Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Mungkin kabel-kabelnya?” duga Edward.

“Mungkin. Aku tidak tahu apa-apa soal mesin mobil,” Mike mengakui. “Aku harus memperbaikinya, tapi aku tak sanggup membawanya ke bengkel Dowling’s.”

Aku membuka mulut untuk menyarankan supaya mobilnya dibawa ke mekanikku, tapi kemudian mengurungkannya. Mekanikku sedang sibuk belakangan ini

– sibuk berkeliaran sebagai serigala raksasa.

“Aku lumayan mengerti mesin mobil – aku bisa memeriksanya, kalau kau mau,” Edward menawarkan diri. “Biar kuantar Alice dan Bella pulang dulu.”

Mike dan aku sama-sama memandang Edward dengan mulut ternganga keheranan,

“Eh… trims,” gumam Mike, begitu pulih dari kagetnya. “Tapi aku harus bekerja. Mungkin lain kali.”

“Tentu.”

“Sampai nanti.” Mike naik ke mobilnya, menggelenggeleng dengan sikap tak percaya.

Volvo milik Edward, dengan Alice sudah menunggu di dalam, diparkir hanya dua mobil dari situ.

“Apa-apaan itu tadi?” bisikku sementara Edward memegangi pintu mobil untukku.

“Hanya ingin membantu,” jawab Edward.

Kemudian Alice yang sudah menunggu di jok belakang mengoceh dengan kecepatan tinggi.

“Kau kan tidak terlalu paham soal mesin mobil, Edward. Mungkin sebaiknya kausuruh saja Rosalie memeriksanya malam ini, supaya kau tidak kehilangan muka kalau nanti Mike memutuskan membiarkanmu membantunya. Pasti menyenangkan melihat wajah Mike kalau Rosalie muncul untuk membantunya. Tapi karena Rosalie saat ini seharusnya berada di luar kota untuk kuliah, kurasa itu bukan ide bagus. Sayang sekali. Tapi menurutku, untuk menangani mobil Mike, kau pasti bisa. Kau hanya tidak mampu menangani mesin mobil sport Italia yang canggihcanggih itu. Omong-omong soal Italia dan mobil sport yang kucuri di sana, kau masih berutang satu Porsche kuning padaku. Aku tak yakin, apa aku sanggup menunggu sampai Natal.”

Sebentar saja aku sudah berhenti mendengarkan, membiarkan suara Alice yang mencerocos jadi seperti gumaman di latar belakang sementara aku mencoba bersabar.

Tampaknya Edward berusaha menghindari pertanyaanpertanyaanku. Baiklah. Toh sebentar lagi ia harus berduaan denganku. Tinggal tunggu waktu.

Sepertinya Edward juga menyadarinya. Ia menurunkan Alice di ujung jalan masuk rumah keluarga Cullen, seperti biasa, walaupun kalau melihat sikapnya sejak tadi aku separuh berharap ia akan mengemudikan mobilnya sampai ke depan pintu dan mengantar Alice masuk sekalian.

Begitu turun, Alice langsung melayangkan pandangan tajam padanya. Edward tampak tenang-tenang saja.

“Sampai nanti,” katanya. Kemudian, nyaris tak kentara, ia mengangguk.

Alice berbalik dan lenyap di balik pepohonan.

Edward diam saja saat memutar mobil dan kembali ke Forks. Aku menunggu, dalam hati penasaran apakah ia akan mengungkitnya sendiri. Ternyata tidak, dan itu membuatku tegang. Apa yang sebenarnya dilihat Alice saat makan siang tadi? Sesuatu yang Edward tak ingin kuketahui, dan aku berusaha keras memikirkan alasan kenapa ia merahasiakan sesuatu dariku. Mungkin lebih baik aku menyiapkan diri sebelum bertanya. Aku rak ingin nanti ketakutan setengah mati dan membuat Edward mengira aku tak mampu mengatasinya, apa pun itu.

Jadilah kami sama-sama berdiam diri hingga sampai di rumah Charlie.

“Malam ini tidak banyak PR,” komentar Edward.

“Mmmm,” aku mengiyakan.

“Menurutmu, aku sudah diizinkan masuk lagi?”

“Charlie tidak mengamuk waktu kau menjemputku tadi pagi.”

Tapi aku yakin Charlie pasti bakal langsung cemberut kalau sesampainya di rumah nanti ia mendapati Edward di sini. Mungkin sebaiknya aku membuatkan hidangan makan malam yang ekstra istimewa.

Di dalam aku langsung naik ke lantai atas, dan Edward mengikuti. Ia duduk-duduk di tempat tidurku dan memandang ke luar jendela, sepertinya tidak menyadari kegelisahanku.

Aku menyimpan tas dan menyalakan komputer. Ada e-mail dari ibuku yang harus kubalas, dan ia bakal panik kalau aku terlalu lama tidak membalas. Aku mengetukngetukkan jemariku ke meja sambil menunggu komputer tuaku mendengung bangun; jemariku berlari lincah di meja, cepat dan gelisah.

Kemudian jari-jari Edward merengkuh jari-jariku, mendiamkannya.

“Kita agak tidak sabaran ya, hari ini?” gumamnya.

Aku mendongak, berniat melontarkan komentar sarkastis, tapi wajah Edward ternyata lebih dekat daripada yang kuharapkan. Mata emasnya membara, hanya beberapa sentimeter jauhnya, dan embusan napasnya sejuk menerpa bibirku yang terbuka. Aku bisa merasakan aromanya di lidahku.

Aku langsung lupa komentar pedas yang akan kulontarkan tadi. Aku bahkan lupa namaku sendiri.

Edward tidak memberiku kesempatan untuk pulih dari kaget.

Kalau kemauanku dituruti, aku akan menghabiskan sebagian besar waktuku berciuman dengan Edward. Tak ada pengalaman lain dalam hidupku yang setara dengan indahnya merasakan bibir Edward yang dingin, sekeras marmer, tapi selalu sangat lembut, bergerak bersamaku.

Kemauanku jarang dituruti.

Maka aku agak terkejut saat jari-jarinya menyusup ke rambutku, merengkuh wajahku kuat-kuat, Kedua lenganku mengunci di belakang lehernya, dan aku berharap kalau saja aku lebih kuat – lebih kuat untuk memenjarakannya di sini. Satu tangan meluncur menuruni punggungku, mendekapku lebih erat lagi ke dadanya yang sekeras batu. Meski terhalang sweter, kulit Edward masih cukup dingin untuk membuat tubuhku gemetar-getaran kegembiraan, kebahagiaan, tapi akibatnya pelukan Edward mulai mengendur.

Aku tahu aku hanya punya waktu kira-kira tiga detik sebelum Edward mendesah dan dengan cekatan menjauhkan tubuhku dari tubuhnya, mengatakan kami sudah cukup mempertaruhkan nyawaku sore ini. Sebisa mungkin memanfaatkan detik-detik terakhirku berciuman dengannya, aku menempel semakin erat dengannya, menyatukan lekuk tubuhku ke tubuhnya. Ujung lidahku menyusuri lekuk bibir bawahnya; bibirnya sangat halus, seperti habis digosok, dan rasanya …

Edward menjauhkan wajahku dari wajahnya, dengan mudah melepaskan cengkeramanku – mungkin ia bahkan tak sadar aku sudah mengerahkan segenap kekuatanku.

Edward terkekeh sekali, suara tawanya rendah dan parau.

Matanya berkilat-kilat senang karena kedispilinan yang diterapkannya dengan begitu kaku.

“Ah, Bella,” ia mendesah,

“Aku bisa saja meminta maaf tapi aku tidak menyesal.”

“Dan aku seharusnya kecewa karena kau tidak menyesal, tapi aku tidak merasa begitu. Mungkin sebaiknya aku duduk saja di tempat tidur.”

Aku mengembuskan napas, kepalaku sedikit pening. “Kalau menurutmu itu perlu…”

Aku menggeleng beberapa kali, berusaha menjernihkan pikiran, dan mengalihkan perhatian kembali ke komputer. Komputerku sudah panas dan mendengung sekarang. Well, mungkin lebih tepat disebut mengerang, bukan mendengung.

“Sampaikan salamku kepada Renee.”

“Tentu.”

Mataku membaca cepat tulisan pada e-mail Renee, sesekali menggeleng saat membaca hal-hal konyol yang ia lakukan. Aku merasa terhibur sekaligus ngeri saat pertama kali membacanya. Sungguh khas ibuku, lupa bahwa ia mengidap fobia ketinggian dan baru ingat setelah tubuhnya dipasangi parasut serta terikat pada instruktur terjun payung. Aku merasa agak frustrasi dengan Phil, suami ibuku selama hampir dua tahun ini, karena mengizinkannya melakukan hal itu. Aku lebih bisa menjaga ibuku ketimbang dia. Aku mengenal ibuku luar dalam.

Kau toh harus melepaskan mereka pada akhirnya, aku mengingatkan diri sendiri. Kau harus membiarkan mereka menjalani kehidupan sendiri….

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.