Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Sekarang siapa yang bodoh?” Aku ragu apakah canggung, minder, dan kikuk masuk dalam kategori menggairahkan dalam anggapan orang lain.

“Apakah aku harus mengedarkan petisi supaya kau percaya? Haruskah kuberitahu nama-nama yang berada dalam daftar teratas? Kau tahu beberapa di antaranya, tapi beberapa lainnya mungkin bakal mengagetkanmu.”

Aku menggeleng dalam dekapannya. meringis. “Kau hanya berusaha mengalihkan perhatianku. Mari kembali ke topik tadi.”

Edward mendesah.

“Katakan padaku kalau ada yang salah kupahami.” Aku berusaha memperdengarkan nada datar. “Tuntutanmu adalah menikah” aku tak mampu mengucapkan kata itu tanpa mengernyit “membayari uang kuliahku, lebih banyak waktu, dan kau tidak. keberatan kalau mobilku bisa lari lebih cepat.”

Kuangkat alisku. “Semuanya sudah, kan? Lumayan panjang juga daftarnya.”

“Hanya yang pertama yang merupakan tuntutan.” Tampaknya sulit bagi Edward mempertahankan ekspresi datar. “Yang lain-lain hanya permohonan.”

“Sedangkan satu-satunya tuntutanku adalah-”

“Tuntutan?” sela Edward, mendadak kembali serius.

“Ya, tuntutan.”

Matanya menyipit.

“Menikah bukan perkara mudah bagiku. Aku tidak mau menurut begitu saja tanpa mendapat kompensasi.”

Edward membungkuk untuk berbisik di telingaku. “Tidak,” bisiknya lembut. “Itu tidak mungkin dilakukan sekarang. Nanti, kalau kau sudah tidak serapuh sekarang. Bersabarlah, Bella.”

Aku berusaha mempertahankan nada tenang dan bijak.

“Tapi di situlah masalahnya. Aku tidak akan sama lagi kalau sudah tidak serapuh sekarang. Aku tidak akan menjadi orang yang sama! Entah akan menjadi siapa aku nanti.”

“Kau akan terap menjadi Bella,” janji Edward.

Aku mengerutkan kening. “Kalau aku berubah sampai sejauh itu hingga mau membunuh Charlie, bahwa aku takkan ragu minum darah Jacob atau Angela kalau saja ada kesempatan, bagaimana mungkin itu benar?”

“Masa itu akan berlalu. Dan aku ragu kau mau minum darah anjing.” Edward pura-pura bergidik memikirkannya. “Bahkan sebagai vampire baru, seleramu akan lebih bagus daripada itu.”

Kuabaikan saja upayanya mengalihkan topik pembicaraan. “Tapi itu akan selalu jadi sesuatu yang paling kuinginkan, bukan?” tantangku. “Darah, darah, dan lagilagi darah!”

“Fakta kau masih hidup adalah bukti itu tidak benar,” tukas Edward.

“Lebih dari delapan puluh tahun kemudian,” kuingatkan dia. “Yang kumaksud adalah secara fisik. Secara intelektual, aku tahu akan bisa menjadi diriku sendiri… setelah sekian lama. Tapi mumi secara fisik – aku akan selalu haus, lebih dari segalanya.”

Edward diam saja.

“Kalau begitu aku memang akan menjadi berbeda,” aku menyimpulkan tanpa bantahan dari Edward. “Karena sekarang ini, secara fisik, tak ada hal – lain yang kuinginkan lebih daripada dirimu. Lebih daripada makanan, air, atau oksigen. Secara intelektual, prioritas-prioritasku sedikit lebih masuk akal. Namun secara fisik…”

Kuputar kepalaku untuk mengecup telapak tangannya.

Edward menghela napas dalam-dalam. Aku kaget juga karena kedengarannya ia sedikit goyah.

“Bella, bisa-bisa aku membunuhmu nanti,” bisiknya.

“Kurasa itu tidak mungkin.”

Mata Edward mengeras. Ia mengangkat tangannya dari wajahku dan dengan gerak cepat menjangkau ke belakang punggungnya, meraih sesuatu yang tak bisa kulihat. Terdengar seperti ada yang patah dengan suara teredam, dan ranjang berderit-derit di bawah tubuh kami.

Edward memegang sesuatu yang berwarna gelap, ia menyodorkannya supaya aku bisa melihatnya lebih jelas. Benda itu bunga logam. salah satu mawar besi yang menghiasi tiang serta kanopi ranjangnya yang terbuat dari besi tempa. Edward mengepalkan tangannya sedetik.. jarijarinya meremas lembut, kemudian membuka telapak tangannya lagi.

Tanpa mengatakan apa-apa, ia menyodorkan onggokan logam hitam yang kini hancur. Benda itu hanya seperti gips di tangannya, seperti lilin mainan yang diremas tangan anak-anak. Hanya dalam setengah detik benda itu telah remuk bagai pasir hitam di telapak tangannya.

Kupandangi dia. “Bukan itu maksudku. Aku sudah tahu berapa kuatnya kau. Tidak perlu sampai merusak perabot.”

“Jadi apa maksudmu sebenarnya?” tanya Edward muram, melemparkan onggokan pasir besi itu ke sudut kamar; benda itu membentur dinding dengan suara seperti hujan.

Matanya menatap wajahku lekat-lekat sementara aku susah payah berusaha menjelaskan.

“Aku tidak bermaksud mengatakan secara fisik kau tidak mampu mencelakakan aku kalau mau… Tapi lebih bahwa kau tidak ingin mencelakakan aku… sebegitu besar hingga menurutku kau tidak akan pernah sanggup mencelakakan aku.”

Edward sudah menggeleng-gelengkan kepala sebelum aku selesai bicara.

“Mungkin tidak akan seperti itu, Bella.”

“Mungkin,” dengusku. “Kau sendiri tidak lebih tahu daripada aku dalam masalah ini.”

“Tepat sekali. Apakah menurutmu aku mau mengambil risiko itu denganmu?”

Kutatap matanya lama sekali. Tidak ada tanda-tanda ia mau berkompromi, tidak ada petunjuk ia tidak tegas dengan keputusannya.

“Please,” bisikku akhirnya, tak punya harapan lagi. “Hanya itu yang kuinginkan. Please,” Aku memejamkan mata kalah, menunggu jawaban “tidak” yang final dan akan segera terlontar.

Tapi Edward tidak langsung menjawab. Aku ragu-ragu dengan sikap tak percaya, terperangah mendengar tarikan napasnya yang kembali memburu.

Kubuka mataku, dan Edward tampak terkoyak.

“Please?” bisikku lagi, debar jantungku semakin kencang. Kata-kata berhamburan dari mulutku saat aku terburu-buru mengambil kesempatan, selagi aku melihat sorot tak yakin terpancar dari matanya. “Kau tidak perlu memberiku jaminan apa-apa. Kalau memang tidak bisa, well tidak apaapa. Tapi biarkan kita mencoba… hanya mencoba. Dan aku akan memberikan apa yang kauinginkan,” janjiku tanpa berpikir. “Aku akan menikah denganmu. Kau boleh membayari kuliahku di Dartmouth, dan aku tidak akan mengeluh tentang sogokan yang kaukeluarkan supaya aku bisa masuk ke sana. Kau bahkan bisa membelikan aku mobil mewah kalau itu bisa membuatmu senang! Tapi… please.”

Lengan Edward yang dingin memelukku lebih erat, dan bibirnya menempel di telingaku; embusan napasnya yang dingin membuat tubuhku gemetar. “Sungguh tak tertahankan. Begitu banyak yang ingin kuberikan padamu – tapi justru ini yang kautuntut dariku. Tahukah kau betapa sakitnya ini, menolakmu yang memohon-mohon padaku seperti ini?”’

“Kalau begitu jangan menolak,” usulku, napasku terengah-engah.

Edward tidak menjawab.

“Please,” aku mencoba lagi.

“Bella…” Edward menggeleng lambat-lambat, tapi rasanya itu bukan penolakan karena wajahnya dan bibirnya menjelajahi tenggorokanku. Rasanya seperti menyerah kalah. Jantungku, yang memang sudah berdebar keras, kini berpacu semakin cepat.

Lagi-lagi,aku berusaha memanfaatkan momentum itu sebisaku. Saat wajahnya berpaling ke arahku dengan gerak lambat karena belum bisa memutuskan. aku cepat-cepat menggeser kepala hingga bibirku menempel di bibirnya. Kedua tangan Edward merengkuh wajahku, dan aku sempat mengira ia akan mendorongku lagi jauh-jauh.

Ternyata aku keliru.

Bibirnya tidak menciumku dengan lembut; sekarang ada hal baru berupa konflik bercampur perasaan putus asa dalam ciumannya. Kupeluk lehernya erat-erat, dan, di kulitku yang tiba-tiba panas. tubuhnya kurasakan lebih dingin daripada biasanya. Aku gemetar, tapi bukan karena kedinginan.

Edward tidak berhenti menciumiku. Justru akulah yang melepaskan diri darinya, megap-megap kehabisan udara.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.