Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Aku punya waktu kok.” Suara Edward terdengar kaku dan datar.

“Ceritanya menyedihkan.”

Edward menunggu.

Aku tak yakin bagaimana menjelaskannya. “Ingatkah kau waktu Alice menyebut tentang olah raga ekstrem?”

Edward mengucapkan kata-kata itu tanpa perubahan nada maupun penekanan. “Kau terjun dari tebing untuk bersenang-senang.”

“Eh, benar. Dan sebelum itu, dengan sepeda motor—”

“Sepeda motor?” sergah Edward. Aku cukup mengenali suaranya untuk mengetahui ada sesuatu yang mulai bergolak di balik ketenangan sikapnya.

“Kurasa bagian yang itu tidak kuceritakan pada Alice.”

“Memang tidak.”

“Well tentang itu… Begini, aku menemukan bahwa… saat aku melakukan sesuatu yang tolol atau berbahaya… aku bisa mengingatmu lebih jelas,” aku mengaku, merasa diriku benar-benar sinting. “Aku jadi bisa mengingat bagaimana suaramu bila sedang marah. Aku bisa mendengarnya, seolah-olah kau berdiri tepat di sebelahku. Kebanyakan aku mencoba untuk tidak memikirkanmu, tapi ini tidak begitu menyakitkan—rasanya seolah-olah kau melindungiku lagi. Seakan-akan kau tidak ingin aku terluka.

“Dan, Well, aku jadi penasaran sendiri apakah alasan mengapa aku bisa mendengarmu begitu jelas adalah karena, di balik itu semua, aku selalu tahu kau tidak pernah berhenti mencintaiku.”

Lagi, saat aku bicara, kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar sangat meyakinkan. Bahwa itu memang benar. Lubuk hatiku yang terdalam mengenali kebenarannya.

Edward mengucapkan kata-kata itu dengan suara separo tercekik. “Kau… sengaja… membahayakan nyawamu… hanya agar bisa mendengar—”

“Ssstt,” aku memotong kata-katanya. “Tunggu sebentar. Kurasa aku mendapat pencerahan.”

Ingatanku melayang ke malam di Port Angeles ketika aku mengalami delusi pertama. Ada dua opsi. Sinting atau pemenuhan harapan. Aku tidak melihat opsi ketiga.

Tapi bagaimana kalau…

Bagaimana kalau kau sungguh-sungguh percaya sesuatu itu benar, tapi ternyata kau salah? Bagaimana kalau kau begitu keras kepala meyakini kau benar, bahwa kau bahkan tidak mau mempertimbangkan kebenaran? Apakah kebenaran itu akan dibungkam, atau kebenaran itu akan berusaha menerobos keluar?

Opsi ketiga: Edward mencintaiku. Ikatan yang terbentuk di antara kami bukanlah ikatan yang bisa dihancurkan oleh ketidakhadiran, jarak, atau waktu Dan tak peduli apakah ia lebih istimewa, lebih rupawan, lebih pintar, atau lebih sempurna daripada aku, bagaimanapun ia sudah berubah, tak bisa diperbaiki lagi, sama seperti aku. Sama halnya aku akan selalu menjadi miliknya, demikian juga ia akan selalu menjadi milikku.

Itukah yang selama ini coba kukatakan pada diriku sendiri?

“Oh!”

“Bella?”

“Oh. Oke. Aku mengerti.”

“Pencerahanmu?” tanya Edward, suaranya bergetar dan tegang.

“Kau mencintaiku,” ujarku kagum. Keyakinan dan kebenaran itu melanda diriku lagi.

Walaupun matanya masih waswas, senyum separo yang sangat kucintai itu melintasi wajahnya. “Benar, aku memang mencintaimu.”

Hatiku menggelembung hingga rasanya seperti nyaris meremukkan tulang-tulang rusukku. Memenuhi rongga dada dan menyumbat kerongkongan hingga aku tak bisa bicara.

Edward benar-benar menginginkanku seperti aku menginginkan dia—selamanya. Hanya karena ia takut aku akan kehilangan jiwaku, karena ia tak ingin merenggut hal-hal manusiawi dari diriku, yang membuat Edward begitu ngotot ingin tetap mempertahankan aku sebagai manusia. Dibandingkan dengan ketakutan bahwa ia tidak menginginkan aku, halangan ini—jiwaku—nyaris terasa tidak signifikan.

Edward merengkuh wajahku erat-erat dengan tangannya yang dingin dan menciumku sampai kepalaku pening dan hutan seperti berputar. Lalu ia menempelkan dahinya ke keningku, dan napas kami memburu, lebih cepat daripada biasanya.

“Kau masih lebih baik daripada aku,” kata Edward.

“Lebih baik dalam hal apa?”

“Bertahan. Kau, setidaknya, masih mau berusaha. Bangun pagi-pagi, berusaha bersikap normal demi Charlie, menjalani rutinitas hidupmu. Kalau tidak sedang aktif melacak, aku.., benarbenar tidak berguna. Aku tidak bisa berada di sekitar keluargaku—aku tidak bisa berada di sekitar siapa pun. Aku malu mengakui bahwa kurang lebih aku hanya terpuruk dan membiarkan diriku dilanda kesedihan.” Edward menyeringai, malu-malu. “Jauh lebih menyedihkan daripada mendengar suara-suara. Dan, tentu saja, kau tahu aku juga begitu.”

Aku sangat lega karena Edward tampaknya benar-benar mengerti—senang karena ini semua masuk akal baginya. Pokoknya, ia tidak menatapku seakan-akan aku sudah gila. Ia menatapku seakan-akan… ia mencintaiku.

“Aku hanya mendengar satu suara,” koreksiku.

Ia tertawa dan menarikku erat di sebelah kanan tubuhnya, lalu mulai membimbingku maju.

“Aku hanya menuruti maumu,” Edward melambaikan tangan ke kegelapan di depan kami saat kami berjalan. Tampak sesuatu yang pucat dan megah di sana—rumahnya, aku tersadar. “Pendapat mereka tak ada pengaruhnya sedikit pun.”

“Ini memengaruhi mereka juga sekarang.”

Edward mengangkat bahu tak acuh.

Ia berjalan mendahuluiku melalui pintu depan yang terbuka, memasuki rumah yang gelap, dan menyalakan lampu-lampu. Ruangan itu masih sama seperti yang kuingat dulu piano dan sofa-sofa putih serta tangga megah berwarna pucat itu. Tak ada debu, tak ada kain-kain putih.

Edward memanggil nama-nama anggota keluarganya dengan volume suara yang biasa kugunakan bila berbicara dalam keadaan biasa. “Carlisle? Esme? Rosalie? Emmett? Jasper? Alice?” Mereka mendengarnya.

Carlisle tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, seakan-akan sudah sejak tadi berada di sana. “Selamat datang kembali, Bella.” Ia tersenyum. “Apa yang bisa kami lakukan untukmu pagi ini? Dalam bayanganku, mengingat jamnya yang tidak lazim, aku yakin ini bukan sekadar kunjungan ramah-tamah?”

Aku mengangguk. “Aku ingin berbicara dengan semuanya sekaligus, kalau boleh. Mengenai sesuatu yang penting.”

Aku tak tahan untuk tidak melirik wajah Edward sambil bicara. Ekspresinya tidak setuju namun pasrah. Waktu aku melihat kembali pada Carlisle, ia juga sedang memandang Edward.

“Tentu saja,” jawab Carlisle. “Bagaimana kalau kita bicara di ruangan lain?”

Carlisle mendului melintasi ruang duduk yang terang benderang, berbelok memasuki ruang makan, menyalakan lampu-lampu sambil berjalan. Dinding-dindingnya berwarna putih, langitlangitnya tinggi, seperti ruang duduk. Di tengah ruangan, di bawah lampu kristal yang menggantung rendah, tampak meja besar mengilat berbentuk oval yang dikelilingi delapan kursi. Carlisle menarik keluar kursi di kepala meja untukku.

Aku belum pernah melihat keluarga Cullen menggunakan meja ruang makan sebelumnya—itu hanya perabot. Mereka tidak makan di rumah.

Begitu aku berbalik untuk duduk di kursi, aku melihat kami tidak sendirian. Esme berjalan mengikuti Edward, dan di belakangnya, anggota keluarga lainnya menyusul.

Carlisle duduk di kananku, sementara Edward di kiri. Tanpa bersuara yang lain-lain duduk di kursi masing-masing Alice nyengir padaku, belum-belum sudah memahami plotnya Emmett dan Jasper terlihat ingin tahu, sementara Rosalie tersenyum ragu-ragu padaku. Malu-malu aku membalas senyumnya. Masih butuh waktu untuk membiasakan diri.

Carlisle mengangguk padaku. “Silakan dimulai.”

Aku menelan ludah. Tatapan mereka membuatku gugup. Edward meraih tanganku di bawah meja. Aku melirik padanya, tapi ia memandangi anggota keluarganya yang lain, wajahnya tiba-tiba garang.

“Well” aku terdiam sejenak. “Kuharap Alice sudah menceritakan pada kalian semua yang terjadi di Volterra?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.