Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku balas menatapnya, berusaha memercayai apa yang sudah kuketahui. Bisa kurasakan ekspresi kagum dan takjub terlihat di wajahku.

Moncong serigala itu terbuka, tertarik ke belakang, menampakkan giginya. Seharusnya itu ekspresi yang mengerikan, kalau bukan karena lidahnya yang menjulur ke samping, membentuk seringaian khas serigala.

Aku tertawa.

Seringaian Jacob bertambah lebar, menampakkan giginya yang tajam. Ia meninggalkan barisan, tak memedulikan ratapan teman-teman sekawanannya yang mengikutinya. Ia berlari-lari kecil melewati Edward dan Alice untuk berdiri kira-kira setengah meter dariku. Ia berhenti di sana, melirik Edward sekilas.

Edward berdiri tak bergerak, seperti patung, matanya masih tetap menilai reaksiku.

Jacob membungkuk, melipat kaki depannya dan merunduk hingga wajahnya tidak lebih tinggi dari wajahku, menatapku, mengukur responsku seperti yang dilakukan Edward.

“Jacob?” desahku.

Jawaban berupa geraman jauh dari dalam dadanya terdengar seperti tawa terkekeh.

Aku mengulurkan tangan, jari-jariku sedikit gemetar, dan menyentuh bulu merah-cokelat di sisi wajahnya.

Mata hitam itu terpejam, dan Jacob menyandarkan kepalanya yang besar ke tanganku. Geraman mendengung bergaung dari kerongkongannya.

Bulunya lembut sekaligus kasar, dan terasa hangat di kulitku. Aku menyusupkan jari-jariku ke dalamnya dengan sikap ingin tahu, meraba teksturnya, membelai-belai bagian leher yang warnanya lebih gelap. Aku tidak sadar berdiri dekat sekali dengannya; sekonyong-konyong, tanpa peringatan lebih dulu, Jacob menjilat wajahku dari dagu sampai ke batas rambut.

“Ihh! Jijik, Jake!” keluhku, melompat ke belakang dan memukulnya, bersikap seolah-olah ia manusia. Jacob mengelakkan pukulanku, dan gonggongan terbatuk-batuk yang keluar dari sela-sela giginya jelas merupakan tawa.

Kuseka wajahku dengan lengan baju, tak tahan untuk tidak ikut tertawa.

Saat itulah baru aku menyadari semua ternyata memerhatikan kami, keluarga Cullen dan para werewolf, keluarga Cullen dengan ekspresi terperangah dan sedikit jijik. Sementara ekspresi para serigala sulit dibaca. Tapi Sam tampak tidak senang.

Kemudian aku melihat Edward, gelisah dan jelas-jelas kecewa. Sadarlah aku ia mengharapkan reaksi lain dariku. Misalnya menjerit-jerit dan kabur ketakutan.

Lagi-lagi Jacob bersuara seperti tertawa.

Serigala-serigala lain sekarang mundur menjauh, tak melepaskan pandangan sedikit pun dari keluarga Cullen saat mereka pergi. Jacob berdiri di sampingku, mengawasi kepergian mereka. Tak lama kemudian mereka lenyap ditelan kegelapan hutan. Hanya dua yang menunggu ragu di dekat pepohonan, mengawasi Jacob, postur mereka memancarkan kegelisahan.

Edward mendesah, dan, mengabaikan Jacob, datang lalu berdiri di sampingku. di sisi yang lain, meraih tanganku.

“Siap pergi?” tanyanya.

Belum sempat aku menjawab, ia sudah mengarahkan pandangannya melewatiku, menatap Jacob.

“Aku belum sempat memikirkan semuanya secara mendetail,” kata Edward, menjawab pertanyaan dalam pikiran Jacob.

Si serigala Jacob menggerutu sebal.

“Ini lebih rumit daripada itu,” kata Edward.. “Jangan khawatir; aku akan memastikan semuanya aman.”

“Kau bicara apa sih?” tuntutku.

“Hanya mendiskusikan strategi,” kata Edward.

Kepala Jacob bergerak kian kemari, menatap wajahwajah kami. Kemudian, tiba-tiba, ia berlari menuju hutan. Saat ia melesat pergi, untuk pertama kalinya barulah aku melihat sejumput kain hitam terikat di kaki belakangnya.

“Tunggu,” seruku, otomatis mengulurkan sebelah tangan untuk meraihnya. Tapi Jacob sudah lenyap di balik pepohonan hanya dalam hitungan detik, diikuti dua serigala lain.

“Kenapa dia pergi?” tanyaku, tersinggung.

“Nanti dia kembali,” kata Edward. Lalu ia mengembuskan napas. “Dia ingin bisa bicara sendiri.”

Kupandangi kawasan tepi hutan tempat Jacob menghilang tadi, kembali menyandarkan diri ke sisi Edward. Aku sudah nyaris ambruk tapi berusaha keras melawan kantukku.

Jacob muncul lagi, kali ini dengan dua kaki. Dadanya yang bidang telanjang. rambutnya awut-awutan dan gondrong. Ia hanya mengenakan celana hitam ketat, kedua kakinya telanjang menginjak tanah yang dingin. Sekarang ia sendirian, tapi aku curiga teman-temannya menunggu di balik pepohonan, tidak terlihat.

Tidak butuh waktu lama bagi Jacob untuk menyeberangi lapangan, walaupun ia memutar sejauh mungkin dari keluarga Cullen, yang berdiri mengobrol dalam lingkaran.

“Oke, pengisap darah,” sergah Jacob setelah ia berada berapa meter dari kami, melanjutkan pembicaraan yang tidak bisa kuikuti tadi. “Memang apanya yang rumit?”

“Aku harus mempertimbangkan setiap kemungkinan,” kata Edward, tetap tenang. “Bagaimana kalau ada yang berhasil menyelinap melewati kalian?”

Jacob mendengus mendengarnya. “Oke, kalau begitu tinggalkan saja dia di reservasi. Kami memang akan menyuruh Collin dan Brady tetap tinggal di reservasi. Dia pasti aman di sana.”

Aku merengut. “Kalian membicarakan aku, ya?”

“Aku hanya ingin tahu apa yang akan dia lakukan terhadapmu selama pertempuran,” Jacob menjelaskan.

“Apa yang dia lakukan terhadapku?”

“Kau tidak bisa tetap berada di Forks, Bella.” Suara Edward menenangkan. “Mereka tahu ke mana harus mencarimu di sana. Bagaimana kalau ada yang berhasil menyelinap melewati kami?”

Perutku mulas dan darah surut dari wajahku. “Charlie?” aku terkesiap.

“Dia akan bersama Billy,” Jacob cepat-cepat menenangkan aku. “Ibaratnya, kalau ayahku sampai harus membunuh untuk membawanya ke sana, dia pasti akan melakukannya. Mungkin tidak sampai seperti itu. Hari Sabtu ini, kan? Ada pertandingan kok.”

“Sabtu ini?” tanyaku, kepalaku berputar. Kepalaku kelewat ringan hingga aku tak bisa mengendalikan pikiran yang berputar-putar liar dalam benakku. Kutatap Edward dengan kening berkerut. “Well, sial! Kau tak bisa menggunakan hadiah kelulusan dariku.”

Edward tertawa. “Yang penting niatnya.” Edward mengingatkan. “Berikan saja tiketnya ke orang lain.”

Mendadak aku mendapat ilham. “Angela dan Ben,” aku langsung memutuskan. “Setidaknya dengan begitu mereka akan berada di luar kota.”

Edward menyentuh pipiku. “Kau tidak bisa mengevakuasi semua orang.” ujarnya lembut. “Menyembunyikanmu hanya tindakan pencegahan. Sudah kubilang, kami tidak akan menghadapi masalah sekarang. Jumlah mereka tidak cukup banyak untuk mengimbangi kami.”

“Tapi bagaimana kalau dia ditinggalkan di La Push saja?” sela Jacob, tidak sabar.

“Dia sudah terlalu sering bolak-balik ke sana,” kata Edward.

“Jejaknya tertinggal di mana-mana. Alice hanya melihat vampir-vampir yang sangat muda itu berburu, tapi jelas ada yang menciptakan mereka. Ada yang lebih berpengalaman di balik semua ini. Siapa pun dia” – Edward terdiam menatapku – “laki-laki ataupun perempuan, ini semua bisa jadi hanya untuk mengalihkan perharian. Alice akan melihat kalau orang itu memutuskan untuk mencari sendiri, tapi kita pasti akan sangat sibuk saat keputusan itu diambil. Mungkin ada orang yang memperhitungkan hal itu. Aku tak bisa meninggalkan dia di tempat yang sudah sering didatanginya. Dia harus sulit ditemukan, hanya untuk berjaga-jaga. Memang tepat, tapi aku tak mau mengambil risiko.”

Aku menatap Edward saat ia menjelaskan, keningku berkerut. Ditepuk-tepuknya lenganku.

“Hanya untuk berhati-hati,” janjinya.

Jacob melambaikan tangan ke hutan lebat di sebelah timur, ke Pegunungan Olympic yang membentang sejauh mata memandang.

“Sembunyikan saja dia di sana,” ia menyarankan. “Ada jutaan kemungkinan di sana – di tempat-tempat salah seorang dari kita bisa mencapainya hanya dalam beberapa menit bila memang dibutuhkan.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.