Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Wow, aku benar-benar kehilangan sehari penuh Rasanya benar-benar rugi. Untung nantinya aku tidak selalu harus membuang-buang waktuku dengan tidur.

Aku sudah rapi waktu Charlie sampai di rumah, berpakaian lengkap, baju rapi, dan sibuk di dapur memasakkan makan malam untuknya. Alice duduk di tempat Edward biasa duduk dan sepertinya itu langsung membuat Charlie bersikap ceria.

“Halo, Alice! Bagaimana kabarmu, Sayang?”

“Aku baik-baik saja, Charlie, trims.”

“Akhirnya bangun juga kau, tukang tidur,” kata Charlie padaku waktu aku duduk di sebelahnya, sebelum berpaling kembali kepada Alice. “Semua orang ramai membicarakan pesta yang diadakan orangtuamu semalam. Wah, kalian pasti repot sekali membereskan seisi rumah.”

Alice mengangkat bahu. Karena sudah mengenal Alice dengan baik, itu pasti sudah selesai dikerjakan.

“Tidak percuma kok,” ujarnya. “Pestanya meriah.”

“Mana Edward?” tanya Charlie, sedikit enggan. “Apa dia sedang membantu beres-beres?”

Alice mengembuskan napas dan wajahnya berubah murung. Mungkin itu hanya akting, tapi terlalu sempurna di mataku sehingga rasanya mengerikan. “Tidak. Dia sedang sibuk merencanakan acara akhir pekan bersama Emmett dan Carlisle.”

“Hiking lagi?”

Alice mengangguk, wajahnya mendadak sendu. “Ya. Mereka semua pergi, kecuali aku. Kami selalu pergi backpacking pada akhir tahun ajaran, semacam perayaan, tapi tahun ini aku memutuskan lebih suka belanja daripada hiking, tapi tak seorang pun mau tinggal untuk menemaniku. Aku sendirian.”

Wajah Alice berkerut, ekspresinya begitu sedih sampaisampai Charlie otomatis mencondongkan tubuh ke arahnya, sebelah tangan terulur, seperti ingin menolong. Kupelototi Alice dengan sikap curiga. Apa lagi yang dilakukannya sekarang?

“Alice, Sayang, kenapa kau tidak menginap saja di sini bersama kami?” Charlie menawarkan. “Aku tidak suka membayangkan kau sendirian di rumah besar itu.”

Alice mendesah. Sesuatu menginjak kakiku di bawah meja.

“Aduh!” protesku.

Charlie berpaling kepadaku. “Apa?” Alice melayangkan pandangan frustrasi ke arahku.

Kentara sekali ia menganggapku sangat lamban malam ini.

“Jari kakiku terantuk,” gumamku.

“Oh,” Charlie menoleh lagi kepada Alice. “Jadi..

bagaimana tawaranku tadi?”

Lagi-lagi Alice menginjak kakiku, kali ini tidak terlalu keras.

‘”Eh, Dad, Dad kan tahu akomodasi di sini kurang memadai. Berani bertaruh, Alice pasti tidak mau tidur di lantai kamarku..”

Charlie mengerucutkan bibir. Alice menunjukkan ekspresi murung itu lagi.

‘”Kalau begitu, mungkin sebaiknya Bella menemanimu di rumahmu,” Charlie menyarankan. “Hanya sampai orangtuamu kembali.'”

“Oh, kau mau, tidak, Bella?” Alice tersenyum berseri-seri

padaku. “Kau tidak keberatan shopping denganku, kan?”

“Tentu,” aku setuju. “Shopping. Oke.”

“Kapan mereka berangkat?” tanya Charlie.

Lagi-lagi Alice mengernyit. “Besok.”

“Kapan kau mau aku datang?” tanyaku.

“Sehabis makan malam, kurasa,” jawabnya, kemudian menempelkan telunjuknya di dagu, berpikir-pikir. “Hari Sabtu kau tidak ada acara apa-apa, kan? Aku ingin shopping ke luar kota, pergi seharian.”

“Jangan ke Seattle,” sela Charlie, alisnya bertaut.

“Tentu saja tidak,” Alice langsung menyanggupi, walaupun kami tahu Seattle justru akan sangat aman pada hari Sabtu.

“Maksudku ke Olympia, mungkin..”

“Kau pasti senang, Bella.” Charlie riang karena lega.

“Pergilah, sekali-sekali menghirup udara kota.”

“Yeah, Dad. Pasti asyik.”

Dengan satu obrolan ringan, Alice berhasil mendapatkan izin bagiku untuk keluar pada malam terjadinya pertempuran.

Edward kembali tak lama kemudian. Diterimanya saja ucapan selamat bersenang-senang dari Charlie tanpa perasaan terkejut. Ia berkata mereka harus berangkat pagipagi sekali besok, dan berpamitan sebelum waktu biasanya ia pulang.

Alice ikut pulang bersamanya.

Aku permisi hendak tidur tak lama setelah mereka pulang.

“Masa kau sudah capek lagi,” protes Charlie.

“Sedikit,” dustaku.

“Pantas kau sering mangkir menghadiri pesta,” gerutu

Charlie. “Kau butuh waktu yang sangat lama untuk pulih.”

Di lantai atas, Edward sudah berbaring melintang di tempat tidurku.

“Jam berapa kita akan bertemu dengan para serigala?” bisikku sambil mendekatinya.

“Satu jam lagi.”

“Bagus. Jake dan teman-temannya butuh tidur.”

“Mereka tidak butuh tidur sebanyak kau,” tukasnya.

Aku beralih ke topik lain, berasumsi Edward berniat membujukku tinggal saja di rumah. “Alice sudah cerita padamu, belum, kalau dia menculikku lagi?”

Edward nyengir. “Sebenarnya, bukan begitu.”

Kutatap Edward, bingung, dan ia tertawa pelan melihat ekspresiku.

“Akulah satu-satunya yang diizinkan menyanderamu, ingat?” tanya Edward. “Alice akan pergi berburu bersama mereka semua.” Ia mendesah. “Kurasa aku tidak perlu melakukan itu sekarang.”

“Jadi kau yang akan menculikku?”

Edward mengangguk.

Aku berpikir sebentar. Tidak ada Charlie yang mendengarkan di lantai bawah, sesekali datang untuk mengecek. Dan di seantero rumah tidak ada vampir yang tidak pernah tidur dengan pendengaran mereka yang luar biasa sensitif. Hanya dia dan aku – benar-benar sendirian.

“Kau tidak keberatan, kan?” tanya Edward, cemas melihatku terdiam.

“Well… tentu tidak. kecuali satu hal.”

“Apa itu?” Mata Edward tampak gelisah. Membingungkan, tapi entah kenapa Edward sepertinya masih merasa tidak yakin ia memilikiku. Mungkin aku perlu lebih memperjelas maksudku.

“Kenapa Alice tidak bilang saja kepada Charlie bahwa kau berangkat malam ini?” tanyaku.

Edward tertawa, lega.

Aku menikmati perjalanan ke lapangan lebih daripada semalam. Aku masih merasa bersalah, masih takut, tapi tidak ketakutan lagi. Aku bisa berfungsi. Aku bisa melihat melewati apa yang akan terjadi, dan nyaris meyakini bahwa mungkin keadaan akan baik-baik saja. Ternyata Edward bisa menerima usul untuk tidak ikut berperang… dan karena itulah, sulit untuk tidak memercayainya waktu mengatakan mereka bisa memenangkan peperangan ini dengan mudah. Edward tidak mungkin berani meninggalkan keluarganya kalau ia sendiri tidak percaya. Mungkin Alice benar, aku terlalu khawatir.

Kami yang terakhir sampai di lapangan.

Jasper dan Emmett sudah bergulat, hanya pemanasan kalau mendengar tawa mereka, Alice dan Rosalie duduk di tanah yang keras, menonton. Esme dan Carlisle mengobrol berapa meter dari sana, kepala mereka berdekatan, jari-jari saling bertautan, tak memedulikan sekeliling mereka.

Malam ini suasana jauh lebih benderang, cahaya bulan menerobos awan-awan tipis, dan aku bisa dengan mudah melihat tiga serigala duduk mengitari arena latihan, satu sama lain terpisah cukup jauh, supaya bisa menonton dari sudut berbeda.

Aku juga langsung bisa mengenali Jacob; aku pasti akan langsung mengenalinya, walaupun seandainya ia tidak mendongak dan menengok begitu mendengar kami datang.

“Mana serigala-serigala yang lain?” tanyaku.

“Tidak semuanya perlu datang ke sini. Satu saja sudah cukup, tapi Sam tidak terlalu percaya kepada kita sehingga berani mengirim Jacob sendirian, walaupun Jacob bersedia. Quil dan Embry adalah… kurasa kau bisa menyebut mereka pendamping Jacob.”

“Jacob percaya padamu.”

Edward mengangguk. “Dia percaya kami tidak akan mencoba membunuhnya. Hanya itu, tapi.”

“Apakah kau akan ikut berpartisipasi malam ini?” tanyaku, ragu-ragu. Aku tahu hampir sama sulitnya bagi Edward ditinggal sendirian, sama seperti aku sulit ditinggal olehnya. Mungkin malah lebih sulit.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.