Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Aku juga sering bohong.”

“Memang, tapi kau sangat tidak pandai berbohong, jadi itu tidak terlalu berpengaruh. Tidak ada yang percaya padamu.”

“Aku benar-benar berharap kau keliru mengenai hal itu, sebab kalau tidak, tak lama lagi Charlie pasti akan mendobrak pintu itu sambil mengacungkan pistol berisi peluru.”

“Charlie lebih bahagia berpura-pura menelan semua ceritamu. Dia lebih suka membohongi diri sendiri daripada mengorek-ngorek lebih jauh,” Edward nyengir padaku.

“Memangnya hak milik orang lain apa yang kauinginkan?” tanyaku ragu. “Kau kan sudah memiliki semua.”

“Aku menginginkanmu,” Senyum Edward menggelap. “Aku tidak berhak menginginkanmu, tapi aku tetap nekat. Dan coba lihat apa jadinya kau sekarang! Mencoba merayu vampir.”

Edward menggeleng-gelengkan kepala, pura-pura ngeri.

“Kau boleh menginginkan apa yang sudah menjadi milikmu,” aku memberitahunya– “Lagi pula, kukira kau mengkhawatirkan kehormatanku.”

“Memang. Kalau itu sudah terlambat bagiku… Well, celakalah aku, aku tidak bermaksud melucu – kalau aku membiarkan itu menyebabkanmu tidak masuk surga juga.”

“Kau tidak bisa memaksaku pergi ke tempat yang kau tidak ada,” aku bersumpah. “Itulah definisiku tentang

neraka. Bagaimanapun, aku punya solusi mudah mengenai hal itu, jangan pernah mati, bagaimana?”

“Kedengarannya cukup sederhana. Mengapa tak pernah terpikir olehku sebelumnya?”

Edward tersenyum sampai aku menyerah dan mendengus marah. “Jadi, begitu. Kau tidak mau tidur denganku sampai kita menikah.”

“Secara teknis, aku tidak akan pernah bisa tidur denganmu.”

Aku memutar bola mataku. “Sangat dewasa, Edward.”

“Tapi, selain detail itu, ya, kau benar.”

“Menurutku, kau punya motif tersembunyi.”

Mata Edward membelalak sok lugu. “Ada lagi?”

“Kau tahu itu akan mempercepat proses,” tuduhku.

Edward berusaha tidak tersenyum. “Hanya ada satu hal yang ingin kupercepat, dan yang lain-lain boleh ditunda selamanya… tapi untuk yang satu ini, memang benar, hormon-hormon manusiamu yang tidak sabaran adalah sekutuku yang paling kuat di titik ini.”

“Aku tidak percaya mau saja menuruti kemauanmu. Kalau aku teringat Charlie dan Renee! Bisakah kaubayangkan bagaimana pendapat Angela nanti? Atau Jessica? Ugh. Sudah bisa kubayangkan bagaimana gosipnya nanti.”

Edward mengangkat sebelah alisnya, dan aku tahu kenapa. Apa gunanya mengkhawatirkan perkataan mereka tentangku, kalau sebentar lagi aku pergi dan tidak akan kembali lagi? Benarkah aku sesensitif itu sampai-sampai tidak sanggup menahan lirikan penuh arti dan pertanyaanpertanyaan bernada menjurus selama beberapa minggu saja?

Mungkin itu tidak akan terlalu mengusik pikiranku seandainya aku tak tahu bahwa aku mungkin juga akan bergosip seperti mereka seandainya salah satu teman kami menikah musim panas ini.

Hah. Menikah musim panas ini! Aku bergidik.

Namun, mungkin itu tidak akan terlalu mengusik pikiranku seandainya aku tidak dibesarkan untuk bergidik setiap kali memikirkan pernikahan.

Edward menginterupsi keresahanku. “Tidak perlu besarbesaran. Aku tidak butuh perayaan. Kau tidak perlu memberitahu siapa-siapa atau membuat perubahan apa pun. Kita pergi saja ke Vegas, kau bisa mengenakan jins belel dan kita pergi ke kapel yang menyediakan layanan menikah secara drive through. Aku hanya ingin menikah secara resmi, bahwa kau milikku dan bukan milik orang lain.”

“Sekarang juga sudah resmi,” gerutuku. Tapi gambaran yang diberikan Edward kedengarannya lumayan juga. Hanya saja Alice pasti akan kecewa.

“Kita lihat saja nanti,” Edward tersenyum puas. “Kurasa kau tidak menginginkan cincinmu sekarang?”

Aku harus menelan ludah sebelum bisa bicara. “Dugaanmu benar.”

Edward tertawa melihat ekspresiku. “Baiklah kalau begitu. Toh tidak lama lagi aku bisa memasangkannya di jarimu.”

Kutatap ia dengan jengkel. “Kau bicara seolah-olah kau sudah memiliki cincinnya.”

“Memang sudah,” jawab Edward, tanpa malu-malu. “Siap kupakaikan secara paksa begitu terlihat tanda-tanda kelemahan pertama.”

“Kau keterlaluan.”

“Kau mau melihatnya?” tanya Edward. Mata topaz cairnya tiba -tiba berbinar, penuh semangat.

“Tidak!” Aku nyaris berteriak. reaksi refleks. Aku langsung menyesalinya. Wajah Edward terlihat agak kecewa. “Kecuali kau benar-benar ingin menunjukkannya padaku.” koreksiku. Aku mengatupkan gigiku rapat-rapat agar ketakutanku yang tidak logis tidak terlihat.

“Sudahlah,” Edward mengangkat bahu. “Itu bisa menunggu.”

Aku mendesah. “Tunjukkan cincin sialan itu padaku, Edward.”

Edward menggeleng. “Tidak.”

Kupandangi ekspresinya lama sekali.

“Please?” pintaku pelan, bereksperimen dengan senjata yang baru kutemukan. Kusentuh wajahnya sekilas dengan ujung-ujung jariku. “Kumohon, bolehkah aku melihatnya?”

Edward menyipitkan mata. “Kau makhluk paling berbahaya yang pernah kutemui,” gerutunya. Tapi ia bangkit dan dengan gerakan luwes berlutut di samping nakas kecil. Sebentar saja ia sudah duduk lagi di sampingku di tempat tidur, sebelah tangan memeluk bahuku. Di tangan satunya ia memegang kotak hitam kecil. Di letakannya kotak itu di lutut kiriku.

“Silakan kalau mau melihat.” katanya kasar.

Sulit rasanya meraih kotak hitam kecil itu, tapi karena tak ingin melukai perasaannya lagi, aku berusaha agar tanganku tidak gemetaran. Permukaannya halus berlapis satin hitam.

Kusapukan jemariku di atasnya, ragu-ragu.

“Kau tidak mengeluarkan banyak uang, kan? Berbohonglah padaku kalau ya.”

“Aku tidak mengeluarkan uang sama sekali,” Edward meyakinkanku. “Itu juga benda warisan. Cincin yang diberikan ayahku untuk ibuku.”

“Oh.” Keterkejutan mewarnai suaraku. Kuangkat sedikit penutup kotak dengan ibu jari dan telunjuk, tapi tidak membukanya.

“Kurasa cincinnya sudah agak kuno.” Nadanya purapura meminta maaf. “Kuno, seperti aku. Aku bisa saja membelikan sesuatu yang lebih modem. Sesuatu dari Tiffany’s?”

“Aku suka yang kuno-kuno,” gumamku sambil raguragu mengangkat penutup kotak.

Di atas hamparan satin hitam, cincin milik Elizabeth Masen gemerlapan di bawah cahaya temaram. Permukaannya lonjong panjang. dikelilingi barisan memanjang batu-batu bulat berkilauan. Cincinnya dibuat dari emas–halus dan mungil. Jaring emas tipis merangkai berlian-berlian itu. Belum pernah aku melihat cincin seperti itu.

Tanpa berpikir, aku membelai-belai permata yang berkilauan itu.

“Cantik sekali,” gumamku pada diri sendiri, terperangah.

“Kau suka?”

“Cincinnya cantik,” Aku mengangkat bahu.. berlagak kurang tertarik. “Mana mungkin tidak suka?”

Edward terkekeh. “Coba lihat, apakah pas?”

Tangan kiriku mengepal.

“Bella,” desah Edward. “Aku bukan mau menyoldernya ke jarimu. Hanya mencoba, untuk melihat apakah ukurannya perlu disesuaikan dengan jarimu. Setelah itu kau bisa melepasnya lagi.”

“Baiklah,” gerutuku.

Kuraih cincin itu, tapi jari-jari Edward yang panjang bergerak lebih cepat. ia meraih tangan kiriku, lalu menyelipkan cincin itu ke jari manisku. Ia mengulurkan tanganku, dan kami berdua mengamati kilau oval itu di kulitku. Ternyata tidak semengerikan yang kukira, mengenakan cincin itu di jari manisku.

“Benar-benar pas,” kata Edward dengan lagak tak acuh. “Bagus, aku jadi tidak perlu pergi ke toko emas.”

Aku bisa mendengar secercah emosi di balik gaya bicaranya yang biasa-biasa saja, dan aku mendongak memandangi wajahnya. Emosi itu juga terpancar dari matanya, tampak nyata meskipun ekspresinya sengaja dibuat biasa-biasa saja.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.