Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Semuanya sudah,” Alice meyakinkanku.

Aku melayangkan pandangan penuh arti padanya. “Dan saat dalam perjalanan?”

“Itu juga sudah,” angguknya.

“Bagus,” aku mengembuskan napas lega. “Kalau begitu, kita semua sudah sama-sama mengerti.”

Mereka menunggu dengan sabar sementara aku mencoba menata pikiranku.

“Jadi begini, aku punya masalah,” aku memulai. “Alice berjanji pada keluarga Volturi bahwa aku akan menjadi seperti kalian. Mereka akan mengirim seseorang ke sini untuk mengecek, dan aku yakin itu sesuatu yang harus dihindari.

“Jadi, sekarang, ini melibatkan kalian semua. Itu sangat kusesali.” Kutatap wajah rupawan mereka satu demi satu, meninggalkan yang paling rupawan sebagai yang terakhir. Sudut-sudut mulut Edward tertekuk ke bawah, membentuk seringaian. “Tapi kalau kalian tidak menginginkan aku, aku tidak akan memaksa kalian, terlepas dari apakah Alice setuju melakukannya atau tidak.”

Esme membuka mulut untuk bicara, tapi kuangkat jariku untuk menghentikannya.

“Please, izinkan aku menyelesaikan penjelasanku dulu. Kalian tahu apa yang kuinginkan. Dan aku yakin kalian tahu bagaimana pendapat Edward. Jadi, menurutku, satu-satunya cara yang adil untuk memutuskannya adalah dengan melakukan pemungutan suara. Kalau kalian memutuskan tidak menginginkanku, maka… kurasa aku akan kembali ke Italia sendirian. Aku tidak mau mereka datang ke sini!’

Memikirkannya saja sudah membuat keningku berkerut.

Terdengar geraman samar dari dalam dada Edward. Aku mengabaikannya.

“Dengan mempertimbangkan keselamatan kalian, aku ingin kalian memilih ya atau tidak tentang apakah aku akan menjadi vampir.”

Aku separo tersenyum saat mengucapkan kata terakhir itu, dan memberi isyarat pada Carlisle untuk mulai.

“Tunggu sebentar,” sela Edward.

Kutatap dia garang lewat mata yang disipitkan. Edward mengangkat alisnya padaku, meremas tanganku.

“Ada yang ingin kutambahkan sebelum kita memulai pemungutan suara.”

Aku mendesah.

“Tentang bahaya yang dimaksud Bella,” lanjutnya. “Menurutku, kita tidak perlu kelewat khawatir.”

Ekspresi Edward semakin bersemangat. Ia meletakkan sebelah tangannya di permukaan meja yang mengilap dan mencondongkan tubuh.

“Begini,” ia menjelaskan, memandang sekeliling meja sambil bicara, “ada lebih dari satu alasan mengapa aku tak ingin menjabat tangan Aro di sana, pada akhirnya. Ada sesuatu yang tak terpikirkan oleh mereka, dan aku tak ingin memunculkan pikiran itu dalam benak mereka.” Edward nyengir.

“Apa itu?” desak Alice. Aku yakin ekspresiku juga sama skeptisnya dengan mimik Alice.

“Keluarga Volturi terlalu percaya diri, dan alasannya kuat. Saat memutuskan menemukan seseorang, mereka bisa menemukannya dengan mudah. Ingatkah kau pada Demetri?” Edward menoleh padaku.

Aku bergidik. Bagi Edward itu berarti “ya”.

“Dia bisa menemukan orang-orang—itu memang bakatnya, karena itulah mereka mempekerjakannya.

“Nah, selama kita bersama mereka, aku menyadap otak mereka untuk mencari tahu hal apa saja yang bisa menyelamatkan kita, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Jadi aku melihat bagaimana bakat Demetri bekerja. Dia pelacak—pelacak yang seribu kali lebih hebat daripada James. Kemampuannya secara longgar terhubung dengan apa yang kulakukan, atau apa yang Aro lakukan. Dia menangkap… bau? Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya… getaran… pikiran seseorang, dan kemudian mengikutinya. Dia bisa melacak dari jarak sangat jauh.

“Tapi setelah eksperimen kecil yang dilakukan Aro, well…”

Edward mengangkat bahu.

“Kaupikir dia takkan bisa menemukan aku,” sergahku datar.

Edward tersenyum puas. “Aku yakin sekali. Demetri bergantung sepenuhnya pada indra lain itu. Kalau itu tidak mempan dilakukan terhadapmu, mereka semua bakal buta.

“Lantas, bagaimana itu bisa menyelesaikan persoalan?”

“Jelas sekali, Alice akan bisa memberi tahukan kapan mereka berencana datang, kemudian aku akan menyembunyikanmu Mereka takkan bisa berbuat apa-apa,” kata Edward dengan sikap senang. “Itu akan sama sulitnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami!”

Edward dan Emmert bertukar pandang dan tersenyum menyeringai.

Ini tak masuk akal. “Tapi mereka bisa menemukanmu,” aku mengingatkannya.

“Dan aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Emmett tertawa, dan mengulurkan tangan ke seberang meja pada saudaranya, mengacungkan tinjunya. “Rencana yang bagus sekali, saudaraku,” ucapnya antusias.

Edward mengulurkan tangan dan membenturkan tinjunya dengan tinju Emmett.

“Tidak,” desis Rosalie.

“Sama sekali tidak” aku sependapat.

“Bagus,” ucap Jasper kagum.

“Dasar idiot,” omel Alice.

Esme hanya memandang garang kepada Edward.

Aku menegakkan posisi dudukku, kembali fokus. Ini kan rapatku.

“Baiklah kalau begitu. Edward telah menawarkan alternatif lain pada kalian sebagai bahan pertimbangan,” ujarku dingin. “Mari kita melakukan pemungutan suara.”

Kali ini aku menatap Edward; lebih baik aku segera mengetahui pendapatnya. “Kau ingin aku bergabung dengan keluargamu?”

Mata Edward sekeras dan sehitam batu api. “Tidak dengan cara itu. Kau harus tetap menjadi manusia.”

Aku mengangguk sekali, menjaga ekspresiku tetap tenang, dan berlanjut ke yang lain.

“Alice?”

“Ya.”

“Jasper?”

“Ya,” jawab Jasper, suaranya muram. Aku sedikit terkejut— aku sama sekali tidak yakin pada pilihannya—tapi aku menekan reaksiku dan melanjutkan.

“Rosalie?”

Rosalie ragu-ragu sejenak, menggigit bibir bawahnya yang penuh dan sempurna itu. “Tidak.”

Aku tetap memasang wajah tenang dan memalingkan wajahku sedikit untuk melanjutkan ke anggota keluarga lain, tapi Rosalie mengangkat kedua tangannya, telapak tangannya mengarah ke depan.

“Izinkan aku memberi penjelasan,” Rosalie memohon. “Bukan berarti aku tidak suka kau menjadi saudaraku. Hanya saja… ini bukan kehidupan yang akan kupilih untuk diriku sendiri. Kalau saja dulu ada orang yang memilih tidak untukku.”

Aku mengangguk lambat-lambat, kemudian berpaling kepada Emmett.

“Ya, tentu saja!” Ia nyengir. “Kita bisa mencari jalan lain untuk mencari gara-gara dengan si Demetri ini.”

Aku masih meringis mendengar perkataannya saat berpaling kepada Esme.

“Ya, tentu saja, Bella. Aku sudah menganggapmu bagian dari keluargaku.”

“Terima kasih, Esme,” bisikku sambil berpaling kepada Carlisle.

Tiba-tiba saja aku merasa gugup, berharap aku tadi meminta suaranya lebih dulu. Aku yakin ini suara yang paling berarti, suara yang dianggap lebih dari suara mayoritas.

Carlisle tidak melihat ke arahku.

“Edward,” ujarnya.

“Tidak,” geram Edward. Rahangnya mengeras, bibirnya menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya.

“Ini satu-satunya jalan yang masuk akal,” Carlisle berkeras. “Kau sudah memilih untuk tidak hidup tanpa dia, jadi menurutku tak ada pilihan lain.”

Edward menjatuhkan tanganku, keluar dari meja. Ia menghambur meninggalkan ruangan, menggeram-geram marah.

“Kurasa kau sudah tahu jawabanku.” Carlisle mendesah.

Aku masih memandangi kepergian Edward. “Trims,” gumamku.

Suara benda pecah yang mengoyak gendang telinga terdengar dari ruang sebelah

Aku tersentak, lalu cepat-cepat bicara. “Hanya itu yang kuperlukan. Terima kasih semuanya. Untuk kesediaan kalian menerimaku. Begitu jugalah yang kurasakan terhadap kalian semua.” Suaraku tercekat oleh emosi di akhir kalimat.

Dalam sekejap Esme sudah berdiri di sampingku, lengannya yang dingin memelukku.

“Bella tersayang,” desahnya.

Aku membalas pelukannya. Dari sudut mata kulihat Rosalie menunduk memandangi meja, dan sadarlah aku kata-kataku tadi dapat ditafsirkan berbeda.

“Well, Alice,” ujarku setelah Esme melepas pelukannya. “Di mana kau ingin melakukannya?” Alice menatapku, matanya membelalak ngeri.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.