Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Kau memburu Victoria?” aku setengah memekik begitu bisa menemukan suaraku, melesat naik dua oktaf.

Dengkur Charlie di kejauhan terhenti, dan sejurus kemudian mulai lagi dengan berirama.

“Tidak berhasil,” jawab Edward, mengamati ekspresi garangku dengan mimik bingung. “Tapi pasti bisa lebih baik lain kali. Dia tidak akan menodai udara yang segar ini dengan menarik napas dan mengembuskannya lebih lama lagi.”

“Itu… tidak bisa,” akhirnya aku bisa juga bersuara. Gila. Walaupun dibantu Emmett atau Jasper sekalipun. Ini lebih buruk daripada bayanganku yang lain: Jacob Black berdiri berhadap-hadapan dengan sosok Victoria yang kejam dan buas. Aku tak sanggup membayangkan Edward di sana, walaupun ia jauh lebih bisa bertahan daripada sahabatku yang setengah manusia itu.

“Sudah terlambat baginya. Aku mungkin masih bisa mengabaikan kejadian waktu itu, tapi tidak sekarang, setelah—”

Aku menyelanya lagi, berusaha memperdengarkan nada tenang. “Bukankah kau baru saja berjanji tidak akan meninggalkan aku?”

tanyaku, melawan kata-kata yang kuucapkan, tidak mengizinkannya tertanam di hatiku. “Janji itu tidak sejalan dengan ekspedisi pelacakan yang memakan waktu lama, bukan?”

Kening Edward berkerut. Geraman pelan terdengar dari dadanya. “Aku akan menepati janjiku, Bella. Tapi Victoria—” geraman itu semakin jelas terdengar—”harus mati. Segera.”

“Tak usah tergesa-gesa,” ujarku, berusaha menyembunyikan kepanikanku. “Mungkin dia tidak akan kembali. Gerombolan Jake mungkin berhasil membuatnya kabur ketakutan. Sungguh tidak ada alasan untuk tetap mencarinya. Selain itu, aku punya masalah lain yang lebih besar ketimbang Victoria.”

Mata Edward menyipit, tapi ia mengangguk. “Memang benar. Masalah werewolf memang masalah besar.”

Aku mendengus. “Yang kumaksud bukan Jacob. Masalahku jauh lebih parah daripada segerombolan serigala remaja yang berbuat onar.”

Kelihatannya Edward ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian mengurungkannya. Giginya terkatup dengan suara berdetak, dan ia berbicara di sela-selanya. “Benarkah?” tanyanya. “Kalau begitu, apa masalah terbesarmu? Masalah yang membuat kembalinya Victoria mencarimu terasa bagaikan persoalan sepele bila dibandingkan dengannya?”

“Bagaimana kalau yang kedua terberat?” elakku.

“Baiklah,” Edward setuju, curiga.

Aku terdiam. Aku tidak yakin bisa menyebutkan namanya. “Ada pihak-pihak lain yang akan datang mencariku,” aku mengingatkannya dengan bisikan pelan.

Edward mendesah, tapi reaksinya tidak sekuat yang kubayangkan, apalagi bila dibandingkan dengan responsnya terhadap Victoria tadi.

“Jadi keluarga Volturi hanya yang kedua terberat?”

“Sepertinya kau tidak kalut mendengarnya,” komentarku.

“Well, kita punya banyak waktu untuk memikirkannya masak-masak. Bagi mereka waktu artinya sangat jauh berbeda denganmu, atau bahkan aku. Mereka menghitung tahun seperti kau menghitung hari. Aku tidak heran bila kau sudah berumur tiga puluh tahun baru mereka teringat lagi padamu,” imbuh Edward enteng.

Kengerian melandaku.

Tiga puluh tahun.

Kalau begitu, janji-janji Edward tidak berarti apa-apa, pada akhirnya. Bila suatu hari nanti aku akan mencapai umur tiga puluh tahun, berarti Edward tidak mungkin berencana tinggal lama. Kepedihan mengetahui hal itu membuatku sadar bahwa aku mulai berharap, tanpa mengizinkan diriku melakukannya.

“Kau tidak perlu takut,” ujar Edward, cemas saat melihat air mataku mulai merebak lagi. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu.”

“Selama kau ada di sini.” Bukan berarti aku peduli apa yang terjadi pada diriku setelah ia pergi.

Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang sekeras batu, memegangnya eraterat sementara matanya yang sekelam malam menatap mataku lekat-lekat dengan daya gravitasi yang menyerupai lubang hitam.

“Tapi kauhilang tadi tiga puluh!” bisikku. Air mata merembes keluar dari sudut mata. “Jadi apa? Kau akan tinggal, tapi membiarkan aku menjadi tua? Yang benar saja.”

Sorot mata Edward melembut, sementara mulutnya mengeras. “Tepat seperti itulah yang akan kulakukan. Pilihan apa lagi yang kupunya? Aku tidak bisa hidup tanpa kau, tapi aku tidak mau menghancurkan jiwamu.”

“Apakah itu sungguh-sungguh karena…” Aku berusaha menjaga suaraku tetap datar, tapi pertanyaan ini terlalu sulit untuk dilontarkan. Aku ingat bagaimana ekspresi Edward waktu Aro nyaris memohon padanya untuk mempertimbangkan ide membuatku abadi. Ekspresi muak itu. Apakah kengototan Edward untuk tetap mempertahankan aku sebagai manusia sungguh-sungguh karena jiwaku, atau karena ia tak yakin dirinya menginginkan aku bersamanya sebegitu lama?

“Ya?” tanya Edward, menunggu pertanyaanku. Aku malah mengajukan pertanyaan lain. Hampir— tapi tidak persis—sama susahnya.

“Tapi bagaimana kalau nanti aku sudah tua sekali dan orang-orang mengira aku ibumu?

Nenekmu?” Suaraku pucat oleh perasaan jijik—aku bisa melihat wajah Gran lagi dalam mimpiku tentang bayangan dalam cermin waktu itu.

Seluruh wajah Edward melembut sekarang. Ia mengusap air mata dari pipiku dengan bibirnya. “Itu tidak penting bagiku,” embusan napasnya menerpa kulitku. “Kau akan selalu menjadi orang yang paling cantik bagiku. Tentu saja…” Edward ragu-ragu, sedikit tersentak. “Kalau kau menjadi lebih tua daripada aku – kalau kau menginginkan sesuatu yang lebih – aku bisa memahaminya, Bella. Aku berjanji tidak akan menghalangimu kalau kau ingin meninggalkan aku.”

Mata Edward tampak bagaikan batu akik cair dan benar-benar tulus. Ia berbicara seolah-olah telah memikirkan rencana tolol ini masak-masak.

“Kau tentunya sadar suatu saat nanti aku akan mati, bukan?” desakku.

Edward juga sudah memikirkan hal itu. “Aku akan menyusulmu secepat aku bisa.”

“Ini benar-benar…” Aku mencari kata yang tepat. “Gila.”

“Bella, hanya itu satu-satunya cara yang tertinggal—”

“Mari kita mundur dulu sejenak,” tukasku; merasa marah membuatku jauh lebih mudah untuk berpikir jernih dan tegas. “Kau pasti masih ingat pada keluarga Volturi, kan? Aku tidak bisa tetap menjadi manusia selamanya. Mereka akan membunuhku. Walaupun seandainya mereka tidak memikirkan aku sampai aku berumur tiga puluh tahun”—aku mendesiskan kalimat itu—”apa kau benar-benar mengira mereka bakal lupa?”

“Tidak,” jawab Edward lambat-lambat, menggelengkan kepala. “Mereka tidak akan lupa. Tapi…”

“Tapi?”

Edward menyeringai sementara aku menatapnya kecut. Mungkin bukan aku satu-satunya yang sinting di sini. “Aku punya beberapa rencana.”

“Dan rencana-rencana itu,” tukasku, suaraku semakin masam dalam setiap katanya. “Rencanarencana itu pasti berpusat padaku yang tetap menjadi manusia.”

Sikapku membuat ekspresi Edward mengeras “Itu sudah jelas.” Nadanya kasar, wajahnya yang bak malaikat itu arogan.

Kami bertatapan garang beberapa saat.

Kemudian aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, dan mendorong lengan Edward jauh-jauh supaya bisa duduk tegak.

“Kau ingin aku pergi?” tanya Edward, dan hatiku terasa nyeri melihat bagaimana pemikiran itu menyakiti hatinya, meski ia berusaha tidak menunjukkannya.

“Tidak.” jawabku. “Aku yang akan pergi.”

“Boleh aku bertanya kau akan ke mana?” tanyanya.

“Aku akan pergi ke rumahmu,” jawabku, masih menggapai-gapai tanpa melihat.

Edward berdiri dan menghampiriku. “Ini sepatumu. Kau akan naik apa ke sana?”

“Trukku.”

“Suaranya mungkin akan membuat Charlie terbangun,” kata Edward sebagai upaya untuk membuatku mengurungkan niat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.