Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Aku akan membantu Jasper kalau dia membutuhkan. Dia ingin mencoba beberapa pengelompokan yang tidak seimbang. mengajari mereka caranya menghadapi beberapa penyerang sekaligus.”

Edward mengangkat bahu.

Gelombang kepanikan baru langsung menghancurkan rasa percaya diriku yang singkat tadi.

Mereka terap kalah banyak. Aku malah semakin memperparah keadaan.

Mataku menatap lapangan, berusaha menyembunyikan kepanikanku.

Ternyata aku memandang ke tempat yang salah, sementara aku berusaha keras membohongi diri sendiri, meyakinkan diriku segala sesuatu akan berjalan seperti kemauanku. Karena ketika aku memaksa mataku berpaling dari keluarga Cullen,mengalihkan pandangan dari latihan perang-perangan yang beberapa hari lagi akan menjadi nyata dan mematikan, mataku tertumbuk kepada Jacob dan ia tersenyum.

Lagi-lagi seringaian khas serigala seperti yang ditunjukkannya kemarin, matanya menyipit seperti yang biasa dilakukannya saat berwujud manusia.

Sulit dipercaya bahwa, belum lama berselang, aku menganggap serigala-serigala itu mengerikan, sampaisampai aku tidak bisa tidur karena terganggu mimpi buruk mengenai mereka.

Aku tahu, tanpa bertanya, yang mana Embry dan yang mana Quit. Karena Embry jelas-jelas serigala kelabu kurus dengan bercak-bercak gelap di punggungnya, yang duduk menonton dengan sabar, sementara Quil-bulunya cokelat tua, dengan warna lebih terang di daerah sekitar wajah, bergerak-gerak terus, sepertinya sangat ingin bergabung dengan perang-perangan itu. Mereka bukan monster, bahkan dalam keadaan seperti ini. Mereka teman.

Teman yang tidak terlihat tak terkalahkan seperti Emmett dan Jasper, yang bergerak lebih cepat daripada pagutan kobra, dengan cahaya bulan memantul berkilauan di kulit mereka yang sekeras granit. Teman yang kelihatannya tidak memahami bahaya yang mengancam di sini. Teman yang tidak abadi, yang bisa berdarah, yang bisa tewas….

Rasa percaya diri Edward memang meyakinkan, karena kentara sekali ia tidak terlalu mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Tapi apakah ia akan sedih jika sesuatu terjadi pada serigala-serigala itu? Adakah alasan baginya untuk merasa cemas, bila kemungkinan itu tidak mengganggunya sama sekali? Rasa percaya diri Edward hanya berlaku untuk satu sisi ketakutanku.

Aku berusaha membalas senyum Jacob, menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokanku bagai tersumbat. Sepertinya aku tidak berhasil menyunggingkan senyum yang wajar.

Jacob melompat ringan, kelincahannya tampak tak sepadan dengan tubuhnya yang besar, dan ia berlari-lari kecil menghampiri Edward dan aku yang berdiri di pinggir arena.

“Jacob,” Edward menyapanya sopan.

Jacob tidak menggubrisnya, mata hitamnya tertuju padaku, ia merendahkan kepalanya hingga sejajar denganku, seperti yang dilakukannya kemarin. menelengkannya ke satu sisi.

Dengkingan pelan keluar dari moncongnya.

“Aku baik-baik saja.” jawabku. tanpa perlu diterjemahkan Edward. “Hanya khawatir.”

Jacob terus memandangiku.

“Dia ingin tahu kenapa.” gumam Edward.

Jacob menggeram – nadanya tidak mengancam, hanya kesal – dan bibir Edward bergerak-gerak.

“Apa?” tanyaku.

“Dia menganggap terjemahanku tidak tepat. Sebenarnya yang dia pikirkan adalah, ‘itu benar-benar bodoh. Apa yang perlu dikhawatirkan?’ Aku mengeditnya karena menurutku itu kasar.”

Aku tersenyum setengah hati, kelewat cemas untuk benar-benar merasa geli. “Justru banyak sekali yang perlu dikhawatirkan,” kataku kepada Jacob. “Seperti misalnya, segerombolan serigala bodoh mencelakakan diri sendiri.”

Jacob mengumandangkan tawanya yang menggonggong itu.

Edward mendesah. “Jasper minta bantuan. Kau bisa kan tanpa penerjemah?”

“Bisa.”

Sejenak Edward menatapku sendu, ekspresinya sulit dimengerti, lalu ia berbalik dan berjalan ke tempat Jasper sudah menunggu.

Aku duduk di tempatku berdiri tadi. Tanah dingin dan tidak nyaman.

Jacob maju selangkah, lalu berpaling menatapku, dan dengkingan pelan keluar dari tenggorokannya. Ia maju lagi setengah langkah.

“Tontonlah tanpa aku,” kataku. “Aku tidak ingin menonton.”

Jacob Mencondongkan kepalanya lagi ke satu sisi, kemudian melipat tubuhnya dan duduk di tanah dengan embusan napas yang menggetarkan tubuhnya.

“Benar kok. kauperhatikan latihannya saja,” aku meyakinkan dia. Jacob tidak menyahut, hanya Meletakkan kepalanya di kedua kaki depannya.

Aku menengadah, memandangi awan-awan yang perak cemerlang, tidak ingin menonton pertempuran. Imajinasiku sudah cukup liar. Angin sepoi-sepoi bertiup ke lapangan. dan aku menggigil.

Jacob beringsut lebih dekat kepadaku, mendesakkan bulu-bulunya yang hangat ke sisi kiri tubuhku.

“Eh, trims.” gumamku.

Beberapa menit kemudian aku bersandar di bahunya yang lebar. Jauh lebih nyaman seperti itu.

Awan-awan bergerak lambat di langit, suasana berubah redup kemudian cerah kembali saat gumpalan-gumpalan tebal melewati bulan dan terus melaju.

Tanpa berpikir aku mulai menyusupkan jari-jariku ke bulu lehernya. Suara dengkuran aneh seperti kemarin menggeletar di kerongkongannya. Suaranya terdengar akrab. Lebih kasar, lebih liar daripada dengkuran kucing. tapi sama-sama menunjukkan suasana hati yang senang dan gembira.

“Kau tahu, aku tidak pernah punya anjing,” renungku. “Sebenarnya aku ingin memelihara anjing. tapi Renee alergi.”

Jacob tertawa, tubuhnya bergetar di bawah tanganku.

“Kau sama sekali tidak khawatir mengenai hari Sabtu?” tanyaku.

Jacob memalingkan kepalanya yang besar ke arahku. sehingga aku bisa melihat satu bola matanya berputar.

“Kalau saja aku bisa seyakin itu.”

Jacob menyandarkan kepalanya ke kakiku, dan mulai mendengkur lagi. Itu benar-benar membuat perasaanku sedikit lebih enak.

“Jadi besok kita akan pergi hiking, kurasa.”

Jacob menggeram; nadanya antusias.

“Mungkin akan jauh sekali,” Aku mewanti-wanti Jacob. “Edward tidak menilai jarak seperti manusia normal umumnya.”

Lagi-lagi Jacob menggonggong tertawa.

Aku semakin merapat ke bulunya yang hangat, menyandarkan kepalaku ke lehernya.

Aneh. Meski Jacob sedang dalam wujud aneh seperti sekarang. tapi kami tetap seperti Jake dan aku dulu – persahabatan yang damai dan tenteram, yang sama alaminya dengan bernapas – dibandingkan dengan beberapa saat terakhir aku bersama-sama Jacob saat ia dalam wujud manusia. Sungguh ganjil, aku justru menemukan perasaan itu lagi di sini, padahal kukira wujud serigala merupakan penyebab hilangnya perasaan itu.

Perang-perangan berlanjut di lapangan, dan mataku menerawang ke bulan yang berkabut.

 

20. KOMPROMI

SEMUA sudah siap.

Aku sudah berkemas-kemas untuk menginap dua hari bersama Alice; dan tasku sudah menunggu di truk. Aku sudah memberikan tiket konserku ke Angela, Ben, dan Mike. Mike akan mengajak Jessica. persis seperti yang kuharapkan. Billy meminjam kapal Quil Ateara Tua dan mengajak Charlie memancing di laut lepas sebelum pertandingan sore dimulai. Collin dan Brady, dua werewolf termuda, sengaja ditinggal untuk menjaga La Push, walaupun mereka masih kanak-kanak usia keduanya baru tiga belas. Meski begitu Charlie lebih aman daripada siapa pun yang tetap berada di Forks.

Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan. Aku berusaha menerima hal itu, dan melupakan hal-hal lain yang berada di luar kendaliku, setidaknya untuk malam ini. Bagaimanapun hasilnya nanti, semua akan berakhir dalam 48 jam. Pikiran itu nyaris terasa melegakan.

Edward memintaku rileks, dan aku akan berusaha semampuku.

“Untuk malam ini saja, bisakah kita mencoba melupakan hal-hal lain kecuali kau dan aku?” pinta Edward, mengeluarkan segenap pesona lewat sorot matanya yang tertuju padaku. “Sepertinya aku tak pernah bisa punya cukup waktu seperti itu. Aku perlu berduaan denganmu. Hanya denganmu.”‘

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.