. Lalu musik mulai mengalun.

Aku mendengarkan, tak mampu berkata apaapa, mataku terbelalak lebar. Aku tahu ia menunggu reaksiku, tapi aku tak sanggup bicara. Air mataku menggenang, dan aku mengangkat tangan untuk menyekanya sebelum jatuh menetes di pipi.

“Lenganmu sakit?” tanya Edward waswas.

“Tidak, ini bukan karena lenganku. Indah sekali, Edward. Tak ada kado lain yang bisa kauberikan yang lebih kusukai daripada ini. Aku tak percaya.” Lalu aku diam, supaya bisa mendengarkan.

CD itu berisi rekaman musiknya, komposisinya. Musik pertama di CD itu adalah lagu ninaboboku.

“Kupikir kau tidak akan membiarkanku membelikanmu piano supaya aku bisa memainkannya untukmu di sini,” Edward menjelaskan.

“Kau benar”

“Lenganmu bagaimana?”

“Baik-baik saja,” Sebenarnya, lukaku mulai terasa panas di balik perban. Aku ingin mengompresnya dengan es batu. Sebenarnya aku bisa menggunakan tangan Edward, tapi itu bakal membuatnya tahu aku kesakitan.

“Aku akan mengambilkan Tylenol untukmu.”

“Aku tidak butuh apa-apa,” protesku, tapi Edward sudah menurunkan aku dari pangkuannya dan berjalan ke pintu.

“Charlie,” desisku. Charlie tidak tahu Edward sering menginap di kamarku. Sebenarnya, bisabisa ia terserang stroke bila aku memberi tahunya. Tapi aku tidak merasa terlalu bersalah telah memperdaya ayahku. Soalnya, kami toh tidak melakukan apa-apa yang dilarang olehnya. Edward dan aturan-aturannya…

“Dia tidak akan menangkap basah aku,” janji Edward sebelum lenyap tanpa suara di balik pintu… dan kembali sejurus kemudian, memegangi pintu sebelum sempat menutup kembali. Ia memegang gelas kumur yang diambilnya dari kamar mandi serta sebotol pil di satu tangan.

Aku menerima pil-pil yang disodorkannya tanpa membantah—aku tahu paling-paling aku bakal kalah berdebat dengannya. Dan lenganku mulai benar-benar nyeri.

Lagu ninaboboku terus mengalun, lembut dan lirih, di latar belakang.

“Sudah malam,” kata Edward. Ia meraup dan menggendongku dengan satu tangan, sementara tangan satunya membuka penutup tempat tidur. Lalu ia membaringkanku dengan posisi kepala di atas bantal, kemudian menyelimutiku. Ia berbaring di sebelahku—di atas selimut agar aku tidak kedinginan— dan meletakkan lengannya di atas tubuhku.

Aku menyandarkan kepala di bahunya dan mengembuskan napas bahagia.

“Terima kasih sekali lagi,” bisikku.

“Terima kasih kembali.”

Sejenak suasana sunyi sementara aku mendengarkan lagu ninaboboku berakhir. Lagu lain mulai. Aku mengenalinya sebagai lagu favorit Esme.

“Kau sedang memikirkan apa?” bisikku.

Edward ragu-ragu sejenak sebelum menjawab. “Sebenarnya, aku sedang berpikir tentang apa yang benar dan yang salah.”

Aku merasakan sekujur tubuhku bergidik.

“Kau ingat kan, aku tadi memutuskan ingin kau tidak mengabaikan hari ulang tahunku?” aku buru-buru bertanya, berharap ia tidak tahu aku berusaha mengalihkan perhatiannya.

“Ya,” Edward sependapat, waspada.

“Well, aku sedang berpikir-pikir, karena sekarang masih hari ulang tahunku, aku ingin kau menciumku lagi.”

“Kau serakah malam ini.”

“Ya, memang—tapi please, jangan lakukan apa pun yang tidak ingin kaulakukan,” aku menambahkan, kesal.

Edward tertawa, kemudian mendesah. “Semoga surga mencegahku melakukan hal-hal yang tidak ingin kulakukan,” katanya dengan nada putus asa yang aneh saat ia meletakkan tangannya di bawah daguku dan mendongakkan wajahku.

Ciuman kami diawali seperti biasa—Edward tetap sehati-hati biasanya, dan seperti biasa pula, jantungku mulai bereaksi berlebihan. Kemudian sesuatu sepertinya berubah. Tiba-tiba saja bibir Edward melumat bibirku lebih ganas, tangannya menyusup masuk ke rambutku dan mendekap wajahku erat-erat. Dan, walaupun tanganku juga menyusup masuk ke rambutnya, dan meski jelas aku mulai melanggar batas kehati-hatiannya, namun sekali ini ia tidak menghentikanku. Tubuhnya dingin di balik selimut yang tipis, tapi aku menempelkan tubuhku erat-erat ke tubuhnya.

Ia berhenti begitu tiba-tiba; didorongnya aku dengan kedua tangan yang lembut tapi tegas.

Aku terhenyak ke atas bantal, terengah-engah, kepalaku berputar. Sesuatu menarik-narik ingatanku, tapi aku tak kunjung bisa meraihnya.

“Maaf,” kata Edward, napasnya juga terengahengah. “Itu tadi sudah melanggar batas.”

“Aku tidak keberatan,” kataku megap-megap.

Edward mengerutkan kening padaku dalam gelap. “Cobalah untuk tidur, Bella.”

“Tidak, aku ingin kau menciumku lagi.”

“Kau menilai pengendalian diriku kelewat tinggi.”

“Mana yang lebih membuatmu tergoda, darahku atau tubuhku?” tantangku.

“Dua-duanya,” Edward nyengir sekilas, meski sebenarnya tak ingin, lalu kembali serius. “Sekarang, bagaimana kalau kau berhenti mempertaruhkan peruntunganmu dan pergi tidur?”

“Baiklah,” aku setuju, meringkuk lebih rapat padanya. Aku benar-benar lelah. Ini hari yang panjang dalam banyak hal, namun aku tidak merasa lega saat hari ini berakhir. Seakan-akan ada hal lain yang lebih buruk bakal terjadi besok. Firasat konyol—kejadian apa yang lebih buruk daripada hari ini tadi? Pasti hanya karena aku shock.

Berusaha agar tidak ketahuan, aku menempelkan lenganku yang sakit di bahu Edward, supaya kulitnya yang dingin bisa meredakan sakitku. Seketika itu juga nyerinya hilang.

Aku sudah hampir tertidur, mungkin malah sudah separo tidur, waktu mendadak aku sadar ciuman Edward tadi mengingatkan aku pada apa: musim semi lalu, ketika harus meninggalkanku untuk menyesatkan James, Edward memberiku ciuman perpisahan, tidak tahu kapan—atau apakah—kami akan bertemu lagi. Ciuman tadi juga nyaris terasa menyakitkan, seperti ciuman itu, meski entah untuk alasan apa, aku tak bisa membayangkannya. Aku bergidik dalam tidurku, seolah-olah aku sudah mengalami mimpi buruk.

 

3. TAMAT

KEESOKAN paginya, perasaanku benar-benar kacau. Aku tidak bisa tidur nyenyak; lenganku nyeri dan kepalaku sakit. Perasaanku semakin kacau melihat wajah Edward tetap licin dan muram saat ia mengecup dahiku sekilas dan merunduk keluar dari jendela kamarku. Aku takut membayangkan waktu yang kulewatkan saat tidur tadi, takut Edward berpikir tentang yang benar dan salah lagi sambil memandangiku tidur. Kegelisahan itu seolah menambah pukulan bertubi-tubi di kepalaku.

Edward menungguku di sekolah, seperti biasa, tapi wajahnya masih muram. Ada sesuatu di balik tatapannya dan aku tak yakin apa itu—dan itu membuatku takut. Aku tak ingin mengungkitnya semalam, tapi aku tak yakin apakah dengan menghindarinya justru memperparah keadaan.

Edward membukakan pintu untukku.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Sempurna,” dustaku, meringis saat suara pintu dibanting bergema di dalam kepalaku.

Kami berjalan sambil membisu, Edward memperpendek langkah untuk mengimbangiku. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan, tapi sebagian besar harus menunggu, karena pertanyaan-pertanyaan itu untuk Alice: Bagaimana Jasper pagi ini? Apa yang mereka katakan waktu aku sudah pulang? Apa kata Rosalie? Dan yang paling penting apa yang dilihat Alice akan terjadi di masa mendatang menurut penglihatannya yang aneh dan tidak sempurna itu? Bisakah Alice menebak apa yang dipikirkan Edward, mengapa ia begitu muram? Apakah firasat ketakutan yang tak mau enyah dari hatiku ini berdasar?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.