Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Emmett dan Rosalie naik ke kursi depan tanpa bicara, sementara Edward lagi-lagi menarikku ke kursi belakang. Aku tahu aku tidak akan mampu melawan kelopak mataku lagi, jadi kubaringkan kepalaku di dadanya dengan sikap kalah,’ membiarkan mataku terpejam. Kurasakan mesin mobil menderum pelan.

“Edward,” Rosalie memulai.

“Aku tahu.” Nada kasar Edward terdengar tidak ramah.

“Bella?” Rosalie bertanya lirih.

Kelopak mataku menggeletar terbuka dengan shock Ini pertama kalinya ia berbicara langsung padaku.

“Ya, Rosalie?” sahutku, ragu-ragu.

“Aku sangat menyesal, Bella. Aku merasa sangat bersalah telah menyebabkan semua ini, dan sangat bersyukur kau cukup berani untuk pergi dan menyelamatkan saudaraku setelah apa yang kuperbuat. Kuharap kau mau memaafkanku.”

Kata-katanya canggung, terbata-bata karena malu, tapi terdengar tulus.

“Tentu saja, Rosalie,” gumamku, menyambar kesempatan apa saja untuk membuatnya tidak membenciku lagi. “Ini bukan salahmu. Akulah yang melompat dari tebing sialan itu. Tentu saja aku memaafkanmu.”

Kata-kataku terdengar mengantuk.

“Itu tidak masuk hitungan sampai dia sadar, Rose,” Emmet terkekeh.

“Aku sadar kok,” tukasku; tapi suaraku terdengar seperti gumaman tidak jelas.

Kemudian suasana sunyi, kecuali derum pelan suara mesin. Aku pasti tertidur, karena rasanya baru beberapa detik kemudian pintu terbuka dan Edward membopongku turun dari mobil Mataku tidak mau membuka. Mulanya kukira kami masih di bandara.

Kemudian aku mendengar suara Charlie.

“Bella!” teriaknya dari jauh.

“Charlie,” gumamku, berusaha menghalau kantuk yang melandaku.

“Ssstt” bisik Edward. “Semua beres; kau sudah sampai di rumah dan aman. Tidur sajalah.”

“Berani-beraninya kau menunjukkan mukamu lagi di sini.” Charlie memaki Edward. suaranya terdengar jauh lebih dekat sekarang.

“Sudahlah, Dad.” erangku. Charlie tidak menggubrisku.

“Kenapa dia,” tuntut Charlie.

“Dia hanya sangat lelah, Charlie,” Edward menenangkannya. “Biarkan dia istirahat.”

“Jangan ajari aku!” teriak Charlie. “Berikan dia padaku. Jangan sentuh dia!’

Edward berusaha menyerahkanku kepada Charlie, tapi aku mencengkeram tubuhnya kuatkuat, tak mau melepaskannya. Aku bisa merasakan tangan ayahku menyentakkan lenganku.

“Hentikan, Dad,” sergahku lebih keras lagi. Aku berhasil memaksa kelopak mataku membuka untuk menatap Charlie nanar. “Marah saja padaku.”

Saat itu kami berada di depan rumahku. Pintu depan terbuka lebar. Awan yang menaungi di atas kepala terlalu tebal hingga aku tak bisa memperkirakan jam berapa sekarang.

“Itu sudah pasti,” tegas Charlie. “Masuk ke dalam.”

“Ke. Turunkan aku,” desahku.

Edward menurunkan aku. Bisa kulihat bahwa aku berdiri, tapi aku tidak bisa merasakan kakiku. Aku maju sempoyongan, sampai trotoar berputar ke arah wajahku. Dengan tangkas Edward menyambarku sebelum wajahku mencium beton.

“Izinkan aku membawanya ke atas,” kata Edward. “Setelah itu aku akan pergi.”

“Jangan,” tangisku, panik. Aku belum mendapatkan penjelasan apa-apa. Ia tidak boleh pergi dulu, setidaknya sampai ia menjelaskan semuanya, bukan begitu?

“Aku tidak akan jauh-jauh,” Edward berjanji, berbisik sangat pelan di telingaku sehingga Charlie tidak mungkin bisa mendengar.

Aku tidak mendengar Charlie menjawab, tapi Edward berjalan memasuki rumah. Mataku hanya sanggup bertahan sampai tangga. Hal terakhir yang kurasakan adalah tangan dingin Edward membuka cengkeraman jari-jariku dari kemejanya.

 

23. KEBENARAN

RASANYA aku tidur lama sekali—sekujur tubuhku kaku, seolah-olah aku tidak bergerak sama sekali selama itu. Pikiranku linglung dan lamban; berbagai mimpi aneh—mimpi dan mimpi buruk—berpusar-pusar dalam benakku. Semua tampak sangat jelas. Kengerian dan kebahagiaan, semua berbaur jadi kebingungan yang aneh. Ada perasaan tak sabar bercampur ketakutan, keduanya bagian dari mimpi penuh frustrasi saat kakiku tak bisa berlari cepat… Dan di mana-mana ada monster, musuh-musuh bermata merah yang lebih menyeramkan daripada sesama mereka yang lebih beradab. Mimpi itu masih terpatri kuat – aku bahkan masih ingat nama-namanya. Tapi bagian yang paling kuat dan paling jelas dari mimpi itu bukanlah kengeriannya. Melainkan kehadiran malaikat itulah yang paling jelas kuingat.

Sulit rasanya membiarkan malaikat itu pergi dan bangun. Mimpi ini tak mau disingkirkan begitu saja ke gudang mimpi yang tak ingin kudatangi lagi. Aku melawannya dengan susah payah saat pikiranku mulai lebih awas, terfokus pada kenyataan. Aku tak ingat hari apa ini, tapi aku yakin ada yang menungguku, entah ku Jacob, sekolah, pekerjaan, atau hal lain. Aku menarik napas dalam-dalam, bertanya-tanya dalam hati bagaimana aku sanggup menjalani satu hari lagi.

Sesuatu yang dingin menyentuh dahiku lembut sekali

Kupejamkan mataku lebih rapat. Rupanya aku masih bermimpi, tapi anehnya, rasanya sungguh sangat nyata. Aku sudah hampir terbangun… beberapa detik lagi, dan mimpi akan lenyap.

Tapi aku sadar mimpi itu terasa kelewat nyata, kelewat nyata sehingga tak mungkin terjadi. Lengan sekeras batu yang kubayangkan memeluk tubuhku amat terlalu kokoh. Kalau kubiarkan lebih lama lagi, aku akan menyesal nanti. Dengan keluhan menyerah, kubuka paksa kelopak mataku untuk menghalau ilusi itu.

“Oh!” aku terkesiap kaget, dan melemparkan tinjuku ke muka.

Well jelas, aku sudah kelewatan; salah besar membiarkan imajinasiku jadi tak terkendali. Oke, mungkin “membiarkan” bukan istilah yang tepat. Aku memaksanya menjadi tak terkendali—bisa dibilang aku dikuntit halusinasiku sendiri—dan sekarang pikiranku meledak.

Dibutuhkan kurang dari setengah detik untuk menyadari bahwa, kepalang basah sudah telanjur sinting, ada baiknya kunikmati saja delusiku, mumpung delusinya menyenangkan.

Aku membuka lagi mataku – dan Edward masih di sana, wajahnya yang sempurna hanya beberapa sentimeter dari wajahku.

“Aku membuatmu takut, ya?” suaranya yang rendah bernada cemas.

Ini bagus sekali, sebagai delusi. Wajahnya, suaranya, aroma tubuhnya, segalanya – semua jauh lebih baik daripada tenggelam. Kilasan khayalanku yang rupawan itu mengawasi perubahan ekspresiku dengan waswas. Matanya hitam pekat, dengan bayangan menyerupai memar di bawahnya. Itu membuatku terkejut; Edward halusinasiku biasanya muncul dalam keadaan kenyang.

Aku mengerjap dua kali, susah payah berusaha mengingat hal terakhir yang aku yakin nyata. Alice juga ada dalam mimpiku, dan bertanya-tanya apakah ia benar-benar kembali, atau itu hanya khayalan. Kalau tidak salah, ia kembali pada hari aku nyaris tenggelam waktu itu…

“Oh. brengsek” makiku parau. Tenggorokanku seperti tersumbat.

“Ada apa, Bella?”

Aku mengerutkan kening pada Edward, tidak bahagia. Wajahnya bahkan jauh lebih cemas daripada sebelumnya.

“Aku sudah mati, kan?” erangku. “Aku benarbenar tenggelam. Brengsek, brengsek, brengsek! Charlie pasti sedih sekali.”

Kening Edward berkerut. “Kau belum mati”

“Kalau begitu, mengapa aku tidak bangunbangun juga?” tantangku, mengangkat alis.

“Kau sudah bangun, Bella.”

Aku menggeleng. “Tentu, tentu. Kau memang ingin aku mengira begitu. Kemudian keadaan akan lebih parah waktu aku terbangun nanti. Kalau aku masih bisa bangun, dan itu tidak akan terjadi, karena aku sudah mati. Cawat. Kasihan Charlie. Juga Renee dan Jake…” Suaraku menghilang, ngeri membayangkan apa yang telah kulakukan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.