Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Aku bisa mengerti kau salah mengartikan aku dengan mimpi buruk.” Senyum Edward yang berumur singkat terlihat muram. “Tapi aku tidak bisa membayangkan apa yang telah kaulakukan sehingga kau masuk neraka. Memangnya kau banyak membunuh orang selagi aku tidak ada?”

Aku meringis. “Jelas tidak. Kalau saat ini aku berada di neraka, kau tidak akan ada di sini bersamaku.”

Edward mendesah.

Pikiranku semakin jernih. Mataku berkelebat sebentar dari wajahnya—meski sebenarnya enggan-—ke jendela yang gelap dan terbuka, lalu kembali padanya. Kupandangi dia sambil mengingat-ingat… dan aku merasakan rona merah yang tidak familier menjalari pipiku dengan hangat saat lambat laun aku menyadari bahwa Edward sungguh-sungguh, benar-benar ada di sini bersamaku, tapi aku malah membuang-buang waktu dengan menjadi idiot.

“Kalau begitu, semua itu benar-benar terjadi?” Nyaris sulit mengubah mimpiku menjadi kenyataan. Rasanya aku belum bisa menerima konsep itu.

“Tergantung.” Senyum Edward masih kaku. “Kalau yang kaumaksud adalah kita hampir dibantai di Italia, ya, itu benar.”

“Aneh sekali,” renungku. “Aku benar-benar pergi ke Italia. Tahukah kau, aku bahkan tak pernah pergi lebih jauh dari Alburquerque?”

Edward memutar bola matanya. “Mungkin sebaiknya kau tidur lagi. Kau masih linglung.”

“Aku sudah tidak capek lagi.” Pikiranku kembali jelas sekarang. “Jam berapa sekarang? Sudah berapa lama aku tertidur?”

“Sekarang baru jam satu pagi lewat sedikit. Jadi, kira-kira empat belas jam.”

Aku menggeliat saat Edward bicara. Tubuhku kaku sekali.

“Charlie?” tanyaku

Edward mengerutkan kening. “Tidur. Mungkin kau tahu saat ini aku melanggar aturan. Well, teknisnya sih tidak, karena kata Charlie aku tidak boleh menjejakkan kaki lagi melewati pintu, sementara aku masuk lewat jendela… Tapi meski begitu, maksudnya sudah jelas.”

“Charlie melarangmu datang ke sini?” tanyaku, perasaan tak percaya dengan cepat melebur menjadi amarah.

Sorot mara Edward sedih. “Memangnya apa yang kauharapkan?”

Sorot mataku marah. Aku harus bicara dengan ayahku—mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengingatkan ayahku bahwa secara hukum aku sudah dianggap dewasa. Itu tidak berarti banyak tentu saja, kecuali dalam hal prinsip. Sebentar lagi tidak ada lagi alasan untuk melarangku. Aku mengalihkan pikiran ke hal-hal lain yang tidak terlalu menyakitkan.

“Ceritanya bagaimana?” tanyaku, benar-benar ingin tahu, sekaligus berusaha keras menjaga agar obrolan terus berlangsung juga untuk menenangkan diriku sendiri, supaya aku tidak membuat Edward kabur ketakutan oleh kerinduan menggebu-gebu yang bergejolak dalam diriku.

“Apa maksudmu?”

“Aku harus menceritakan apa pada Charlie? Apa alasanku menghilang selama… omong-omong berapa hari aku pergi?” Aku berusaha menghitunghitung.

“Hanya tiga hari.” Tatapan Edward mengeras, tapi kali ini senyumnya lebih alami. “Sebenarnya, aku berharap kau punya penjelasan bagus. Soalnya aku tidak tahu harus memberi alasan apa.”

Aku mengerang. “Hebat.”

“Well mungkin Alice bisa memberi alasan yang tepat,” kata Edward, berusaha menghibur hatiku.

Dan aku merasa terhibur. Siapa yang peduli apa yang harus kuhadapi nanti? Setiap detik ia di sini – begitu dekat, wajahnya yang sempurna berkilau dalam keremangan cahaya yang dipantulkan angka-angka jam alarmku – sangatlah berharga dan tidak patut disia-siakan.

“Jadi,” aku memulai, memilih pertanyaan yang paling tidak penting—walaupun tetap sangat menarik—sebagai permulaan. Aku sudah diantarkan dengan selamat sampai ke rumah, jadi sebentar lagi Edward mungkin akan memutuskan untuk pergi, kapan saja. Aku harus membuatnya terus bicara. Lagi pula, surga sementara ini tidak sepenuhnya komplet tanpa suaranya. “Apa yang kaulakukan selama ini sampai tiga hari yang lalu?”

Wajah Edward langsung kecut. “Tidak ada yang menarik.”

“Tentu saja tidak,” gumamku.

“Mengapa kau mengernyitkan muka seperti itu?”

“Well..” aku mengerucutkan bibir, menimbangnimbang. “Seandainya kau, misalnya, hanya mimpi, jawaban seperti itulah yang pasti akan kauucapkan. Imajinasiku pasti sudah mentok.”

Edward mendesah. “Kalau aku menceritakannya padamu, apakah akhirnya kau akan percaya bahwa kau tidak sedang bermimpi buruk?” ,

“Mimpi buruk!” ulangku sinis. Edward menunggu jawabanku. “Mungkin,” jawabku secelah berpikir sejenak. “Kalau menceritakannya padaku.”

“Selama ini aku… berburu.”

“Masa hanya itu yang kaulakukan?” kritikku. “Itu jelas tidak membuktikan aku sudah terbangun.”

Edward ragu-ragu, kemudian berbicara lambatlambat, memilih kata-kata dengan saksama. “Aku bukan berburu makanan… sebenarnya aku mencoba belajar… mencari jejak. Aku kurang bagus dalam hal itu.”

“Apa yang kaulacak?” tanyaku, tertarik.

“Bukan sesuatu yang penting.” Kata-kata Edward tidak sejalan dengan ekspresinya; ia tampak gelisah, tidak nyaman.

“Aku tidak mengerti.”

Edward ragu-ragu; wajahnya, mengilat oleh bias hijau aneh lampu jam, tampak terkoyak.

“Aku—” Edward menarik napas dalam-dalam. “Aku berutang maaf padamu. Tidak, tentu saja aku berutang banyak padamu, jauh lebih banyak daripada itu. Tapi kau harus tahu—” kata-kata mulai mengalir sangat cepat. Seingatku, beginilah cara Edward bicara bila sedang gelisah, sehingga aku harus berkonsentrasi penuh untuk menangkap semuanya— “bahwa aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak menyadari kekacauan yang kutinggalkan. Kusangka kau aman di sini. Sangat aman. Aku tidak mengira Victoria—” bibir Edward melengkung ke belakang saat mengucapkan nama itu—”akan kembali. Harus kuakui, ketika melihatnya waktu itu, aku lebih memerhatikan pikiran James. Tapi aku sama sekali tidak melihat respons semacam ini dalam dirinya. Bahwa dia bahkan memiliki hubungan dengan James. Kurasa aku mengerti sekarang—Victoria sangat yakin pada James, jadi tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa James bisa gagal. Rasa percaya diri yang terlalu berlebihanlah yang menutupi perasaannya terhadap James – itu membuatku tidak melihat besarnya cinta Victoria kepada James, serta hubungan batin yang terjalin di antara mereka.

“Bukan berarti tindakanku meninggalkanmu menghadapi bahaya semacam itu bisa dimaafkan. Waktu aku mendengar apa yang kaukatakan pada Alice—apa yang dilihatnya sendiri—waktu aku sadar ternyata kau sampai harus bergaul dengan werewolf, werewolf yang tidak dewasa, kasar, makhluk terburuk lain selain Victoria—” Edward bergidik dan serbuan kata-katanya terhenti sejenak. “Ketahuilah, aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Aku merasa muak, muak luar biasa, bahkan sampai sekarang, setiap kali aku bisa melihat dan merasakan kau aman dalam pelukanku. Sungguh bodoh dan tolol aku ini—”

“Hentikan,” aku memotong perkataannya. Edward menatapku sedih, dan aku berusaha menemukan kata-kata yang tepat—yang akan membebaskan Edward dari kewajiban rekaannya sendiri ini, yang membuatnya sangat menderita. Tidak mudah mengutarakannya. Entah apakah aku bisa mengucapkannya tanpa menangis. Tapi aku harus mencoba melakukannya dengan benar. Aku tidak mau menjadi sumber perasaan bersalah dan kesedihan dalam hidupnya. Seharusnya Edward bahagia, tak peduli bagaimana akibatnya bagiku.

Aku benar-benar berharap bisa menunda bagian terakhir pembicaraan kami ini. Soalnya, ini hanya akan mengakhiri lebih cepat pertemuan kami.

Mengandalkan latihan selama berbulan-bulan untuk berusaha bersikap normal di hadapan Charlie, aku memasang ekspresi datar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.