Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Perasaan malu tiba-tiba menyergapku, membuat ekspresiku langsung berubah.

“Aku tahu, aku tahu,” Sergah Jacob, tidak mengerti. “Menurutmu dia bisa mengalahkan aku.”

Aku tak sanggup berkata apa-apa. Aku membuat kekuatan mereka berkurang satu. Bagaimana kalau ada yang cedera hanya karena aku sangat lemah? Tapi bagaimana kalau aku bersikap berani dan Edward… memikirkannya saja aku tak sanggup.

“Kenapa kau, Bella?” Sikap sok jagoan lenyap dari wajah Jacob, menampilkan Jacob yang asli di baliknya, seperti membuka topeng. “Kalau perkataanku tadi menyinggung perasaanmu, kau tahu aku hanya bergurau. Aku tadi cuma main-main. Tidak ada maksud apa-apa – hei, kau baik-baik saja? Jangan menangis, Bella,” Jacob memohon-mohon.

Aku berusaha menguasai diri. “Aku bukan mau menangis.”

“Memangnya aku bilang apa tadi?”

“Bukan gara-gara perkataanmu. Tapi karena, well, garagara aku sendiri. Aku melakukan sesuatu yang… buruk.”

Jacob menatapku, matanya membelalak bingung.

“Edward tidak akan bertempur besok,” bisikku menjelaskan. “Aku memaksanya tinggal bersamaku. Aku benar-benar pengecut.”

Kening Jacob berkerut. “Kaupikir rencana kita tak akan berhasil? Bahwa mereka akan menemukanmu di sini? Kau mengetahui sesuatu yang aku tidak tahu?”

“Tidak, tidak, bukan itu yang kutakutkan. Aku hanya… aku tidak sanggup membiarkannya pergi. Kalau dia tidak kembali…” Aku bergidik, memejamkan mata untuk mengenyahkan jauh-jauh pikiran itu.

Jacob terdiam.

Aku terus berbisik-bisik, mataku terpejam. “Kalau ada yang celaka, itu akan selalu jadi salahku. Tapi bahkan kalaupun tak ada yang celaka… aku jahat sekali. Pasti begitu karena aku memaksanya tinggal bersamaku. Dia tidak akan menyalahkan aku. Tapi aku akan selalu tahu betapa teganya aku berbuat begini. “Aku merasa sedikit lega setelah mencurahkan semua unek-unek yang menyesaki dadaku. Walaupun aku hanya bisa mengakuinya kepada Jacob.

Jacob mendengus. Mataku perlahan-lahan terbuka, dan aku sedih melihat topeng kaku itu kembali terpasang di wajahnya.

“Sulit dipercaya dia membiarkanmu membujuknya untuk tidak ikut. Kalau aku, aku tidak akan mau melewatkannya demi apa pun.”

Aku mendesah. “Aku tahu.”

“Tapiitu tidak berarti apa-apa,” Jacob tiba-tiba mundur.

‘”Tapi itu tidak berarti dia mencintaimu lebih daripada aku.”

“Tapi kau tidak akan mau tinggal denganku, walaupun aku memohon-mohon.”

Jacob mengerucutkan bibirnya sejenak, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia akan mencoba menyangkalnya. Kami sama-sama tahu hal sebenarnya. “Itu hanya karena aku mengenalmu lebih baik,” jawab Jacob akhirnya. “Semua pasti berjalan mulus tanpa halangan. Walaupun kau memintaku dan aku menolak, kau tidak akan marah padaku sesudahnya.”

“Kalau semuanya benar-benar berjalan mulus tanpa hambatan, mungkin kau benar. Tapi selama kau tidak ada, aku pasti akan sangat khawatir, Jake. Bisa-bisa aku gila.”

“Kenapa?” tanya Jacob parau. “Apa pedulimu bila sesuatu menimpaku?”

“Jangan berkata begitu. Kau tahu betapa berartinya kau bagiku. Aku menyesal tidak bisa menyayangimu seperti yang kauinginkan, tapi memang begitulah adanya. Kau sahabatku. Paling tidak, dulu kau pernah jadi sahabatku. Dan terkadang pun masih… kalau kau bersikap apa adanya.”

Jacob menyunggingkan senyumnya yang dulu sangat kusukai. “Aku selalu menjadi sahabatmu.” janji Jacob. “Bahkan ketika aku tidak… bertingkah sebaik seharusnya. Di balik itu semua, aku selalu ada di sini.”

“Aku tahu untuk apa lagi aku tahan menghadapi semua omong kosongmu?”

Jacob tertawa bersamaku, tapi kemudian matanya sedih. “Kapan kau akhirnya akan menyadari bahwa kau mencintaiku juga?”

“Dasar perusak suasana.”

“Aku tidak berkata kau tidak mencintainya. Aku tidak bodoh. Tapi mungkin saja lebih dari satu orang pada saat bersamaan, Bella. Aku pernah melihat hal semacam itu.”

“Aku bukan werewolf aneh, Jacob.”

Jacob mengernyitkan hidung, dan sebenarnya aku hendak meminta maaf untuk komentar terakhirku itu, tapi ia langsung mengubah topik.

“Sebentar lagi kita sampai, aku bisa mencium baunya.”

Aku menghembuskan napas lega.

Jacob salah menginterpretasikan maksudku. “Dengan senang hati aku akan memperlambat langkahku, Bella, tapi kau pasti ingin segera berlindung sebelum itu melanda.”

Tembok awan hitam – ungu yang tebal berpacu dari arah barat, menghitamkan hutan di bawahnya.

“Wow,” gumamku. “Sebaiknya kau bergegas, Jake. Kau harus sudah sampai di rumah sebelum badai datang.”

“Aku tidak pulang.”

Kupandangi dia dengan garang, putus asa. “Kau tidak boleh berkemah dengan kami.”

“Teknisnya tidak, maksudnya, tidak satu tenda dengan kalian atau apa. Aku lebih suka kehujanan dalam badai daripada mencium baunya. Tapi aku yakin si penghisap darahmu pasti ingin bisa tetap berhubungan dengan kawananku sehingga tetap bisi berkoordinasi, jadi dengan murah hati aku akan menyediakan jasa itu.”

“Lho, kupikir itu tugasnya Seth.”

“Dia akan mengambil alih tugas itu besok, selama pertarungan.”

Ingatan itu sempat membuatku terdiam sejenak. Kupandangi dia, kekhawatiran kembali menghantamku dengan kekuatan penuh.

“Kurasa tidak mungkin kau bersedia tetap di sini karena kau toh kau sudah ada di sini sekarang?” saranku. “Bagaimana kalau aku benar-benar memohon? atau menggantinya dengan kesediaanku menjadi budakmu seumur hidup atau semacamnya?”

“Menggoda, tapi tidak. Bagaimanapun, mungkin menarik juga melihatmu memohon-mohon. Kau boleh melakukannya sekarang kalau mau.”

“Jadi benar-benar tidak ada, tidak ada sama sekali, yang bisa kulakukan untuk membujukmu?”

“Tidak, tidak kecuali kau bisa menjanjikan pertempuran lain yang lebih baik untukku. Lagi pula Sam yang menentukan semuanya, bukan aku.”

Perkataannya itu membuatku mendadak teringat.

“Tempo hari Edward menceritakan sesuatu… mengenai kau.”

Jacob gelisah. “mungkin itu bohong.”

“Oh,begitu ya? jadi kau bukan orang kedua dalam kawananmu?”

Jacob mengerjap,wajahnya mendadak kosong karena terkejut. “Oh, itu.”

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?”

“Untuk apa? Itu bukan hal penting.”

“Entahlah. Kenapa tidak? Itu menarik sekali. Jadi, bagaimana pengaruhnya? Bagaimana ceritanya Sam bisa menjadi Alfa, sementara kau… eh, jadi Beta?”

Jacob terkekeh mendengar istilah rekaanku itu. “Sam yang pertama, yang tertua. Jadi masuk akal bila dia yang memimpin.”

Aku mengerutkan kening. “Tapi bukankah seharusnya Jared atau Paul menjadi yang kedua, kalau begitu? Mereka berdualah yang berikutnya berubah.”

“Well… sulit menjelaskannya,” kata Jacob dengan sikap menghindar.

“Coba saja.”

Jacob mengembuskan napas. “Alasannya lebih karena garis keturunan, kau mengerti? Agak kuno, memang. Memangnya kenapa kalau kakekmu siapa, begitu kan?”

Aku teringat kisah yang pernah diceritakan Jacob padaku dulu sekali, sebelum kami tahu tentang werewolf.

“Bukankah dulu kau pernah cerita Ephraim Black adalah kepala suku Quileute terakhir?”

“Yeah, itu benar. Karena dia si Alfa. Tahukah kau bahwa teknisnya, Sam adalah kepala seluruh suku?” Jacob tertawa.

“Tradisi sinting.”

Aku memikirkan itu sejenak, berusaha menyatukan berbagai kepingan yang terserak. “Tapi kau pernah bercerita orang-orang lebih patuh kepada ayahmu ketimbang orang-

orang di dewan suku karena ayahmu cucu Ephraim?”

“Lantas kenapa?”

“Well, kalau masalahnya adalah garis keturunan…

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.