Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

bukankah seharusnya menjadi kepala suku, kalau begitu?”

Jacob tidak menjawab. Ia memandangi hutan yang semakin menggelap, seolah-olah mendadak perlu

berkonsentrasi menemukan jalan.

“Jake?”

“Tidak, itu tugas Sam,” matanya memandang lurus ke

jalan, yang tak terlihat di tengah kerimbunan semak. “Kenapa? kakek buyutnya Levi Uley, bukan? Apakah

Levi juga seorang Alfa?”

“Hanya ada satu Alfa,” Jacob otomatis menjawab.

“Jadi Levi itu apa?”

“Semacam Beta, begitulah,” Jacob mendengus karena

memakai istilahku, “seperti aku.” “Itu tidak masuk akal.”

“Tidak masalah.”

“Aku hanya ingin mengerti.”

Jacob akhirnya balas menatap sorot mataku yang bingung, kemudian mendesah. “Yeah. Seharusnya aku menjadi Alfa.”

Alisku bertaut. “Sam tidak mau turun.”

“Bukan begitu. Justru aku yang tidak mau naik.”

“Kenapa tidak mau?”

Jacob mengerutkan kening, tidak suka mendengar pertanyaan-pertanyaanku. Well, sekarang giliran Jacob merasa jengah.

“Aku tidak menginginkannya Bella. Aku tidak ingin ada yang berubah. Aku tidak mau menjadi kepala suku legendaris. Aku tidak mau menjadi bagian dari sekawanan werewolf, apa lagi menjadi pimpinan mereka. Aku tidak mau menerimanya waktu Sam menawarkan.”

Aku memikirkan perkataannya itu beberapa saat Jacob tidak menyela. Matanya kembali memandangi hutan.

“Tapi kupikir sekarang kau lebih bahagia. Bahwa kau bisa menerimanya dengan baik,” bisikku akhirnya.

Jacob menunduk menatapku sambil tersenyum menenangkan. “Yeah. Sebenarnya memang lumayan. Terkadang mengasyikkan, seperti hal yang akan terjadi besok. Tapi awalnya, rasanya seperti dipaksa ikut wajib militer dan diterjunkan ke medan perang padahal sebelumnya kau tidak tahu perang itu ada. Tidak ada pilihan, kau mengerti? Dan keputusannya sangat final,” Jacob mengangkat bahu. “Bagaimanapun, kurasa aku senang sekarang. Itu memang harus dilakukan, dan dapatkah aku memercayai orang lain untuk melakukannya dengan benar? Lebih baik memastikannya sendiri.”

Aku menatap Jacob, merasakan kekaguman yang tak terduga-duga terhadap temanku ini. Ternyata ia lebih dewasa daripada yang kukira. Seperti Billy malam itu pada acara api unggun, Jacob juga memiliki keagungan yang tidak pernah kusangka ada pada dirinya.

“Kepala Suku Jacob,” bisikku, tersenyum mendengar julukan itu.

Jacob memutar bola matanya.

Saat itulah angin mengguncang pepohonan lebih keras di sekeliling kami, dan rasanya seperti bertiup dari padang es. Bunyi pohon-pohon berderak bergema dari gunung. Walaupun cahaya menghilang ditelan aWan-awan kelabu yang menutupi langit, aku masih bisa melihat bercak-bercak kecil putih berkelebat melewati kami.

Jacob mempercepat langkah, matanya tertuju ke tanah sekarang saat ia berlari secepat-cepatnya. Aku meringkuk pasrah di dadanya,berlindung dari salju yang tidak diharapkan kedatangannya.

Beberapa menit kemudian, setelah melesat mengitari sisi teduh puncak berbatu, barulah kami bisa melihat tenda kecil itu merapat di muka pegunungan. Semakin banyak salju berjatuhan di sekeliling kami, tapi angin bertiup sangat kencang hingga gumpalan salju tak bisa diam di satu tempat.

“Bella,” seru Edward. nadanya amat lega. Kami mendapatinya sedang mondar-mandir gelisah di sepanjang ruang terbuka kecil.

Ia melesat mendekatiku. nyaris terlihat kabur saking cepatnya ia bergerak. Jacob mengernyit, lalu menurunkan

aku dari gendongannya. Edward tidak menggubris reaksinya dan langsung memelukku erat-erat.

“Terima kasih,” kata Edward di atas kepalaku. Tak salah lagi, nadanya terdengar tulus. “Ternyata lebih cepat daripada yang kuharapkan, dan aku benar-benar menghargainya.”

Aku memutar badan untuk melihat respons Jacob.

Jacob hanya mengangkat bahu, semua keramahan tersapu lenyap dari wajahnya. “Bawa dia masuk. Cuaca akan sangat buruk, bulu kudukku meremang semua. Apakah tenda itu kuat?”

“Aku menancapkan pasaknya kuat-kuat ke batu.”

“Bagus.”

Jacob mendongak menatap langit yang sekarang gelap gulita karena amukan badai, ditaburi pusaran-pusaran kecil salju. Cuping hidungnya kembang kempis.

“Aku mau berubah dulu,” katanya. “Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi di rumah.”

Jacob menggantungkan jaketnya di dahan pohon pendek di dekat situ,lalu memasuki hutan yang gelap gulita tanpa menoleh ke belakang lagi.

 

22. API DAN ES

ANGIN kembali mengguncang tenda, dan aku ikut berguncang bersamanya.

Temperatur turun drastis. Aku bisa merasakannya menyusup ke dalam kantong tidurku, menembus jaketku. Aku berpakaian lengkap, sepatu bot hikingku masih terikat di kaki. Tapi itu tidak terlalu berpengaruh. Bagaimana mungkin bisa sedingin ini? Bagaimana hawa bisa terus semakin dingin? Bagaimanapun, temperatur harus mencapai titik terendah juga, bukan?

“J-j-j-j-jam b-b-b-berapa ini?” kupaksa kata-kata itu keluar dari gigiku yang gemeletukkan.

“Jam dua,”jawab Edward.

Edward duduk sejauh mungkin dalam ruangan sempit itu, bahkan takut untuk menghembuskan napasnya ke tubuhku karena aku sudah sangat kedinginan. Hari sudah sangat gelap hingga aku sudah tak bisa melihat wajahnya, tapi suaranya serat kekhawatiran, keraguan dan perasaan frustrasi.

“Mungkin…”

“Tidak, aku b_b_b-b-baik-b-b-b- baik s-s-saja, s-s-ssungguh. Aku tidak mm-m-mau pu-pu-pulang.”

Aku tahu Edward sudah lusinan kali berusaha membujukku untuk lari secepat mungkin dan keluar dari tempat ini, tapi aku takut meninggalkan tempat perlindunganku. Kalau di dalam sini saja sudah sedingin ini, padahal aku terlindung dari amukan badai di luar, tak bisa kubayangkan bila kami lari menembusnya.

Dan itu berarti semua usaha kami sore tadi sia-sia belaka. Apakah kami punya cukup waktu untuk mengulangi semua yang kami lakukan tadi setelah badai berhenti? Bagaimana kalau badai tak kunjung berhenti? Tidak ada gunanya pulang sekarang. Aku tahan kok menggigil semalaman.

Aku cemas semua jejak yang kutinggalkan bakal hilang. Tapi Edward memastikan semuanya pasti masih cukup jelas bagi monster-monster yang akan datang nanti.

“Apa yang bisa kulakukan?” Edward nyaris memohonmohon.

Aku hanya menggeleng.

Di tengah salju di luar, Jacob mendengking tidak senang.

“P-p-p-p-pergi d-d-d-dari sini,” perintahku, sekali lagi.

“Dia hanya mengkhawatirkanmu,” Edward menerjemahkan.

“Dia baik-baik saja. Tubuhnya memang dirancang khusus untuk bisa menghadapi badai semacam ini.”

“D-d-d-d-d.” Sebenarnya aku ingin mengatakan seharusnya Jacob tetap pergi, tapi tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Lidahku bahkan nyaris tergigit waktu mencoba bicara. Setidaknya Jacob sepertinya memang cukup tahan menghadapi salju, bahkan jauh lebih baik daripada rekan-rekan sekawanan ya dengan bulu cokelat kemerahannya yang lebih tebal, lebih panjang. dan gondrong. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa begitu.

Jacob mendengking, suaranya bernada protes yang kasar dan melengking tinggi.

“Memangnya kau harus bagaimana lagi?” geram Edward terlalu gelisah untuk tetap bersikap sopan. “Membopongnya menembus badai ini?” kau sendiri juga tidak melakukan apa pun yang berguna. Kenapa kau tidak pergi saja mengambilkan alat pemanas atau semacamnya?”

“Aku t-t-t-tidak a-a-a-apa-apa,” protesku. Menilik erangan Edward dan geraman pelan di luar tenda, tak seorang pun di antara mereka mempercayai kata-kataku. Angin mengguncang tenda dengan ganasnya, dan aku ikut bergetar.

Suara lolongan tiba-tiba mengoyak raungan angin, dan aku menutup telinga untuk menghalau suara berisik itu. Edward merengut.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.