Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Edward,” kataku. Mengucapkan namanya membuat tenggorokanku serasa terbakar. Aku bisa merasakan bayangan lubang itu,, siap menganga kembali dan mengoyak dadaku begitu Edward pergi nanti. Entah bagaimana aku bisa bertahan nanti. “Ini harus dihentikan sekarang. Kau tidak boleh berpikir begitu. Kau tidak bisa membiarkan… rasa bersalah ini menguasai hidupmu. Kau tidak bisa bertanggung jawab atas hal-hal yang terjadi padaku di sini. Itu bukan salahmu, itu hanyalah bagian dari bagaimana kehidupan sebenarnya bagiku. Jadi, kalau aku tersandung di depan bus atau hal lain suatu saat nanti, kau harus sadar bukan tugasmu untuk menyalahkan dirimu. Kau tidak boleh langsung kabur ke Italia hanya karena kau merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan aku. Bahkan seandainya aku terjun dari tebing itu untuk mati, itu pilihanku sendiri, bukan kesalahanmu. Aku tahu sudah menjadi… sifatmu menanggung rasa bersalah untuk segala sesuatunya, tapi kau benar-benar tidak bisa membiarkan hal itu membuatmu melakukan halhal ekstrem! Itu sangat tidak bertanggung jawab— pikirkan Esme dan Carlisle dan—”

Aku nyaris tak bisa menahan tangis. Aku berhenti untuk menarik napas dalam-dalam, berharap bisa menenangkan diri. Aku harus membebaskannya. Aku harus memastikan ini tidak akan pernah terjadi lagi.

“Isabella Marie Swan,” bisik Edward, ekspresi ganjil melintasi wajahnya. Ia nyaris tampak marah. “Jadi kau yakin aku meminta Volturi membunuhku karena merasa bersalah?”

Aku bisa merasakan wajahku memancarkan sikap tidak mengerti. “Memangnya bukan karena itu?”

“Merasa bersalah? Memang sangat. Lebih daripada yang bisa kaupahami.”

“Jadi… apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Bella, aku datang ke keluarga Volturi karena kukira kau sudah mati,” ujarnya, suaranya lembut, matanya berapi-api. “Bahkan seandainya aku tidak punya andil dalam kematianmu”—Edward bergidik saat membisikkan kata terakhir itu – “seandainya pun itu bukan salahku, aku akan tetap pergi ke Italia. Jelas, seharusnya aku lebih berhati-hati— seharusnya aku langsung bicara pada Alice, bukan menerima begitu saja perkataan Rosalie. Tapi, bayangkan saja, aku harus berpikir bagaimana waktu pemuda itu berkata Charlie sedang menghadiri pemakaman? Apa kemungkinannya?

“Kemungkinannya…” lalu Edward menggerutu, terusik. Suaranya pelan sekali hingga aku tidak yakin mendengar perkataannya dengan benar. “Kemungkinannya selalu berlawanan dengan keinginan kita. Kesalahan demi kesalahan. Aku tidak akan pernah mengkritik Romeo lagi.”

“Tapi aku masih belum mengerti,” kataku. “Justru itulah intinya. Memangnya kenapa?”

“Maaf?”

“Memangnya kenapa kalau aku sudah mati?”

Edward menatapku ragu beberapa saat sebelum menjawab. “Kau tidak ingat apa yang pernah kukatakan padamu sebelumnya?”

“Aku ingat semua yang pernah kaukatakan padaku.” Termasuk kata-kata yang menegaskan semuanya.

Edward membelai bibir bawahku dengan ujungujung jarinya yang dingin. “Bella, sepertinya kau salah mengerti.” Ia memejamkan mata, menggerakkan kepala ke depan dan ke belakang dengan senyum miring menghiasi wajahnya yang rupawan. Bukan senyum bahagia. “Kukira aku sudah menjelaskan dengan sangat jelas sebelumnya. Bella, aku tak sanggup hidup di dunia kalau kau tidak ada.”

“Aku…” Kepalaku berputar sementara aku mencari-cari kara yang tepat. “Bingung.” Benar. Penjelasannya sungguh tidak masuk akal bagiku.

Edward menatap mataku dalam-dalam dengan tatapannya Kang tulus dan bersungguh-sungguh. “Aku pembohong besar, Bella, aku harus jadi pembohong besar begitu.”

Aku mengejang, otot-ototku mengunci seolah bersiap menahan benturan. Otot dadaku mengejang, sakitnya luar biasa.

Edward mengguncang bahuku, berusaha melenturkan posturku yang kaku. “Dengarkan kata-kataku sampai selesai! Aku ini pembohong besar, tapi kau juga terlalu cepat percaya padaku.” Edward meringis. “Itu… sangat menyakitkan.”

Aku menunggu, masih kaku.

“Saat kita di hutan, waktu aku mengucapkan selamat tinggal—”

Aku tidak mengizinkan diriku mengingat kenangan buruk itu. Aku berusaha keras tetap berada di masa sekarang saja.

“Waktu itu kau tidak mau melepaskan aku,” bisiknya. “Aku bisa melihatnya. Aku tidak ingin melakukannya—sungguh sangat menyakitkan bagiku melakukannya—tapi aku tahu kalau aku tidak bisa meyakinkanmu bahwa aku tidak mencintaimu lagi, pasti baru lama sekali kau bisa kembali menjalani hidup. Aku berharap, bila kau mengira aku sudah tidak mencintaimu lagi, maka kau pun akan melakukan hal yang sama.”

“Perpisahan seketika,” bisikku dari sela-sela bibir yang tak bergerak.

“Tepat sekali. Tapi aku tak pernah membayangkan ternyata mudah saja membohongimu! Kusangka itu mustahil dilakukan bahwa kau akan sangat meyakini hal yang sebenarnya sehingga aku harus berbohong dulu mati-matian sebelum aku bisa menanamkan sedikit saja benih keraguan dalam pikiranmu. Aku bohong, dan aku sangat menyesal—menyesal karena menyakitimu, menyesal karena itu upaya yang sia-sia. Menyesal karena aku tidak bisa melindungimu dari diriku yang sebenarnya. Aku berbohong untuk menyelamatkanmu, tapi ternyata tidak berhasil. Maafkan aku.

“Tapi bagaimana bisa kau malah percaya padaku? Padahal sudah ribuan kali aku menyatakan cintaku padamu, bagaimana kau bisa membiarkan satu kata saja menghancurkan kepercayaanmu padaku?”

Aku tidak menjawab. Aku terlalu shock untuk bisa membentuk respons yang rasional.

“Aku bisa melihatnya di matamu, kau sejujurnya percaya aku tidak menginginkanmu lagi. Konsep yang paling absurd dan konyol—seolah-olah aku bisa bertahan tanpa membutuhkanmu!”

Aku masih kaku. Kata-katanya tidak kumengerti, karena tidak masuk akal.

Edward mengguncang bahuku lagi, tidak keraskeras, tapi cukup membuat gigiku gemeletuk sedikit.

“Bella,” desahnya. “Sungguh, apa yang ada dalam pikiranmu waktu itu!”

Dan tangisku pun pecah. Air mata menggenang dan kemudian mengalir deras di kedua pipiku.

“Sudah kukira,” isakku. “Sudah kukira aku pasti bermimpi.”

“Keterlaluan benar kau ini,” sergah Edward, lalu tertawa-tawanya keras dan frustrasi. “Bagaimana caranya aku menjelaskan supaya kau mau percaya padaku? Kau tidak sedang tidur, dan kau belum mati. Aku ada di sini, dan aku cinta padamu. Aku selalu mencintaimu, dan akari selalu mencintaimu. Aku memikirkanmu, melihat wajahmu dalam pikiranku, setiap detik selama kita berpisah.

Waktu kubilang aku tidak menginginkanmu lagi, bisa dibilang itu semacam sumpah palsu yang paling konyol.”

Aku menggeleng sementara air mata terus menetes dari sudut-sudut mataku.

”Kau tidak percaya padaku, kan?” bisiknya, wajahnya yang pucat sekarang lebih pucat daripada biasanya – aku bisa melihatnya bahkan di bawah cahaya lampu remang-remang. “Mengapa kau malah percaya pada kebohongan, dan bukan kebenaran?”

“Memang tidak pernah masuk akal bahwa kau mencintaiku,” aku menjelaskan suaraku tercekat. “Sejak dulu aku tahu itu.”

Mata Edward menyipit, dagunya mengeras.

“Akan kubuktikan bahwa kau sudah bangun,” janjinya.

Ia merengkuh wajahku di antara kedua tangannya yang sekeras besi, tak menggubris pemberontakanku saat aku berusaha memalingkan wajah.

“Kumohon, jangan,” bisikku.

Edward berhenti, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari bibirku.

“Mengapa tidak?” tuntutnya. Napasnya berembus di wajahku, membuat kepalaku berputar.

“Kalau nanti aku terbangun”—Edward membuka mulut untuk protes, maka aku pun buru-buru mengoreksi—”oke, lupakan itu—kalau kau pergi lagi nanti, tanpa ini pun keadaan sudah cukup sulit.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.