Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku mendesah. “Aku tahu. Tapi jujur saja, sekarang pun aku pasti akan dihukum tidak boleh keluar rumah beberapa minggu. Jadi mumpung sudah basah, kecebur saja sekalian.”

“Itu tidak benar Charlie pasti akan menyalahkan aku, bukan kau.”

“Kalau punya ide lain yang lebih baik, katakan saja.”

“Tetaplah di sini.” Edward menyarankan, tapi ekspresinya tidak berharap.

“Jangan harap. Tapi silakan saja kalau kau mau tetap di sini. Anggap saja di rumah sendiri,” dorongku, kaget sendiri mendengar betapa wajarnya caraku menyindir, lalu bergegas menuju pintu.

Tiba-tiba saja Edward sudah berdiri di hadapanku, menghalangi jalan.

Aku mengerutkan kening, dan berbalik menuju jendela. Tidak terlalu tinggi kok dari tanah, dan di bawah sebagian besar berupa rerumputan…

“Oke,” desah Edward. “Aku akan membopongmu.”

Aku mengangkat bahu. “Terserah. Tapi mungkin sebaiknya kau juga berada di sana.”

“Mengapa begitu?”

“Karena kalau kau sudah punya pendapat, sulit sekali mengubah pendapatmu. Jadi aku yakin kau pasti ingin mendapat kesempatan mengutarakan pandangan-pandanganmu.”

“Pandangan-pandanganku mengenai apa?” tanya Edward dari sela-sela rahangnya yang terkatup rapat.

“Ini bukan lagi hanya mengenai kau. Kau bukan pusat semesta alam, tahu.” Kalau pusat semesta alam pribadiku, tentu saja, adalah cerita lain. “Kalau kau akan membuat keluarga Volturi mendatangi kita hanya gara-gara hal tolol seperti mempertahankan aku sebagai manusia, maka keluargamu perlu didengar juga pendapatnya.”

“Pendapat mereka mengenai apa?” tanya Edward, setiap kata diucapkan dengan jelas.

“Ketidakabadianku. Aku akan melakukan voting untuk menentukannya.”

 

24. PEMUNGUTAN SUARA

EDWARD tidak senang, perasaan itu dengan mudah bisa dibaca dari ekspresinya. Namun tanpa berargumen lebih jauh lagi, ia membopongku dan melompat lincah dari jendelaku, mendarat tanpa entakan sedikit pun, seperti kucing. Ternyata lumayan tinggi juga jarak dari jendela ke tanah, tidak seperti dugaanku.

“Baiklah kalau begitu,” kata Edward, suaranya sinis oleh sikap tidak setuju. “Naiklah.”

Ia membantuku naik ke punggungnya, lalu melesat secepat kilat. Bahkan setelah sekian lama tidak menaiki punggungnya lagi, rasanya itu seperti sesuatu yang rutin. Mudah. Terbukti ini sesuatu yang tak pernah dilupakan, seperti naik sepeda.

Sunyi senyap dan gelap saat Edward berlari menembus hutan, embusan napasnya lambat dan teratur—saking gelapnya, pepohonan yang terbang melewati kami nyaris tak terlihat, dan hanya embusan kuat angin menerpa wajah yang menunjukkan betapa cepat Edward berlari. Udara lembab; tidak membakar mataku seperti angin di alun-alun besar waktu itu, dan rasanya nyaman. Malam juga terasa menenangkan, setelah siang benderang yang menakutkan itu. Seperti waktu aku masih kecil, bermain di balik selubung selimut tebal, kegelapan ini terasa familier dan melindungi.

Aku ingat bagaimana berlari menembus hutan seperti ini dulu membuatku ngeri, bagaimana dulu aku selalu memejamkan mata. Rasanya itu reaksi yang tolol sekarang. Kubuka mataku lebar-lebar, dagu menempel di bahunya, dan pipiku di lehernya. Kecepatannya sungguh menggairahkan. Seratus kali lebih asyik daripada naik motor.

Aku memalingkan wajah menghadap wajah Edward dan menempelkan bibirku ke kulit lehernya yang dingin dan keras.

“Terima kasih,” ucapnya, sementara bayanganbayangan hitam samar pepohonan melesat di samping kami. “Apakah itu berarti kau memutuskan bahwa kau sudah bangun?”

Aku tertawa. Suara tawaku terdengar ringan, alami, renyah. Pas. “Tidak juga. Bagaimanapun, lebih dari itu aku tidak mau bangun. Tidak malam ini.”

“Aku akan mengembalikan lagi kepercayaanmu padaku, bagaimanapun caranya,” gumam Edward, lebih ditujukan pada dirinya sendiri. “Walaupun itu jadi hal terakhir yang kulakukan.”

“Aku percaya padamu kok,” aku meyakinkan dia. “Aku justru tidak percaya pada diriku sendiri.”

“Tolong jelaskan.”

Edward memperlambat larinya dan berjalan— aku tahu itu karena terpaan angin mereda—dan dugaanku, kami tak jauh dari rumahnya. Malah, kalau tidak salah aku bisa mendengar suara air sungai mengalir dalam gelap, di suatu tempat tak jauh dari sini.

“Well–“ aku memeras otak, berusaha menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan maksudku. “Aku tidak… cukup percaya pada diriku sendiri. Bahwa aku pantas mendapatkanmu. Aku tidak punya apa-apa yang bisa mempertahankanmu.”

Edward berhenti dan mengulurkan tangan ke belakang, menurunkan aku dari punggungnya. Tangannya yang lembut tidak melepaskanku; bahkan sesudah ia membantuku menjejakkan kaki ke tanah, ia merangkulku erat-erat, mendekapku di dadanya.

“Aku milikmu selamanya, ikatan itu tak bisa dipatahkan,” bisiknya. “Jangan pernah ragukan itu.’

Tapi bagaimana bisa aku tidak meragukannya?

“Kau belum memberi tahu…,” gumamnya.

“Apa?”

“Apa masalah terbesarmu.”

“Tebak saja sendiri.” Aku mendesah, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh ujung hidungnya dengan telunjuk.

Edward mengangguk. “Aku memang lebih buruk daripada keluarga Volturi,” ucapnya muram. “Kurasa aku pantas mendapatkannya.”

Aku memutar bola mataku. “Hal terburuk yang bisa dilakukan keluarga Volturi adalah membunuhku.”

Edward menunggu dengan sorot mata tegang.

“Kau bisa meninggalkan aku,” aku menjelaskan. “Keluarga Volturi, Victoria… mereka bukan apa-apa dibandingkan dengan kau meninggalkan aku.”

Bahkan dalam gelap aku bisa melihat kepedihan memilin wajahnya – mengingatkanku pada ekspresinya di bawah tatapan Jane yang menyiksa; aku merasa muak, dan menyesal telah mengatakan hal yang sebenarnya.

“Jangan; bisikku, menyentuh wajahnya. “Jangan sedih”

Edward mengangkat salah satu sudut mulutnya setengah hati, tapi ekspresi itu tidak menyentuh matanya. “Kalau saja ada jalan untuk membuatmu percaya bahwa aku tak sanggup meninggalkanmu,” bisiknya. “Hanya waktu, kurasa, yang bisa meyakinkanmu.

Aku menyukai pikiran itu. “Oke,” aku setuju.

Wajah Edward masih tampak tersiksa. Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dengan halhal lain yang sepele.

“Jadi—karena kau sudah memutuskan akan tinggal di sini. Boleh aku mendapatkan kembali barang-barangku?” tanyaku, sengaja membuat nada suaraku seringan mungkin.

Usahaku berhasil, sampai batas tertentu: Edward tertawa. Namun sorot matanya masih sedih. “Barang-barangmu tak pernah kubawa,” jawabnya. “Aku tahu itu salah, karena aku pernah berjanji akan meninggalkanmu tanpa hal-hal yang bisa mengingatkanmu padaku. Memang tolol dan kekanak-kanakan, tapi aku ingin meninggalkan sesuatu dari diriku untukmu. CD, foto-foto, tiket— semua tersimpan di bawah lantai papan kamarmu.”

“Sungguh?”

Edward mengangguk, tampak sedikit terhibur melihat reaksiku yang jelas-jelas gembira mendengar fakta sepele itu. Namun belum cukup untuk menghapus kepedihan di wajahnya.

“Kurasa,” ujarku lambat-lambat. “Aku tidak yakin, tapi kurasa… kurasa mungkin aku sudah mengetahuinya sejak dulu.”

“Apa yang kauketahui?”

Aku hanya ingin mengenyahkan sorot sedih ini dan mata Edward, namun saat aku mengucapkan kata-kata itu, kedengarannya justru sangat benar, lebih daripada yang kuduga.

“Sebagian diriku, mungkin alam bawah sadarku tidak pernah berhenti meyakini bahwa kau tetap peduli padaku, apakah aku hidup atau sudah mari. Mungkin itulah sebabnya aku mendengar suara-suara.”

Sejenak, suasana sunyi senyap. Suara-suara? tanya Edward datar.

“Well, hanya satu suara. Suaramu. Ceritanya panjang.” Ekspresi kecut di wajah Edward membuatku berharap aku tidak mengungkit-ungkit masalah itu. Akankah ia mengira aku sinting, seperti orang-orang lain? Apakah perkiraan orang-orang itu benar? Tapi paling tidak ekspresi itu— yang membuat Edward terlihat seolah-olah terbakar—mereda.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.