Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Itu bukan permintaan yang sulit untuk disetujui, walaupun aku tahu jauh lebih mudah mengatakan akan melupakan ketakutanku daripada melakukannya. Ada banyak hal yang kupikirkan sekarang, tapi mengetahui kami hanya memiliki malam ini saja untuk berduaan sangatlah membantu.

Ada hal-hal yang sudah berubah.

Misalnya, aku sudah siap.

Aku sudah siap bergabung dengan keluarganya dan dunianya. Perasaan takut, bersalah, dan gelisah yang kurasakan sekarang telah mengajariku hal itu. Aku sudah mendapat kesempatan untuk berkonsentrasi memikirkan hal ini,saat aku memandangi bulan di balik awan-awan sambil bersandar pada seekor werewolf,dan aku tahu aku tidak akan panik lagi.

Lain kali, kalau terjadi sesuatu pada kami, aku akan siap. Aku akan menjadi aset, bukan beban. Edward takkan pernah harus memilih antara aku dan keluarganya lagi. Kami akan menjadi partner,seperti Alice dan Jasper. Lain kali,aku akan melakukan bagianku.

Aku akan menunggu bahaya itu dipindahkan dari atas kepalaku, supaya Edward puas. Tapi itu tidak perlu. Aku sudah Siap.

Tinggal satu bagian lagi yang masih hilang.

Satu bagian, karena ada beberapa hal yang tidak berubah, termasuk caraku mencintainya. Aku punya banyak waktu memikirkan masak-masak dampak taruhan Jasper dan Emmett – memikirkan hal-hal yang dengan rela akan kutinggalkan saat aku menanggalkan kemanusiaanku, juga bagian yang tidak rela kutinggalkan. Aku tahu pengalaman manusia mana yang harus ingin kurasakan sebelum aku berhenti menjadi manusia.

Jadi banyak sekali yang harus kami bereskan malam ini. Dari apa yang telah kulihat selama dua tabun terakhir ini, bagiku tidak ada istilah tidak mungkin. Dibutuhkan lebih dari itu untuk menghentikanku sekarang.

Oke, well, sejujurnya, ini mungkin akan jauh lebih rumit daripada itu. Tapi aku akan mencobanya.

Biarpun sudah mantap dengan keputusanku, aku tidak kaget waktu masih merasa gugup saat mengemudi menyusuri jalan panjang menuju rumahnya,aku tidak tahu bagaimana melakukan apa yang akan kulakukan, dan itu jelas membuatku sangat gugup. Edward duduk di kursi penumpang. menahan senyum melihat aku menyetir dengan lamban. Aku kaget ia tidak bersikeras ingin menyetir, malam ini sepertinya ia cukup puas dengan kecepatanku.

Hari sudah gelap waktu kami sampai di rumahnya. Meski begitu padang rumput terang benderang akibat cahaya lampu yang terpancar dari setiap jendela.

Begitu mesin dimatikan, Edward sudah berada di samping pintuku, membukakannya untukku. Ia membopongku turun dengan satu tangan, menyambar tasku dari belakang truk lalu menyampirkannya di pundak dengan tangannya yang lain. Bibirnya menemukan bibirku sementara aku mendengarnya menendang pintu truk hingga tertutup.

Tanpa menghentikan ciumannya, Edward mengayunkan tubuhku. sehingga aku berada dalam dekapannya dan menggendongku masuk ke rumah.

Apakah pintu depan sudah terbuka? Entahlah. Pokoknya kami langsung masuk, dan kepalaku berputar. Aku sampai harus mengingatkan diriku untuk menarik napas.

Ciuman itu tidak membuatku takut. Tidak seperti sebelumnya saat aku bisa merasakan ketakutan dan kepanikan menyusup di balik kendali Edward. Bibirnya tidak cemas, melainkan antusias sekarang – sepertinya ia sama bersemangatnya denganku karena malam ini kami bisa mencurahkan segenap perhatian untuk berduaan. Ia terus menciumiku selama beberapa menit. berdiri di depan pintu, tidak sehari-hari biasanya, bibirnya dingin dan melumat bibirku dengan ganas.

Aku mulai merasa agak optimis. Mungkin mendapatkan apa yang kuinginkan tidak sesulit yang kukira sebelumnya.

Tidak, tentu saja itu akan tetap sesulit biasanya.

Sambil terkekeh pelan Edward menjauhkan diriku darinya. menggendongku agak jauh dari tubuhnya.

“Selamat datang di rumah,” ucapnya, matanya cair dan hangat.

“Kedengarannya menyenangkan,” kataku, terengahengah.

“Aku punya sesuatu untukmu,” kata Edward nadanya santai.

“Oh?”

“Barang yang dulu menjadi milik orang lain, ingat? Kau bilang itu boleh.”

“Oh, benar. Kurasa aku memang pernah berkata begitu.”

Edward terkekeh melihat keenggananku.

“Barangnya ada di kamarku. Bagaimana kalau kita mengambilnya?”

Kamar Edward? “Tentu,” aku setuju, merasa sangat licik saat menautkan jari-jariku ke Jari-jarinya. “Ayo kita ke sana.”

Edward pasti benar-benar ingin memberiku benda bukan hadiah ini, karena kecepatan manusiaku tak cukup cepat baginya. Ia meraupku lagi ke dalam gendongannya dan nyaris terbang menaiki tangga menuju kamarnya. Ia menurunkanku di depan pintu, lalu melesat masuk ke lemari.

Ia sudah kembali sebelum aku sempat maju selangkah pun, tapi aku mengabaikannya dan tetap berjalan menghampiri ranjang emas besar itu, mengempaskan tubuhku ke pinggir tempat tidur dan bergeser ke tengah. Aku meringkuk seperti bola. kedua lengan memeluk lutut.

“Oke.” gerutuku. Sekarang setelah berada di tempat yang kuinginkan, aku bisa berlagak sedikit enggan. “Mana barangnya?”

Edward tertawa.

Ia naik ke tempat tidur dan duduk di sebelahku. Detak jantungku langsung berantakan. Mudah-mudahan Edward mengira itu karena aku gugup hendak diberi hadiah.

“Barang yang pernah dimiliki orang lain,” Edward mengingatkan dengan nada tegas. Ditariknya pergelangan tangan kiriku, dan disentuhnya gelang perak itu sekilas. Lalu ia melepaskan lenganku kembali.

Aku mengamatinya dengan hati-hati. Di sisi yang berseberangan dengan bandul serigala, kini tergantung sebutir kristal cemerlang berbentuk hati. Kristal itu memiliki jutaan segi. sehingga bahkan di bawah cahaya lampu yang temaram, benda itu berkilau cemerlang. Aku terkesiap pelan.

“Dulu, itu milik ibuku,” Edward mengangkat bahu dengan sikap seolah-olah itu masalah sepele. “Aku mewarisi beberapa butir kristal seperti ini,” Beberapa kuberikan kepada Esme dan Alice. Jadi, jelas, ini bukan sesuatu yang terlalu istimewa.”

Aku tersenyum sendu mendengarnya.

“Tapi kupikir, ini bisa mewakiliku dengan tepat,” sambung Edward. “Karena keras dan dingin.” Ia tertawa. “Dan membiaskan warna-warna pelangi ketika tertimpa cahaya matahari.”

“Kau lupa pada kemiripan yang terpenting,” gumamku. “Ini cantik sekali.”

“Hatiku juga bisa seperti kristal itu,” renung Edward. “Dan hatiku juga milikmu.”

Kuputar pergelangan tanganku agar hatinya berkilauan. “Terima kasih. Untuk kristal ini dan untuk hatimu.”

“Tidak, aku yang berterima kasih padamu. Aku benarbenar lega, kau bisa menerima hadiah dengan mudah. Latihan yang bagus untukmu,” Edward nyengir, memamerkan gigi-giginya.

Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, menyusupkan kepalaku ke bawah lengannya dan merapat di sisinya. Rasanya mungkin seperti bermanja-manja dengan patung David karya Michelangelo, kecuali bahwa sosok marmer Edward yang sempurna merangkulku dan menarikku lebih dekat.

Sepertinya ini permulaan yang bagus.

“Bisakah kira mendiskusikan sesuatu? Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bisa memulai dengan pikiran terbuka.”

Edward ragu-ragu sejenak. “Akan kuusahakan semampuku,” ia setuju, berhati-hati sekarang.

“Aku tidak akan melanggar aturan apa pun,” aku berjanji.

“Ini benar-benar soal kau dan aku,” Aku berdehamdeham. “Begini… aku terkesan melihat betapa baiknya kita berkompromi semalam. Jadi kupikir. aku ingin mengaplikasikan prinsip yang sama pada situasi berbeda.”Entah kenapa sikapku formal sekali. Pasti karena gugup.

“Memangnya apa yang ingin kaunegosiasikan?” tanya Edward, suaranya mengandung senyum.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.