Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Edward menggeleng. “Baunya terlalu kuat dan, bercampur dengan bauku, menjadi sangat kentara. Biarpun aku menggendongnya, tetap saja akan meninggalkan jejak. Jejak kami memang tersebar di mana-mana, tapi bercampur dengan bau Bella, akan menarik perhatian mereka. Kami tidak yakin jalan mana yang akan mereka lalui, karena mereka belum tahu. Kalau mereka mencium baunya sebelum menemukan kita…”

Mereka sama-sama meringis, alis keduanya bertaut.

“Kau paham kan kesulitannya.”

“Pasti ada jalan untuk mengakalinya,” gerutu Jacob. Matanya memandang garang ke hutan, mengerucutkan bibirnya.

Aku limbung. Edward memeluk pinggangku, menarikku lebih dekat dan menyangga tubuhku.

“Aku harus mengantarmu pulang, kau kelelahan. lagi pula sebentar lagi Charlie bangun…”

“Tunggu sebentar,” sergah Jacob, memutar tubuhnya menghadap kami lagi, matanya cemerlang. “Kalian jijik pada bauku, kan?”

“Hmm, lumayan.” Edward maju dua langkah. “Itu mungkin.” Ia menoleh ke keluarganya. “Jasper?” serunya.

Jasper mendongak dengan sikap ingin tahu. Ia mendekat, bersama Alice setengah langkah di belakangnya. Wajahnya kembali frustrasi.

“Oke, Jacob.” Edward mengangguk padanya.

Jacob menoleh padaku, wajahnya menyiratkan campuran berbagai emosi. Kentara sekali ia bersemangat dengan rencana barunya ini, tapi juga gelisah karena berada begitu dekat dengan sekutu-sekutu musuhnya. Kemudian giliranku yang merasa waswas waktu ia mengulurkan kedua lengannya kepadaku.

Edward menghela napas dalam-dalam.

“Akan kita lihat apakah aku bisa cukup mengecoh baumu untuk menyembunyikan jejakmu,” Jacob menjelaskan.

Kupandangi kedua lengannya yang terulur dengan sikap curiga.

“Kau harus membiarkannya menggendongmu, Bella,” Edward menjelaskan kepadaku. Suaranya tenang, tapi aku bisa mendengar perasaan tidak suka di baliknya.

Keningku berkerut.

Jacob memutar bola matanya, tidak sabaran, lalu mengulurkan tangan dan merenggutku ke dalam pelukannya.

“Jangan cengeng begitu,” gerutunya.

Tapi matanya melirik Edward, sama seperti aku. Wajah Edward tetap kalem dan tenang. Ia menujukan perkataannya kepada Jasper.

“Bau Bella jauh lebih tajam bagiku – jadi kupikir, akan lebih adil bila orang lain yang mencoba.”

Jacob memunggungi mereka dan berjalan cepat ke hutan. Aku tidak mengatakan apa-apa saat kegelapan melingkupi kami. Aku cemberut, tidak senang dipeluk Jacob. Rasanya terlalu intim – sebenarnya dia tidak perlu memelukku seerat itu – dan dalam hati aku bertanya-tanya bagaimana rasanya ini bagi dia. Aku bersedekap, kesal saat penyangga lenganku justru semakin membuatku teringat pada kenangan buruk itu.

Kami tidak pergi terlalu jauh; Jacob berjalan mengikuti pola melengkung yang lebar dan kembali ke lapangan dari arah berbeda, mungkin setengah lapangan jauhnya dari titik kami berangkat tadi. Edward berdiri sendirian dan Jacob menghampirinya.

“Kau bisa menurunkan aku sekarang.”

“Aku tidak mau mengambil risiko mengacaukan eksperimen…” Jacob memelankan langkah dan semakin mempererat pelukannya.

“Kau benar-benar menjengkelkan,” gerutuku.

“Trims.”

Entah dari mana tahu-tahu Jasper dan Alice sudah berdiri di samping Edward. Jacob maju selangkah, kemudian menurunkan aku beberapa meter jauhnya dari Edward. Tanpa menoleh lagi kepada Jacob, aku menghampiri Edward dan meraih tangannya.

“Well?” tanyaku.

“Asal kau tidak menyentuh apa-apa, Bella, aku tidak bisa membayangkan ada yang mau repot mengendus-endus tanah untuk mencari baumu,” kata Jasper, nyengir. “Baumu hampir sepenuhnya tersamarkan.”

“Sukses besar,” Alice sependapat, mengernyitkan hidung.

“Dan aku mendapat ide.”

“Yang pasti akan berhasil,” imbuh Alice penuh percaya diri.

“Cerdik,” Edward sependapat.

“Bagaimana kau bisa tahan dengan semua itu?” bisik Jacob padaku.

Edward tak memedulikan Jacob dan menatapku saat ia menjelaskan. “Kami, well, kau, akan meninggalkan jejakjejak palsu menuju lapangan. Bella. Para vampir baru itu sedang berburu, jadi baumu akan membuat mereka bergairah, dan mereka akan datang tepat ke tempat yang kami inginkan tanpa kami harus berhati-hati mengenainya. Alice sudah bisa melihat rencana ini pasti berhasil. Saat mereka menangkap bau kami, mereka akan berpencar dan berusaha menyerang kami dari dua sisi. Setengah masuk ke hutan, tempat visi Alice tiba-tiba menghilang…”

“Yes!” desis Jacob.

Edward tersenyum pada Jacob, benar-benar senyum bersahabat.

Aku merasa muak. Bagaimana mereka bisa begitu bersemangat membicarakan ini? Bagaimana aku bisa tahan bila dua-duanya berada dalam bahaya? Aku tidak sanggup.

Aku tidak mau.

“Tidak bisa,” sergah Edward tiba-tiba, nadanya marah. Aku terlonjak kaget, khawatir Edward mendengar tekadku barusan, tapi matanya tertuju kepada Jasper.

“Aku tahu, aku tahu,” Jasper buru-buru menyergah. “Aku bahkan tidak mempertimbangkannya, sungguh.”

Alice menginjak kakinya.

“Kalau Bella benar-benar berada di lapangan.” Jasper menjelaskan kepada Alice, “para vampir baru itu bakal kesetanan. Mereka takkan bisa berkonsentrasi pada hal lain selain dirinya. Mudah saja menghabisi mereka…”

Tatapan garang Edward membuat Jasper mundur.

“Tentu saja itu terlalu berbahaya bagi Bella. Itu pikiran ngawur,” ujarnya buru-buru. Tapi ia melirikku, dan sorot matanya berharap.

“Tidak,” tolak Edward. Nadanya tegas, tak bisa ditawartawar.

“Kau benar.” kata Jasper. Ia meraih tangan Alice dan menghampiri yang lain. “Dua yang terbaik dari tiga?” Kudengar ia bertanya kepada Alice saat mereka beranjak untuk latihan lagi.

Jacob memandanginya dengan jijik.

“Jasper selalu memandang segala sesuatu dari perspektif militer,” dengan tenang Edward membela saudaranya. “Dia selalu melihat berbagai opsi,itu namanya teliti, bukan tidak berperasaan.”

Jacob mendengus.

Tanpa sadar sejak tadi Jacob semakin beringsut mendekat, tertarik oleh keasyikannya menyimak perencanaan. Sekarang ia berdiri tidak sampai satu meter dari Edward, dan, berdiri di antara mereka, bisa kurasakan udara sarat oleh ketegangan fisik. Seperti arus listrik statis yang setiap saat bisa korslet.

Edward kembali bersikap resmi. “Aku akan membawanya ke sini Jumat siang untuk menyebarkan jejak palsu. Kalian bisa menemui kami sesudahnya, dan membawanya ke tempat yang kuketahui. Tempatnya terpencil, mudah dipertahankan, walaupun bukan berarti pasti akan seperti itu. Aku akan mengambil rute lain menuju ke sana.”

“Lalu bagaimana? Meninggalkannya dengan ponsel?” Tanya Jacob kritis.

“Kau punya ide yang lebih bagus?”

Tiba-tiba Jacob tampak puas. “Ya, ada.”

“Oh.. Baiklah, anjing, lumayan juga idemu.”

Dengan cepat Jacob menoleh menatapku, seolah-olah bertekad menjadi pihak yang baik dengan menginformasikan jalannya pembicaraan. “Kami berusaha membujuk Seth untuk tinggal bersama dua serigala muda lainnya. Dia masih terlalu muda, tapi keras kepala dan pemberontak. Jadi terpikir olehku untuk memberinya tugas lain – ponsel.”

Aku berusaha menunjukkan sikap seolah-olah mengerti.

Tapi semua tahu aku tidak mengerti.

“Selama Seth Clearwater menjadi serigala, dia bisa terus berhubungan dengan kawanannya,” Edward menjelaskan. “Jarak tidak masalah!” imbuhnya, menoleh kepada Jacob.

“Tidak.”

“Empat ratus delapan puluh kilometer?” Tanya Edward. “Mengesankan.”

Jacob kembali berbaik hati. “Itu jarak terjauh yang pernah dieksperimenkan,” ia menjelaskan padaku. “Masih sangat jelas.”

Aku mengangguk asal, dalam hati aku kaget karena si kecil Seth Clearwater sudah menjadi manusia serigala juga, dan itu membuatku sulit berkonsentrasi. Dalam benakku aku bisa melihat senyumnya yang cemerlang, sangat mirip Jacob waktu masih kecil dulu; usianya tak mungkin lebih dari lima belas tahun, kalau Seth memang itulah usianya. Tiba-tiba saja aku bisa memahami antusiasmenya yang meluap-luap saat pertemuan api unggun waktu itu…

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.