Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku bergidik saat ia menarikku melewati gerbang batu hitam melengkung. Jeruji besar kuno yang menggantung di atas tampak seperti pintu kerangkeng, mengancam hendak menimpa kami, mengurung kami di dalam.

Edward membimbingku ke mobil berwarna gelap, yang menunggu dalam lingkaran bayangan di kanan gerbang dengan mesin menyala. Aku terkejut waktu Edward menyusup masuk ke jok belakang bersamaku, tidak bersikeras mengemudikannya.

Alice meminta maaf. “Maafkan aku.” Ia melambaikan tangan ke dasbor. “Tidak banyak pilihan.”

“Tidak apa-apa, Alice.” Edward nyengir. “Tidak bisa selalu memilih 911 Turbo.”

Alice mendesah. “Aku harus memiliki salah satu mobil semacam itu secara legal. Sungguh luar biasa.”

“Nanti kubelikan satu untuk hadiah Natal,” janji Edward.

Alice menoleh dan menatap Edward dengan senyum berseri-seri, dan itu membuatku khawatir, karena saat itu ia sudah ngebut menuruni jalan perbukitan yang gelap dan berkelok-kelok.

“Kuning,” katanya.

Edward tetap merangkulku erat-erat. Dalam selubung jubah abu-abunya, aku merasa hangat dan nyaman. Lebih dari nyaman.

“Kau bisa tidur sekarang, Bella,” bisiknya. “Sudah berakhir.”

Aku tahu yang dimaksud Edward adalah bahaya, mimpi buruk di kota kuno, tapi aku masih harus menelan ludah dengan susah payah sebelum bisa menjawab.

“Aku tidak mau tidur. Aku tidak capek.” Kalimat terakhir itu tidak benar. Yang benar adalah aku belum mau memejamkan mata. Mobil ini hanya diterangi samar-samar oleh nyala lampu panel dasbor, tapi itu sudah cukup untuk bisa melihat wajahnya.

Edward menempelkan bibirnya di cekungan di bawah telingaku. “Cobalah,” bujuknya. Aku menggeleng.

Edward mendesah. “Kau masih saja keras kepala.”

Aku memang keras kepala; mati-matian aku melawan kelopak mataku yang berat, dan aku menang.

Bagian tersulit adalah melewati jalan yang gelap; lampu-lampu benderang di bandara Florence sedikit melegakan hati, begitu juga kesempatan untuk menyikat gigi dan ganti baju dengan pakaian bersih; Alice membelikan Edward baju baru juga, dan Edward membuang jubah hitamnya ke tong sampah di sebuah gang. Penerbangan ke Roma hanya sebentar hingga kelelahan tidak sempat membuatku tertidur. Tapi aku tahu penerbangan dari Roma ke Atlanta akan sangat berbeda, jadi kuminta pramugari membawakan segelas Coca-cola.

“Bella,” tegur Edward tidak senang. Ia tahu biasanya aku tidak menolerir minuman yang mengandung kafein.

Alice duduk di belakang kami. Aku bisa mendengarnya berbisik-bisik dengan Jasper di telepon.

“Aku tidak mau tidur,” aku mengingatkannya. Aku memberi alasan yang bisa dipercaya karena itu memang benar. “Kalau aku memejamkan mata sekarang, aku akan melihat hal-hal yang tidak ingin kulihat. Bisa-bisa aku malah bermimpi buruk.”

Edward tidak membantahku lagi setelah itu.

Sebenarnya ini saat yang tepat sekali untuk mengobrol, untuk mendapat jawaban yang kubutuhkan—dibutuhkan tapi tidak benar-benar diinginkan; belum-belum aku sudah merasa sulit memikirkan apa yang bakal kudengar. Waktu yang panjang membentang di hadapan kami tanpa gangguan apa pun, dan Edward tidak mungkin melarikan diri dariku di atas pesawat—well, setidaknya, tidak semudah itu. Tidak ada yang bisa mendengar kami kecuali Alice; hari sudah larut malam, dan sebagian besar penumpang mematikan lampu dan meminta bantal dengan suara pelan. Mengobrol bisa membantuku melawan kelelahan.

Namun, anehnya, aku malah menutup mulutku rapat-rapat dari banjir pertanyaan. Pertimbanganku mungkin salah karena kelelahan, tapi aku berharap dengan menunda pembicaraan, aku bisa meminta waktu beberapa jam dengannya nanti—memperpanjang kebersamaan ini satu malam lagi, ala Scheherazade,

Jadilah aku minum bergelas-gelas soda, bahkan berkedip pun aku nyaris tak mau. Edward tampaknya cukup senang bisa mendekapku dalam pelukannya, jari-jarinya menelusuri wajahku lagi dan lagi. Aku juga menyentuh wajahnya. Aku tak sanggup menghentikan diriku sendiri, meski takut itu akan menyakitiku nanti, kalau aku sudah sendirian lagi. Edward terus saja menciumi rambutku, keningku, pergelangan tanganku… tapi tak pernah bibirku, dan itu bagus. Soalnya, berapa kali hati yang hancur lebur masih bisa diharapkan pulih kembali’ Beberapa hari terakhir ini, aku bertahan melewati berbagai peristiwa yang seharusnya mengakhiri hidupku, tapi itu tidak membuatku merasa kuat. Malah aku merasa sangat rapuh, seakan-akan satu kata saja sanggup menghancurkanku.

Edward juga diam saja. Mungkin ia berharap aku akan tidur. Mungkin memang tak ada yang ingin ia katakan.

Aku memenangkan adu kekuatan melawan kelopak mataku yang berat. Mataku masih terbuka lebar saat kami mencapai bandara di Atlanta, dan aku bahkan sempat melihat matahari terbit di awan-awan di atas kota Seattle sebelum Edward menutup jendela rapat-rapat. Aku bangga pada diriku sendiri. Tak satu menit pun terlewatkan.

Baik Alice maupun Edward sama sekali tidak terkejut melihat rombongan yang menunggu kedatangan kami di Bandara Sea-Tac, tapi aku kaget luar biasa. Jasper adalah yang pertama kulihat—tampaknya ia tidak melihatku sama sekali Matanya hanya, tertuju pada Alice. Alice bergegas mendapatkannya; mereka tidak berpelukan seperti pasangan-pasangan lain yang bertemu di sini Keduanya hanya saling memandang wajah masingmasing, namun, entah mengapa, momen itu justru terasa sangat pribadi sampai-sampai aku merasa perlu membuang muka.

Carlisle dan Esme menunggu di sudut sepi jauh dan antrean di depan metal detector. dalam naungan pilar besar. Esme mengulurkan tangan, memelukku erat-erat dengan sikap canggung, karena Edward tidak melepaskan pelukannya dariku.

“Terima kasih banyak,” bisiknya di telingaku. Kemudian Esme memeluk Edward, dan ia terlihat seperti ingin menangis.

“Jangan pernah membuatku menderita seperti itu lagi,” Esme nyaris menggeram.

Edward menyeringai, penuh penyesalan. “Maaf, Mom.”

“Terima kasih Bella,” kata Carlisle. “kami berutang budi padamu.”

“Ah, tidak,” gumamku. Tiba-tiba saja aku merasa letih sekali karena begadang semalaman. Kepalaku terasa lepas dari tubuhku.

“Dia sangat kelelahan,” Esme memarahi Edward. “Mari kita bawa dia pulang.”

Tidak yakin apakah saat ini ingin pulang, aku tersaruk-saruk, separo buta, melintasi bandara, Edward menyeretku di satu sisi, sementara Esme di sisi lain. Aku tidak tahu apakah Alice dan Jasper mengikuti di belakang kami atau tidak, dan aku terlalu lelah untuk melihat.

Kurasa aku tertidur, walaupun masih berjalan, saat kami sampai di mobil. Keterkejutan melihat Emmett dan Rosalie bersandar pada sedan hitam di bawah cahaya buram lampu-lampu garasi parkir membuatku tersentak. Edward mengejang.

“Jangan,” bisik Esme. “Rosalie merasa bersalah.”

“Memang seharusnya begitu,” tukas Edward, tidak berusaha memelankan suara.

“Itu bukan salahnya.” belaku, kata-kataku tidak terdengar jelas karena kelelahan.

“Beri kesempatan padanya untuk meminta maaf,” pinta Esme. “Kami akan naik mobil bersama Alice dan Jasper.”

Edward memandang garang pasangan vampir berambut pirang yang sangat memesona itu.

“Kumohon, Edward,” ujarku. Sebenarnya aku juga tidak mau semobil dengan Rosalie, sama seperti Edward, tapi cukup sudah aku menyebabkan perpecahan dalam keluarga ini.

Edward mendesah, lalu menarikku ke mobil.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.