Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Bahkan saat itu pun bibirnya tidak beranjak dari kulitku, hanya beralih ke kerongkongan. Gairah kemenangan melandaku, membuatku merasa berkuasa. Berani. Ia terlalu rupawan. Istilah apa yang dipakainya barusan? Tak tertahankan, itu dia. Ketampanannya sungguh tak tertahankan…

Kutarik bibir Edward kembali ke bibirku, dan sepertinya Edward sama bernafsunya dengan aku. Satu tangannya masih merengkuh wajahku, tangan yang lain memeluk pinggang, mendekap tubuhku erat-erat. Posisi Itu membuatku lebih sulit meraih bagian depan kemejaku, tapi bukannya tidak mungkin.

Belenggu sedingin besi mencengkeram pergelangan tanganku, dan mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi di atas kepala, yang tiba-tiba sudah berada di atas bantal.

Bibirnya lagi-lagi menempel di telingaku. “Bella,” bisiknya, suaranya hangat dan selembut beledu. “Bisa tidak, kau berhenti mencoba membuka bajumu, please.”

“Kau ingin melakukannya sendiri?” tanyaku, bingung.

“Tidak malam ini,” jawab Edward lembut. Bibirnya kini lebih lambat menyusuri pipi dan daguku, semua ketergesagesaan itu lenyap.

“Edward, jangan –” aku mulai mendebatnya.

“Aku tidak mengatakan tidak,” Edward meyakinkanku. “Aku hanya mengatakan ‘tidak malam ini’.”

Aku memikirkan perkataannya itu sementara deru napasku melambat.

“Beri aku satu alasan mengapa malam ini berbeda dengan malam-malam lain.” Aku masih terengah-engah, itu membuat perasaan frustrasi dalam suaraku terdengar kurang meyakinkan.

“Aku bukan baru dilahirkan kemarin,” Edward terkekeh di telingaku. “Di antara kita berdua, siapa menurutmu yang lebih tidak bersedia mengabulkan keinginan pasangannya? Kau baru saja berjanji akan menikahiku sebelum melakukan perubahan apa pun, tapi kalau aku menyerah malam ini, jaminan apa yang kumiliki bahwa kau tidak akan meminta Carlisle mengubahmu besok pagi? Aku– jelas–jauh lebih tidak enggan mengabulkan permintaanmu. Jadi… kau duluan.”

Aku mengembuskan napas dengan suara keras. “Jadi aku harus menikah dulu denganmu?” tanyaku dengan sikap tak percaya.

“Begitulah kesepakatannya – terima atau tidak. Kompromi, ingat?”

Kedua lengan Edward merangkulku, dan ia muai menciumiku lagi dengan penuh gairah. Terlalu persuasif – sepertinya ini paksaan, pemaksaan. Aku berusaha menjaga pikiranku tetap jernih… tapi langsung gagal.

“Menurutku itu sungguh-sungguh ide buruk,” aku terkesiap setelah ia membiarkanku menarik napas.

“Aku tidak terkejut kau merasa begitu.” Edward tersenyum menyeringai. “Pikiranmu memang tak pernah bercabang.”

“Bagaimana bisa begini?” gerutuku. “Kupikir aku berada di atas angin malam ini, sekali ini, dan sekarang, tahu-tahu saja..”

“Kau sudah bertunangan,” Edward menyelesaikan kalimatku.

“Aduh! Kumohon, jangan mengucapkannya keraskeras.”

“Memangnya, kau mau menarik lagi janjimu?” tuntutnya.

Edward melepas pelukannya dan menatap wajahku lekat-lekat. Ekspresinya terhibur, ia senang bisa menggodaku.

Kupelototi dia, berusaha tidak menggubris senyumnya yang membuat jantungku melompat liar.

“Ya atau tidak?” desaknya.

“Ugh!” erangku. “Tidak. Aku tidak menarik kembali janjiku. Kau bahagia sekarang?”

Senyum Edward membutakan. “Sangat.”

Lagi-lagi aku mengerang.

“Kau tidak bahagia sama sekali?”

Edward menciumku lagi sebelum aku sempat menjawab.

Lagi-lagi ciuman yang terlalu persuasif.

“Sedikit,” aku mengakui saat sudah bisa bicara. “Tapi bukan karena mau menikah.”

Lagi-lagi Edward menciumku. “Apakah kau merasa segala sesuatunya terbalik?” ia tertawa di telingaku. “Secara tradisional bukankah seharusnya kau yang ribut minta dinikahi, sedangkan aku sebaliknya?”

“Tidak ada yang tradisional antara kau dan aku,”

“Benar.”

Edward menciumku lagi, dan terus menciumiku sampai jantungku berdebar keras dan kulitku membara.

“Begini. Edward,” gumamku, suaraku bernada membujuk ketika Edward menghentikan ciumannya sejenak untuk mengecup telapak tanganku. “Aku sudah berkata mau menikah denganmu, dan itu akan kulakukan. Aku berjanji. Bersumpah. Kalau kau mau, aku akan menandatangani kontraknya dengan darahku sendiri.”

“Tidak lucu,” tukas Edward, menjelajahi bagian dalam pergelangan tanganku.

“Maksudku… aku tidak akan mengelabuimu atau semacamnya. Kau tahu aku tidak seperti itu. Jadi benarbenar tidak ada alasan untuk menunggu. Kita hanya berdua,seberapa sering itu terjadi? dan kau sudah menyediakan ranjang yang sangat besar dan nyaman ini…”

“Tidak malam ini,” tegas Edward lagi.

“Kau tidak percaya padaku?”

“Tentu saja aku percaya.”

Menggunakan tangan yang masih diciuminya, aku menengadahkan wajah Edward sehingga bisa melihat ekspresinya.

“Kalau begitu, apa masalahnya? Kau toh sudah tahu kau akan menang akhirnya.” Aku mengerutkan kening dan menggerutu, “Kau selalu menang.”

“Hanya membatasi taruhanku,” kata Edward kalem.

“Pasti ada yang lain,” tebakku, mataku menyipit. Wajah Edward memancarkan ekspresi defensif, secercah pertanda adanya motif rahasia yang coba ia sembunyikan di balik sikapnya yang biasa-biasa saja. “Apakah kau berniat menarik kembali janjimu?”

“Tidak,” Edward berjanji dengan sikap khidmat. “Aku bersumpah, kita akan mencobanya. Setelah kau menikah denganku.”

Aku menggeleng, tertawa muram. “Kau membuatku merasa seperti penjahat dalam kisah melodrama, memuntirmuntir kumis saat sedang mencoba merenggut kehormatan seorang gadis yang malang.”

Mata Edward tampak pedih saat berkelebat menatap wajahku, lalu ia cepat-cepat menunduk untuk menempelkan bibirnya ke tulang selangkaku.

“Memang begitu, kan?” Tawa pendek yang lolos dari bibirku lebih merupakan tawa syok ketimbang geli. “Kau berusaha menjaga kehormatanmu!” Aku menutup mulut dengan tangan untuk meredam tawa cekikikan yang mengikutinya. Kata-kata itu sangat… kuno.

“Tidak, gadis konyol.” gerutu Edward di bahuku. “aku berusaha menjaga kehormatanmu. Tapi yang Mengagetkan, kau membuatnya jadi SULIT sekali.”

“Ini benar-benar konyol…”

“Begini saja, biar kutanya sesuatu.” Edward buru-buru menyela. “Kita sudah pernah mendiskusikan hal ini sebelumnya, tapi coba hibur hatiku. Berapa orang di ruangan ini yang memiliki jiwa? Memiliki kesempatan masuk surga, atau apa pun yang ada di sana setelah kehidupan ini?”

“Dua,” aku menjawab langsung, suaraku tegas.

“Baiklah. Mungkin itu benar. Sekarang, banyak sekali perbedaan pendapat mengenai hal ini, tapi mayoritas orang sepertinya berpikir ada beberapa aturan yang harus diikuti.”

“Aturan-aturan vampir belum cukup bagimu? Kau juga masih memikirkan aturan-aturan manusia?”

“Tidak ada salahnya,” Edward mengangkat bahu. “Untuk berjaga-jaga.”

Kupelototi ia dengan mata disipitkan.

“Sekarang, tentu saja, mungkin sudah terlambat bagiku,seandainya pendapatmu tentang jiwaku memang benar.”

“Tidak, belum terlambat bagimu.” bantahku marah.

“Jangan ‘membunuh’ sudah umum diterima keyakinan agama mana pun. Padahal aku sudah membunuh banyak orang, Bella.”

“Kau hanya membunuh orang-orang jahat.”

Edward mengangkat bahu. “Mungkin itu berpengaruh, mungkin juga tidak. Tapi kau belum pernah membunuh orang…”

“Yang kaukenal,” gerutuku.

Edward tersenyum, tapi tidak menanggapi interupsiku tadi.

“Dan aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuatmu jatuh dalam pencobaan.”

“Oke. Tapi kita kan tidak bertengkar soal melakukan pembunuhan,” aku mengingatkannya.

“Tetap berlaku prinsip yang sama, satu-satunya perbedaan hanyalah, bahwa ini satu-satunya area di mana aku sama bersihnya denganmu. Tidak bolehkah aku mempertahankan satu aturan saja yang belum pernah kulanggar?”

“Satu?”

“Kau sendiri tahu aku sudah pernah mencuri, berbohong, menginginkan milik orang lain… hanya kehormatanku yang masih tersisa,” Edward tersenyum miring.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.