Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kau tidak perlu berlari. Nanti kau capek.”

“Berlari tidak membuatku capek,” tukas Jacob. Napasnya datar, seperti tempo teratur pelari maraton. “Lagi pula, hawa sebentar lagi mendingin. Mudah-mudahan dia sudah selesai mendirikan tenda sebelum kita sampai di sana.”

Aku mengetuk-ngetukkan jariku ke lapisan jaketnya yang tebal. “Kupikir kau sudah tidak kedinginan lagi sekarang.”

“Memang tidak. Aku membawanya untukmu, untuk berjaga-jaga siapa tahu kau tidak siap.” Dipandanginya jaketku, seolah-olah nyaris kecewa karena ternyata aku sudah siap menghadapi hawa dingin. “Aku tidak suka melihat keadaan cuaca. Membuatku gelisah. Kauperhatikan tidak kalau sejak tadi tidak tampak seekor binatang pun?”

“Eh, tidak juga.”

“Sudah kukira kau tidak memperhatikan. Panca inderamu terlalu tumpul.”

Aku tidak menanggapi komentarnya. “Alice juga mengkhawatirkan keadaan cuaca.”

“Kalau hutan sampai sesunyi ini, pasti akan terjadi sesuatu. ‘Hebat’ juga kau, memilih hari ini untuk berkemah.”

“Itu kan bukan ideku sepenuhnya.”

Rute tanpa jalan yang diambil Jacob mulai mendaki dan semakin lama semakin curam, tapi itu tidak membuat larinya melambat. Dengan enteng ia melompat dari satu batu ke batu lain, seperti tidak membutuhkan tangan sama sekali. Keseimbangannya yang sempurna mengingatkanku pada kambing gunung.

“Benda tambahan apa itu di gelangmu?” tanyanya.

Aku menunduk, dan menyadari bandul berbentuk hati dari kristal itu menghadap ke atas di pergelangan tanganku.

Aku mengangkat bahu dengan sikap bersalah. “Hadiah kelulusan juga.”

Jacob mendengus.”Batu. Pantas.”

Batu? Tiba-tiba saja aku teringat perkataan Alice yang setengah selesai di luar garasi tadi. Kupandangi kristal putih cemerlang itu dan berusaha mengingat-ingat komentar Alice sebelumnya… tentang berlian. Mungkinkah ia hendak mengatakan dia sudah memberimu sebutir berlian? seolaholah,aku sudah memakai sebutir berlian pemberian Edward? Tidak, itu tidak mungkin. Kalau bandul hati ini berlian, ukurannya pasti lima karat atau sebangsanya! Edward tidak mungkin…

“Sudah lama sekali kau tidak pernah datang lagi ke La Push,” Kata Jacob, menginterupsi dugaan-dugaan yang mengusikku.

“Aku sibuk,” dalihku. “Dan… mungkin aku memang sedang tidak ingin ke sana.”

Jacob meringis. “Kupikir kaulah yang seharusnya mudah memaafkan orang, dan aku yang mendendam.”

Aku mengangkat bahu.

“Kau pasti sering memikirkan peristiwa waktu itu, kan?”

“Tidak.”

Jacob tertawa. “Kalau kau tidak bohong, berarti kau orang paling keras kepala yang pernah hidup.”

“Entahlah kalau aku memang yang terakhir itu, tapi aku tidak berbohong.”

Aku tidak suka membicarakan hal itu dalam situasi seperti sekarang – ketika lengannya yang panas memelukku erat-erat, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa mengenainya. Wajahnya terlalu dekat denganku. Kalau saja aku bisa mundur selangkah untuk menjauhinya.

“Orang yang cerdas memandang keputusan dari segala sisi.”

“Aku sudah melakukannya,” dengusku.

“Kalau kaubilang sama sekali tidak pernah memikirkan… eh, pembicaraan kita waktu terakhir kali kau datang, berarti itu tidak benar.”

“Pembicaraan itu tak ada hubungannya sama sekali dengan keputusanku.”

“Beberapa orang memang rela melakukan apa saja untuk menipu diri sendiri.”

“Menurut pengamatanku, werewolf-lah yang cenderung melakukan kesalahan itu, menurutmu itu ada kaitannya dengan masalah genetis atau tidak?”

“Apakah itu berarti ciumannya lebih dahsyat daripada ciumanku?” tanya Jacob, mendadak muram.

“Aku tak bisa menilainya, Jacob. Edward satu-satunya yang pernah menciumku.”

“Selain aku.”

“Tapi bagiku itu tidak bisa dihitung sebagai ciuman, Jacob. Menurutku itu lebih merupakan penyerangan.”

“Aduh! Sinis sekali.”

Aku mengangkat bahu. “Aku tidak berniat menarik kembali ucapanku.”

“Aku kan sudah meminta maaf padamu tentang hal itu.” Jacob mengingatkan.

“Dan aku sudah memaafkanmu… sebagian besar. Tapi itu tidak mengubah caraku mengingatnya.”

Jacob menggerutu panjang lebar.

Lalu suasana sunyi sebentar, yang terdengar hanya suara tarikan napas Jacob yang terukur serta angin yang meraungraung di pucuk-pucuk pepohonan di atas kami. Tebing tinggi menjulang di sebelah kami, batu kelabu kasar telanjang. Kami mengikuti dasarnya yang melengkung keluar dari hutan.

“Aku tetap berpendapat itu sangat tidak bertanggung jawab,” kata Jacob tiba-tiba.

“Apa pun yang kaumaksud, kau salah.”

“Pikirkan saja, Bella. Menurutmu, kau hanya pernah berciuman dengan satu orang – yang sebenarnya bukan orang sungguhan – seumur hidupmu, tapi belum-belum kau sudah mau menikah. Bagaimana kau tahu apa yang kau inginkan? Bukankah seharusnya kau mencoba berhubungan dulu dengan beberapa orang?”

Aku berusaha agar nadaku tetap terdengar dingin. “Aku tahu persis apa yang kuinginkan.”

“Kalau begitu, tidak ada salahnya mengecek ulang, mungkin sebaiknya kau coba mencium orang lain dulu, hanya untuk membandingkan… karena apa yang terjadi waktu itu tidak masuk perhitungan. Kau bisa menciumku, contohnya. Aku tidak keberatan kalau kau ingin memakaiku untuk eksperimen.”

Jacob mendekapku lebih erat ke dadanya,sehingga wajahku dekat sekali dengan wajahnya. Ia tersenyumsenyum mendengar leluconnya sendiri,tapi aku tidak mau mengambil resiko.

“Jangan macam-macam denganku, Jake. Aku bersumpah tidak akan menghalangi Edward kalau dia mau meremukkan rahangmu.”

Sedikit nada panik dalam suaraku malah membuat senyumnya semakin lebar. “kalau kau memintaku menciummu, dia tidak akan punya alasan untuk marah. Katanya itu tidak apa-apa.”

“Jangan menahan napas dan berharap, Jake, tidak, tunggu, aku berubah pikiran. Silakan saja. Tahan napasmu sampai aku memintamu menciumku.”

“Suasana hatimu sedang jelek hari ini.”

“Entah kenapa, ya?”

“Kadang-kadang aku berpikir kau lebih menyukaiku kalau kau berwujud serigala.”

“Kadang-kadang memang begitu. Mungkin itu karena kau tidak bisa bicara.”

Jacob mengerucutkan bibirnya yang tebal dengan sikap berpikir-pikir. “Tidak, kurasa bukan karena itu. Kurasa mungkin lebih mudah bagimu berada di dekatku kalau aku tidak sedang menjadi manusia, karena kau tidak perlu berpura-pura tidak tertarik padaku.”

Mulutku ternganga dengan suara tersentak kaget. Aku langsung mengatupkannya lagi, menggertakkan gigi-gigiku.

Jacob mendengarnya. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke belakang, membentuk senyum penuh kemenangan.

Aku menghela napas lambat-lambat sebelum berbicara. “Tidak,aku yakin itu karena kau tidak bisa bicara.”

Jacob mendesah. “Pernahkah kau lelah membohongi diri sendiri? Kau pasti tahu betapa kau menyadari keberadaanku. Secara fisik, maksudku.”

“Bagaimana mungkin orang tidak menyadari keberadaanmu secara fisik,Jacob?” tuntutku. “Kau monster raksasa yang tidak menghargai ruang pribadi orang lain.”

“Aku membuatmu gugup. Tapi hanya saat aku berwujud manusia.”

“Gugup tidak sama dengan jengkel.”

Jacob menatapku beberapa saat, memperlambat larinya dan berjalan, sorot geli surut dari wajahnya. Matanya menyipit, berubah hitam di bawah naungan bayang-bayang alisnya. Tarikan napasnya, yang sangat teratur saat ia berlari, kini mulai berpacu. Pelan-pelan ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Kubalas tatapannya, tahu persis apa yang hendak ia lakukan.

“Wajahmulah penyebabnya,” Aku mengingatkan dia.

Jacob tertawa keras sekali, lalu mulai berlari lagi. “Aku tidak benar-benar ingin berkelahi dengan vampirmu malam ini, maksudku, kalau malam lain, boleh-boleh saja. Tapi kami punya tugas besok, dan aku tidak ingin membuat kekuatan keluarga Cullen berkurang satu.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.