Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Ide bagus,” Edward sepertinya enggan mengakuinya. “Aku akan merasa lebih tenang kalau ada Seth di sana, bahkan seandainya tanpa komunikasi instan. Entah apakah aku sanggup meninggalkan Bella sendirian di sana. Tapi coba bayangkan betapa anehnya situasi ini sekarang! Mempercayai werewolf!”

“Bertarung bersama vampir, bukannya melawan mereka!”

Jacob menirukan nada jijik seperti yang disuarakan Edward.

“Well”, kau masih bisa bertarung melawan beberapa di antara mereka,” tukas Edward.

Jacob tersenyum. “Karena itulah kami ada di sini.”

 

19. EGOIS

EDWARD menggendongku pulang dalam dekapannya, yakin aku pasti takkan mampu berpegangan padanya. Aku pasti jatuh tertidur dalam perjalanan.

Waktu bangun aku sudah berada di tempat tidur dan cahaya suram menerobos masuk melalui kaca-kaca jendela, miring dan datang dari Sudut yang aneh. Hampir seolaholah hari sudah sore.

Aku menguap dan menggeliat, jari-jariku mencari-cari Edward tapi ia tak ada.

“Edward?’ gumamku.

Jemariku yang meraba-raba menyentuh sesuatu yang dingin dan halus. Tangannya.

“Kau sudah benar-benar bangun sekarang,” bisik Edward.

“Mmm,” aku mendesah mengiyakan. “Memangnya banyak pertanda palsu?”

“Kau gelisah terus – mengoceh seharian.”

“Seharian?” Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan menoleh lagi ke jendela.

“Kau habis begadang,” kata Edward menenangkan.”Jadi kau pantas tidur seharian.”

Aku terduduk, kepalaku pening. Cahaya memang menerobos masuk ke jendelaku dari arah barat. “Wow.”

“Lapar?” tebak Edward.” Mau sarapan di tempat tidur?”

“Aku bisa sendiri kok,” erangku, menggeliat lagi. “Aku harus turun dan bergerak.”

Edward menggandeng tanganku menuju dapur, mengamatiku dengan waswas, seolah-olah takut aku akan ambruk. Atau mungkin dikiranya aku melindur.

Aku memilih sarapan yang sederhana, memasukkan dua keping Pop-Tart ke panggangan. Aku melihat bayangan diriku sendiri di lapisan kromnya yang memantulkan bayangan.

“Ya ampun, aku benar-benar tampak berantakan.”

“Semalam memang sangat melelahkan.” kata Edward lagi. “Seharusnya kau tinggal saja di sini dan tidur.”

“Yang benar saja! Dan ketinggalan semuanya. Kau tahu, kau harus mulai bisa menerima fakta sekarang aku sudah menjadi bagian keluargamu.”

Edward tersenyum. “Mungkin lama-lama aku akan terbiasa juga.”

Aku duduk menghadapi sarapanku, sementara Edward duduk di sampingku. Ketika kuangkat Pop-Tart untuk gigitan pertama, kulihat Edward memandangi tanganku. Aku menunduk, dan melihat aku masih mengenakan hadiah yang diberikan Jacob untukku di pesta.

“Boleh lihat?” tanyanya, meraih bandul serigala kecil dari kayu itu.

Aku menelan dengan suara berisik. “Eh tentu.”

Edward menyeimbangkan patung mungil itu di telapak tangannya yang putih. Sesaat, aku sempat takut. Hanya dengan sedikit remasan jari-jarinya, bandul itu bakal remuk.

Tapi tentu saja Edward takkan berbuat begitu. Punya pikiran seperti itu saja sudah membuatku malu. Edward hanya menimang-nimang serigala kecil itu di telapak tangannya berapa saat, lalu melepasnya. Bandul itu berayun pelan di pergelangan tanganku.

Aku mencoba membaca ekspresi di matanya. Yang kulihat hanya ekspresi berpikir, semua yang lain dipendamnya, kalau memang ada yang lain.

“Jacob Black boleh memberimu hadiah.”

Itu bukan pertanyaan, atau tuduhan. Hanya pernyataan fakta. Tapi aku tahu ia merujuk pada hari ulang tahun terakhirku serta kekesalanku karena diberi berbagai hadiah,waktu itu aku tidak menginginkan apa-apa. Terutama tidak dari Edward. Memang tidak sepenuhnya logis, dan, tentu saja, semua orang tetap mengabaikan keinginanku…

“Kau sudah sering memberiku hadiah,” aku mengingatkan dia. “Kau tahu aku suka barang-barang buatan sendiri.”

Edward mengerucutkan bibirnya sejenak. “Bagaimana kalau barang yang dulunya milik orang lain Apakah itu bisa diterima?”

“Maksudmu?”

“Gelang ini.” Telunjuk Edward menyusuri gelang yang melingkar di pergelangan tanganku. “Kau akan sering memakainya?”

Aku mengangkat bahu.

“Karena kau tidak ingin melukai perasaannya,” Edward menduga dengan cerdik.

“Tentu, kurasa begitu.”

“Adilkah menurutmu, kalau begitu?” tanya Edward, menunduk menatap tanganku sambil bicara. Ia membalikkan tanganku hingga telapakku menghadap ke atas, lalu ujung jarinya menyusuri urat-urat nadi di pergelangan tanganku. “Kalau aku juga memberimu sesuatu yang bisa merepresentasikan aku?”

“Merepresentasikanmu?”

“Sebuah bandul, sesuatu yang akan selalu membuatmu teringat padaku.”

“Aku selalu mengingatmu. Tidak perlu pengingat lain.”

“Kalau aku memberimu sesuatu, maukah kau memakainya? “desak Edward.

“Benda yang pernah dimiliki seseorang?” aku mengecek.

“Ya, sesuatu yang sudah lama kusimpan.” Edward menyunggingkan senyum malaikatnya.

Kalau hanya ini reaksi Edward terhadap hadiah Jacob, aku akan menerimanya dengan senang hati. “Apa saja asal kau bahagia.”

“Kau menyadari ketidakseimbangannya, bukan?” tanyanya, nada suaranya berubah menuduh. “Karena aku jelas menyadarinya.”

“Ketidakseimbangan apa?”

Mata Edward menyipit. “Orang lain boleh memberimu hadiah sesuka mereka. Semua kecuali aku. Aku ingin sekali memberimu hadiah kelulusan tapi itu tidak kulakukan. Aku tahu itu akan membuatmu lebih marah daripada kalau orang lain yang memberimu hadiah. Itu sangat tidak adil. Bagaimana kau menjelaskan alasanmu?”

“Gampang.” Aku mengangkat bahu. “Kau lebih penting dari pada semua orang lain. Dan kau sudah memberiku dirimu. Itu lebih daripada yang pantas kuterima, dan hadiah lain, apa pun, yang kuterima darimu, hanya akan membuat posisi kita makin tak seimbang.”

Edward mencerna penjelasanku sesaat, kemudian memutar bola matanya. “Caramu menghargaiku benarbenar konyol.”

Aku mengunyah sarapanku dengan tenang. Aku tahu Edward tidak akan mengerti bila kukatakan padanya pikirannya itu terbalik.

Ponsel Edward mendengung.

Diperhatikannya dulu nomor yang tertera di sana sebelum menerimanya. “Ada apa, Alice?”

Edward mendengarkan, dan aku menunggu reaksinya, mendadak gugup. Tapi apa pun yang dikatakan Alice tidak membuat Edward terkejut. Ia mendesah beberapa kali.

“Rasa-rasanya aku sudah menduga akan seperti itu,” kata Edward kepada Alice, menatap mataku. alisnya terangkat dengan sikap tidak setuju. “Dia bicara dalam tidurnya.”

Pipiku merah padam. Memangnya apa lagi yang kuocehkan?

“Serahkan saja padaku,” janjinya.

Edward menatapku garang sambil memutuskan hubungan.

“Apakah ada yang ingin kaubicarakan denganku?”

Aku menimbang-nimbang sesaat. Menilik peringatan Alice semalam, aku bisa menebak maksud Alice menelepon Edward. Kemudian aku teringat mimpi-mimpi mengganggu yang kualami waktu aku tidur seharian, dalam mimpi itu aku mengejar Jasper, berusaha mengikutinya dan menemukan lapangan terbuka di tengah hutan yang berkelok-kelok menyesatkan, tahu aku akan menemukan Edward di sana… Edward. serta para monster yang ingin membunuhku, tapi aku tidak peduli pada mereka karena sudah membuat keputusan, aku sudah bisa menebak apa yang didengar Edward sementara aku tidur.”

Aku mengerucutkan bibir sesaat, tak sanggup membalas tatapannya. Edward menunggu.

“Aku suka ide Jasper,” kataku akhirnya.

Edward mengerang.

“Aku ingin membantu. Aku harus melakukan sesuatu,” aku bersikeras.

“Tidak akan membantu kalau kau berada dalam bahaya.”

“Menurut Jasper itu bisa membantu. Ini kan keahliannya.”

Edward memelototiku.

“Kau tidak bisa membuatku menyingkir,” ancamku. “Aku tidak mau bersembunyi di hutan sementara kalian mempertaruhkan nyawa demi aku.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.