Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Tidak! Tidak! TIDAK!” raung Edward, menghambur kembali ke dalam ruangan. Ia sudah sampai di hadapanku sebelum aku sempat berkedip, membungkuk di atasku, wajahnya berkerut-kerut marah. “Kau gila, ya?” teriaknya. “Apa kau benar-benar sudah tidak waras lagi?”

Aku mengkeret menjauhinya, kedua tangan menutupi telinga.

“Eh, Bella,” Alice menyela dengan nada gelisah. “Sepertinya aku belum siap melakukan itu. Aku harus menyiapkan diri dulu…”

“Kau sudah berjanji,” aku mengingatkannya, memandang garang dari bawah lengan Edward.

“Aku tahu, tapi… Yang benar saja, Bella! Aku tidak tahu bagaimana melakukannya tanpa membunuhmu.”

“Kau bisa melakukannya,” aku menyemangati. “Aku percaya padamu.”

Edward menggeram marah.

Alice menggeleng cepat-cepat, terlihat panik.

“Carlisle?” Aku menoleh dan memandanginya.

Edward merenggut wajahku dengan tangannya, memaksaku menatapnya. Sebelah tangannya yang lain terulur, telapak tangannya mengarah pada Carlisle.

Carlisle tak menggubrisnya. “Aku bisa melakukannya,” ia menjawab pertanyaanku. Kalau saja aku bisa melihat ekspresinya. “Kau tak perlu takut aku akan kehilangan kendali.”

“Kedengarannya bagus.” Aku berharap ia bisa memahaminya; sulit berbicara dengan jelas bila Edward mencengkeram daguku seperti ini.

“Tunggu,” sergah Edward dari sela-sela giginya “Tidak perlu melakukannya sekarang.”

“Tidak ada alasan untuk tidak melakukannya sekarang,” balasku, kata-kataku tidak terdengar jelas.

“Aku bisa memikirkan beberapa alasan.”

“Tentu saja bisa,” tukasku masam. “Sekarang lepaskan aku.”

Edward melepaskan wajahku, dan melipat kedua lengannya di dada. “Kira-kira dua jam lagi, Charlie akan datang ke sini mencarimu. Dan aku tak ragu dia akan melibatkan polisi.”

“Ketiga polisi yang ada di sini.” Tapi aku mengerutkan kening.

Ini selalu menjadi bagian tersulit. Charlie, Renee. Sekarang ada Jacob juga. Orang-orang yang akan kutinggalkan, orang-orang yang akan kusakiti. Kalau saja hanya aku orang yang menderita, tapi aku tahu itu tidak mungkin.

Di saat yang sama, aku lebih menyakiti mereka lagi dengan tetap menjadi manusia. Membahayakan nyawa Charlie dengan berada di dekatnya. Membahayakan Jake lebih lagi dengan menarik musuh-musuhnya datang ke wilayah yang wajib dijaganya. Dan Renee—aku bahkan tak berani mengambil risiko mengunjungi ibuku sendiri karena takut bakal membawa masalahmasalahku yang mematikan ke sana!

Aku magnet yang menarik bahaya; aku menerima kenyataan itu.

Dengan menerimanya, aku tahu aku harus bisa menjaga diri dan melindungi orang-orang yang kucintai, meskipun itu berarti aku tidak bisa bersama mereka. Aku harus kuat.

“Dengan maksud untuk tetap tidak menarik perhatian orang!’ tukas Edward, masih berbicara lewat gigi terkatup rapat, tapi memandang Carlisle sekarang, “kusarankan kita mengakhiri pembicaraan ini sekarang, setidaknya sampai Bella lulus SMU, dan pindah dari rumah Charlie.”

“Itu permintaan yang masuk akal, Bella,” ujar Carlisle.

Aku memikirkan reaksi Charlie bila ia bangun pagi ini, bila—setelah ia mengalami kehilangan besar dengan meninggalnya Harry, kemudian aku membuatnya kalang-kabut dengan kepergianku yang tanpa penjelasan—ia menemukan tempat tidurku kosong. Charlie pantas mendapatkan yang lebih baik daripada itu. Toh tidak lama lagi; kelulusanku sudah di depan mata…

Aku mengerucutkan bibir. ‘Akan kupertimbangkan.”

Edward langsung rileks. Rahangnya mengendur.

“Mungkin sebaiknya kuantar kau pulang,” katanya, lebih tenang sekarang, tapi jelas ingin buru-buru membawaku pergi dari sini. “Siapa tahu Charlie bangun lebih pagi.”

Kupandangi Carlisle. “Setelah kelulusan?”

“Aku janji.”

Aku menarik napas dalam-dalam, tersenyum, dan berpaling kembali ke Edward. “Oke. Kau boleh membawaku pulang.”

Edward membawaku melesat keluar dari rumah sebelum Carlisle bisa menjanjikan hal lain. Ia membawaku keluar lewat pintu belakang, jadi aku tidak melihat barang apa yang pecah di ruang tamu.

Perjalanan pulang sangat hening. Aku merasa menang dan sedikit puas pada diri sendiri. Sangat ketakutan juga, tentu saja, tapi aku berusaha tidak memikirkan bagian itu. Tak ada gunanya mengkhawatirkan rasa sakit—baik fisik maupun emosional—jadi itu tidak kulakukan. Tidak sampai benar-benar harus.

Sesampainya di rumahku, Edward tidak berhenti. Ia langsung berlari menaiki dinding dan masuk lewat jendela kamarku dalam tempo setengah detik. Lalu ia melepaskan kedua lenganku yang melingkari lehernya dan membaringkanku di tempat tidur.

Kusangka aku punya gambaran cukup jelas tentang apa yang ia pikirkan, tapi ekspresinya membuatku terkejut. Bukannya marah, ia malah terlihat seperti menimbang-nimbang Ia berjalan mondar-mandir tanpa suara di kamarku yang gelap sementara aku memerhatikan dengan kecurigaan yang semakin menjadi-jadi.

“Apa pun yang kaurencanakan, itu tidak akan berhasil,” kataku.

“Ssstt. Aku sedang berpikir.”

“Ugh,” erangku, mengempaskan diri ke tempat tidur dan menyelubungi kepalaku dengan selimut.

Tidak terdengar suara apa-apa, tapi mendadak Edward sudah di sana. Ia menyibakkan selimut supaya bisa melihatku. Ia berbaring di sebelahku. Tangannya terangkat, menyibakkan rambutku yang jatuh di pipi.

“Kalau kau tidak keberatan, aku lebih suka kau tidak menyembunyikan wajahmu. Aku sudah pernah merasakan hidup tanpa kau selama yang bisa kutahan. Sekarang… jawab pertanyaanku.”

“Apa?” tanyaku, enggan.

“Seandainya kau bisa memiliki segalanya yang ada di dunia ini, apa saja, apa yang kauinginkan?”

Aku bisa merasakan skeptisme di mataku. “Kau.”

Edward menggeleng tidak sabar. “Sesuatu yang belum kaumiliki.”

Aku tidak yakin ke mana ia berusaha mengarahkanku, jadi aku berpikir dengan hati-hati sebelum menjawab. Aku menemukan jawaban yang memang benar, tapi mungkin juga mustahil.

Aku ingin… bukan Carlisle yang melakukannya. Aku ingin kaulah yang mengubahku.”

Kuamati reaksi Edward dengan kecut, mengira ia akan marah lagi seperti yang kulihat di rumahnya tadi. Kaget juga aku waktu kulihat ekspresinya tidak berubah. Ia masih terlihat menimbangnimbang, berpikir keras.

“Kau rela menukar itu dengan apa?”

Aku tidak memercayai pendengaranku. Dengan mulut ternganga lebar, kupandangi wajahnya yang tenang dan langsung melontarkan jawaban sebelum otakku sempat berpikir.

“Apa saja.”

Edward tersenyum tipis, kemudian mengerucutkan bibir. “Lima tahun?”

Wajahku berkerut membentuk ekspresi antara kecewa dan ngeri.

“Kaubilang tadi apa saja,” Edward mengingatkanku.

“Ya, tapi… kau akan memanfaatkan waktu lima tahun itu untuk berkelit. Aku harus menyambar kesempatan ini, mumpung masih ‘panas’. Lagi pula, terlalu berbahaya menjadi manusia—bagiku, setidaknya. Jadi, apa saja kecuali itu.”

Edward mengerutkan kening. “Tiga tahun?”

“Tidak!”

“Itu tidak berarti apa-apa sama sekali bagimu?”

Aku berpikir betapa aku sangat menginginkan hal ini. Lebih baik memasang wajah sok tenang, aku memutuskan, dan tidak membiarkan Edward tahu betapa aku sangat menginginkannya. Itu akan membuat posisiku berada di atas angin. “Enam bulan?”

Edward memutar bola matanya. “Masih kurang.”

“Satu tahun, kalau begitu,” tawarku. “Itu batasanku.”

“Paling tidak beri aku dua tahun.”

“Enak saja. Sembilan belas aku masih mau. Tapi jangan harap aku mau mendekati usia dua puluh. Kalau selamanya kau akan berusia belasan, aku juga mau seperti itu.

Edward berpikir sebentar. “Baiklah. Lupakan soal batasan waktu. Kau boleh menjadi seperti aku

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.