Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Bawa barang-barangmu!” pekik Alice waktu aku berjalan waswas menghampiri Edward. Ia meraup kedua bungkusan, yang satu baru separo terbuka, serta kameraku dari bawah piano, dan menjejalkan semuanya ke lekukan lenganku yang tidak terluka. “Kau bisa mengucapkan terima kasih belakangan, kalau sudah membuka kado-kadomu!”

Esme dan Carlisle mengucapkan selamat malam dengan suara pelan. Sempat kulihat mereka diamdiam melirik putra mereka yang diam seribu bahasa, sama seperti aku.

Lega rasanya berada di luar; aku bergegas melewati deretan lentera dan mawar yang kini mengingatkanku pada peristiwa tak mengenakkan tadi. Edward berjalan di sampingku tanpa bicara. Ia membukakan pintu penumpang untukku, dan aku naik tanpa protes.

Di atas dasbor terpasang pita merah besar, menempel di stereo yang baru. Kurenggut pita itu dan kubuang ke lantai. Waktu Edward naik di sampingku, kutendang pita itu ke bawah kursi.

Edward tidak melihat ke arahku ataupun stereo itu. Kami juga tidak menyalakannya, dan entah bagaimana kesunyian justru semakin terasa oleh raungan mesin yang tiba-tiba. Edward ngebut terlalu kencang melintasi jalan yang gelap dan berkelok-kelok.

Kesunyian itu membuatku sinting.

“Katakan sesuatu,” pintaku akhirnya saat Edward berbelok memasuki jalan raya.

“Kau ingin aku bilang apa?” tanyanya dengan sikap menjauh.

Aku meringis melihat sikapnya yang tak mau mendekat. “Katakan kau memaafkan aku.”

Perkataanku itu menimbulkan secercah kehidupan di wajahnya—secercah amarah. “Memaafkanmu? Untuk apa?”

“Seandainya aku lebih berhati-hati, tidak akan terjadi apa-apa.”

“Bella, jarimu hanya teriris kertas—itu bukan alasan untuk mendapat hukuman mati.”

“Tetap saja aku yang salah.”

Kata-kataku seolah membobol bendungan.

“Kau yang salah? Kalau jarimu teriris kertas di rumah Mike Newton, dan di sana ada Jessica, Angela, dan teman-teman normalmu lainnya, apa hal terburuk yang mungkin terjadi? Mungkin mereka tidak bisa menemukan plester untukmu? Kalau kau terpeleset dan menabrak tumpukan piring kaca karena ulahmu sendiri—bukan karena ada yang mendorongmu—bahkan saat itu pun, hal terburuk apa yang bisa terjadi? Paling-paling darahmu berceceran mengotori jok mobil saat mereka mengantarmu ke UGD? Mike Newton bisa memegangi tanganmu saat dokter menjahitmu— dan dia tidak perlu berjuang melawan dorongan untuk membunuhmu selama berada di sana. Jangan menyalahkan dirimu sendiri dalam hal ini, Bella. Itu hanya akan membuatku semakin jijik pada diriku sendiri.”

“Bagaimana bisa Mike Newton dibawa-bawa dalam pembicaraan ini?” tuntutku.

“Mike Newton dibawa-bawa dalam pembicaraan ini karena akan jauh lebih aman kalau kau berpacaran saja dengan Mike Newton,” geram Edward.

“Lebih baik mati daripada berpacaran dengan Mike Newton.” protesku. “Aku lebih baik mati daripada berpacaran dengan orang lain selain kau.”

“Jangan sok melodramatis, please”

“Kalau begitu, kau juga tidak usah ngomong yang bukan-bukan.”

Edward tidak menjawab. Ia menatap garang ke luar kaca, ekspresinya kosong.

Aku memeras otak, mencari cara untuk menyelamatkan malam ini. Tapi sampai truk berhenti di depan rumahku, aku masih belum menemukan caranya.

“Kau akan menginap malam ini?” tanyaku.

“Sebaiknya aku pulang.”

Hal terakhir yang kuinginkan adalah Edward berkubang dalam perasaan bersalah. “Untuk ulang tahunku,” desakku.

“Tidak bisa dua-duanya—kau ingin orang mengabaikan hari ulang tahunmu atau tidak. Pilih salah satu,” Nadanya kaku, tapi tidak seserius sebelumnya. Diam-diam aku mengembuskan napas lega.

“Oke. Aku sudah memutuskan aku tidak mau kau mengabaikan hari ulang tahunku. Kutunggu kau di atas.”

Aku melompat turun, meraih kado-kadoku. Edward mengerutkan kening.

“Kau tidak perlu membawanya.”

“Aku menginginkannya,” jawabku otomatis, kemudian bertanya-tanya dalam hati apakah Edward menggunakan teknik psikologi terbalik.

“Tidak, itu tidak benar. Carlisle dan Esme mengeluarkan uang untuk membeli kadomu.”

“Tidak apa-apa,” Kudekap kado-kado itu dengan kikuk di bawah lenganku yang tidak terluka, lalu membanting pintu mobil. Kurang dari satu detik Edward sudah keluar dari mobil dan berdiri di sampingku.

“Biar kubawakan paling tidak,” katanya sambil mengambil kado-kado itu dari pelukanku. “Aku akan menemuimu di kamarmu.”

Aku tersenyum. “Trims.”

“Selamat ulang tahun,” bisik Edward, lalu membungkuk untuk menempelkan bibirnya ke bibirku.

Aku berjinjit agar bisa berciuman lebih lama, tapi Edward melepaskan bibirnya. Ia menyunggingkan senyum separonya yang sangat kusukai itu, lalu menghilang di balik kegelapan.

Pertandingan masih berlangsung; begitu berjalan memasuki pintu depan, aku langsung bisa mendengar suara komentator meningkahi soraksorai penonton di televisi.

“Bell?” seru Charlie.

“Hai, Dad,” balasku, muncul dari sudut ruangan. Kurapatkan lenganku ke sisi tubuh. Tekanan itu membuat lukaku berdenyut-denyut, dan aku mengerutkan hidung. Anestesinya mulai kehilangan pengaruhnya ternyata.

“Bagaimana pestanya?” Charlie tidur-tiduran di sofa dengan kaki ditumpangkan di lengan sofa. Rambut cokelat keritingnya kempis di satu sisi.

“Alice merajalela. Bunga, kue tart, lilin, kado— pokoknya komplet.”

“Mereka memberimu kado apa?”

“Stereo untuk trukku.” Dan beberapa kado lain yang belum diketahui isinya.

“Wow”

“Yeah,” aku sependapat. “Well, aku mau tidur dulu.” “Sampai besok pagi.”

Aku melambaikan tangan. “Sampai besok.” “Lenganmu kenapa?”

Wajahku kontan memerah dan mulutku memaki “Aku tadi tersandung. Nggak apa-apa kok”

“Bella,” Charlie mendesah, menggelenggelengkan kepala.

“Selamat malam, Dad.”

Aku bergegas masuk ke kamar mandi, tempatku menyimpan piamaku sebagai persiapan untuk malam-malam seperti ini. Aku memakai tank top dan celana katun sebagai ganti sweter bolongbolong yang biasa kupakai tidur, meringis saat gerakanku membuat jahitan di lenganku tertarik. Dengan satu tangan aku mencuci muka, menyikat gigi, lalu cepat-cepat masuk ke kamar.

Ia sudah duduk di tengah-tengah tempat tidur, malas-malasan mempermainkan salah satu kado perakku.

“Hai,” sapanya. Suaranya sedih. Ia masih menyalahkan dirinya sendiri.

Aku naik ke tempat tidur, menyingkirkan kadokado itu dan tangan Edward, lalu naik ke pangkuannya.

“Hai,” Aku meringkuk di dadanya yang sekeras batu. “Boleh kubuka kadoku sekarang?”

“Mengapa tahu-tahu kau antusias begini?” tanyanya.

“Kau membuatku ingin tahu.”

Kuambil kotak persegi panjang tipis yang pasti kado dari Carlisle dan Esme.

“Biar aku saja,” saran Edward. Diambilnya kado itu dan tanganku dan dirobeknya kertas perak pembungkusnya dengan satu gerakan luwes. Lalu ia menyodorkan kotak putih persegi empat itu padaku.

“Kau yakin aku bisa mengangkat tutup kotaknya?” sindirku, tapi Edward tak mengacuhkan sindiranku.

Kotak itu berisi selembar kertas panjang dan tebal, penuh berisi tulisan. Butuh waktu semenit baru aku bisa mencerna informasi yang tertulis di sana.

“Kita akan pergi ke Jacksonville?” Aku girang bukan main, meski sebenarnya tidak ingin. Kadonya berupa voucher tiket pesawat, untukku dan Edward.

“Begitulah idenya.”

“Aku tak percaya. Renee bakal girang setengah mati! Tapi kau tidak keberatan, kan? Di sana panas terik, jadi kau harus berada di dalam rumah seharian”

“Kurasa itu bisa diatasi,” kata Edward, tapi keningnya berkerut. “Seandainya aku tahu kau akan bereaksi seperti ini, aku akan menyuruhmu membukanya di depan Carlisle dan Esme. Kusangka kau bakal protes.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.