Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kau menyukainya, kan?” tanyaku curiga, menggerakkan jari-jariku dan berpikir sungguh sayang bukan tangan kiriku yang patah kemarin.

Edward mengangkat bahu. “Tentu,” jawabnya, lagaknya masih biasa-biasa saja. “Kelihatannya sangat manis di jarimu.”

Kutatap matanya, berusaha menerka-nerka emosi apa yang membara tepat di balik permukaannya. Edward membalas tatapanku, dan kepura-puraannya mendadak lenyap. Ia berseri-seri, wajah malaikatnya cemerlang karena kegembiraan dan kemenangan. Ia begitu rupawan hingga membuatku tersentak.

Sebelum aku sempat pulih dari kekagetanku.. Edward sudah menciumku, bibirnya menunjukkan kegembiraannya.

Kepalaku ringan saat ia memindahkan bibirnya untuk berbisik di telingaku – tapi napasnya sama memburunya dengan napasku.

“Ya, aku menyukainya. Kau tidak tahu bagaimana rasanya.”

Aku tertawa, terkesiap sedikit. “Aku percaya padamu.”

“Kau keberatan kalau aku melakukan sesuatu?” bisiknya, kedua lengannya memelukku lebih erat.

“Apa pun yang kauinginkan.”

Tapi Edward melepas pelukannya dan bergeser menjauh.

“Apa pun kecuali itu,” protesku.

Edward tak menggubris protesku, meraih tanganku, dan menarikku turun dari tempat tidur. ia berdiri di depanku, kedua tangan memegang bahuku, wajahnya serius.

“Nah, aku ingin melakukannya dengan benar. Please, please, ingatlah bahwa kau sudah setuju dengan hal ini, jadi jangan merusaknya.”

“Oh, tidak,” seruku tertahan ketika Edward berlutut dengan satu kaki.

“Bersikaplah yang manis,” bisiknya.

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Isabella Swan?” Edward menengadah, menatapku dari balik bulu matanya yang panjang. mata emasnya lembut tapi, entah bagaimana, tetap membara. “Aku berjanji akan mencintaimu selamanya, setiap hari selamanya. Maukah kau menikah denganku?”

Banyak sekali yang ingin kukatakan, sebagian di antaranya sama sekali tidak bagus, dan yang lainnya bahkan lebih cengeng dan romantis daripada yang mungkin kubayangkan Edward bisa kukatakan. Daripada mempermalukan diri sendiri,aku berbisik. “Ya.”

“Terima kasih,” hanya itu jawaban Edward. Ia meraih tangan kiriku dan mengecup setiap ujung jari sebelum mengecup cincin yang kini menjadi milikku.

 

21. JEJAK-JEJAK

AKU tidak suka menyia-nyiakan malam ini dengan tidur, tapi itu tak bisa dihindari. Matahari terang benderang di luar dinding kaca waktu aku terbangun, dengan awanawan kecil berarak terlalu cepat melintasi langit. Angin menggoyangkan puncak-puncak pohon hingga seluruh penjuru hutan terlihat seperti terguncang.

Edward meninggalkan aku sendirian untuk berganti baju, dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berpikir. Entah bagaimana, rencanaku semalam berantakan, dan aku butuh waktu untuk menerima seluruh konsekuensinya. Walaupun aku sudah mengembalikan cincin warisan itu sesegera mungkin tanpa melukai perasaannya, tangan kiriku teras lebih berat, seakan-akan benda itu masih melekat di sana, hanya tidak kasatmata.

Seharusnya ini tidak membuatku merasa terganggu, aku beralasan. Ini toh bukan hal besar,hanya naik mobil ke Vegas. Aku akan mengenakan pakaian yang lebih baik daripada jeans belel, aku akan memakai kaos usang. Upacarnya pasti tidak bakal lama, tidak mungkin lebih dari lima belas menit,bukan? Jadi aku pasti bisa menghadapinya.

Kemudian, kalau semua sudah selesai, Edward harus menepati bagian janjinya. Aku akan berkonsentrasi pada hal itu, dan melupakan yang lain.

Kata Edward,aku tidak harus memberitahu siapa-siapa, dan aku berencana membuatnya menepati hal itu. Tentu saja, sungguh bodoh aku sampai tidak teringat kepada Alice.

Keluarga Cullen sampai di rumah menjelang tengah hari. Mereka terkesan siap dan serius, dan itu menyentakkan ingatanku kembali ke betapa seriusnya masalah yang akan segera kami hadapi.

Tidak seperti biasanya, suasana hati Alice sepertinya sedang buruk. Kupikir itu gara-gara ia frustrasi karena merasa normal, menilik kata-kata pertamanya kepada Edward yang berupa keluhan karena mereka bekerja sama dengan serigala.

“Kaupikir,” Alice mengernyit saat menggunakan kata yang tidak pasti itu. “Ada baiknya kau menyiapkan perbekalan untuk menghadapi cuaca dingin, Edward. Aku tidak bisa melihat persisnya di mana kau berada nanti, karena kau akan pergi bersama anjing itu siang nanti. Tapi badai sepertinya lumayan buruk di kawasan sekitar sana.”

Edward mengangguk.

“Akan turun salju di pegunungan,” Alice mengingatkan.

“Waduh, salju.” Aku menggerutu. Sekarang bulan Juni, demi Tuhan.

“Pakai jaket,” Alice memberi tahuku. Nadanya tidak ramah dan itu membuatku kaget. Aku mencoba membaca wajahnya, tapi ia membuang muka.

Kutatap Edward,dan ia tersenyum, apa pun yang membuat Alice kesal justru membuatnya geli.

Perlengkapan berkemah Edward sangat lengkap, properti untuk melengkapi sandiwara mereka sebagai manusia, keluarga Cullen merupakan pelanggan setia toko milik keluarga Newton. Edward menyambar kantong tidur, tenda kecil, dan beberapa bungkus makanan kering – nyengir waktu aku mengernyit melihat bungkusan-bungkusan makanan itu – dan menjejalkan semuanya ke dalam ransel.

Alice datang ke garasi ketika kami sedang di sana, memperhatikan Edward bersiap-siap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Edward sendiri tidak mengacuhkannya.

Setelah selesai berkemas-kemas Edward menyodorkan ponselnya kepadaku. “Bagaimana kalau kau telepon Jacob dan katakan kita siap bertemu dengannya kira-kira satu jam lagi. Dia tahu di mana harus menemui kita.”

Jacob tidak ada di rumah, tapi Billy berjanji akan menelepon teman-temannya yang lain sampai ada werewolf yang bisa menyampaikan pesan itu padanya.

“Kau tidak usah khawatir tentang Charlie, Bella.” Billy berkata. “Bagian itu urusanku.”

“Yeah, aku tahu Charlie pasti akan baik-baik saja.” Aku sendiri tidak yakin soal keselamatan anak lelaki Billy. tapi tidak mengutarakannya kepada Billy.

“Kalau saja aku bisa ikut bersama mereka besok.” Billy terkekeh penuh penyesalan. “Susah juga jadi orang tua, Bella.”

Dorongan untuk berperang pasti merupakan karakteristik yang paling menentukan dalam kromosom Y. Mereka semua sama saja.

“Selamat bersenang-senang bersama Charlie.”

“Semoga beruntung, Bella,” sahut Billy. “Dan… sampaikan juga salamku kepada, eh, keluarga Cullen.”

“Baiklah,” aku berjanji, kaget mendengarnya.

Waktu mengembalikan ponsel itu kepada Edward, aku melihat ia dan Alice seperti sedang berdiskusi tanpa suara. Alice menatap Edward, memohon lewat sorot matanya. Edward mengerutkan kening, tidak menyukai apa pun yang diinginkan Alice.

“Billy kirim salam.”

“Dia baik sekali,” kata Edward,memalingkan wajahnya dari Alice. “Bella, boleh aku bicara berdua saja denganmu?” tanya Alice.

“Kau akan membuat hidupku lebih sulit daripada seharusnya, Alice.” Edward mengingatkan dengan gigi terkatup rapat. “Aku lebih suka kau tidak melakukannya.”

“Ini tidak ada urusannya denganmu, Edward,” Alice balas membentak.

Edward tertawa. Rupanya ia menganggap respons Alice tadi lucu.

“Memang tidak ada kok,” Alice ngotot. “ini urusan perempuan.”

Kening Edward berkerut.

“Biarkan dia bicara denganku,” kataku kepada Edward. Aku jadi penasaran.

“Kau sendiri yang setuju,ya.” gerutunya. Dia tertawa lagi,setengah marah, setengah geli, lalu menghambur ke luar garasi.

Aku menoleh kepada Alice, merasa cemas sekarang,tapi Alice tidak memandangku. Suasana hatinya masih juga jelek.

Ia beranjak dan duduk di kap mesin Porschenya, wajahnya muram. Aku mengikuti,dan bersandar di bumper mobil, di sebelahnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.