Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Bella?” tanya Alice dengan nada sedih,bergeser ke sisiku. Suaranya terdengar begitu merana hingga aku memeluk bahunya dengan sikap menghibur.

“Ada apa, Alice?”

“Apakah kau tidak sayang padaku?” tanyanya dengan nada sedih yang sama.

“Tentu saja sayang, kau tahu itu.”

“Kalau begitu, kenapa aku melihatmu diam-diam pergi ke Vegas untuk menikah tanpa mengundangku?”

“Oh,” gerutuku, pipiku berubah menjadi pink. Kentara sekali aku benar-benar telah melukai perasaanya, maka aku pun cepat-cepat membela diri. “Kau tahu aku tidak suka perayaan besar-besaran. Tapi itu ide Edward.”

“Aku tidak peduli itu ide siapa. Tega-teganya kau berbuat begini padaku? Kalau Edward yang melakukannya, aku tidak kaget, tapi bukan kau. Aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri.”

“Bagiku, Alice, kau memang saudariku.”

“Ah, omong kosong!” geramnya.

“Baiklah, kau boleh ikut. Toh tidak banyak yang bisa dilihat.”

Alice masih terus meringis.

“Apa?” tuntutku.

“Seberapa besar rasa sayangmu padaku, Bella?”

“Kenapa?”

Ia menatapku dengan sorot memohon, alis hitamnya yang panjang mencuat ke atas di tengah dan berkerut menjadi satu, sudut-sudut bibirnya bergerak. Sungguh ekspresi yang mengibakan.

“Please, please, please,” bisiknya. “Please, Bella, please, kalau kau benar-benar menyayangiku… Please, izinkan aku mengurus acara pernikahanmu.”

“Aduh, Alice!” erangku, melepaskan diri dan berdiri tegak. “Tidak!jangan lakukan ini padaku.”

“Kalau kau benar-benar, sungguh-sungguh sayang padaku, Bella.”

Aku bersedekap. “Itu sungguh tidak adil. Dan Edward juga memakai alasan yang sama untuk membuatku menuruti kemauannya.”

“Aku berani bertaruh Edward pasti lebih suka kau melakukannya secara tradisional, walaupun dia takkan pernah mengatakannya padamu. Dan Esme, bayangkan betapa akan sangat berartinya ini bagi dia!”

Aku mengerang. “Aku lebih suka menghadapi vampire-vampire baru sendirian.”

“Aku akan berutang budi padamu selama satu dekade.”

“Kau akan berutang budi padaku selama satu abad.”

Mata Alice berbinar. “Jadi itu berarti, Ya?”

“Tidak! Aku tidak mau melakukannya.”

“Kau tidak melakukan apa-apa kecuali berjalan sejauh beberapa meter, kemudian mengulangi apa yang diucapkan pendeta.”

“Ugh! ugh,ugh!”

“Please!”Alice mulai melompat-lompat kecil. “Please, please, please, please, please?”

“Aku tidak pernah, tidak akan pernah memaafkanmu untuk perbuatanmu ini, Alice.”

“Hore!”pekik Alice, bertepuk tangan.

“Itu bukan mengiyakan!”

“Tapi kau akan mengiyakannya,” dendangnya.

“Edward!” teriakku, menghambur keluar garasi dengan mengentak-entak. “aku tahu kau mendengarkan. Kemarilah,” Alice menyusul tepat di belakangku, masih bertepuk tangan.

“Terima kasih banyak, Alice,” tukas Edward masam, muncul dari belakangku. Aku berbalik untuk menyemprotnya, tapi ekspresi Edward begitu waswas dan kalut hingga aku tak mampu menyuarakan protesku. Aku malah memeluknya, menyembunyikan wajahku, berjagajaga supaya mataku yang berair saking marahnya tidak dikira sebagai tangisan.

“Vegas,” Edward berjanji di telingaku.

“Tidak mungkin.” Alice menyombong. “Bella tidak mungkin tega melakukannya padaku. Kau tahu, Edward, sebagai saudara, kadang-kadang kau membuatku kecewa.”

“Jangan bersikap kejam,” omelku pada Alice. “Dia berusaha membuatku bahagia, tidak seperti kau.”

“Aku juga berusaha membuatmu bahagia, Bella. Tapi aku lebih tahu apa yang membuatmu bahagia… suatu saat nanti. Kelak kau akan berterima kasih padaku. Mungkin tidak selama lima puluh tahun pertama, tapi pasti suatu saat nanti.”

“Aku tidak pernah mengira akan tiba suatu saat hari ketika aku bersedia bertaruh melawanmu, Alice, tapi hari itu telah datang.”

Alice mengumandangkan tawa merdunya. “Jadi bagaimana, mau menunjukkan cincinnya padaku, tidak?”

Aku meringis ngeri saat Alice menyambar tangan kiriku tapi dengan cepat menjatuhkannya lagi.

“Hah. Padahal aku melihat Edward memasukkannya ke jarimu… Apakah ada yang terlewat?” tanyanya. Ia berkonsentrasi selama setengah detik, dahinya berkerut, sebelum menjawab pertanyaannya sendiri. “Tidak. Rencana pernikahan tidak berubah.”

“Bella hanya tidak suka memakai perhiasan,” Edward menjelaskan.

“Apa bedanya sebutir berlian lagi? Well, cincin itu memang memiliki banyak berlian, tapi maksudku dia kan sudah memberimu se…”

“Cukup Alice!” Edward tiba-tiba memotongnya. Caranya memelototi Alice… ia jadi kelihatan seperti vampire. “Kami buru-buru.”

“Aku tidak mengerti. Apa maksud Alice dengan berlianberlian itu?” tanyaku.

“Nanti saja kita bicarakan,” tukas Alice. “Edward benar, sebaiknya kalian segera berangkat. Kalian harus menyiapkan perangkap dan mendirikan kemah sebelum badai datang.” Alice mengerutkan kening dan ekspresinya cemas, hampir-hampir gugup. “Jangan lupa membawa mantel Bella. Sepertinya cuaca akan… sangat dingin, di luar kebiasaan.”

“Semuanya sudah siap,” Edward meyakinkan Alice.

“Semoga sukses,” kata Alice sebagai salam perpisahan.

Rute yang kami tempuh untuk mencapai lapangan dua kali lebih panjang daripada biasa, Edward sengaja memutar jauh-jauh, memastikan bau badanku tidak berada di dekat jejak yang akan disembunyikan Jacob nanti. Ia membopongku, ransel gembung menjadi tempatku bertengger, seperti biasa.

Ia berhenti di bagian paling ujung lapangan, lalu menurunkan aku.

“Baiklah. Sekarang berjalanlah ke utara, sentuh sebanyak mungkin benda yang bisa kausentuh. Alice memberiku gambaran jelas rentang rute yang akan mereka tempuh, jadi tidak butuh waktu lama bagi kami untuk memotongnya.”

“Utara?”

Edward tersenyum dan menunjuk ke arah yang benar.

Aku berjalan memasuki hutan,meninggalkan sinar matahari kuning jernih yang menerpa lapangan rumput di belakangku. Mungkin penglihatan Alice yang sedikit kabur keliru mengenai salju itu. Mudah-mudahan saja begitu. Sebagian besar langit jernih,walaupun angin bertiup kencang di tempat-tempat terbuka. Di antara pepohonan angin bertiup lebih tenang, tapi hawa memang terlalu dingin untuk bulan Juni,walaupun sudah mengenakan kemeja lengan panjang yang dilapisi sweter tebal,bulu di lenganku masih saja meremang. Aku berjalan lambat, jarijariku menelusuri apa saja yang berada cukup dekat denganku, kulit pohon yang kasar, pakis yang basah, bebatuan yang ditutupi lumut.

Edward mengikuti,berjalan lurus di belakang, kira-kira delapan belas meter jauhnya.

“Aku melakukannya dengan benar?” seruku.

“Sempurna.”

Aku mendapat ilham. “ini bisa membantu?” tanyaku sambil menyusupkan jari-jariku ke rambut dan mengambil beberapa helai rambut yang terlepas. Kuletakkan semuanya di atas tumbuhan pakis-pakisan.

“Ya itu membuat jejaknya semakin kuat. Tapi kau tidak perlu mencabuti rambutmu, Bella. Ini saja sudah cukup.”

“Ah, rambutku masih banyak kok.”

Suasana gelap di bawah pepohonan, dan aku ingin bisa berjalan lebih dekat dengan Edward dan menggandeng tangannya.

Kuselipkan sehelai rambut lagi ke ranting patah yang menghalangi jalan setapak yang kulewati.

“Sebenarnya kau tidak perlu menuruti kemauan Alice,” kata Edward.

“Kau tidak usah mengkhawatirkan itu, Edward. Aku tidak akan meninggalkanmu di altar karena itu.” Dengan perasaan kecut aku sadar Alice tetap akan mendapatkan apa yang la inginkan, terutama karena ia tak bisa digoyahkan bila menginginkan sesuatu, dan juga karena aku tak pernah kuat menanggung perasaan bersalah.

“Bukan itu yang kukhawatirkan. Aku hanya ingin pernikahan ini berjalan sesuai dengan keinginanmu.”

Aku menahan diri untuk tidak mendesah. Aku hanya akan menyinggung perasaannya kalau mengatakan yang sebenarnya, bahwa itu tidak penting, hanya beberapa derajat lebih buruk daripada yang lainnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.