Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Well, walaupun kemauannya dituruti, kita bisa tetap merayakannya secara sederhana. Hanya kita, Emmet bisa mendapatkan izin untuk menikahkan orang dari internet.”

Aku terkikik. “Kedengarannya boleh juga.” Tidak akan terlalu resmi bila Emmet yang membacakan janji pernikahan, dan justru itu merupakan kelebihan. Tapi aku pasti susah menahan diri untuk tidak tertawa.

“Betul, kan,” ucap Edward sambil tersenyum. “Semua pasti bisa dikompromikan.”

Dibutuhkan beberapa saat untuk mencapai tempat pasukan vampir baru dipastikan akan menemukan jejakku, tapi Edward tidak pernah merasa tidak sabar dengan gerakanku yang lamban.

Namun ia harus menunjukkan jalan padaku dalam perjalanan pulang. Supaya aku tetap berada di jalur yang sama. Semuanya tampak sama saja di mataku.

Kami sudah hampir sampai di lapangan ketika aku terjatuh. Aku bisa melibat tanah lapang di depan, dan mungkin karena itulah aku terlalu bersemangat dan tidak memperhatikan Jalan. Tahu-tahu aku terjerembab dan kepalaku membentur pohon terdekat, tapi sebatang ranting kecil patah di bawah tangan kiriku dan menusuk telapak tanganku.

“Aduh! Wah, benar-benar bagus,” gerutuku.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja. Tetaplah di tempatmu. Aku berdarah. Sebentar lagi pasti akan berhenti.”

Edward mengabaikan laranganku. Ia sudah mendekat sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku.

“Aku punya kotak P3K,” katanya,mengeluarkan benda itu dari ranselnya. “Aku punya firasat aku bakal membutuhkannya.”

“Tidak parah kok. Aku bisa membereskannya sendiri, kau tidak perlu membuat dirimu tidak nyaman.”

“Siapa bilang aku tidak nyaman,” tukas Edward kalem, “kemarilah, biar kubersihkan.”

“Tunggu sebentar, aku punya ide lain.”

Tanpa menatap darah dan bernapas lewat mulut, untuk berjaga-jaga siapa tahu perutku mengamuk, aku menekankan tanganku ke batu di dekatku.

“Apa-apan kau?”

“Jasper pasti senang sekali,” gumamku pada diri sendiri. Aku kembali berjalan ke lapangan, menempelkan telapak tanganku ke semua benda yang kutemui di sepanjang jalan setapak. “Taruhan, ini pasti akan benar-benar membuat mereka kalap.”

Edward menghembuskan napas.

“Tahan napasmu,” kataku.

“Aku tidak apa-apa. Menurutku, sikapmu berlebihan.”

“Kan tugasku hanya ini. Aku ingin melakukannya sebaik mungkin.”

Kami keluar dari balik kerimbunan sementara aku berbicara. Kubiarkan tanganku yang luka menyapu pakispakisan.

“Well, kau sudah melakukannya dengan baik,” Edward meyakinkanku. “Para vampire baru itu pasti akan kalap, dan Jasper akan sangat terkesan pada dedikasimu. Sekarang izinkan aku merawat tanganmu, lukamu jadi kotor.”

“Biar aku saja, please.”

Edward meraih tanganku dan tersenyum saat mengamatinya. “ini tidak lagi membuatku terusik.”

Kupandangi Edward lekat-lekat sementara ia membersihkan lukaku, mencari tanda-tanda kekalutan. Ia tetap menarik napas dan menghembuskannya lagi dengan sikap biasa-biasa saja, senyum kecil yang sama tersungging di bibirnya.

“Kenapa tidak?” akhirnya aku bertanya ketika Edward menempelkan plester di telapak tanganku.

Edward mengangkat bahu. “Aku sudah bisa mengatasinya.”

“Kau… sudah mengatasinya? Kapan? Bagaimana?” Aku mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali Edward menahan napas saat berdekatan denganku. Seingatku itu saat ulang tahunku yang terakhir, September silam.

Edward mengerucutkan bibir, seperti mencari kata-kata yang tepat. “Aku pernah mengalami 24 jam yang mengerikan, mengira kau sudah mati, Bella. Itu mengubah cara pandangku terhadap banyak hal.”

“Apakah itu mengubah bauku bagi penciumanmu?”

“Sama sekali tidak. Tapi… setelah mengalami bagaimana rasanya mengira aku telah kehilangan dirimu…reaksiku

berubah. Seluruh keberadaanku menolak melakukan apa pun yang dapat memicu timbulnya penderitaan seperti itu lagi.”

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Edward tersenyum melihat ekspresiku. “Kurasa kau bisa menyebutnya pengalaman yang sangat mendidik.”

Saat itulah angin berembus kencang menerpa lapangan, menerbangkan rambutku hingga mengelilingi wajah dan membuat tubuhku bergetar.

“Baiklah,” ujar Edward, merogoh ranselnya lagi. “Kau sudah selesai melakukan tugasmu.” Ia mengeluarkan jaket musim dinginku yang tebal dan menyodorkannya supaya aku bisa memakainya. “Sekarang,beres sudah. Ayo kita pergi berkemah!”

Aku tertawa mendengar nada pura-pura antusias dalam suara Edward.

Edward meraih tanganku yang berplester – tanganku yang lain masih belum sepenuhnya pulih, masih memakai penyangga, dan mulai berjalan ke sisi lain lapangan.

“Di mana kita akan bertemu Jacob?” tanyaku.

“Di sini,” Edward melambai ke arah pepohonan di depan kami. Dan pada saat itu juga Jacob melangkah keluar dengan sikap waswas dari balik bayang-bayang.

Seharusnya aku tidak perlu kaget melihatnya dalam wujud manusia. Tapi entah kenapa aku mengira akan melihat serigala besar berbulu cokelat kemerahan.

Lagi-lagi Jacob tampak lebih besar, tak diragukan lagi itu karena aku memang mengharapkannya; tanpa sadar, diamdiam aku pasti berharap melihat Jacob kecil yang kuingat, temanku yang santai, yang tidak membuat segala sesuatunya rumit seperti sekarang. Ia melipat kedua lengannya di dadanya yang telanjang, mencengkeram jaket. Wajahnya menatap kami tanpa ekspresi.

Sudut-sudut bibir Edward tertarik ke bawah. “Pasti ada cara lain yang lebih baik untuk melakukan ini.”

“Sekarang sudah terlambat,” gerutuku muram.

Edward mendesah.

“Hai, Jake,” aku menyapanya saat kami sudah lebih dekat dengannya.

“Hai, Bella.”

“Halo, Jacob,” sapa Edward.

Jacob tak peduli dengan basa basi, sikapnya resmi. “Aku harus membawanya ke mana?”

Edward mengeluarkan peta dari saku samping ransel dan menyerahkannya kepada Jacob. Jacob membuka lipatannya.

“Sekarang kita di sini,” kata Edward, mengulurkan tangan untuk menyentuh titik yang dimaksud. Jacob otomatis berjengit untuk menghindar, tapi kemudian menenangkan diri. Edward pura-pura tidak melihat.

“Dan kau harus membawa dia ke sini,” lanjut Edward, menyusuri pola berkelok-kelok di sekitar garis ketinggian di peta itu. “Perkiraan kasarnya empat belas setengah kilometer.”

Jacob mengangguk satu kali.

“kira-kira satu setengah kilometer dari sini, kau akan melintasi jalanku. Kau bisa mengikutinya dari sana. Kau membutuhkan peta ini?”

“Tidak, terima kasih. Aku sangat mengenal kawasan ini. Kurasa aku tidak akan tersesat.”

Jacob sepertinya harus berusaha lebih keras daripada Edward untuk bersikap lebih sopan.

“Aku akan mengambil rute lebih panjang,” kata Edward. “Sampai jumpa beberapa jam lagi.”

Edward menatapku dengan sikap tidak senang. Ia tidak menyukai bagian rencana yang ini.

“Sampai nanti,” gumamku.

Edward lenyap ditelan pepohonan, menuju arah berlawanan.

Begitu tidak kelihatan lagi, sikap Jacob langsung berubah ceria.

“Bagaimana kabarmu,Bella?” tanyanya sambil nyengir lebar.

Aku memutar bola mataku. “Biasa-biasa saja.”

“Yeah,” Jacob sependapat. “Segerombolan vampir berusaha membunuhmu. Biasalah.”

“Biasalah.”

“Well,” ucapnya, mengenakan jaketnya supaya kedua tangannya bisa bergerak bebas. “Ayo kita berangkat.”

Sambil mengernyit, aku maju mendekatinya.

Jacob membungkuk dan menyapukan lengannya ke belakang lututku, meraupnya tiba-tiba. Lengan satunya menangkap tubuhku sebelum kepalaku membentur tanah.

“Dasar,” omelku.

Jacob terkekeh, sudah berlari menembus pepohonan. Ia berlari dengan langkah-langkah mantap, cukup cepat untuk

bisa diimbangi manusia yang segar bugar… di tanah datar… tanpa membawa beban sekian puluh kilogram seperti yang dilakukannya sekarang.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.